Showing posts with label wonderful family. Show all posts
Showing posts with label wonderful family. Show all posts

Sunday, January 22, 2017

Prasangka

Sudut pandang

Siang terik, lewat jam 13.30. Seorang lelaki memarkir motor di halaman rumah. Gerah dan lelah menampak dari peluh di dahi.
Bayangan rumah teduh, segelas air dingin dan nasi hangat, sangat menyenangkan.

Namun saat memasuki rumah, yang nyaring didengar adalah dua anaknya berteriak dan menangis berebut sebuah mainan.

Diletakkannya barang bawaan, sebagian belanjaan dan sisa  dagangan. Dilerainya kedua anak yg tengah bertengkar.

Celingak-celinguk dicarinya sang isteri. Tak nampak jua. Beberapa saat akhirnya anak-anak dapat ditenangkan.
Lalu tergopoh-gopoh istrinya muncul dari belakang.

"Aduh maaf abang. Aku lagi jemur baju. Mumpung panas. Tadi baru sempat nyuci. Seharian listrik mati. Baru hidup dan air ngalir. Jadi bisa nyuci..."

Lelaki itu tersenyum berusaha maklum. Ia menuju ke dapur dan membuka penutup meja.

"Ya ampun baang...aku lupa. Nasinya sudah habis dimakan anak-anak. Tadi listrik hidup malah ingatnya nyuci...belum ngidupin rice cooker..."

Lelaki itu tersenyum masam.
Rupanya ia harus menunda mengisi perutnya.

Lalu pergilah ia merebahkan diri di tempat tidur. Sembari menyisihkan barang-barang yang berantakan memenuhi tempat tidur.

Biarlah ia menunggu nasi masak, sambil merebahkan diri melepas lelah. Hari ini adalah hari yang berat. Namun tak ingin diceritakannya pada istrinya.

Dari kamar ia mendengar istrinya  mengomeli dua putranya yang membuat rumah berantakan.

Hmm, hatinya enggak enak banget mendengarnya. Coba ditulikannya telinga sambil memejamkan mata.
Mengapa selalu berulang kisah ini.
Keinginan sekedar istirah tak pernah bisa nyaman. Istrinya seakan tak pernah selesai dengan urusan rumah dan dua anaknya.

Dalam hati ia menyimpan kecewa. Merasa tak sepenuhnya mendapat hak ketenangan dan
perhatian dari istrinya.

Belum lagi ia memejam. Muncullah istrinya.
"Bang...gasnya habis. Aku mau gorengin abang telur.. abang beliin gih sebentar ke toko di ujung gang."

Lelaki itu menghembuskan nafas kesal tak terucap.
Bergegas ia mengambil gas, memanggulnya tanpa berkata-kata. Namun wajah keruhnya tak mampu disembunyikannya. Sambil menstater motor, masih terdengar keributan di balik pintu rumah: dua anaknya bertengkar dan istrinya melerai dengan omelan panjang kali lebar.

Sempurna sudah kecewanya.

***

Di rumah yang sama.
Perempuan itu, sejak pagi berjibaku. Ada beberapa jahitan baju yang harus diselesaikannya.
Listrik mati, maka tak kurang akal ia menggenjot saja mesin jahitnya. Semua dilakukannya setelah suaminya berangkat kerja, dua balitanya terpenuhi makan dan sudah rapi mandi.

Listrik mati dan ia tak bisa mencuci piring pun baju. Apalagi mengepel rumah.
Lewat dhuhur barulah pompa menyala dan ia dapat mencuci baju.
Serta tumpukan piring kotor. Dua anaknya tak henti memberantakkan isi rumah. Hingga lelah kaki dan tangannya merapikan. Dan tetap berantakan.
Rasanya tak ada waktu barang lima menit untuk sekedar selonjor. Waktu seakan berlari saat ia sibuk menyiapkan makan untuk anaknya. Menyuapi di kecil. Membereskan makan si sulung yang berlepotan. Mengganti ompol, mengajak mereka sholat dhuhur...lanjut mencuci baju.

Jika ia lengah sebentar, seringkali dua anaknya bertengkar.
Namun dari belakang, sembari menjemur baju ia tetap memantau keributan di dalam rumah.
Ketika tak ada suara ribut, ia justru bertanya-tanya, dan bergegas masuk menengok.

Rupanya suaminya tengah menenangkan 2 anaknya.
Rasanya ingin benar ia menumpahkan semua harinya yang tidak terlalu menyenangkan. Semprotan pelanggan yang akan mengambil jahitan dan ternyata belum kelar.
Listrik yang mati hingga cucian tertunda, tukang sayur enggak lewat jadi ia tak bisa belanja.

Namun melihat wajah masam suami, ia mengurungkan ceritanya antara rasa jengkel dan rasa bersalah saat suaminya tertunda makan siang karena nasi habis.

Inginnya ia mendapat hiburan yang tulus dari suaminya, sekedar bilang : " ya udah gak papa, aku tunggu saja."

Namun alih-alih menghibur, suaminya memilih masuk kamar.
Dan saat anaknya mulai bertengkar, ia makin riweuh. Dongkol. Seandainya suaminya mau bermain dengan dua putranya barang sebentar, ia akan segera selesai menyiapkan makan siang.

Dan gondoknya bertambah saat menyadari gasnya habis. Dengan enggan ia minta tolong pada suaminya.
Tak mungkin ia pergi meninggalkan rumah dan membeli gas, meninggalkan dua balita yang rawan bertengkar. Sementara suaminya justru tidur siang.

Ah tidur siang. Itu adalah barang mewah yang telah lama tak bisa dilakukan sejak memiliki anak. Tega banget jika suaminya melakukannya dan membiarkannya berjibaku.

Dan kecewanya bertambah saat suami menuruti permintaannya, membeli gas dengan muka masam, tanpa kata-kata.

Maka, diluapkannya pada omelan saat dua balitanya mulai saling merengek.
Sempurna sudah kecewanya.

***

Ketika hanya melihat dengan sudut pandang apa yang telah kita berikan dan apa yang kita harapkan, maka bersiaplah untuk menelan kecewa.

Cobalah sedikit bergeser dan melihat, pada sisi apa yang telah dilakukan pasangan kita.

Berbagai keruwetan yg diceritakan, semoga menyisakan kemaafan dan permakluman. Serta menumbuhkan keinginan untuk menjadi secercah kegembiraan, dengan senyum cerah, suara merdu dan kabar kebaikan. Apalagi hiburan dan pujian serta kesyukuran atas anugerah keluarga.

Baiti jannati, bukan turun dari langit. Namun surga yang tercipta dalam cinta dan kesediaan menghargai pasangan. 

@lailacahyadi

Monday, December 1, 2014

Penggemar


“Bu Ida cemburu enggak dengan penggemar ...? Pastilah pak Cah banyak penggemar...” 
Begitu beberapa kali pertanyaan terlontar untukku. Yah dengan hobi suamiku update status dan kisah-kisah romantisme berkeluarga, pastilah membuat banyak orang termehek-mehek.

Hmm cemburu? Ya pernah sih. Tapi kalau sekarang enggak lagi. Kenapa enggak?
Itu proses yang panjang. Proses kami menemukan chemistry dalam pola hubungan kami. Sekarang yang ada adalah saling percaya. Saya percaya bahwa suamiku orang yang lurus dan setia. Mencintaiku dengan sepenuh hati dan itu sudah dibuktikan dengan bukunya Bahagiakan Diri Dengan Satu Istri. Buku yang jadi favorit ibu-ibu.

 

Yah sekalipun terkadang yang namanya penggemar itu ngelunjak juga. Gimana enggak ngelunjak, mereka SMS dengan bahasa yang sok akrab. Curhat-curhat masalah yang enggak penting, bahkan terang-terang mengajak kencan.
Keterlaluan ya.

Loh kok saya tahu?

Tuesday, August 5, 2014

Kegembiraan Mudik



Berkumpul bersama keluarga sungguh suatu yang berharga bagi kami saat ini. Pasalnya sebentar lagi 3 anakku hijrah ke Bandung, Malang dan Semarang. Belum lagi Abi yang jarum super...anti merokok tapi jarang di rumah suka pergi.

Mudik adalah kesempatan kebersamaan tanpa jeda 5 x 24 jam...subhanallah. membayangkannya sudah membuat kami berjingkrak-jingkrak. Tapi gimana bisa bersama jika mobil hanya muat 7 orang sementara kami ber-9?


Monday, April 7, 2014

Menghadirkan Surga dalam Keluarga...Mungkinkah?


Surga, sebuah kata yang menggambarkan kesempurnaan. Tak ada kekhawatiran, tak ada ketakutan, tak ada kecemasan, tak ada rasa sakit, tak ada kecewa, tak ada cemburu, tak ada marah, tak ada dendam, tak ada benci...tak ada semua emosi negatif dan tak ada perilaku negatif.

Semua hanya kebaikan. Semua hanya kata yang mengandung keselamatan, semua berasa nikmat, indah dan menyejukkan.
Gambaran surga bahkan tak terlukiskan dengan kata-kata, tak tergambarkan dengan imajinasi manusia lantaran keterbatasan pengalaman empiris untuk membayangkannya.

Sudahlah, anggap saja gambaran di atas adalah jangkauan imaji kemanusiaan kita.
Lantas mungkinkah hadir surga dalam rumah tangga kita?

Foto dokumentasi pribadi

Sunday, February 2, 2014

MENIKAH DAN TERUS SAKINAH


Suatu ketika, kudengar candaan seorang teman:
"Kamu pasti belum menikah..." ia berkata pada karyawanku.
"Dari mana anda tahu?" tanyaku penasaran.
"Sebab dia masih bisa tertawa lepas...!" jawabnya enteng.
"kalau sudah nikah itu tak bisa tertawa...banyak masalah!" lanjutnya.
"Hah?!" 
Tentu aku sedikit kaget dengan penyederhanaan fakta dan kesimpulan itu.

Pada kenyataannya, memang pernah kutemui orang yang tak lagi bisa tersenyum atau tertawa lepas sejak menikah. Eh namun banyak kok yang masih saja bisa terbahak-bahak. Bukankah tiergantung bagaimana ia memaknai setiap peristiwa dalam pernikahan yang akan melahirkan rasa bagagia atau sedih sebagai sesuatu yang dominan dalam mengarungi biduk rumah tangga.
Jika anda ingin tahu rahasia kebahagiaan mewujudkan Rumah Tangga yang sakinah, mawaddah warahmah, cobalah simak buku karya Cahyadi Takariwan berjudul: Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah.
Anda akan mendapatkan bekal untuk persiapan menikah, hingga berbagai aspek dalam menjalani pernikahan yang bahagia.


Berikut cuplikan karya Cahyadi Takariawan, dalam bukunya : Di Jalan Dakwah Kugapai Sakinah

“PERNIKAHAN ADALAH

Pernikahan adalah akad atau ikatan.
Akad untuk beribadah,
Akad untuk membangun rumah tangga sakinah mawadah wa rahmah.
Pernikahan adalah akad untuk saling mencintai,
akad untuk saling menghormati dan menghargai.

Pernikahan adalah akad untuk saling menguatkan keimanan,
akad untuk saling meningkatkan ketakwaan,
akad untuk mengokohkan ketaatan kepada Tuhan,
akad untuk berjalan pada tuntunan Kenabian.

Pernikahan adalah akad untuk saling menerima apa adanya,
akad untuk saling membantu dan meringankan beban,
akad untuk saling menasihati,
akad untuk setia kepada pasangannya dalam suka dan duka,
dalam kesulitan dan kesuksesan, dalam sakit dan sehat,
dalam tawa dan air mata.

Pernikahan berarti akad untuk meniti hari-hari dalam kebersamaan,
akad untuk saling melindungi,
akad untuk saling memberikan rasa aman,
akad untuk saling mempercayai,
akad untuk saling menutupi aib,
akad untuk saling mencurahkan perasaan,
akad untuk berlomba melaksanakan peran kerumahtanggaan.

Pernikahan adalah akad untuk mudah mengakui kesalahan,
akad untuk saling meminta maaf, akad untuk saling memaafkan,
akad untuk tidak menyimpan dendam dan kemarahan,
akad untuk tidak mengungkit-ungkit kelemahan,
kekurangan, dan kesalahan.

Pernikahan adalah akad atau ikatan.
Akad untuk tidak melakukan pelanggaran,
akad untuk meninggalkan kemaksiatan,
akad untuk tidak saling menyakiti hati dan perasaan,
akad untuk tidak saling menorehkan luka,
akad untuk tidak saling menyakiti badan pasangan.

Pernikahan adalah akad untuk mesra dalam perkataan,
akad untuk santun dalam pergaulan,
akad untuk indah dalam penampilan,
akad untuk sopan dalam mengungkapkan keinginan,
akad untuk berlaku lembut kepada pasangan,
akad untuk memberikan senyum termanis,
akad untuk berlaku romantis dan selalu berwajah manis.

Pernikahan adalah akad untuk saling mengembangkan potensi diri,
akad untuk adanya saling keterbukaan yang melegakan,
akad untuk saling menumpahkan kasih sayang,
akad untuk saling merindukan,
akad untuk saling membahagiakan,
akad untuk tidak adanya pemaksaan kehendak,
akad untuk tidak saling membiarkan,
akad untuk tidak saling mengkhianati,
akad untuk tidak saling meninggalkan,
akad untuk tidak saling mendiamkan.

Pernikahan adalah akad untuk menebarkan kebajikan,
akad untuk mencari rejeki yang halal dan thayib,
akad untuk menjaga hubungan kekeluargaan,
akad untuk berbakti kepada orang tua dan mertua,
akad untuk mencetak generasi berkualitas,
akad untuk siap menjadi bapak dan ibu bagi anak-anak,
akad untuk membangun peradaban masa depan.

Pernikahan, adalah akad untuk segala
yang bernama kebaikan !”


Ah itu baru puisi pengantar, selebihnya baca sendiri ya, atau anda dapat membeli bukunya melalui saya...hihi ternyata promo!
atau dapat membeli di Sini


Testimoni dan Endorsment
Aktivis dakwah memiliki tantangan yang unik. Mereka perlu resep yang pas agar pernikahannya tetap sakinah. Pak Cah menyuguhkan kepada Anda bagaimana menggapai sakinah semenjak titik awal menentukan jodoh. Ia meramunya dengan kekayaan pengalaman berbahasa sederhana.
Mohammad Fauzil Adhim

Monday, January 6, 2014

JANGAN CIDERAI KEPERCAYAAN


Masih ingat kisah lama yang kira-kira berjudul: gembala yang kesepian. Kubaca saat saya masih di bangku SD.
Saya ulang sedikit versi yang saya ingat ya:
Alkisah ada seorang anak gembala yang selalu bekerja sendirian bersama para dombanya di kaki gunung. Terkadang kebosanan datang pada gembala kesepian ini. Suatu hari ia punya ide untuk membunuh kesepiannya. Anak gembala itu berteriak:
“Tolong...tolooong...ada serigala!”

Mendengar teriakan anak gembala, penduduk desa berdatangan ke kaki gunung menemui anak gembala itu. Ternyata anak gembala dan dombanya dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada serigala. Penduduk desa kecewa karena mereka merasa tertipu. Mereka telah meninggalkan pekerjaannya demi menolong anak gembala. Nyatanya ia hanya bermain-main. Singkat cerita, pada hari lain anak gembala itu mengulangi keisengannya untuk kedua kalinya dan berakhir dengan kekecewaan para penduduk.

Pada suatu hari, datanglah sekawanan serigala yang menyerbu domba gembalaan di kaki gunung. Anak gembala panik dan berteriak minta tolong.
“ Toloong...ada serigala!” Ia berteriak berulang hingga habis nafasnya, dan serigala itu berhasil membunuh beberapa dombanya. Namun penduduk kampung tak ada yang datang seorangpun. Mereka mendengar teriakan anak gembala dan lolongan serigala, namun mereka berkata:
“Jangan sampai kita dikerjai anak gembala itu untuk ketiga kalinya”
Jadi begitulah balasan yang diterima oleh orang yang iseng-iseng berbohong. Kehilangan kepercayaan.

Maaf ya jika cerita versi saya tidak persis sama. Maaf juga saya tidak mencantumkan sumbernya karena saya sudah lupa di majalah anak-anak yang mana saya membacanya saat saya masih SD. Saya hanya ingin mensarikan ulang hikmah kisah tua itu: jangan ciderai kepercayaan. Sungguh mahal harga kepercayaan. Sekalinya ia hilang, betapa sulit menebusnya.


Seorang istri menceritakan bahwa ia pernah membuat satu kesalahan yang kemudian disesalinya seumur hidup. Ia tidak merincikan apa keslahannya, namun sebagai konsultan, mudah untuk menebaknya. Suaminya yang marah karena kesalahan itu, sepertinya tak pernah memaafkannya. Buktinya sekarang suaminya membalas dendam dengan balik menyengaja melakukan kesalahan yang sama. Biar impas katanya. Hhmmm.
Anda para pembaca, semoga arif bijaksana. Kehormatan diri hanyalah bisa kita bangun sendiri dengan kesungguhan kita menepati janji dan memelihara amanah.
Orang jawa bilang: “Ajining diri, gumantung obahing lathi”
Maknanya, harga diri kita tergantung apa yang kita ucapkan dan konsistensi kita pada ucapan tersebut.

Intinya adalah perkataan yang benar, itu kunci utama menjaga perkataan. Ini kisahku kemarin yang memilih untuk mengeluarkan uang lebih banyak demi menjaga kepercayaan. Kemarin saya mengajak ibu-ibu wisata religi. Sejak semua sudah booking pinjaman bus dari teman yang punya sekolah. Informasi dari suamiku, ada 1 bus kapasitas 24 orang. Berhubung peserta awal 60 orang lebih, saya putuskan menyewa satu bus tambahan.  Setelah mecari lewat seorang teman, dapat juga sewa busnya  kapasitas 30 orang. Deal. H-2 saya konfirmasi langsung dengan pemilik bus pertama, yang milik sekolah, ternyata ada 2 bus. Hmm total ada 3 bus. Bimbang nih. Kalau yang sewa dibatalin, dua bus artinya untuk 48 orang dan saya masih harus cari tambahan satu mobil lagi dong.

Keadaan berubah cepat. H-1 ada beberapa orang yang membatalkan diri sehingga peserta hanya 50 orang. Menurut pemikiran saya, lebih mudah membatalkan bus pinjaman dari pada bus sewaan. Kalau orang dipinjam, nggak jadi, mungkin malah senang karena nggak jadi repot. Tapi kalau barang sewaan, jangan-jangan ia sudah menolak order lain demi janjinya padaku.

Begitulah. Saya memilih kehilangan sekitar satu juta, selisih ongkos yang saya keluarkan saat membatalkan satu bus pinjaman dan tetap melanjutkan menyewa.
Hey kenapa jadi curhat...eh demi pelajarannya, saya memilih menjaga kepercayaan dan kredibilitas saya.

Menjaga kepercayaan juga dengan kesungguhan kita menepati etika dan tata aturan. Jika dalam hidup ini diatur dengan aturan sosial yang tertulis maupun tidak, dalam agama juga ada syariat ibadah dan akhlaq. Orang yang menepati semua itu, insya Allah akan dihormati oleh orang lain. Suami istri yang saling menjaga komitmen diantara mereka berdua, insya Allah akan memiliki hubungan jangka panjang yang sehat dan indah.

Betapa capeknya hubungan yang dibangun diatas rasa curiga dan was-was. Apalagi jika sedah masuk unsur dendam. Kapan akan ada sakinah. Betapa jauhnya dari baiti jannati.
Trus, kalau sudah terlanjur nih...gimana dong.

Memang tidak mudah, namun bisa. Lakukan 3 hal saja.
1.     Taubatan nasuha. Artinya menyesali diri, tidak melakukan lagi, mohon ampun pada Allah dan minta maaf pada pihak terkait.
2.     Tutup dengan perbuatan yang baik dan kesungguhan menjaga diri agar tidak tergelincir lagi. Ini akan menghapuskan.
3.     Terus berdoa agar dimudahkan keluar dari masa lalu itu dan dimaafkan oleh Allah, ditutup aibnya dan dihapus dari hati dan ingatan pasangan kita.

Diantara taubat yang diterima itu adalah saat orang lain tak lagi membincangkan kesalahan kita. Tak ada manusia yang tidak bersalah, namun ada yang kesalahannya dibincangkan orang banyak, ada yang tidak. Nah yang sadar dan taubat, itu yang ditutup kesalahannya oleh Allah.

Semoga saja kita dijauhkan dari perbuatan menciderai kepercayaan ini. Selalu dijaga dari ketergelinciran. Amin.


Thursday, January 2, 2014

Tujuh RAHASIA PEREMPUAN YANG DIDENGARKAN

Sushi Suka Mengomel

Rahasia...?
Ah jangan terkecoh dengan judul yang saya pilih. Saya tidak hendak bicara tentang aib atau hal-hal yang memalukan. Tetapi tentang seni nasehat yang efektif, agar kata-kata tidak hanya menjadi angin lalu. Maaf ya, kalau saya ambil judul: trik dam tips agar nasehat didengarkan, hmmm mungkin anda tidak sedang terjebak mampir di blog ini.
Tapi saya janji, anda tidak akan kecewa deh.
Mulai serius ya, bismillah.

Pernahkan anda menyampaikan suatu pendapat tapi tidak didengarkan?
Saya pernah sih. Hehe jujur ngaku saja. Bukankah sepertinya mustahil ya menjadi orang yang selalu didengarkan. Tapi ekstrimnya ada lho istri yang mengeluh tak pernah didengarkan oleh suaminya. Terkadang bukan hanya tak didengarkan dalam arti sesungguhnya, misal saat istri bicara, dipotong atau dibantah. Mungkin ada suami yang (pura-pura) mendengarkan, tapi tidak melaksanakan.
Orang jawa bilang: ”Nggih...nggih ora kepanggih”. Artinya: iya...iyaa tapi tidak dilaksanakan.
Bukan hanya suami, mungkin jika jadi ibu, nasehatnya tidak didengarkan atau tidak dilakukan oleh anaknya. Kalau anak yang masih kecil, relatif nurut deh, biasanya mulai ABG, mulai deh...pintar berdalih.

Pengin nggak sih, jika kata-kata seorang istri atau ibu didengarkan, di-iyakan, dituruti dan dilaksanakan? Hmm penginlah lha yaw!
Okee ini nih rahasianya:

1.     Jadilah perempuan yang kata-katanya berbobot. Istilah kerennya qoulan tsaqilan. Maksudnya, setiap kata yang diucapkan selalu sayang untuk dilewatkan oleh orang lain. Janji Allah nih, orang yang rajin sholat malam, akan diberi qoulan tsaqilan ini. Jadi, mari rajin sholat malam agar kata-kata berbobot.

2.     Pilihlah kata-kata terbaik yang tersari dari kitab suci dan ucapan nabi. Karena itulah qoulan tsaqila dari Allah dan RasulNya. Tentu kata-kata kita sendiri boleh-boleh saja, selama pilih kata-kata yang baik. Jadi perempuan itu, perkaya diri kita dengan kata hikmah, kata mutiara, kata orang bijak...jika kita belum menemukan kata-kata kita sendiri.

3.     Hematlah dalam nasehat. Nasehat yang efektif itu yang seperlunya. Nasehat yang panjang lebar, seringkali tujuannya untuk memuaskan pribadi yang menyampaikan, namun tidak mencapai sasaran. Sebenarnya targetnya memuntahkan semua atau prosen penerimaan?

4.     Pilihkan waktu yang tepat, suasana yang tepat, momen yang tepat dan tempat yang tepat. Orang yang sedang marah, biasanya tidak bisa mendengarkan. Mereka sedang butuh didengarkan. Anak yang marah lebih cepat reda jika dipeluk atau disentuh, dari pada diomeli. Menasehati di depan orang banyak, di depan orang yang disegani oleh orang yang dinasehati, biasanya kurang mengena dan menimbulkan ketersinggungan. Menasehati secara rahasia, lebih menghargai dan mengena.

5.     Mengenali cara yang tepat dan oleh seseorang yang tepat. Ada yang suka diingatkan dengan nasehat, ada yang lebih suka dengan arahan, dengan contoh, dengan surat atau dengan cerita. Tiap orang unik, kita hanya harus bisa menemukan kunci kombinasi untuk membuka brankas hatinya yang mengeras.

6.     Bersabar, dan jangan putus asa. Punya usul tidak diterima, mungkin kurang mengenakkan hati. Memberi nasehat dan mendapat respon negatif, bisa jadi menyakitkan hati. Jangan patah arang. Besok berusaha lagi. Bukankah hidup adalah permasalahan yang berulang. Dengan berulang memberi nasehat juga pahalanya tambah banyak hehe...

7.     Ikhlas dan terus mendoakan. Janganlah keinginan membaguskan akhlak orang lain, tetapi justru memburukkan diri kita sendiri. Eh gimana sih maksudnya. Begini, memberi usul atau nasehat itukan dalam rangka agar orang lain menjadi baik. Kalau dengan respon negatif penerima, kita menjadi marah, tidak ikhlas dan sakit hati...nah kan jadinya kita yang buruk dan butuh dinasehati..hehehe.

Begitulah kata kuncinya. Yakin bahwa amal kita berupa usulan dan nasehat yang kita sampaikan dengan ikhlas, adalah urusan kita dengan Allah. Sudah dicatat tuh pahalanya. Jangan dirusak dengan kemarahan, penyesalan dan caci maki lantaran nasehat kita ditolak.

Hati manusia dalam genggaman Allah. Maka kita bermohon agar Allah beri petunjuk pada kita dan orang yang ingin kita nasehati. Kita ini hanya penyampai, hidayah milik Allah okee? Rasulullah saja, ada nasehatnya yang ditolak oleh pamannya, lelaki pembela yang sangat dicintainya dan juga mencintai beliau. Apalah lagi kita. Tapi yakinlah, doa bisa mengubah taqdirNya.

Sushi Jadi Capek

Intinya itu saja kok. Bismillah mari tahun baru ini kita rubah gaya bicara kita. Gaya menasehati, gaya menyampaikan usulan, gaya menyanggah...dan gaya marah. Gaya marah? Eh iya, lain kali saya bahas deh gaya marah yang cantik.

Tak mungkin mengubah dunia, mengubah orang lain tanpa memulai dari mengubah diri kita. Jadi ibdak binafsika, mulailah dari dirimu sendiri.
Jangan lupa, aspek teladan adalah ‘nasehat’ yang lebih mengena dari pada sekedar ‘omdo’ alian omong doang.

Yuuk, siap menjadi perempuan yang didengarkan?


 

Tuesday, December 10, 2013

LELAKI YANG SELALU MEMBERI LEBIH


Kukenal kepribadiannya, lapisan demi lapisan hanya setelah menikah. Sebelumnya ia lelaki biasa, yang bersliweran disekitar saja. Mengenal dan hidup bersamanya adalah keajaiban bagiku. Menghabiskan hampir separuh hidupku untuk hidup bersamanya selama 22 tahun lebih, tak ada rasa penyesalan secuilpun. Hari yang kurajut bersamanya, manis, asam, pahit, getir adalah pelangi rasa yang mendewasakan. Menjadikan kami tak ingin terpisahkan.

Saya ingin membaginya, meski secuil, untuk para pembaca. Bukan dalam rangka menyombongkan diri, sekedar berbagi saja inspirasi yang kulihat setiap hari. Catatan harian ini kuubeg-ubeg dari komputer pribadi dan alhamdulillah kutemukan kisah-kisah masa lalu.

Jumat, 17 maret 2005.
Selepas maghrib beliau pergi. Jika pergi tanpa membawa HP, aku tahu suamiku hanya ke masjid, ke warnet atau ke lingkungan yang dekat. Ternyata beli nasi di ‘warung peteng’. Akhir-akhir ini kami suka mencari makan malam di warung peteng (angkringan), kebetulan persis di depan rumah ada angkringan baru.
Aku bertanya untuk memastikan ketika beliau muncul  
“Dari mana mas ?”
“Makan di warung peteng baru di depan itu.”

Lalu mengalirlah ceritanya tentang sang penjual yang kebetulan masih tetangga, beda RT RW.
Dia seorang duda beranak dua. Istrinya meninggal karena gagal ginjal, belum lama katanya. Waktu kampanye kemarin dan rumah kita sering dipakai yankes, katanya juga suka hadir ke rumahku untuk periksa. Lelaki itu dulu nasrani, dia masuk Islam karena mengikuti istrinya. Hingga kini mungkin masih banyak yang mengira dia nasrani, karena dia tak menampakkan kepada orang lain ketika melaksanakan sholat.
Dulu ia adalah penggali sumur. Suatu ketika mushibah menimpanya , ia kejatuhan linggis ketika sedang menggali dan kakinya patah sehingga ia tidak bisa kerja berat lagi. Ketika istrinya masih hidup, mereka membuka warung lesehan dirumahnya. Sepeninggal istrinya, warung itu diambil alih oleh kakak iparnya. Dengan alasan bahwa dulu sebelum istrinya meninggal telah ada pembicaraan untuk kakaknya melanjutkan usaha warung makan tersebut. Begitulah akhirnya ia membuka usaha baru dengan jualan di warung peteng.

Lalu ia melanjutkan cerita, sekarang sedang butuh uang untuk menebus listrik rumahnya yang disegel. Menurut pengakuannya ia telah membayar listrik teratur tiap bulan . tapi yang terjadi tiba-tiba listriknya di segel dan ia harus membayar 200 ribu jika akan dibuka lagi. Ia berencana untuk menggadaikan televisinya agar bisa memperoleh uang tersebut.
Suamiku yang mudah terketuk, langsung mengulurkan 200 ribu .
” Ini pak pakai uang ini saja, nanti kalau saya makan di sini tinggal makan saja ya...”
Suamiku berfikir bahwa ia adalah orang baik karena menurut cerita, ia baru berusia 30  tahun dan istrinya 37 tahun. Sementara ketika ia menikahi istrinya dulu dalam keadaan sang istri telah dihamili oleh orang lain dan akan menggugurkan kandungannya.

Aku hanya berdoa, semoga memang betul ia orang baik dan uang tersebut bermanfaat baginya. Sayangnya beberapa minggu kemudian warung peteng punya bapak tadi tutup dan kami tak pernah melihat lagi orang itu, entah kemana perginya. Ya semoga ia adalah orang baik.
Kulihat suamiku, tak pernah menyesali 200 ribunya yang ikut menghilang bersama lelaki penjual warung peteng itu.

Awal Februari 2005.

Malam itu gerimis turun, menghabiskan sisa musim hujan.
Aku dan suamiku mengantar cukur Amar, anakku nomer 3 yang agak sulit urusan potong rambut. Hari sebelumnya ia telah bercukur, dengan tukang cukur keliling, juga Difa si nomer 5. Namun Amar belum puas dengan hasil cukurannya dan menginginkan cukur lagi. Dari pada ia rewel berkepanjangan, kami memutuskan untuk menuruti keinginannya. Amar punya foto yang menjadi gaya standar model cukurnya. Foto saat berusia 4 tahun, berpakaian superman dan bercukur cepak. Itulah acuan model yang ingin direvisinya dari hasil cukuran kemarin yang lupa tidak membawa foto
.
Setelah berputar ke beberapa tempat, kami menemukan kios cukur di jalan Kusumanegara. Tukang cukur itu adalah laki-laki paruh baya yang berpenampilan metal, namun bersih dan rapi. Rambutnya panjang dan dikucir ke belakang. Profesinya tukang cukur, namun sepertinya ia jarang bercukur. Kulitnya legam dan menampakkan beberapa bekas luka. Sepanjang pekerjaan mencukurnya ia mengisahkan perjalanan hidupnya. Saya dan suami, telaten mendengarkan ceritanya. Bukankah tidak ada pilihan lain? Namun ceritanya memang menarik.

"Dulu saya ini mantan orang bubrah bu. Saya pernah melakukan kenakalan laki-laki, yang tak perlu saya beritahukan, pastilah ibu sudah tahu. Saya pernah minum, dsbnya. Tapi demi Allah saya tidak pernah mencuri. Sekarang saya taubat dan menjalani hidup yang baru jadi tukang cukur…” Bla-bla...masih panjang ceritanya yang membuat saya bersimpati.

Mendengar berbagai penuturannya, suamiku mengulurkan 20 ribu sebagai ongkos cukur, padahal taripnya cuma 4 ribu. Begitulah suamiku.Tentu saja tukang cukur itu pada awalnya menolak, namun segera menerima dengan senang hati setelah kami memaksanya. Kami sendiri puas dengan hasil kerjanya, lantaran Amar juga gembira. Ya Rp.4.000 untuk upah cukur dan selebihnya adalah ongkos cerita...hehe.

Sebenarnya ada tukang cukur keliling (yang kemarin mencukur amar dan Difa), yang suka datang ke rumah menawarkan jasa. Karena kasihan, aku suka menerima tawarannya. Tukang cukur ini sungguh jorok dari sisi penampilan. Orangnya sudah tua, baju, tas dan peralatannya juga sangat tua. Dan berdebu. Baik orangnya maupun peralatannya. Saya ragu-ragu apakah ia mandi setiap harinya. Rambutnya juga jarang dicukur, agak gondrong, lurus, kaku dan juga...berdebu.

Bapak ini sedikit bicara, ia bekerja dengan sedikit senyuman yang sesekali menghiasi bibirnya yang berkumis tebal dan...berdebu. Kumisnya mungkin juga jarang dicukur. Pernah kutanya nama, asal dan sebagainya. Tentu dulu ia menjawab, namun aku juga lupa apa saja jawabannya.

Karena tas tentengnya sungguh tua dan rusak beberapa sisinya, suamiku memberinya tas yang lebih baik untuk menyimpan peralatan cukurnya. Kami memang memiliki banyak tas bawaan seminar atau pelatihan. Bapak itu menerima dengan sangat gembira. Suamiku juga memberi baju dan kaus untuk mengganti yang dikenakan dan sudah nampak lusuh. Dan tentu juga ongkos lebih untuk jasanya.

Beberapa kali kami memakai jasa bapak cukur itu, namun sejak hari dimana Amar kecewa dengan hasil cukurannya, kami tak lagi memakai jasanya. Sesekali kami masih melihatnya melintas di sekitar kawasan kami tinggal. Senang melihat bahwa ia masih saja memakai tas laptop hitam atau baju pemberian kami. Lama kelamaan kami tak melihatnya lagi, entah bagaimana kelanjutannya.

Dua cerita di atas hanyalah penggal kecil dari keseharian lelaki teman hidupku. Betapa seringnya beliau melebihkan pemberian kepada siapapun. Tukang parkir adalah orang yang sering tersenyum lebar lantaran tarip umum Rp.2000,- namun suamiku biasa memberi Rp.5000. ternyata hasilnya jitu juga, beberapa tukang parkir di tempat kami biasa mampir, akan memperlakukan kami dengan istimewa, dicarikan tempat parkir terbaik dan terdekat, disertai senyum ramah...alhamdulillah. Kami juga yakin tukang parkir akan menjaga kendaraan kami dengan sebaik-baiknya. Memberi sedikit lebih, dan tukang parkir acapkali membalas dengan lebih banyak. Eh padahal bukan itu lho tujuan kami.

Kutulis ini sebagai hadiah ulang tahun untuk pendamping hidupku, Cahyadi Takariawan . Tanggal 11 Desember ini usianya telah berkurang lagi. Beliau bukan lelaki sempurna, namun  bukankah aku juga bukan perempuan sempurna. Jika aku fokus pada kebaikannya, maka hanya kesyukuran dan kebahagiaan yang akan memenuhi ruang hati dan rumah kami.

Semoga Allah selalu menjaganya istiqomah di jalan dakwah. Selalu sehat, murah rejeki dan berlimpah keberkahan. Bakti dan cintaku untuk suamiku, guru, sahabat, kekasih dan inspirasiku. Terimakasih telah bersabar mendidikku, menemaniku, mencintai dan memaafkan aku. Dan ribuan terimakasih telah setia menjadikan aku satu-satunya




Pertanyaan untuk pembaca: Siapa lelaki yang selalu memberi lebih?

Silahkan jawab dan berkomentar. Komentar paling menarik berhak mendapat 1 eksp. buku Wonderful Husband plus ttd penulis. Komentar dinilai sepekan setelah postingan ini. Keputusan siapa pemenang ditentukan oleh subyektifitas pemilik blog dan tidak dapat diganggu gugat....




Wednesday, October 9, 2013

Rumah Tangga : Antara Keteraturan, Kelenturan dan Keluwesan

Oleh : Ida Nur Laila

Anda harus merancang struktur keluarga dengan pemikiran serius seperti membangun rumah yang kuat, indah dan layak huni. Tidak boleh sembarangan, seakan mendirikan tenda hanya untuk semalam. Tiang-tiang penyangga keluarga memberi anak-anak kita landasan yang aman, dan konsisten sehingga mereka dapat datang dan pergi dari  rumah dengan perasaan aman dan tertambat.
Struktur yang dimaksud adalah keyakinan, peraturan, prinsip, sistem dan kebiasaan yang diterapkan dalam keluarga. Struktur ini akan mengalami tekanan, tarikan dan guncangan.; maka dia harus luwes. Jika sistem keluarga teratur tetapi lentur, anak-anak akan dapat berayun ketika menemui kejutan, keberhasilan, kegagalan, kedukaan, kegembiraan, dan kekecewaan hidup.
Merupakan hak istimewa anda kepada orang tua untuk membuat diri sendiri sebagai pusat struktur keluarga, yang tersusun dari nilai-nilai dan peraturan, serta anda gerakkan dengan teknik anda, tetapi dapat meliuk dan bergerak sesuai dengan kebutuhan dan perubahan keluarga.

Wednesday, September 25, 2013

MERAWAT JIWA




Suatu hari aku mengunjungi sebuah sekolah dasar. Saat asyik berdialog dengan Kepala Sekolah, terdengar sedikit kehebohan. Anak yang berteriak-teriak dan meronta. Suara pintu berdebam ditendang kaki si anak di sela teriakannya. Lalu beberapa bujukan guru mencoba menenangkan. Seorang ibu guru memangku anak yang masih menangis keras.

Kepala sekolah menyebut nama anak itu. Beliau langsung tahu tanpa harus menengok siapa yang menangis. Aku berdiri dan melongok keluar jendela. 
" Sudah beberapa kali, atau malah cukup sering..."
" Kira-kira sebabnya apa bu...?"
" kalau menurut hasil konsultasi dengan psikolog, pola asuh yang diterapkan ibunya. Karena kakaknya juga berperilaku serupa. Sepertinya adiknya juga berpotensi demikian..."
Aku membayangkan ibunda anak itu. Satu dua kali aku pernah bertemu, seorang perempuan cantik, sangat cantik malah, pintar dan kaya. Terdidik tentu, karena dosen di sebuah perguruan tinggi. Hmm apakah benar masalah pola asuh...?
Aku tak dapat menyimpulkan tanpa fakta.
" Apakah orang tuanya tahu masalah ini...?"
" Tahu bu, kami sudah beberapa kali dialog. kalau versi orang tuanya dia di rumah anak manis....namun dilacak di TK dulu ternyata sudah terjadi hal serupa ini "
" Kalau sebab pemicu kemarahan anak ini apa bu ?"

Waah kok jadi wawancara.

Sungguh bukan sekedar ingin tahu, aku meniatkan diri menjadi pengamat pendidikan anak, agar aku menjadi praktisi yang belajar dari situasi seperti apapun.

" Masalah sepele saja bu. Kadang ia tak bisa menerima konsekwensi dari kesepakatan atau tersinggung oleh temannya ..." Jelas kepala sekolah.


Aku jadi ingat beberapa kasus anak yang sulit dan orang tuanya berkonsultasi padaku. Ada yang menolak makan dan minum. Orang tuanya menjadi direpotkan oleh anak TK besar ini dari sejak ia bangun hingga ia tidur lagi. Bahkan orang tuanya tak punya waktu kecuali saat ia berada di sekolah. Setelah saya gali, masalah justru ada pada ibunya. 
Atau anak belum berusia tiga tahun yang sering mengamuk dan tak jelas maunya, sehingga sering dimarahi oleh orang tuanya. Apalagi saat ia punya adik,tingkah lakunya semakin menjadi. Sekali lagi, masalahnya ternyata ada pada kedua orang tuanya.
Kata rekanku yang ahli Psikiatri, kadang saat menangani satu klien, sesungguhnya ia menangani beberapa klien sekaligus. Misal seorang ibu yang membawa anak gadisnya yang stress berat. Ternyata dari penggalian sang psikiater, penyebab sress adalah sikap, pola asuh dari orang-orang terdekatnya. Jadi yang seharusnya diterapi bukan saja klien, tapi juga ibu dan bapaknya.
Dalam sebuah keluarga tentu saja semua saling berhubungan. Apalagi antara orang tua dan anak. Kesalahan dalam pola asuh, ternyata berpengaruh besar pada karakter dan kesehatan jiwa anak.

Kesimpulan saya adalah : mari merawat jiwa anak yang menjadi amanah Allah, dengan memulai dari merawat jiwa kita sendiri.
Agar tidak menyesal di kemudian hari.

Silahkan berbagi pengalaman anda , cara merawat jiwa ini......