Showing posts with label Juara lomba blog. Show all posts
Showing posts with label Juara lomba blog. Show all posts

Monday, December 1, 2014

Perempuan yang Berjuang dalam Badai



(Ini adalah kisah Ibu sahabatku, seorang ibu yang merawat tiga penderita kanker dan memiliki anak-anak yang bermasalah hukum)

“Biarlah kuurus anakmu yang sakit-sakitan ini...” kata perempuan muda itu pada adiknya.
Ya ia bukanlah perempuan yang kaya raya, tetapi hatinya seluas samudra. Melihat adiknya yang kesulitan ekonomi di pelosok Gunung Kidul itu, ia menawarkan diri mengambil anak angkat, salah satu kemenakannya.

Kemenakan perempuan berusia tujuh tahun itu badannya ringkih. Sejak kecil sakit-sakitan. Tubuhnya kurus dan pucat menagih iba pada setiap yang memandangnya. Bude yang akan mengambilnya telah memiliki 2 anak lelaki, jadi ia mengambil kemenakan perempuan, sebut saja Lastri.

Demikianlah kesehatan Lastri membaik dalam perawatan budenya yang punya usaha katering kecil-kecilan. Dengan itu makanan dan gizi Lastri tercukupi. Tak seperti kala bersama emboknya di gunung, lebih sering makan nasi tiwul lauk oseng pepaya atau sayur rebung tanpa gizi memadai. Mereka hanya bisa makan hasil kebun karena tak punya cukup uang uang berbelanja.
 
Badai kelud ini tak seberat badai kehidupan ibu Amini

Kakak angkatnya yang juga sepupunya tidaklah bisa dikatakan baik. Mereka cenderung nakal dan suka merepotkan ibu angkatnya. Namun setidaknya mereka tak pernah mengganggunya.

Setelah mengambil Lastri, Amini memiliki satu anak lagi, laki-laki.

Dalam keadaan fisik yang lemah, budenya tetap menyekolahkan Lastri, hingga lulus SMA. Lastri lalu menikah dengan pemuda pilihannya. Di kemudian hari ia menyadari bahwa ia telah salah pilih.

Pernikahannya tidak bahagia. Suaminya meninggalkannya saat tahu Lastri menderita anemia yang berat pada masa kehamilan pertamanya. Ternyata ia menderita kanker darah. Tentu karena ia sedang hamil, maka ia tak bisa berobat. Setelah melahirkan bayinya, Lastri makin terpuruk.

Budenya tetap telaten mengurusnya, akhirnya Lastri meninggal hanya beberapa bulan setelah melahirkan bayi kecil. Cerita Lastri memang telah berakhir, namun kisah hidup budenya yang sebut saja namanya Amini, terus berlanjut.

Sekarang ia punya momongan bayi kecil sebatang kara, cucu dari anak angkatnya. Namun ia mengajarkan si kecil ini untuk memanggilnya ibu. Setiap kali menatap si bayi, Amini akan berurai air mata mengenang penderitaan hidup ibu bayi itu. Juga menerawang masa depan si bayi yang diberi nama Dewi.

Dewi tumbuh sehat  dan pesat. Itulah matahari dalam keluarga ibu Amini. Tiga anak lelakinya bak berandalan. Mereka menjadi nakal dan susah diatur karena pengaruh salah pergaulan.

Setiap kali sedih dengan anak lelakinya,  ibu Amini menghibur diri dengan kelucuan Dewi. Adapun ayah Dewi, entah dimana dan entah bagaimana kabarnya.

Kegembiraan tak selamanya hadir. Datang berita bak petir di siang bolong. Suami Amini terdeteksi menderita kanker paru. Ya ia memang perokok berat yang tak mau insyaf. Telah lama batuk-batuk namun tak jua mau berobat. Setelah sesak tak tertanggungkan dan batuk darah, barulah ia mau periksa. namun

Sekarang Amini merawat suaminya. Selama lima tahun ia banting tulang, menghidupi keluarga dan membiayai pengobatan suaminya. Usaha kateringnya hampir bangkrut lantaran kurang terurus.

Sekian waktu dalam penderitaan yang sangat, suaminya akhirnya berpulang. Air mata Amini tumpah merelakan tubuh kurus belahan hatinya memasuki liang lahat. Amini kembali tenggelam dalam lembah duka yang dalam.

Dewi adalah penghiburnya lantaran pada masa SD itu Dewi sering menjadi bintang kelas dengan kecerdasannya. Kasih sayang Amini tercurah untuk Dewi yang belum begitu faham asal-usul dirinya.

Adapun tiga anak lelakinya. Sungguh adalah ujian yang lainnya.
Musibah datang silih berganti. Anak pertamanya kena narkoba, hingga harus direlakannya masuk ke panti rehabilitasi narkoba setelah tertangkap polisi. Anak keduanya masuk penjara karena ikutan gengnya mencuri di sebuah toko.

Bayangkan seorang janda paroh baya. harus mengikuti sidang-sidang dan menengok putranya di penjara. Membantu putranya yang melepaskan diri dari jerat narkoba. Dan membiayai seorang cucu angkat yang sebatangkara.

Dunia seakan kiamat pada tahun itu. Amini terhempas dalam jurang yang dalam. Dalam proses hukum itu ia berkenalan dengan seorang polisi duda yang jatuh kasihan padanya. Singkat cerita si polisi banyak membantunya dan akhirnya Amini sepakat untuk menikah. Sesungguhnya ia teramat lelah menjalani hidup sendirian dalam kubangan masalah yang begitu berat.

Bayangkan, kemarin-kemarin seringkali pada malam hari ia harus berkeliaran mencari putranya yang tak kunjung pulang. Kadang ia harus memapah si sulung yang mabuk berat untuk bisa sampai ke rumah pada dini hari. Amini berharap, seorang lelaki pendamping hidup akan menguatkannya. Sekalipun usianya sudah hampir 50 tahun.

Namun siapa yang tahu tentang masa depan?
Tak lama, hanya beberapa bulan setelah menikah, ternyata sang suami jatuh sakit. Makin lama makin berat. Vonis itu datang. Suaminya, polisi yang gagah perkasa itu  mengidap kanker usus besar.

Mula-mula hanya sering berdarah saat buang air besar. Dikira ambeian biasa. Dalam pemeriksaan yang intensif karena kondisi fisiknya menurun drastis, datanglah kepastian itu.

Dunia kembali gelap bagi Amini. Anak pertamanya belum lagi keluar dari panti rehabilitasi. Anak kedua masih dipenjara. Dan kini untuk ketiga kalinya. Ia harus merawat penderita kanker.

Amini memang terlahir sebagai perempuan kuat. Ia dengan penuh ketabahan menjalani semua. Bersama Dewi yang beranjak remaja, mereka bahu membahu mengurus pasien dan menjalankan usaha kateringnya.
Dalam keadaan ekonomi yang berat, mereka terus tegak melawan badai rumah tangga.

Merawat penderita kanker usus besar itu lebih berat lagi. Suaminya tidak bisa buang air dan harus dibuatkan lubang pembuangan. Setiap kali harus dirawat dari infeksi sekunder dan baunya luar biasa.

Allah Maha Besar. Keadaan sulit ini yang membuka hati anak pertama dan kedua. Hidayah telah datang.

Melihat tubuh ibunya yang makin kurus dan terus bekerja lembur untuk menghidupi keluarga, dua anak lelaki ini menjadi sadar. Saat mereka keluar dari tempatnya masing-masing, mereka seolah terlahir sebagai jiwa yang baru. Mereka bekerja keras membantu sang ibu mencari biaya hidup dan pengobatan.

Tuhan berkehendak lain, setelah semua daya upaya, sang suami itu akhirnya meninggal.
Amini kembali berkubang duka. Namun ia tak bisa lama-lama meratapi nasibnya. Kenyataan hidup harus dihadapinya. Kini dua anaknya telah bangkit sedikit demi sedikit bisa membantunya membiayai kuliah Dewi.

Apakah derita Amini telah berakhir? Ternyata tidak juga.
Kabar buruk datang lagi. Penyakit gula darah kini menjadi jodoh baru melalui masa tuanya. Sudah agak terlambat mengetahuinya. Amini terpaksa berhenti bekerja. Ia harus menjalani diet ketat untuk menjaga kesehatannya.

Saya bertemu Ibu Amini, sebagai pasien gula ia nampak tegar, sehat dan ramah. Sekalipun gurat-gurat derita telah terprasasti pada wajahnya. Namun ia tak mengeluhkannya. Termasuk saat ia tak dapat lagi merasakan sakit karena pengaruh penyakit gulanya.

Mozaik kisah hidupnya telah menguras air mataku.
Setiap kali saya tercenung dan bertanya-tanya...adakah perempuan yang sekuat Amini?



Catatan: Saya pernah minta ijin untuk membuat novel kehidupan ibu sahabatku ini. Karena belum kesampaian, kutulis saja dalam kisah pendek ini.





Monday, May 19, 2014

Sejak Lahir, Kuterapkan Sex Education pada Anakku



Wow judulnya syereemm!
Hey, baca dulu ya...

Anak-anakku tidak bisa pipis sembarangan. Pada suatu ketika kami berada di sebuah lapangan. Si nomer 3, laki-laki, pengin pipis. Kami kesulitan menemukan toilet di keramaian itu. Mending kalau ada mall, atau toserba, adanya warung kecil yang tidak punya toilet. Dengan terpaksa aku membujuk agar ia mau pipis di salah satu pojokan yang terlindung kerimbunan tanaman dan cebok dengan air mineral.
Olala...ia menolak melakukannya. Padahal usianya baru 3 tahun!

Akhirnya kami memutuskan berkendara mencari masjid terdekat, yang memiliki toilet.
Walaupun sedikit repot, sesungguhnya saya bersukur bahwa anakku telah memiliki rasa malu tidak mau membuka aurat di tempat terbuka. Ini adalah hasil pendidikan seksual sejak lahir.

Ajarkan Etika di Pemandian Umum


Memang apa sih yang telah kami terapkan?
Sejak anak terlahir, kami berusaha menjaga auratnya. Tidak sembarang orang boleh melihat tubuhnya saat mengganti popok, memandikan  atau mengganti baju. Hanya orang-orang terdekat dan pengasuh saja.

Jika kami harus mengganti di tempat umum, maka diusahakan untuk tetap menutupnya dengan selembar kain. Demikan pula yang kami contohkan atas diri kami.
Saya tidak pernah mengganti baju di depan anak, sekalipun mereka masih bayi. Apalagi mengajak mandi bersama. Jika sesekali harus menemani bermain air, maka saya mengenakan baju basahan.

Suamiku pun tak pernah membuka baju di depan anak-anak. Tak pernah hanya menggunakan kaus dalam, apalagi telanjang dada. Anak-anak selalu melihat orang tua berpakaian lengkap. Minimal kalau ibunya ini mengenakan daster.

Jika ada gambar orang mengumbar aurat, kami biasa mengomentari,
“Ini mbaknya malu-malu ya...”
Akhirnya ia terbiasa jika melihat gambar, foto atau tayangan yang membuka aurat, ia mengatakan:
“Mbaknya au-au mi...” Maksudnya au-au =malu-malu. Dan ia bersegera menutupi.

Oya, kami juga sangat menjaga kerahasiaan hubungan suami istri. Tak pernah kami lakukan di dekat anak bayi jika ia terjaga...hehe apalagi yang bukan bayi ya...
Kami berusaha untuk merahasiakan peristiwa itu dari mata dan telinga anak-anak sejak mereka bayi. Juga dalam hal yang sifatnya intim seperti berciuman dan prolog lain. Kami tidak nampakkan di depan anak-anak.
Rasa sayang kami tunjukkan dengan pelukan yang sopan, cium tangan dan belaian lembut.

Saat mereka telah menjadi balita, satu hadits yang kami kenalkan.
“Inna nuhinaa anturoo auratunaa...” yang artinya sesungguhnya kita dilarang memperlihatkan aurat kita.
Anak-anak diajari untuk belajar buang air, BAB di kamar mandi. Diajari untuk menutup auratnya jika keluar kamar mandi. Menegur jika ada anak lain yang pipis sembarangan, apalagi BAB sembarangan.

Ajarkan Etika Bergaul yang benar

Peristiwa sehari-hari menjadi pelajaran berharga bagi si kecil. Misalnya, beberapa hari yang lalu, di sebuah sekolah sedang menyelenggarakan acara orang tua.
Anak-anak bermain di halaman tanpa pengawasan orang tua. Ada seorang anak usia sekita 5 tahun yang dijauhi teman-temannya sambil mereka menjerit-njerit.

Saya yang berada tak jauh dari lokasi segera melihat sebab keributan itu. Dan...jeng...jeng...
Betapa terkejutnya saja mendapati si anak laki-laki usia 5 tahun itu menunjukkan kemaluannya pada teman-temannya. Itulah yang membuat semua berlarian menjauh dan anak perempuan menjerit-njerit.

“Saya menghentikan aksi itu dengan menasehati sang anak itu dan mengajaknya berjanji untuk tidak melakukan lagi. Sayangnya saya gagal mencari siapa orang tua si anak karena ketika kutanya nama ortunya, ia tidak mengetahui atau tidak mau menjawab. Ia hanya menjawab ibunya bernama Mama, dan ayahnya bernama Papa...halah!.

Saya juga menasehati teman-temannya untuk tidak meniru perbuatan itu dan tidak mengucilkan temannya agar tidak bertambah nakal.
Putraku yang berusia tujuh tahun, mendapat pengalaman berharga yang kubingkai dalam percakapan.
“Tadi  ada anak yang tidak baik ya Po...”
“Iya nakal sekali dia tidak menutup aurot...” jawab Revo.
“Sebenarnya ia nakal karena ia belum tahu....tadi kan sudah diberi tahu Umi...semoga ia mengerti...”
Kulihat Revo mencerna pembicaraan kami.

“Kalau ada teman yang begitu, apa yang kamu lakukan Po...?”
“Iya di sekolah ada temanku yang pernah bercanda melorotin celana temanku yang lain...’
“Menurutmu boleh apa tidak?”
“Tidak...aku sudah bilang tidak boleh tapi mereka tidak menurut...”
“Iya, bercanda itu ada batasnya, nggak boleh mengejek, membuka aurat atau mencelakai...kalau temanmu tidak menurut, laporkan pada Bu guru saja...”
“He-eh...”
“ Kamu cerita ya sama Umi kalau ada peristiwa tidak baik...”
“He-eh”

“Kan umi pernah cerita, kalau aurat kita tidak boleh ada yang sembarangan menyentuh, memainkan atau menyakiti....dimana auraot laki-laki...?”
“Dari pusar sampai lutut.....”
“Iya betul...jadi kau jangan ijinkan orang lain menyentuh, memainkan atau menyakiti sekalipun hanya bercanda....”
“Oke...”
“Toss...” kamipun toss.
“Kalau kamu lihat peristiwa buruk, kamu harus lapor ya. Kalau ada orang dewasa memaksa kamu, teriak saja apa nangis yang keras lalu lari okee...?!”

Itu adalah bagian dari percakapan harian yang semoga menjadi bekal baginya.
Selamatkan anak-anak kami ya Allah dan anak-anak di seluruh dunia dari kejahatan seksual.


Artikel ini diikutsertakan dalam

Give Away 10 Hari

http://indahprasetyaaputri.wordpress.com/



http://indahprasetyaaputri.wordpress.com/2014/05/18/give-away-10-hari-cek-disini/

Tuesday, May 6, 2014

HP Jadulku Selalu Kembali Padaku.....



Tertantang GA keren dari emak nun jauh di rantau....


Rasanya gimana gitu kalau mengingat hp pertama. Jaman dulu melihat hp identik dengan barang mewah. Untuk alat komunikasi saya memakai pager sekitar tahun 1995. Selama beberapa tahun rasanya tertolong banget berkomunikasi via pesan di pager. Sekalipun kalau butuh menelepon tetap harus ke wartel haha....jadi kadang sehari bolak-balik ke wartel selama beberapa kali.

Sekitar tahun 1999, suamiku memiliki hp pertama. HP seken yang sudah cukup menggembirakan. Itu jaman reformasi. HP pertamanya sangat menolong untuk koordinasi. Maklum kita juga terlibat dalam berbagai demontrasi pada saat itu.

Melihat HP suamiku, saya belum berani berkhayal memiliki HP. Ekonomi kami masih sulit, suliiit banget....


Wednesday, April 30, 2014

My True story: Must Move On


Part 1

Sepertinya sifat manusiawi ya...saat bersemangat, lemes, atau bahkan hampir putus asa, karena roda kehidupan terus berputar.

Saya pun pernah mengalami saat yang demikian.
Kapan itu?
Saat merampungkan skripsi.

Sudah lama saya ingin menuliskan ini, alhamdulillah dapat momentumnya melalui GA pertama mak Fenny Ferawati, seorang emak yang lincah, ramah, kreatif, murah hati dan pekerja keras....

This is my true story...

Must Move On


Part 2.

Haloo Miss Fenny dan semua saja...ini sambungannya part 1 ya...


Kuatur jadwal dengan padat. Setiap hari tidur awal setelah sholat isya. Lalu jam 12 bangun. Biasanya tidak tidur hingga pagi untuk menyusun analisa skripsi, mengolah data dan sebagainya.

Kadang kejenuhan datang dan semangat menurun. Yah lelah fisik mengurus dua anak. Sementara ekonomi kami juga sangat berat karena suamiku belum mendapatkan pekerjaan yang memadai. Sementara aktivitasku sebagai pengelola majalah, bagian dari caraku mencari nafkah, juga tidak surut.

Friday, April 25, 2014

A Place to Remember : Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawaroh


Bagiku adalah sebuah tempat yang mengenangnya saja memuat aku menangis.
Lho kok malah nangis?
Iya aku selalu rindu dan ingin balik ke sana, bahkan doaku bisa balik ke sana setiap tahun.
Di manakah itu?

Bersama ibuku di bawah naungan payung


Masjid Nabawi. Rumah Allah yang memasukinya membuat air mata haruku terburai-burai. Air mata bahagia dan rindu. Rindu pada kekasih Allah, Rasulullah tercinta yang pernah menjejaki lantai masjid ini berabad yang lalu.

Rumah yang kala aku sujud di dalamnya telah memanggil buliran hangat dari hatiku sejak mengucap takbir pertama. Rumah yang meninggalkannya membuat air mataku tumpah ruah oleh kesedihan berpisah dengan indahnya ibadah.

Di rumah ini pula aku bertemu dengan seorang yang kukagumi, Ablah Tsurayya. Guru yang yang tak kan kulupa, yang ilmunya seluas samudra dan selalui mencurahi jamaah ziyaroh dengan nasehat mencerahkan. Aku bertemu dengannya beberapa kali. Berbincang langsung hanya dua kali namun takkan pernah hilang ingatan dan semua yang penah dipesankannya.

Bersama Seorang Nenek dari Pakistan
di halaman masjid
Di tempat ini aku pernah duduk dalam majelis Al-Qur’an ustadzah Khadijah. Perempuan cantik berkulit hitam yang hafal Al-qur’an. Ia mirip pemain cat women Halle Berry, bahkan jauh lebih cantik tersimpan wajah bening di balik cadarnya. Kuingat saat aku duduk melingkar menyetorkan bersama beberapa perempuan dari berbagai-bagai bangsa.

Masjid Nabawi mengapa begitu memikat hati?

Karena Masjid nabawi adalah masjid Rasulullah. Mengunjunginya bukan saja menjadi tamu Allah, tapi juga tamu Rasulullah. Masjid Nabawi sungguh indah dan nyaman untuk dinikmati. Begitu kita melihat bangunannya, kagum dengan keindahannya. Lebih indah dari foto-foto yang pernah kulihat. Lampu-lampu bersinar di menara yang menjulang. Ornamen jendela , pintu, dinding, semua nampak indah bagiku. Terlebih ornamen interior yang memanjakan mata. Sayangnya kita tak boleh memotretnya.

gambar dari sini 
Pilar-pilar kokohnya nampak cantik dengan ukiran emas. Kubahnya bertabur Asmaul Husna 99 nama Allah yang mulia. Dapat bergeser lembut anggun tanpa suara, di waktu pagi dan petang. Membuka panorama langit berbintang yang nyaris tak pernah berawan. Mengundang burung masuk berkunjung melintas anggun di atas kepala para jama’ah.
Hiasan lampu dan ukiran dari emas murni. Rak-rak tempat Alquran berwarna keemasan berderet sungguh rapi.

Karpet merahnya sungguh tebal dan lembut. Membentang menanti sentuhan dahi para jamaah yang bertitik air wudhu. Sekat berukir menjadi ornamen indah pembatas area laki-laki perempuan. Inilah yang membuat nyaman. Kita bisa merasakan ketenangan, kesendirian dalam keramaian.

Sesenggrukan sendiri dalam munajat suci, mengembunkan air sambil dzikir dan tilawah. Atau sekedar berselonjor mendengarkan ceramah. Di sore hari, bertebar taman syurga memanggil untuk bergabung, dalam berbagai-bagai bahasa. Dan tiga waktu dalam sehari, berduyun wajah-wajah penuh harap, mengantri untuk ziyarah ke raudhoh.

Roudhoh di bawah kubah Hijau
foto koleksi pribadi
Roudhoh, dimanakah itu?
Sepenggal bagian syurga yang menjadi berkah di bumi. Area dalam masjid yang merupakan bagian dari masjid awal pada masa nabi. Antara mimbar hingga kediaman Rasulullah. Karpetnya yang berwarna hijau muda dan berukir indah, tak pernah lelah disesaki jamaah.

Berebut kami untuk bisa bersujud, sholat dan dzikir di dalamnya. Tiang-tiang roudhoh berukir emas sebagai penanda. Dan tengoklah ke arah kiri, makam Nabi yang Mulia, tertutup dalam bilik khusus untuk mencegah dari perbuatan syirik yang menyesatkan.

“Assalamu’alaikum ya Rasulullah....
Assalamu’alaikum ya Abu Bakar....
Assalamu’alaikum ya Umar ibnul Khatthab....

Melambai tangan dan terucap shalawat untuk Rasul dan sahabat mulia. Mengalirkan kerinduan membuncah di dada. Berharap kelak mendapatkan kemuliaan di syurga bersanding dengan Baginda Rasulullah dan para sahabat.
Hmm menuliskan inipun aku sudah berurai air mata.

Atas kuasa Allah, saya dapat bersujud dengan puas dan melakukan sholat berkali-kali. Memanjatkan doa-doa terbaik untuk diri dan orang-orang tercinta. Untuk umat Islam dan dakwah ini.

Memohon agar kelak bisa datang kembali, berziyarah ke tiga tanah suci sesuai tuntunan nabi. Dari Abu Said Al-Khudri ra, ia berkata, “ Rasulullah saw bersabda: ‘Janganlah melakukan ziarah kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsa, dan masjidku ini (yakni Masjid Nabawi).” (HR Bukhari dan Muslim)

Ringan kaki melangkah setelah menuntaskan dahaga kerinduan munajat di roudhah. Seakan telah diangkat sebagian beban ini untuk bisa lebih banyak tersenyum dan berbuat yang terbaik bagi siapapun.

Gambar dari sini
Di luar masjid, terbentang juga karpet merah untuk para jamaah. Keluarga-keluarga muda, ibu dan para anak-anak, duduk bergerombol, bercengkerama menanti waktu sholat. 

Payung-payung cantik terkembang serupa belalang, tanpa suara. Aku selalu merindukan saat payung terkembang dan menangkup. Sambil menyaksikan nuansa langit yang menyempurnakan keindahan. Di fajar ataupun di lembayung senja.
Bahkan bisikan anginpun terasa lirih merdu mendayu, seakan tak ingin mengusik kekhusukan jamaah.

Foto koleksi pribadi

Masjid Nabawi, tempat ternyaman bagiku yang selalu memanggil kembali. Masjid yang menjadi saksi sejarah nan indah. Di bumi ini Rasulullah diterima dengan penuh cinta setelah terusir di tanah kelahirannya. Di sinilah Rasul mendapat para pelindung dan pembela setia. Dan disini pula beliau wafat dan di makamkan.

Masjid Nabawi, aura ruhiyahnya pernah kuhirup dalam-dalam membasuh ruhani. Seakan luruh semua penat jiwa dalam siraman cahaya Ilahi. Keutamaannya telah disabdakan oleh Rasulullah:

"Satu kali sholat  di masjidku ini, lebih besar pahalanya dari seribu kali salat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram. Dan satu kali salat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu kali salat di masjid lainnya" (Riwayat Ahmad, dengan sanad yang sah).

Aku selalu berdoa dan berharap, kelak dapat menghabiskan masa tua, di ketenangan masjid nabawi. Tenggelam dalam hafalan Al-Qur;an dan munajat suci. Semoga, amin.


 Artikel ini diikutsertakan dalam :