Showing posts with label Anakku korban Bullying. Show all posts
Showing posts with label Anakku korban Bullying. Show all posts

Wednesday, March 19, 2014

Mengelola Kasus bullying.(bagian ke 7)


Ayah bunda, sesungguhnya ancaman bullying bisa terjadi kepada siapa saja dan kapan saja. Ia bisa menimpa anak dalam berbagai usia dan jenjang study. Bahkan sampai strata mahasiswa sekalipun. Bukankah kita bersama telah banyak menyimak beritanya di berbagai media. Iih kadang syerem-syereem sampai meminta korban jiwa...hiii....



Demikian pula pelaku bullying, bisa dari berbagai kalangan. Kadang terjadi kasus berantai dimana pelaku bullying di suatu tempat, sebenarnya adalah korban di tempat yang lain.

“Bullying tidaklah sama dengan occasional conflict atau pertengkaran biasa yang umum terjadi pada anak. Konflik pada anak adalah normal dan membuat anak belajar cara bernegosiasi dan bersepakat satu sama lain. Bullying merujuk pada tindakan yang bertujuan menyakiti dan dilakukan secara berulang. Sang korban biasanya anak yang lebih lemah dibandingkan sang pelaku.”

Saturday, March 15, 2014

Anakku korban Bullying (6)

(bagian ke 6)

Membolos Lagi?

Bismillah, saya lanjutkan curhatan ini.

Pada suatu pagi, sekitar sebulan setelah pindah sekolah dan masuk semester baru di kelas tiga, anakku pamit berangkat sekolah.
“Sekalian aku mau bayar sekolah Mi...” katanya saat sarapan. Aku menatapnya dengan bahagia, sekarang ia nampak jauh lebih sehat dan gembira. Pagi-pagi selalu sudah siap dan bersemangat berangkat. Kuberikan bayaran sekolah dan uang saku untuk sepekan. Uang saku biasa saya berikan di hari Senin.

Sekitar jam 08.30, saat bekerja di Apotek, saya merasa tidak enak hati. Jadi saya SMS Wali kelas dan guru BPnya.
“Bagaimana perkembangan anak saya?” begitu kata-kata yang sering saya SMS kan, nyaris setiap pekan.
“Baik bu, sudah gembira dan akrab dengan teman-temannya. Dari sisi pelajaran juga cepat menyesuaikan diri. Btw kok sekarang tidak masuk sekolah kenapa ya...?”
Deg.
Apalagi ini?
Apakah ia membolos lagi? Duuh Gusti...saya mau jawab apa?

Friday, March 14, 2014

Anakku Korban Bullying (5)

Bagian ke 5.

Bullying

“Mengapa kamu tidak jujur saja sama Umi?”
“Aku takut Umi marah. Aku merasa tak ada yang bisa menolongku...” Ia mulai terisak lagi.

Kubiarkan ia menyelesaikan isaknya.
“Sebenarnya apa yang kau alami, coba ceritakan dari awal....”
“Aku kan suka makan siang di warung dekat sekolah, suatu ketika aku tahu sesuatu yang seharusnya aku tidak boleh tahu...” ceritanya menggantung.
“Apa itu narkoba?” ia menggeleng.
“Semacam rencana buruk. Aku lalu dipaksa ikut. Aku tak mau...sejak itu aku diancam...”
“Diancam apa?”
“Ya aku diajak pergi ke sekolah lain untuk mempalaki atau memukuli siswa sekolah lain. Tapi aku tidak pernah mau, kalau aku tidak mau, aku yang dipalaki dan dipukuli...” Ia mulai terisak lagi. Aku memeluknya.

Thursday, March 13, 2014

Anakku Korban Bullying (4)

Bagian ke 4.

Takut

Inikah ujianku ya Allah? Saya yang seringkali berceramah tentang pendidikan anak, bahkan hingga ke banyak kota di Indonesia. Saya yang sering menerima konsultasi dan melakukan pendampingan anak-anak yang bermasalah...sekarang seperti dipurukkan pada situasi yang sebaliknya. Anakku sendiri menjadi kasusku!

Tak cukup hanya meratapi dan menyesakkan dada sendiri. Saya menenangkan diri dan kembali ke kantor. Saya berpesan pada suami agar jika anak pulang, segera menelepon mengabariku. Tak sabar rasanya bertanya tentang banyak hal.

Jam 12 suamiku memberi kabar kalau anakku sudah pulang.
Saya bergegas pulang bagai terbang saja menyetir sambil menata hati dan rencana percakapan. Saya tahu karakter anakku, hatinya sangat lembut, tentu saya tak ingin melukai dengan berbagai tuduhan. Saya hanya ingin mendengar cerita dulu versi dia. Itu saja.

Sampai  di rumah, kudapati ia meringkuk tidur di kamarnya di lantai 2 dalam keadaan sesak nafas yang parah.
Kusentuh kakinya perlahan.
“Mas...”
“Aku sesak Mi...”
“Ya, Umi nebulasi sekarang....” kataku sambil menahan tangis. Apakah tega aku menuduhnya macam-macam sedangkan ia dalam keadaan yang demikian.  Kusiapkan alat mengasapi dan ventolin untuk mengurangi sesaknya. Selama nebulasi saya hanya memandanginya tanpa kata-kata. Biarlah ia menyelesaikan sesak nafasnya dulu.

(Hmm sebentar ya, harus jeda dulu, sekarang saya menangis lagi saat menuliskan ini.)

Anakku korban Bullying (3)

(Bagian ke 3)

Membolos 


Sepekan setelah berpindah dokter, anakku nampak membaik...dan kubujuk ia untuk berangkat sekolah.

Esoknya ia memang berangkat sekolah, namun lagi-lagi ia pulang selepas dhuhur dalam keadaan kambuh lagi. Saya merasakan beban yang berat, bahkan nyaris kehilangan akal.

Apalagi yang harus kulakukan agar ia bisa sehat? Dokter terbaik dari RS terbaik sudah menanganinya, mengapa ia tak juga sehat. Pada bulan April kebetulan ada libur Unas, jadi lumayan untuk menambah waktu istirahat.

Wednesday, March 12, 2014

Anakku Korban bullying 2

Bagian pertama bisa dibaca di sini 

Bagian ke 2

Sakit
Conan juga sesak nafas
gambar dari sini

Mengejutkan bahwa putraku mulai sesak nafas setibanya di bandara Soeta, Jakarta. Saat itu kupikir hanya karena kelelahan yang menumpuk. Sungguh aku tak berfikir ada sebab yang lain.

Setelah beristirahat beberapa hari, pada hari Senin, ia mengenakan seragam sekolah, mengambil sarapan di dapur dan berkata padaku:

“Umi, bagaimana jika aku pindah Sekolah?”
“Pindah kemana Mas? Kenapa tiba-tiba kamu ingin pindah?”
“Anggap saja aku mendapat pencerahan saat berumrah, jadi aku pengin dapat pelajaran agama yang lebih banyak...” ia menyebutkan nama sekolah tempat ia ingin pindah.
“Mengapa tidak dulu-dulu waktu kamu masuk, bukannya sejak awal Umi menyarankan mengambil sekolah ini?” Kenyataannya saat pendaftaran siswa baru, ia memang mendaftar dan diterima, tapi godaan masuk sekolah negeri favorit rupanya lebih kuat.
“Aku baru menyadari sekarang bahwa apa yang Umi katakan itu benar...”

Anakku Korban Bullying (1)_


Oleh: Ida Nur Laila

Membaca berita tentang kekerasan di kalangan para pelajar, baik di media cetak atau pemberitaan di sosmed dan televisi, seringkali membuat miris. Namun siapa sangka jika itu menimpa anak kita sendiri...?

Eh sebenarnya apa itu bullying? Saya kutipkan dari sini ya.

“Definisi bullying merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Inggris. Istilah Bullying belum banyak dikenal masyarakat, terlebih karena belum ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia (Susanti, 2006). Bullying berasal dari kata bully yang artinya penggertak, orang yang mengganggu orang yang lemah.

Beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang seringkali dipakai masyarakat untuk menggambarkan fenomena bullying di antaranya adalah penindasan, penggencetan, perpeloncoan, pemalakan, pengucilan, atau intimidasi (Susanti, 2006).”
Gambar pinjam dari sini 

***
Episode Umrah 

Kutulis ini, setelah menanti lebih dari 10 bulan, menunggu hatiku reda dan tak lagi menangis saat mengingatnya. Juga untuk memastikan pada hatiku sendiri bahwa anakku adalah anak baik yang hanya menjadi korban.


Sekitar bulan Maret 2013, saya, ibu dan putraku si nomer tiga berangkat umrah selama 10 hari. Menjelang hari keberangkatan, anakku ini masih sibuk dengan acara di sekolahnya. Sabtu-Ahad kebetulan ia mengampu sebagai ketua panitia pelaksana rekrutmen dan upgrading anggota baru gerakan anti narkoba di sekolahnya. Mereka menginap di kawasan wisata bersama ibu guru BP sebagai pembina.

Senin pagi saya menitip surat ijin ke Sekolah agar ia sampaikan perihal keberangkatan kami ke tanah suci. Rencana kami berangkat hari Rabu, jadi Selasa kuminta dia untuk sudah ijin agar bisa melakukan persiapan dengan baik. Aku memintakan ijin selama 14 hari, sekalian agar sekembalinya dari tanah suci, ia bisa rehat barang 2-3 hari.

Selama di tanah suci, luar biasa bersemangat anakku ini. Sejak awal kusampaikan agar ia tidak menyia-nyiakan kesempatan umrah. Tidak setiap orang berkesempatan umrah di masa muda, pada usianyanya yang baru 16 tahun. Kupesankan untuk menjaga kesehatan, menghatamkan Alqur’an minimal satu kali, syukur bisa dua kali.

Saya juga meminta dia berhenti berhubungan dengan dunia maya, jadi tak perlu bawa hp dan sebangsanya. Kami membawa ipad yang saya gunakan untuk menulis catatan dan memotret saja. Saya sendiri memutus hubungan dengan dumay dan dia berjanji tidak menyentuhnya untuk bermain game.

Anakku sungguh berani, seringkali ia pergi sendirian ke Masjidil Haram, sekalipun jarak hotel dengan masjid sekitar 400m, seolah ia tak pernah capek berusaha 5 kali sehari menjalankan shalat jamaah di masjid. Kadang bahkan tanpa membawa tanda pengenal dan uang saku sepeserpun. Jika haus ia meminum air zam-zam. Tiga kali ia kehilangan sandal karena lupa membawa masuk ke dalam masjid.

Mekkah sedang mengalami pembangunan dan penggempuran bukit serta bangunan, terkait dengan perluasan Masjidil Haram, bisa dibayangkan bahwa debu merajalela dimana-mana. Putraku ini pula catatan dimana ia alergi debu dan beberapa jenis makanan. Juga saat kelelahan, sesak nafasnya acapkali kambuh. Maka saya sangat berhati-hati menjaga kesehatannya. Tak lupa obat dan suplemen lengkap tersedia.

Mungkin karena kegembiraan ibadah dan berkah air zam-zam,  Allah mengabulkan doa kami agar kami semua selalu sehat dan dimudahkan dalam ibadah. Beberapa kali ia menangis saat ustdz pembimbing memberikan renungan dalam siraman ruhani. Aku bersyukur punya putra yang baik dan cerdas, ia adalah anak lelaki terbesar yang kelak akan memikul beban melindungi saudara perempuannya dan anak istrinya.

Sebenarnya biaya umrah untuk dia adalah hadiah dari seorang ustadz. Dalam sebuah acara pengajian remaja, seorang ustadz membagikan 6 door prize umrah untuk anak-anak yang bisa menjawab pertanyaannya. Pertanyaannya sederhana seperti: Berapa jumlah pulau di Indonesia? Siapa nabi yang pernah hampir mengelilingi dunia, dan beberapa kisah dari sejarah Islam, serta menebak ayat dan surat yang beliau baca. Anakku satu dari yang mengangkat jari untuk bisa menjawab pertanyaan, dan sebenarnya yang dijawabnya adalah sangat sepele, namun diluar dugaan.

Saat itu Ustadz bercerita tentang pentingnya menjaga kesehatan dan latihan fisik bagi generasi muda untuk menjadi seorang pemimpin. Indonesia sangat membutuhkan generasi muda yang sehat kuat jasmani dan ruhani untuk mengelola kekayaan alam yang luar biasa tersebar di ribuan pulau. Lantas beliau bertanya:
“Jika saat ini di umur saya lima puluh tahun, saya kuat push up 50 kali, berapa kali saya kuat push up di masa saya muda seumuran kalian?”

Banyak yang mengacungkan tangan dan menjawab sekenanya dan ajaibnya, anakku menjawab dengan presisi.
“Dua ratus kali...!” dan ustadz mencatat nama anakku untuk mendapat hadiah umrah.

Kebetulan? Keberuntungan?
Tidak, menurutku itu adalah taqdir kebaikan yang dijemputnya dengan usaha. Ada 300 anak lelaki dan perempuan, namun tidak semuanya mau berusaha mengangkat tangan menjawab pertanyaan. Sekalipun iming-iming hadiahnya umrah. Padahal jika salah menjawab juga tidak dikenai denda apapun.

Anakku juga tergolong rajin beribadah. Di bulan Ramadhan ia bisa menghatamkan Alqur’an 5-6 kali dalam sebulan. Jadi, itu adalah rejekinya atas apa yang telah ia lakukan selama ini.
Sebenarnya Ustadz juga menawarkan apakah hadiah akan diambil dalam bentuk uang cash Rp.20.000.000,- atau menunggu pada tanggal yang beliau koordinir untuk memberangkatkan ratusan anak dari seluruh Indonesia yang beliau hadiahi umrah atas berbagai prestasi mereka.

“Diambil uang saja dik, ntar kamu bisa beli macam-macam, atau kita bisa liburan sekeluarga ke Bali...” bujuk kakaknya. Si Nomer tiga tak bergeming.
“Ngapain? Aku kan juga pengin umrah, belum tentu Umi Abi bisa membiayai umrah aku dalam waktu dekat. Apalagi jika dengan uangku sendiri”

Karena pertimbangan kesehatan anakku yang tak mungkin pergi tanpa pendampingan intensif dalam masalah kesehatan, maka kuambil hadiah itu dalam bentuk uang cash, tetapi kugunakan untuk memberangkatkan ia ke tanah suci. Dalam misi menemani dia dan ibu saya inilah, saya juga menguras tabungan untuk bisa beli satu kursi. Ajaib ya, asal-usul biaya perjalanan ibadah ini.

Singkat cerita, semua ibadah kami jalani dengan lancar baik saat di Mekkah maupun di Madinah. Hingga kepulangan kami. Ia tak jatuh sakit, atau sesak nafas hebat. Hanya kalau capek, sedikit mengeluh sesak dan selesai dengan ventolin turbuheler.

Mengejutkan bahwa putraku mulai sesak nafas setibanya di Bandara Soeta, Jakarta. Saat itu kupikir hanya karena kelelahan yang menumpuk. Sungguh aku tak berfikir ada sebab yang lain.

Sebab yang nantinya membuatku pusing tujuh keliling.
Yang penasaran sebabnya baca di sini : http://ida-nurlaila.blogspot.com/2014/03/anakku-korban-bullying-2.html

(bersambung)