Monday, September 5, 2016

Khadijah

Perempuan yang tak pernah menghitung.

Tak ada habisnya saya mengidolakan Khadijah istri Rasulullah. Bahkan saya ambil namanya sebagai nama anak gadis saya.
Membaca kisah-kisah Khadijah semoga menjadi inspirasi bagi muslimah sepanjang masa..

****

"Saya lelah, bu" kata perempuan cantik, wanita karir abad ini, "Suami saya seolah membiarkan situasi ini terjadi sejak pernikahan kami."

Apakah situasi itu?

"Sayalah yang memikirkan roda ekonomi rumah tangga. Suami memang memberi, tapi tak seberapa. Dan tak pernah bertanya, berapa kebutuhan operasional rumah dan biaya sekolah anak-anak..."

Saya tahu, suaminya bukanlah tidak bekerja. Suaminya memiliki status yang terpandang di masyarakat.

"Dulu, saya mentoleransinya. Sekarang saya merasa terusik. Karena di belakang saya, justru ia menolong perempuan lain!"

Oh, inilah pangkal masalahnya.

Kulihat banyak perempuan rela jungkir balik berkorban untuk keluarganya. Seorang istri rela bangun lebih pagi dari siapapun dan tidur lebih malam dari siapapun di rumahnya.
Rela mengambil bagian lauk paling akhir, demi anak-anaknya. Jika perlu ia tak mengambil lauk agar anak mendapat lebih banyak gizi.

Rela bekerja jungkir balik untuk mencukupkan uang belanja.
Rela membagi waktunya untuk kegiatan anak di sekolah, di masyarakat disela tanggung jawab rumah tangganya.
Sebagian bahkan bersisir dan berbedak pun tidak sempat. Apalagi melangsingkan badan dan menyisihkan uang sekedar membeli pengharum badan.

Dan itu tak mengapa bagi mereka. Selama suaminya adalah lelaki setia yang pandai menghargai semua sumbangsih perempuan.

Perempuan mulai berhitung ketika ia merasa tak nyaman. Berhitung tentang waktunya yang terjajah tanpa 'me time'. Berhitung tentang rupiah demi rupiah yang dikeluarkannya.
Seai lagi, itu karena kehilangan rasa nyaman.

Sebabnya bisa banyak. Tapi muaranya adalah kebutuhan penghargaan dan ketentraman. Tentram karena yakin suaminya adalah lelaki baik yang memuliakannya. Dan setia.

Tapi, sejarah telah mengabarkan,  tentang khadijah yang tak pernah berhitung. Hartawan bisnis woman yang harta perdagangannya ludes dengan situasi awal dakwah yang begitu berat.

Khadijah yang tak berhitung tentang waktu yang dihabiskannya untuk hamil, melahirkan dan merawat anak. Waktu yang ia habiskan untuk mengirim bekal suaminya yang uzlah dalam hitungan bulan.

Khadijah tak membuat syarat kenyamanan. Bukan hanya karena Rasulullah adalah lelaki berakhlaq mulia. Tetapi karena ketulusannya.

Melandasi semua amal karena Allah dan untuk Allah, maka respon orang lain pun keadaan suami, tak mengikis ketulusan seorang perempuan beriman.
Keikhlasan tak pernah menghitung pengorbanan. Karena sejatinya cinta dan pengorbanan menjadi dua sisi mata uang tak terpisahkan.

Dan ketentraman muncul yarena yakin janji Allah, bahwa balasan kebaikan adalah kebaikan. Kebaikan dan pengorbanan tak pernah menguap begitu saja. Semua menjadi catatan rapi bekal akhirat.

Meletakkannya pada alasan yang tepat: karena Allah, maka cinta dan pengorbanan tak akan kehabisan stok.

Bahkan terus melipat ganda dan menjadikan anda seorang perempuan yang tak pernah berhitung.
Seperti Khadijah.

Btw untuk para suami: jika anda ingin istri anda menjadi perempuan yang tak pernah berhitung tentang cinta dan pengorbanannya, maka ingatlah:

1. Fasilitasi istri untuk meningkatkan iman dan taqwanya. Belikan buku, antarkan mengaji, ajak ikuti seminar dan lain-lain.

2. Bahagiakan hatinya dengan senyum tulus dan penghargaan. Ungkapan cinta secara lisan pun perbuatan. Berikan haknya di tempat tidur dengan cara yang indah. Dan setia, menjadi nilai yang paling berharga sebagai bukti cinta.

3. Ringankan tanggung jawabnya dengan bantuan tanpa ia harus memintanya. Sesekali mengambil alih urusan rumah tangga dan urusan anak-anak tentu akan membuatnya memiliki waktu meraih keseimbangan. Karena ia butuh waktu untuk hak dirinya.

Dan saling mendoa, semoga mengundang rahmat dan keberkahan Allah, dan menjadi jalan hadirnya keluarga Surga.

@lailacahyadi

Thursday, May 12, 2016

Serupa Malin Kundang


Pagi ini, tiba-tiba Revo   tentang istilah dzalim. Dia sedang di kamar mandi, saya menunggui di luaran.
"Umi, dzalim itu apa?"

Saya harus berfikir sejenak, mencari jawaban yang tepat.
"Dzalim itu jika mengambil hak orang lain tanpa izin."
"Kalau dzalim pada binatang?"
"Iya ada juga"
"Misalnya apa?:
"Misalnya, kita kan mengurung Sushi, kemudian malah enggak memberi makan dan minum. Namanya dzalim sama sushi (kucingnya Revo)."

Dia berdiam diri. Tanpa suara dari dalam kamar mandi.
"Kalau Malin Kundang, dzalim sama ibunya, kenapa?"
"Karena ia tak mau mengakui ibunya" jawabku.

Revo menimpali, masih dari dalam kamar mandi.
"Dia malu kan, sama istrinya, karena ibunya tua dan miskin!"
"Iya. Kalau umi tua dan miskin, apakah kamu akan malu punya umi?"
Tanyaku.

"Enggak, aku enggak malu. Umi kan belum tua, dan kaya"

Haha...
Namanya juga kanak-kanak.

***

Dialog pagi ini dengan Revo, mengingatkanku pada kisah sekitar 38 tahun silam.
Aku masih SD saat peristiwa serupa Malin Kundang, terjadi di kampungku.

Salah seorang pemuda yatim dari keluarga kurang mampu, merantau ke Jakarta. Entah apa yang dikerjakannya, saya masih terlalu kecil untuk memahaminya.
Yang kutahu, setelah sekian waktu, ia pulang membawa perempuan. Konon calon istrinya.
Yang memprihatinkan adalah, ia meminta seluruh keluarga besar bersandiwara untuknya.

Karena malu pada calon istrinya yang anak kota, ia mengaku sebagai anak dari tantenya, yang hidup sedikit lebih baik secara ekonomi. Tak juga bisa dibilang kaya.
Tantenya hanya tinggal  bersebelahan dengan gubugnya yang reyot. Dimana tinggal berjubel ibu dan 5 saudaranya.

Ia memanggil tantenya biasanya bulik, sekarang ia panggil mami. Calon istrinya diinapkan di rumah tantenya itu. Dan 8 anak tantenya juga harus mengganti panggilan Mamak dengan Mami.

Beberapa hari sandiwara itu menjadi pembicaraan khalayak. Beberapa orang dewasa dan anak yang penasaran, termasuk saya, datang menyambangi untuk melihat perempuan dan anak durhaka itu.
Anak yang tak mau mengakui ibu dan saudaranya.

Singkat cerita, namanya persekongkolan, rupanya tak pernah diridhoi Allah. Entah siapa yang membocorkan, maka gadis Jakarta itu akhirnya mengerti cerita yang sesungguhnya.

Ia marah dan bergegas pulang ke Jakarta, dengan menumpang bus malam. Tak jelas bagiku alasan kemarahannya.

Apakah ia tersinggung karena dibohongi. Atau kah ia kecewa, karena lelaki idamannya berasal dari keluarga miskin. Bahkan sangat miskin.

Sekali lagi, saya terlalu kecil memahami kerumitan itu. Mengapa seseorang tega berbuat demikian pada keluarganya sendiri.

Banyak orang mencibir dan cerita ini menjadi buah bibir.
Di pasar, di warung atau di kebun. Bahkan tak habis menjadi bahan cemohan dan tertawaan di siang dan sore hari saat perempuan yang kurang kerjaan berkumpul sembari mencari kutu atau menyuap anak bayinya.

Adapun pemuda desa itu, karena malu, pergi lagi entah kemana. Saya pun tahu kabar selanjutnya bertahun kemudian. Hidupnya tak juga membaik.

Apakah kini masih ada kisah serupa Malin Kundang?
Wallahu a'lam..

Saturday, March 12, 2016

Assaja'ah

Assalamu'alaikum.
Renungan pagi.

Apakah itu Syaja'ah ? 

Sahabat dan Kerabat, tentunya hanya sedikit diantara kita yang sudah tahu tentang arti dan makna dari kata Syaja'ah ini. 

Secara bahasa, Syaja'ah adalah benar atau gagah. 

Secara istilah, Syaja'ah adalah keteguhan hati dan kekuatan pendirian untuk membela dan mempertahankan kebenaran secara bijaksana dan terpuji. 

Secara umum, Syaja’ah adalah keberanian (dari seseorang) yang berlandaskan kebenaran yang dilakukan dengan penuh pertimbangan.

Sahabat dan Kerabat, seperti apakah kiranya Syaja'ah ini ? Ini dia beberapa contoh diantaranya :  

1. Keberanian untuk ber-Jihad Fii Sabilillah (mengahadapi musuh dalam peperangan).  

Allah SWT. berfirman : “Hai orang–orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi mereka diwaktu itu (mundur), kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya adalah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya”. (QS. Al-Anfal : 15 - 16).

2. Keberanian untuk menyatakan kebenaran (kalimah al-haq) meskipun itu dinyatakan didepan penguasa yang dzalim.

Rasulullah SAW. bersabda : "Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit". (HR. Ahmad No. 24.668).

3. Keberanian untuk mengendalikan diri tatkala marah sekalipun mampu melampiaskannya.

Rasulullah SAW. bersabda :  “Bukanlah yang dinamakan pemberani itu orang yang kuat dalam bergulat. Sesungguhnya pemberani itu adalah orang yang sanggup menguasai dirinya diwaktu marah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

4.  Keberanian untuk menginstrospeksi dirinya sendiri dan mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya.

Rasulullah SAW.bersabda : "Setiap anak Adam (manusia) berbuat kesalahan dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang bertaubat". (HR.Tirmidzi).
...
5. Keberanian untuk menundukkan jiwa agar tetap tegar dan teguh, disaat berhadapan dengan kesusahan atau musibah. 

Rasûlullâh SAW. bersabda : “Sungguh mengagumkan keadaan seorang mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, maka itu (juga) adalah kebaikan baginya". (HR. Muslim No. 2999).

Subhanallah.

Sahabat dan Kerabat, Syaja'ah ini bukan berarti keberanian dengan nekad, ngawur atau tanpa perhitungan dan pertimbangan, tetapi Syaja'ah adalah keberanian yang didasari dengan pertimbangan yang matang dan penuh dengan perhitungan, dengan maksud untuk meraih ridho Allah SWT.  

Syaja'ah juga bukan sesuatu yang bersifat fisikal semata, seperti beradu, bergulat dan berperang saja, tetapi Syaja'ah bisa juga mengandung arti keberanian dalam menaklukan amarah, hawa nafsu, kedzaliman, penindasan, kesewenang-wenangan, ketidak-adilan dan lain sebagainya. 

Sahabat dan Kerabat, itulah beberapa contoh tentang Syaja'ah. Semoga kita bisa melaksanakannya. Kalau kita belum bisa melaksanakan semuanya, minimal kita bisa melaksanakan sebagian besar diantaranya.

Semoga dengan itu, kita akan bisa mendapatkan hikmah, berkah, pahala dan keutamaannya.

Aamiin Yaa Rabbal'alaamiin

Saturday, February 20, 2016

Ika Koentjoro: Blogger Multi Talent

Ikutan grup blogger cantik itu senang-senang syerem. #Halah. Kok?
Iya deh. Senang karena banyak informasi dan ilmu. Banyak teman yang inspiratif. Lah, syeremnya dimana?
Uhuk, temannya keren-kereen dan jagoan lomba...hihi.

Salah satunya nih, pemenang arisan ngeblog bulan ini: Ika Koentjoro.
Menjelajahi blog nya di sini dan di sini, bikin geleng-geleng kepala plus ngiler. Heran, apa saja bisa menjadi inspirasi tulisan dan diracik dengan apik. Ngiler lihat foto-foto keren setiap sajian makanan. Aduh jadi pengin nyungsep ingat foto-foto di blogku sendiri.

Ika Koentjoro ngeblog sejak tahun 2011. Dengan piawai ditulisnya apa saja aktifitas harian sebagai MOMpreneur. Berpadunya jiwa bisnis dan kecintaan pada foodphotography menampak pada dominasi tulisannya.

Banyak inspirasi bisnis dan ilmu praktis yang bisa kita dapat dari kamar business. Misal nih, gimana sukses menjadi mompreneur di sini. Saya sepakat bangets, sekaligus malu, habis sebagai ibu rumah tangga yang berbisnis di rumah, saya belum bisa seprofesional mak Ika.

Dan ulasan tentang kulinernya...waw. dari Sabang sampai Merauke, bahkan hingga manca negara. Keragaman dan kecermatan dalam postingan kulinernya menunjukkan bahwa Ika Koentjoro adalah seorang perempuan pekerja keras yang menikmati pilihan hidupnya dengan kecintaan.


Perhatian mak Ika pada pendidikan anak juga tertuang dalam tulisannya di Kids. Ah sepertinya kami bertemu pada minat yang sama di sini. Yang paling saya sukai adalah tips tentang mendidik anak cerdas finasial. Panteskan, emaknya Mompreneur, wariskan juga ya pada anak-anak Indonesia.



Tak salah jika kita sebut Ika Koetjoro adalah bloger multi talent yang inspiratif. Selamat yang mak Ika, semoga terus berkarya dan menginspirasi dunia.

Hmm, tulisan ini mungkin terlalu sederhana untuk menggabarkan sosok mak Ika. Maafin aku yach...
Nanti aku lengkapi lagi.