Monday, June 26, 2017

Pesan Untuk Menantu

Dalam waktu 2x24 jam.
Iikers 600 lebih.

Pesan untuk para menantu: agar suamimu makin cinta  padamu

Di seputar hati Raya, jika suamimu mengajak mudik, menurutlah. Bantulah suamimu menjadi anak solih. Selanjutnya, bisa dimusyawarahkan setiap setahun sekali bergantian mudik ke rumah ortu atau mertua.

Di rumah mertua, berlakulah sebagai anak menantu yang baik.
Datanglah dengan takdzim, membawa oleh-oleh semampumu. Berilah sesuatu untuk ibu mertuamu, sekalipun engkau dalam keadaan kesulitan keuangan. Yakinlah memberi pada mertua, akan membuka pintu rejekimu. Saya dan banyak orang sudah membuktikan.

Jika suamimu telah berpenghasilan rutin, sisihkan sebagian untuk orang tuanya. Sampaikan sebagai ungkapan terimakasih telah membesarkan dan mendidik suamimu. Sekalipun uang itu tidak dibutuhkan oleh mertuamu yang berkemampuan. Dan biasanya akan dikembalikan padamu dalam bentuk lain yang bisa jadi lebih banyak. Serahkan saja, sebagai bentuk baktimu.

Berlapang dadalah jika mertuamu menyampaikan nasehat, kritik atau saran. Terimalah tanda cinta tersebut sekalipun kadang tidak sesuai dengan kehendakmu. Percayalah, tak ada orang tua ingin menyengsarakan anaknya. Yang ada adalah bahasa yang berbeda dan cara yang berbeda karena rentang generasi dan pengetahuan.

Belajarlah memasak dari mertuamu, karena anak lelaki seleranya mengikuti masakan ibunya, belum tentu sesuai masakanmu atau masakan ibumu. Itu jika mertuamu suka memasak untuk anaknya. Salah satu cara mengambil hati suami adalah dengan memanjakan lidahnya.

Muliakan suamimu di rumahnya. Sekalipun di rumahmu sendiri berlaku kebiasaan egaliter, layanilah suamimu di depan ibu mertuamu. Semua ibu ingin anak lelakinya dimuliakan oleh menantunya. Jangan pernah buka aib suamimu di depan mertuamu, jangan kau kritik apalagi kau marahi di depan orang tuanya.

Terlibatlah dalam kerepotan rumah tangga di rumah mertua saat lebaran. Jangan berlaku seperti tamu yang minta dilayani atau justru mengurung diri di kamar. Sekalipun di rumahmu engkau tak pernah mecuci piring, menyapu atau mengepel. Lakukan saja selama di rumah mertuamu.

Jika mertuamu atau keluarga besarmu campur tangan dalam pendidikan anakmu, bersabarlah, tokh hanya beberapa hari. Kecuali dalam masalah prinsip dan kemaksiyatan.
Kurangi berdebat untuk perbedaan dalam hal-hal teknis. Sekalipun engkau banyak belajar parenting, tak perlu menggurui mertuamu. Mintalah nasehat dan doa untuk kebaikan keluargamu.

Ada saatnya seorang menantu mendapat kedzaliman dan keluarga suami, fitnah atau caci maki. Inilah saat bersabar dan berdoa. Doa orang yang teraniaya tanpa hijab di hadapan Allah. Berdoalah yang banyak,  yang baik-baik. Semoga engkau bersabar dan ikhlas. Mudahlah untuk memaafkan dan meminta maaf, sekalipun engkau dipihak yang benar.

Tak perlu cemburu jika suamimu manja dan mesra pada ibunya. Bukankah engkau juga suka, jika anakmu manja dan mesra padamu. Biarlah mereka melepas rindu, jangan kau ganggu.

Terakhir, yakinlah janji Allah, bahwa balasan kebaikan adalah kebaikan. Cepat atau lambat. Allah sesuai persangkaan hambanya. Allah tidak tidur dan tidak lupa. Jika orang lain enggan membalas kebaikanmu, mengabaikan dan mencibir, maka ingatlah Allah yang akan membalas. Tak perlu marah atau dendam. Tetap tersenyum dan bermuka cerah. Katakan kata-kata penduduk surga, kata-kata yang  mengandung keselamatan.

Selamat mudik, semoga menjadi momen manis menantu mertua yang merekatkan cinta dan menjadikan suamimu makin mengerti, siapa dirimu sesungguhnya: perempuan solihah yang layak dicintai dunia akhirat dan tak akan diduakan selamanya.

Boleh saja engkau tidak sepakat dengan nasehatku ini, tetapi ketahuilah, ini adalah diantara rahasia, mengapa suamiku selalu mencintaiku.
Hihihi...terserah kamu ah, mau percaya atau tidak.

Ida Nur Laila

Sunday, January 22, 2017

Prasangka

Sudut pandang

Siang terik, lewat jam 13.30. Seorang lelaki memarkir motor di halaman rumah. Gerah dan lelah menampak dari peluh di dahi.
Bayangan rumah teduh, segelas air dingin dan nasi hangat, sangat menyenangkan.

Namun saat memasuki rumah, yang nyaring didengar adalah dua anaknya berteriak dan menangis berebut sebuah mainan.

Diletakkannya barang bawaan, sebagian belanjaan dan sisa  dagangan. Dilerainya kedua anak yg tengah bertengkar.

Celingak-celinguk dicarinya sang isteri. Tak nampak jua. Beberapa saat akhirnya anak-anak dapat ditenangkan.
Lalu tergopoh-gopoh istrinya muncul dari belakang.

"Aduh maaf abang. Aku lagi jemur baju. Mumpung panas. Tadi baru sempat nyuci. Seharian listrik mati. Baru hidup dan air ngalir. Jadi bisa nyuci..."

Lelaki itu tersenyum berusaha maklum. Ia menuju ke dapur dan membuka penutup meja.

"Ya ampun baang...aku lupa. Nasinya sudah habis dimakan anak-anak. Tadi listrik hidup malah ingatnya nyuci...belum ngidupin rice cooker..."

Lelaki itu tersenyum masam.
Rupanya ia harus menunda mengisi perutnya.

Lalu pergilah ia merebahkan diri di tempat tidur. Sembari menyisihkan barang-barang yang berantakan memenuhi tempat tidur.

Biarlah ia menunggu nasi masak, sambil merebahkan diri melepas lelah. Hari ini adalah hari yang berat. Namun tak ingin diceritakannya pada istrinya.

Dari kamar ia mendengar istrinya  mengomeli dua putranya yang membuat rumah berantakan.

Hmm, hatinya enggak enak banget mendengarnya. Coba ditulikannya telinga sambil memejamkan mata.
Mengapa selalu berulang kisah ini.
Keinginan sekedar istirah tak pernah bisa nyaman. Istrinya seakan tak pernah selesai dengan urusan rumah dan dua anaknya.

Dalam hati ia menyimpan kecewa. Merasa tak sepenuhnya mendapat hak ketenangan dan
perhatian dari istrinya.

Belum lagi ia memejam. Muncullah istrinya.
"Bang...gasnya habis. Aku mau gorengin abang telur.. abang beliin gih sebentar ke toko di ujung gang."

Lelaki itu menghembuskan nafas kesal tak terucap.
Bergegas ia mengambil gas, memanggulnya tanpa berkata-kata. Namun wajah keruhnya tak mampu disembunyikannya. Sambil menstater motor, masih terdengar keributan di balik pintu rumah: dua anaknya bertengkar dan istrinya melerai dengan omelan panjang kali lebar.

Sempurna sudah kecewanya.

***

Di rumah yang sama.
Perempuan itu, sejak pagi berjibaku. Ada beberapa jahitan baju yang harus diselesaikannya.
Listrik mati, maka tak kurang akal ia menggenjot saja mesin jahitnya. Semua dilakukannya setelah suaminya berangkat kerja, dua balitanya terpenuhi makan dan sudah rapi mandi.

Listrik mati dan ia tak bisa mencuci piring pun baju. Apalagi mengepel rumah.
Lewat dhuhur barulah pompa menyala dan ia dapat mencuci baju.
Serta tumpukan piring kotor. Dua anaknya tak henti memberantakkan isi rumah. Hingga lelah kaki dan tangannya merapikan. Dan tetap berantakan.
Rasanya tak ada waktu barang lima menit untuk sekedar selonjor. Waktu seakan berlari saat ia sibuk menyiapkan makan untuk anaknya. Menyuapi di kecil. Membereskan makan si sulung yang berlepotan. Mengganti ompol, mengajak mereka sholat dhuhur...lanjut mencuci baju.

Jika ia lengah sebentar, seringkali dua anaknya bertengkar.
Namun dari belakang, sembari menjemur baju ia tetap memantau keributan di dalam rumah.
Ketika tak ada suara ribut, ia justru bertanya-tanya, dan bergegas masuk menengok.

Rupanya suaminya tengah menenangkan 2 anaknya.
Rasanya ingin benar ia menumpahkan semua harinya yang tidak terlalu menyenangkan. Semprotan pelanggan yang akan mengambil jahitan dan ternyata belum kelar.
Listrik yang mati hingga cucian tertunda, tukang sayur enggak lewat jadi ia tak bisa belanja.

Namun melihat wajah masam suami, ia mengurungkan ceritanya antara rasa jengkel dan rasa bersalah saat suaminya tertunda makan siang karena nasi habis.

Inginnya ia mendapat hiburan yang tulus dari suaminya, sekedar bilang : " ya udah gak papa, aku tunggu saja."

Namun alih-alih menghibur, suaminya memilih masuk kamar.
Dan saat anaknya mulai bertengkar, ia makin riweuh. Dongkol. Seandainya suaminya mau bermain dengan dua putranya barang sebentar, ia akan segera selesai menyiapkan makan siang.

Dan gondoknya bertambah saat menyadari gasnya habis. Dengan enggan ia minta tolong pada suaminya.
Tak mungkin ia pergi meninggalkan rumah dan membeli gas, meninggalkan dua balita yang rawan bertengkar. Sementara suaminya justru tidur siang.

Ah tidur siang. Itu adalah barang mewah yang telah lama tak bisa dilakukan sejak memiliki anak. Tega banget jika suaminya melakukannya dan membiarkannya berjibaku.

Dan kecewanya bertambah saat suami menuruti permintaannya, membeli gas dengan muka masam, tanpa kata-kata.

Maka, diluapkannya pada omelan saat dua balitanya mulai saling merengek.
Sempurna sudah kecewanya.

***

Ketika hanya melihat dengan sudut pandang apa yang telah kita berikan dan apa yang kita harapkan, maka bersiaplah untuk menelan kecewa.

Cobalah sedikit bergeser dan melihat, pada sisi apa yang telah dilakukan pasangan kita.

Berbagai keruwetan yg diceritakan, semoga menyisakan kemaafan dan permakluman. Serta menumbuhkan keinginan untuk menjadi secercah kegembiraan, dengan senyum cerah, suara merdu dan kabar kebaikan. Apalagi hiburan dan pujian serta kesyukuran atas anugerah keluarga.

Baiti jannati, bukan turun dari langit. Namun surga yang tercipta dalam cinta dan kesediaan menghargai pasangan. 

@lailacahyadi

Monday, September 5, 2016

Khadijah

Perempuan yang tak pernah menghitung.

Tak ada habisnya saya mengidolakan Khadijah istri Rasulullah. Bahkan saya ambil namanya sebagai nama anak gadis saya.
Membaca kisah-kisah Khadijah semoga menjadi inspirasi bagi muslimah sepanjang masa..

****

"Saya lelah, bu" kata perempuan cantik, wanita karir abad ini, "Suami saya seolah membiarkan situasi ini terjadi sejak pernikahan kami."

Apakah situasi itu?

"Sayalah yang memikirkan roda ekonomi rumah tangga. Suami memang memberi, tapi tak seberapa. Dan tak pernah bertanya, berapa kebutuhan operasional rumah dan biaya sekolah anak-anak..."

Saya tahu, suaminya bukanlah tidak bekerja. Suaminya memiliki status yang terpandang di masyarakat.

"Dulu, saya mentoleransinya. Sekarang saya merasa terusik. Karena di belakang saya, justru ia menolong perempuan lain!"

Oh, inilah pangkal masalahnya.

Kulihat banyak perempuan rela jungkir balik berkorban untuk keluarganya. Seorang istri rela bangun lebih pagi dari siapapun dan tidur lebih malam dari siapapun di rumahnya.
Rela mengambil bagian lauk paling akhir, demi anak-anaknya. Jika perlu ia tak mengambil lauk agar anak mendapat lebih banyak gizi.

Rela bekerja jungkir balik untuk mencukupkan uang belanja.
Rela membagi waktunya untuk kegiatan anak di sekolah, di masyarakat disela tanggung jawab rumah tangganya.
Sebagian bahkan bersisir dan berbedak pun tidak sempat. Apalagi melangsingkan badan dan menyisihkan uang sekedar membeli pengharum badan.

Dan itu tak mengapa bagi mereka. Selama suaminya adalah lelaki setia yang pandai menghargai semua sumbangsih perempuan.

Perempuan mulai berhitung ketika ia merasa tak nyaman. Berhitung tentang waktunya yang terjajah tanpa 'me time'. Berhitung tentang rupiah demi rupiah yang dikeluarkannya.
Seai lagi, itu karena kehilangan rasa nyaman.

Sebabnya bisa banyak. Tapi muaranya adalah kebutuhan penghargaan dan ketentraman. Tentram karena yakin suaminya adalah lelaki baik yang memuliakannya. Dan setia.

Tapi, sejarah telah mengabarkan,  tentang khadijah yang tak pernah berhitung. Hartawan bisnis woman yang harta perdagangannya ludes dengan situasi awal dakwah yang begitu berat.

Khadijah yang tak berhitung tentang waktu yang dihabiskannya untuk hamil, melahirkan dan merawat anak. Waktu yang ia habiskan untuk mengirim bekal suaminya yang uzlah dalam hitungan bulan.

Khadijah tak membuat syarat kenyamanan. Bukan hanya karena Rasulullah adalah lelaki berakhlaq mulia. Tetapi karena ketulusannya.

Melandasi semua amal karena Allah dan untuk Allah, maka respon orang lain pun keadaan suami, tak mengikis ketulusan seorang perempuan beriman.
Keikhlasan tak pernah menghitung pengorbanan. Karena sejatinya cinta dan pengorbanan menjadi dua sisi mata uang tak terpisahkan.

Dan ketentraman muncul yarena yakin janji Allah, bahwa balasan kebaikan adalah kebaikan. Kebaikan dan pengorbanan tak pernah menguap begitu saja. Semua menjadi catatan rapi bekal akhirat.

Meletakkannya pada alasan yang tepat: karena Allah, maka cinta dan pengorbanan tak akan kehabisan stok.

Bahkan terus melipat ganda dan menjadikan anda seorang perempuan yang tak pernah berhitung.
Seperti Khadijah.

Btw untuk para suami: jika anda ingin istri anda menjadi perempuan yang tak pernah berhitung tentang cinta dan pengorbanannya, maka ingatlah:

1. Fasilitasi istri untuk meningkatkan iman dan taqwanya. Belikan buku, antarkan mengaji, ajak ikuti seminar dan lain-lain.

2. Bahagiakan hatinya dengan senyum tulus dan penghargaan. Ungkapan cinta secara lisan pun perbuatan. Berikan haknya di tempat tidur dengan cara yang indah. Dan setia, menjadi nilai yang paling berharga sebagai bukti cinta.

3. Ringankan tanggung jawabnya dengan bantuan tanpa ia harus memintanya. Sesekali mengambil alih urusan rumah tangga dan urusan anak-anak tentu akan membuatnya memiliki waktu meraih keseimbangan. Karena ia butuh waktu untuk hak dirinya.

Dan saling mendoa, semoga mengundang rahmat dan keberkahan Allah, dan menjadi jalan hadirnya keluarga Surga.

@lailacahyadi

Thursday, May 12, 2016

Serupa Malin Kundang


Pagi ini, tiba-tiba Revo   tentang istilah dzalim. Dia sedang di kamar mandi, saya menunggui di luaran.
"Umi, dzalim itu apa?"

Saya harus berfikir sejenak, mencari jawaban yang tepat.
"Dzalim itu jika mengambil hak orang lain tanpa izin."
"Kalau dzalim pada binatang?"
"Iya ada juga"
"Misalnya apa?:
"Misalnya, kita kan mengurung Sushi, kemudian malah enggak memberi makan dan minum. Namanya dzalim sama sushi (kucingnya Revo)."

Dia berdiam diri. Tanpa suara dari dalam kamar mandi.
"Kalau Malin Kundang, dzalim sama ibunya, kenapa?"
"Karena ia tak mau mengakui ibunya" jawabku.

Revo menimpali, masih dari dalam kamar mandi.
"Dia malu kan, sama istrinya, karena ibunya tua dan miskin!"
"Iya. Kalau umi tua dan miskin, apakah kamu akan malu punya umi?"
Tanyaku.

"Enggak, aku enggak malu. Umi kan belum tua, dan kaya"

Haha...
Namanya juga kanak-kanak.

***

Dialog pagi ini dengan Revo, mengingatkanku pada kisah sekitar 38 tahun silam.
Aku masih SD saat peristiwa serupa Malin Kundang, terjadi di kampungku.

Salah seorang pemuda yatim dari keluarga kurang mampu, merantau ke Jakarta. Entah apa yang dikerjakannya, saya masih terlalu kecil untuk memahaminya.
Yang kutahu, setelah sekian waktu, ia pulang membawa perempuan. Konon calon istrinya.
Yang memprihatinkan adalah, ia meminta seluruh keluarga besar bersandiwara untuknya.

Karena malu pada calon istrinya yang anak kota, ia mengaku sebagai anak dari tantenya, yang hidup sedikit lebih baik secara ekonomi. Tak juga bisa dibilang kaya.
Tantenya hanya tinggal  bersebelahan dengan gubugnya yang reyot. Dimana tinggal berjubel ibu dan 5 saudaranya.

Ia memanggil tantenya biasanya bulik, sekarang ia panggil mami. Calon istrinya diinapkan di rumah tantenya itu. Dan 8 anak tantenya juga harus mengganti panggilan Mamak dengan Mami.

Beberapa hari sandiwara itu menjadi pembicaraan khalayak. Beberapa orang dewasa dan anak yang penasaran, termasuk saya, datang menyambangi untuk melihat perempuan dan anak durhaka itu.
Anak yang tak mau mengakui ibu dan saudaranya.

Singkat cerita, namanya persekongkolan, rupanya tak pernah diridhoi Allah. Entah siapa yang membocorkan, maka gadis Jakarta itu akhirnya mengerti cerita yang sesungguhnya.

Ia marah dan bergegas pulang ke Jakarta, dengan menumpang bus malam. Tak jelas bagiku alasan kemarahannya.

Apakah ia tersinggung karena dibohongi. Atau kah ia kecewa, karena lelaki idamannya berasal dari keluarga miskin. Bahkan sangat miskin.

Sekali lagi, saya terlalu kecil memahami kerumitan itu. Mengapa seseorang tega berbuat demikian pada keluarganya sendiri.

Banyak orang mencibir dan cerita ini menjadi buah bibir.
Di pasar, di warung atau di kebun. Bahkan tak habis menjadi bahan cemohan dan tertawaan di siang dan sore hari saat perempuan yang kurang kerjaan berkumpul sembari mencari kutu atau menyuap anak bayinya.

Adapun pemuda desa itu, karena malu, pergi lagi entah kemana. Saya pun tahu kabar selanjutnya bertahun kemudian. Hidupnya tak juga membaik.

Apakah kini masih ada kisah serupa Malin Kundang?
Wallahu a'lam..