Tuesday, October 21, 2014

Jangan lewatkan satu hari pun


 
Cintaku

Belum lama kami terkaget-kaget dengan beberapa peristiwa tentang ‘anak yang belum sebagaimana yang diharapkan’.
Eh apaan sih?

Iyah, ini penting buat anda yang baru menapaki kehidupan rumah tangga, baru punya anak kecil-kecil atau bahkan anda yang baru merencanakan berumah tangga.
Lah, buat orang tua yang anaknya sudah gede apa enggak penting?
Ya penting juga, cuma sudah agak telat.

Ceritanya ini adalah curhatan beberapa bunda yang anaknya telah menapaki jenjang SMA dan perguruan tinggi. Beberapa bunda mengeluhkan anak pertama yang terasa agak ‘jauh’ dengan keluarga. Baik secara kejiwaan maupun ideologis.


Orang tuanya menjalani kehidupan yang cukup religius dan si anak mengambil jarak untuk memiliki pandangan sendiri tentang keyakinan hidup. Hmm.
Tentu saja yang demikian berdampak pada cara hidup dan takaran yang berbeda. Misal ibunya sejak kecil membiasakan berjilbab, dan setelah si anak jauh dari orang tua, membuka jilbabnya.

Kasus lain, orang tua melarang pacaran, dan si anak justru memilih pergaulan bebas.
Ada lagi anak yang ‘bersembunyi’ dari jati diri orang tuanya karena ia merasa tak ‘sesolih’ bapak ibunya.
Yang lebih ektrim adalah anak yang memilih ‘murtad’ karena bujukan pacarnya. Ia memilih kawin lari meninggalkan keluarganya.
Ada lagi anak yang stress dan harus mendapat perawatan medis dan psikis untuk memulihkan. Ada yang kecanduan game, rokok dan narkoba...

Ternyata tidak mudah ya membersamai anak kita, membesarkan, mendidik dan mengarahkan.
Duuh saya tidak sedang menakuti, jadi jangan takut punya anak.

Curhatan dan diskusi para bunda ini berujung pada mengenang masa lalu. Masing-masing mencoba memutar ulang, bagaimana dulu si anak yang dianggap ‘bermasalah’ ini terlahir, tumbuh dan berkembang dalam keluarganya. Sampailah kami pada beberapa kesimpulan yang mirip.

Para bunda mengakui betapa sibuknya mereka dulu ketika anak-anak ini memasuki masa emas, 0-7 tahun. Anak-anak ini ‘disambi’ beraktivitas, berorganisasi, bekerja dan ada pula yang berdakwah. Terkadang mereka harus dititipkan kepada nenek, pembantu atau tetangga. Terkadang anak-anak  ini ‘terlantar’ di sekolah dan telat menjemputnya.
Sebagian dari mereka bahkan telah diberi ‘beban’ menjaga adik pada usia mereka yang sangat muda.

Mungkin saat itu tak pernah ditanya, apa yang mereka rasakan. Apa yang mereka fikirkan tentang ‘kesibukan orang tuanya’.
Atau kosa kata mereka belum sampai pada satu kata: terabaikan.
Yah mungkin mereka belum bisa mengenali perasaan terabaikan atau tersisihkan. 

Setelah mereka besar, mereka baru bisa berkata:
“Orang tuaku lebih mementingkan pekerjaan dari pada aku”
“Orang tuaku lebih mementingkan teman-temannya dari pada aku”
“Orang tuaku lebih mementingkan organisasi dan kegiatannya dari pada aku”
......
Lalu mereka mungkin mengatakan:
“Aku tak ingin menjadi seperti orang tuaku”
“Aku mau kebebasanku untuk menjadi diriku sendiri”
“Tak masalah aku berbeda dengan orang tuaku”
......

Terbentanglah jarak psikologis, jarak ideologis dan jarak-jarak yang lain, sekalipun mereka tetap satu rumah.
Para orang tua ini butuh energi besar untuk mengarungi jarak tersebut. Mereka rela banyak ‘mengalah ‘ untuk meraih kembali masa-masa yang tak dapat di putar ulang.

Memang hidayah milik Allah. Memang sejarah anak kita belum selesai. Demikian pula sejarah kita. Jadi semoga masih ada harapan.
Bersyukur jika ada orang tua yang mau memulai ulang menuliskan sejarah baru bersama anaknya.

Bukan sekedang blaming dengan mengatakan:
“Saya sudah berusaha, namun anaknya memang susah diatur...”
“Memang anakku wataknya keras begitu”
“Itu terpengaruh teman-temannya...”

Orang tua hanyalah manusia biasa. Bukan nabi ataupun rasul. Mungkin dalam sikap kondisionalnya ada salah, khilaf dan ketidak sengajaan. Dan juga ketidaktahuan. Namun tak ada kata terlambat untuki memperbaiki.

Saya selalu mengajak diri sendiri untuk memulai dengan taubat. Saat seseorang merasa punya masalah dengan anak atau suami atau orang lain, mulai saja dengan taubat.
Mohon ampun pada Allah dan meminta maaf pada si anak. Itu yang disebut restart, memulai dari nol.

Mohon ampun pada Allah disertai muhasabah, apakah kita telah sempurnakan kewajiban ibadah kepada Allah dengan sepenuhnya? Terus tambah taqarrub dengan ibadah wajib dan raih cinta Allah dengan ibadah sunah. Hiasi dengan kemuliaan akhlaq.

Lalu kepada anak, mulailah dengan meminta maaf.
“Maafkan bunda ya nak. Sebagai manusia pastilah bunda punya salah padamu. Bahkan mungkin banyak. Bunda ingin memulai dengan benar. Memulai lagi menjadi sahabatmu. Maafkan bunda untuk semua keterlanjuran...”
Permintaan maaf yang disertai perubahan sikap kita.

Biarlah anak heran dan mencerna. Mungkin butuh beberapa waktu baginya untuk menyambut itu. Tapi bersabarlah untuk terus mendekat meraih hatinya.

Sebagian orang mungkin punya pendapat sebaliknya:
“Mengapa aku yang harus minta maaf? Bukankah aku telah berusaha menjadi orang tua yang baik. Dan kini kenyataannnya anakku yang banyak berbuat salah dan menyakiti hatiku...?’
Huff.
Kalau pernah dengar istilah orang tua yang durhaka kepada anak, ya kira-kira inilah contohnya.

Merubah orang lain haruslah dimulai dengan merubah diri kita menjadi lebih baik. Mustahil memaksa anak menjadi lebih baik jika orang tua tak merusaha menginsyafi dirinya.

Duuh panjang banget, apa hubungannya dengan judul di atas?
Mengingatkan saja, bahwa menjadi orang tua adalah kontrak seumur hidup, 24 jam sehari dan 7 hari dalam sepekan. Tak ada cutinya. Sejak mereka dalam kandungan hingga terlahir dan dapat mendengar, melihat atau memikirkan dan merasakan.....dan selamanya sampai ajal menjemput.

Mereka belajar cepat setiap harinya, mencerna dan menyimpulkan.
Oleh karenanya jangan lewatkan satu hari saja, atau bahkan satu jam saja dengan mengabaikan anak kita. Apalah lagi memberi contoh buruk, memberinya beban diluar kesanggupannya...

Godaan era gadget sekarang bukan hanya anak tersisihkan oleh pekerjaan orang tua, tapi juga sosialita orang tuanya.

“Mamah pilih aku apa Facebook?”
“Papah pilih aku apa hp?”
Kira-kira itu pertanyaan anak sekarang.

Segera letakkan gadget anda, peluk dan cium dia. Temani bermain dan belajar, sebelum anda menyesal 10 atau 15 tahun lagi.

Anak kita semestinya menjadi hal penting dalam hidup kita.
Saya juga sedang dan terus berjuang misalnya di sini.


Tentang rahasia nasehat yang didengarkan, baca di sini.

42 comments:

  1. Replies
    1. Sama2. Saya sedang bicara pada diri sendiri juga

      Delete
  2. Terima kasih sudah diingatkan, Bu.. Semoga saya belum terlambat, karena si sulung baru 3,5 tahun.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuup mari hiasi harinya dengan cinta dan perhatian

      Delete
  3. indeed, saya sudah berpikir gitu sii mak, makanya mau memperbaiki diri... well, anak itu penyelamat kita kalau kita mati nanti, iya kan? kalo bekalnya ga full, yang mau nyelametin kita siapa? huks huks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener banget. anak yang berbakti jadi jalan syurga untuk orang tuanya.

      Delete
  4. terimakasih sudah mengingatkan mak,,,, hiks hiks

    ReplyDelete
  5. Terima kasih Bu...ini menjadi pengingat bagi kita orang tua...

    Memang anak adalah anugrah yang terindah...sudah selayaknya kita orang tua mensyukurinya dengan memberikan porsi lebih dari kehidupan kita untuk membersamai mereka, berkontribusi lebih dalam pembentukan karakter dan potensi mereka. Karena pada akhirnya kita lah orang tua yang akan di minta pertanggung jawaban oleh Allah SWT di akhirat kelak akan titipan amanah-Nya, yakni anak kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener bangets makasih ya udah berkunjung

      Delete
  6. Saya simpan sebagai tabungan saya nanti. Juga untuk saya bagikan ke yang lainnya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. silahkan, moga kelak jadi bunda sholihah amiin

      Delete
  7. jadi sedih bacanya mak, semoga belum terlambat memberi perhatian kepada anak. ini juga yg membuat saya ingin segera berhenti kerja

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mak...waah jadi pengin peluk anak ya....

      Delete
  8. Mbak....saya ibu yg bekerja dr gelap pulang gelap, tp urusan makanan & keperluan anak saya pegang sendiri, kecuali ketika saya bekerja. Anak2 makan makanan yg saya masak. Dr jam 3 pagi saya sdh menyiapkan semua keperluan anak2 sampai saya pulang, langsung anak2 saya take over lg, memasak u/ makan mlm, belajar & menidurkannya. Stlh itu saya msh menyiapkan bahan2 u/ masak bsk pagi. Saya sll menanyakan sarapan apa yg mereka mau, bekal apa yg mereka inginkan & makan siang apa yg hrs saya siapkan. Anak2 jarang jajan krn saya membuat camilan kesukaan anak2 sendiri. Rata2 saya tidur diatas jam 11 mlm. Hr libur anak2 ga boleh sama pengasuhnya, saya yg urus. Dr mulai sarapan mengantar jemput sekolah, istilahnya semua. Emang ga capek begitu setiap hari? Yaaa capek lah, tp itu yg hrs saya lakukan krn tanggung jwb sbg ibu & saya melakukan itu lebih dr 25 th. Anak2 lbh memilih masakan saya & anak2 sangat dekat dgn saya sampai saat ini. Si kk udah 26th yg tetap minta bawa bekal ke ktr & si ade..udah semester 5. Kami begitu kompak seperti teman yg saling sharing tetang apa saja. ‏الْحَمْدُلِلَّهِرَبِّالْعَالَمِينَ Mbak. Memang saya melihat kecenderungan ibu2 jaman sekarang, melupakan tugas utamanya u/ mengurus rt & anak2, tp bkn hanya terjadi pd ibu yg bekerja diluar ktr loh, ibu2 yg tidak bekerja pun tdk menjamin anak2nya baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salut mba ningsih Ali, betapa besar pebgorbanan seorang ibu. Yap betul ibu bekerja di luar maupun di rumah sama2 harus merenung, sudahkah kita menjadi ibu yang baik bagi anak2 kita?

      Delete
    2. beginilah contoh ibu yang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. empat jempol deh mbak ningsih. makasih sudah berbagi tips....

      Delete
    3. Subhanallah, trmksih sdh diingatkan bu ida n bu nigsih, salut banget sama bu nigsih. smg sy bs berubah mnjadi ibu yg makin baik buat anak2. Ini tulisan saya... monggo mampir...
      http://jilbabcantiqmalang.blogspot.com/2014/10/belajar-menjadi-ibu-sepanjang-hayat.html

      Delete
  9. Maak, ah tulisan ini membuatku kemali merenung. Meski selalu di rumah bersama anak, aku aja merasa anak berguitu cepat besarnya. Biarlah rumah sedikit berantakan, biarlah resolusi sedikit terlambat dicapainya, yang penting mereka tak terabaikan ya maak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuup benar mak. barang retak bisa diganti, rumah berantakan bisa diperbaiki...namun jiwa anak matri terus kita rawat agar berkembang sehat dan uth. makasih udah mampir

      Delete
  10. pesan yang baik sekali buat para orang tua..
    saya belum berkeluarga mba, tapi kalau lihat temen bicara main hp atau fban juga kesel rasanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mbak tina...hehe semoga kelak selalu ingat saat menjadi orang tua

      Delete
  11. saya pegang gadget nih mbak sekarang hehehe tapi anak-anak lagi sekolah, nanti pas pulang udah selesai deh bw nya. Terima kasih sudah diingatkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi mama Cak vin pastilah mama penuh perhatian dan cinta. makasih udah mampir

      Delete
  12. Makasih Mba Rahmi. Semua memang butuh tekad dan perjuangan, selamat berjuang ibu2

    ReplyDelete
    Replies
    1. selamat berjuang semua...setiap lelah ada nilainya di sisi Allah

      Delete
  13. Terima kasih mba untuk nsehatnya, ini akan sangat berguna apalagi buat saya jika memiliki sebuah keluarga suatu saat nanti. Semoga nasehat ini tetap saya ingat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya doakan segera berkeluarga dan jadi ayah dan suami yang baik

      Delete
  14. Ya begitulah Mak, saya jadi mikir apakah dengan jadi ibu yang bekerja tetap bisa jadi ibu yang baik bagi anak-anakanya?
    Tapi insya Allah bisa ya, berkaca pada ibu-ibu bekerja yang juga sukses jadi ibu teladan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sip mak. belajar dari orang lain memang penting....makasih udah mampir

      Delete
  15. justru saya sangat bersyukur karena orang tua ku nggak ngerti pake internet, haoe juga ala kadarnya, so, perhatiannya pada kami anak-anaknya full time :) tengkiyu share ilmunya mak,

    ReplyDelete
  16. Waduh, ada yang sampai memilih murtad ya, Maaak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada mak. alhamdulillah beberapa tahun kemudian balik ke rumah ortunya dan masuk islam kembali.

      Delete
  17. Izin copas ya Bu. Semoga ALLAH selalu memberkahi Ibu dan keluarga. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin silahkan. mohon cantumkan link url postingan

      Delete