Tuesday, May 6, 2014

HP Jadulku Selalu Kembali Padaku.....



Tertantang GA keren dari emak nun jauh di rantau....


Rasanya gimana gitu kalau mengingat hp pertama. Jaman dulu melihat hp identik dengan barang mewah. Untuk alat komunikasi saya memakai pager sekitar tahun 1995. Selama beberapa tahun rasanya tertolong banget berkomunikasi via pesan di pager. Sekalipun kalau butuh menelepon tetap harus ke wartel haha....jadi kadang sehari bolak-balik ke wartel selama beberapa kali.

Sekitar tahun 1999, suamiku memiliki hp pertama. HP seken yang sudah cukup menggembirakan. Itu jaman reformasi. HP pertamanya sangat menolong untuk koordinasi. Maklum kita juga terlibat dalam berbagai demontrasi pada saat itu.

Melihat HP suamiku, saya belum berani berkhayal memiliki HP. Ekonomi kami masih sulit, suliiit banget....



Sekitar tahun 2000...suamiku mendapat rejeki HP baru, jadi hp lamanya menjadi bagianku. Ooh tak terbayang senangnya, karena kami jadi bisa saling terhubung dalam jadwal kami yang tak terlalu beririsan.

Huee....dalam kesibukan kami berdakwah dan mencari nafkah, kadang rumah bak terminal. Kami piket untuk menjaga anak dan keluar rumah. Naah HP sungguh sangat terasa manfaatnya.

Inilah penampakan HP pertamaku. Gambar pinjam dari sini.




Mereknya Siemens, serinya tak kuingat dengan benar mungkin C25, warna hitam. Suamiku membeli barang seken ini seharga sekitar 400 ribu. Layarnya sudah agak buram, dan hanya dua baris. Kalau dipakai SMS gak bisa panjang-panjang.

Yang khas adalah tebaal dan beraat. Lumayan jika untuk menimpuk orang usil bisa bikin benjol haha... Eh tapi belum pernah yaa... aku menggunakannya untuk tujuan selain menelepon dan SMS. maksudnya nggak bisa buat selfie halah!

Selama kumiliki, HP triken ini beberapa kali hampir hilang, namun selalu kembali ke genggamanku.
Heh kenapa triken? Yaah kan setelah seken jadi triken...haha.

Pertama hampir hilang saat aku mengantar suamiku pergi ke terminal. Beliau akan ke Jakarta mendadak dan harus hunting bus segera. Hujan turun lebat, kami berboncengan motor dan mengenakan mantel.

Sampai di depan gerbang terminal Umbulharjo, kami oper motor. Suamiku turun, memberikan mantolnya padaku dan aku duduk di atas motor. Ketika bersalaman dengan suamiku, tiba-tiba ia bertanya:

“Mana HPmu Mi? Coba ditengokin...”
Refleks aku meraba saku gamis dan HP-ku lenyap. Tanpa ba-bi-bu, suamiku melesat berlari ke dalam terminal, bahkan belum membayar peron, ia menerobos saja.

Aku bingung terlongong-longong seperti orang bodong. Eh seperti orang bodoh.Karena kebingungan, aku masih duduk di motor sambil mencari di sekitarku barangkali hpku jatuh.Tak juga kutemukan. Aku mengaduk-aduk isi tasku, masih nihil.

Lalu jeng...jeng munculah suamiku. Berkeringat bercampur air hujan yang membasahi rambutnya. Nafasnya terengah-engah sambil mengacungkan HPku.

“Ini nih tadi jatuh mungkin. Aku hanya melihat sekilas ada orang memungut lalu mengacungkan HP ini ke sekitar tanpa berkata. Lalu dia langsung masuk terminal. Maka aku tadi nanya Umi. ...”

“Hhh...alhamdulillah...masih rejekiku...trus gimana Abi menemukan orangnya...?”
“Yaah tidak mudah, Abi masih ingat warna bajunya, tapi nggak begitu jelas orangnya...jadi Abi menebak-nebak saja. Untung HP itu masih dipegangnya, belum disimpan. Abi kan mengenali HPnya...Alhamdulillah orangnya langsung percaya...”

“Kok dia baik ya...?”
“Aku kasih uang 50.000 sebagai tanda terimakasih...”
Ooh syukurlah...”

Suamiku berpamitan dan berpesan untuk aku lebih hati-hati menjaga barang berharga kami. Aku berjanji pada diriku sendiri. Sungguh aku merasa teledor, dan mengingat untuk tidak meletakkan HP di saku gamis, yang bikin mudah jatuh saat duduk di motor.

Peristiwa kedua adalah saat aku mengantar suamiku ke warnet di jalan Solo. Ada dokumen yang harus dikirimkannya dan aku menunggui karena tanggung kalau ditinggal pulang. 

Aku bermain dengan anakku yang lagi belajar berjalan di halaman warnet. Karena waktunya sore, jadi sekalian kusuap makan sore. Kami duduk di dekat pagar sambil menonton mobil yang lewat.

Putriku yang manis ini tak bisa duduk manis. Ia naik turun tempat kami duduk, jadi aku harus meletakkan bawaanku termasuk HP agar bisa menjaganya.

Setelah suamiku selesai, kami bergegas pulang. Sampai di rumah sudah waktu maghrib dan aku baru menyadari kalau HPku tidak ada. Kuaduk-aduk isi tas dan tak kutemukan.

Suamiku berusaha menelepon, terdengar dering tapi tidak ada yang mengangkat. Aku sudah kehilangan harapan. Kami tidak yakin dimana hp itu jatuh atau hilang. Kalau jatuh di jalan, pastilah sudah diambil orang.

Eh...sekitar jam 07.00 ada SMS masuk ke nomer suamiku.
“Maaf mas, HPnya ketinggalan ya...?’

Langsung suamiku menelepon nomer tersebut dan bersambut. Rupanya yang SMS adalah penjaga warnet yang sekaligus juga pemiliknya. Tukang parkir warnet menemukan HPku tergeletak dengan manis di bangku tempat tadi aku menyuap anakku.

Konon ia hendak mengejar, kami sudah jauh, jadi ia serahkan pada pemilik warnet, barangkali kami akan kembali jika menyadari tak membawa HP tersebut.
Alhamdulillah...alhamdulillah....syukurku pada Allah.

Herannya bagaimana ia bisa tahu nomer hp suamiku, sedangkan di kontak, yang muncul adalah sebuah kata pengganti nama suamiku: Sayangku. Ya aku menulis sayangku untuk menandai nomer suamiku.

Untungnya pemilik ini cerdas ya, jadi ia bisa menemukan kontak suamiku...haha. Dan alhamdulillah aku nggak punya gebetan haha... yang kuberi nama sayangku....iih naudzubillah....nggak mungkiiin!

Itulah kisah Hp pertamaku yang kugunakan hingga akhirnya hurufnya tidak terbaca karena kehabisan baterai layar. Dan aku sudah capek memakainya karena keseringan lowbat. 

Bagaimanapun bentuk rupanya, hitam seperti kapal api, namun jasanya tak terkira. Terimakasih buat HPku, buat Siemens yang pernah mengeluarkan serinya, dan buat suamiku yang memberiku HP bekasnya.

Akhirnya sekitar tahun 2002, kami punya kemampuan mengganti Hpku dengan yang sedikit lebih baik.

Sedikit lebih saja, karena tetap membeli yang seken dan murah sesuai kantung kami. Dan batreinya juga tetap tidak tahan lama...hi...hi..hi...hi...#modemaklampir.


Itu kisahku...bagaimana kisahmu?







NB: 
Makasih buat mak Isti cuantiik yang telah bikin GA keren ini.

Kalau boleh milih aku mau bukunya mak Jihan Davinca, boleh yang Davincka Code atau Memoar of Jeddah.

He..he...piss pokoke menang maak....hihi....



                Atau 

            ???

48 comments:

  1. Hp nya tipe setia, susah nyari yg gitu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe iya maak...makasih udah mampir ronda

      Delete
  2. HP nya nggak mau disimpan orang lain, maunya sama mak Ida :)

    ReplyDelete
  3. banyak cerita tentang hp jadul ya mbak, aku segera buat juga ah

    ReplyDelete
  4. waaaah... hapenya sama Mak, aku juga triken, dikasih suami

    ReplyDelete
  5. hahhahaha seru ya nyeritain hp jadul... kalo punyaku dulu yg warnanya kuning mak ida,, hikzz skrg msh ada yg jual gak yaaa kwkkwwkkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. mau dimuseumkan ya mak Icha...ayuuk ikutan...

      Delete
  6. Hah, pager? aku kira tadi pagar. ternyata bacanya pejer, wkkwkwk aku malah belom pernah pegang page samsek. :D

    Aku... aku ngekek liat ada fotoku di situ, hahhaha inisiatif banget dirimu Mak :D Bisaan aja nyogoknya ahhhahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. pokoknya menang kalah gak penting mak...yang penting dapat bukunya mak Jihan hahaha...

      Delete
  7. Jodoh ya Mak hapenya, hehehe...

    ReplyDelete
  8. Hihi, bisa kaya gitu ya mak.. udah berkali-kali ilang eh ketemu lagi, kaya jodoh aja sih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi saya bilang, seumur hidup belum pernah kehilangan HP...

      Delete
  9. Mak Ida, serius, aku baru kali ini lihat hape itu. Hahahahaha. Katrok sekalii ya >,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. lha aku kan dari jaman dinosaurus...

      Delete
  10. hp pertamaku dikasih om
    sampai sekarang masih disimpan
    tapi pas kmrn bongkar lemari, kok gak nemu yah *ini bukan disimpan dg baik namanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. kadang kalau nyimpannya terlalu serius haha

      Delete
  11. hape pertama pastinya menjadi hape yg istimewa ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak...sekalipun kayak ganjel pintu katan mak kandi pungky

      Delete
  12. bentar. hape pertamaku apa ya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. saking banyak ganti hape sampai lupa nih...

      Delete
  13. hp pertamaku nokia 5110 Mak.. gede dan berat ... tapi ngetrend di jamannya karena bisa ganti casing warna-warni hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi itu sudah jaman modern ya mak...

      Delete
  14. Hapenya setia banget ya mba, balik lagi balik lagi ke yang punya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak santi, namanya masih rejeki...

      Delete
  15. Wah hpnya jadul bgt mak ida..jaman skrg msh ada ngga ya yg pake hp model gitu?hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya masih ada mak...di museum hihi

      Delete
  16. aku ngga sempet punya pager mak, trennya cepet banget berganti yang pager itu yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak...kita terkejut dg perkembangan kemajuan

      Delete
  17. Hp nya sayanh sama majikannya ;)

    ReplyDelete
  18. sama mak..hape pertama saya juga siemen tp C35...tahan banting lho n air :)

    ReplyDelete
  19. itu hape pertama bapak saya mak, dan saya termasuk yang sering meminjamnya juga, jadi bisa membayangkan si rupa hape sambil membaca tulisan ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin memang lagi masanya hp itu....

      Delete
  20. Wah, si emen emg penuh kenangan! :-)

    ReplyDelete
  21. Tadaa....!!! Kunjungan perdana Ibu yang beruntung.
    kenapa saya bilang beruntung? karena selalu saja hape yang merasa di sayang itu kembali ke pemeliknya saat hilang arah dan tidak tahu jalan pulang #eh_lagu ^_^
    ditunggu kunjungan baliknya :)

    ReplyDelete
  22. Alhamdulillah - Wasyukurillah ... hapemu memang rezeki mu - 2 x akan hilang tetap kemabli pada pemilik sejati.. Nice ... ;)

    Ini cerita hape pertamaku dan selanjutnya :
    http://omman.blogdetik.com/2014/05/25/on-off-on-off/

    http://omman.blogdetik.com/2014/05/29/buka-hutan/

    Trmksh ya ... :P

    ReplyDelete