Showing posts with label oleh-oleh haji. Show all posts
Showing posts with label oleh-oleh haji. Show all posts

Friday, April 25, 2014

Ablah Tsurayya




Pertemuan dengan beliau adalah mimpi indah yang entah kapan akan terulang lagi.

Semua berawal dari pagi shubuh pertama kami di Madinah. Kami tiba jam 11 malam pada hari Kamis , jadi setelah meletakkan berbagi bawaan, bersegeralah kami untuk menuju masjid Nabawi. Aku dan beberapa rekan rombonganku, tidak segera beranjak pergi setelah sholat shubuh usai. Kami sedang membaca alma’tsurot ketika ada penawaran ziyaroh Raudhah.

Begitulah daya tarik yang luar bisa mendorong kami mengikuti papan bertulis Malaysia.

Taman Qur’an Ustadzah Khadijah

Sepenggal kenangan di Masjid Nabawi

Selama mukim di Madinah, inginnya aku setiap hari menyambung sholat ashar hingga isya di Masjid Nabawi. Jika selepas dhuhur dan makan siang, sempat berbaring istirahat barang 30 menit, maka segera aku mandi dan bergegas menuju ke masjid mencari tempat yang nyaman untuk berjama’ah sholat ashar.

Sore itu selepas sholat, aku duduk bertilawah di dekat rak mushaf Al-Qur’an di sisi kiri dalam masjid area perempuan. Lalu datang dan duduklah seorang wanita dan membuka cadarnya. Kemudian seorang nenek dan cucunya yang cantik, berusia sekitar 8 tahun, mengambil meja-meja kecil tempat Al-Qur’an dan mengaturnya melingkar. Aku bertanya dalam hati, apakah akan ada majelis Al-Qur’an.

Thursday, April 18, 2013

IBU DAN ANAK Oleh-oleh Umroh 2013 ( 4)



Beberapa kali aku mengamati fenomena menarik antara ibu dan anak saat di Masjidil Haram
Dalam rombongan kami ada beberapa orang yang mengantarkan orang tuanya berhaji. Ada seorang ibu sepuh usia 74 tahun yang diantar oleh dua anak laki-lakinya. Ibu ini selalu memakai kursi roda dan dua anaknya mendorongnya bergantian.

Ada juga mbak Aster  dari Ponorogo yang mengantar ibu dan ayahnya. Ada mbak Ira dari Medan yang juga membawa serta ibundanya. Ada mbak  Nesmi dan mas Zacky yang juga  berumroh bersama bundanya.
 Dan masih beberapa lagi yang saya tak bisa mengingat satu persatu, karena rombongan kami ber 100 orang.
Aku sendiri juga pergi bersama ibu dan anakku.
Beberapa teman duduk di masjid  juga merupakan pasangan ibu anak.
Tarkan sencer and her Mom
Aku sempat berkenalan dengan Sencer Tarkan dari Turki yang pergi bersama ibundanya. Ibundanya duduk di atas kursi roda. Mereka senang sekali ketika kufoto, bahkan  kami bertukar alamat FB. Kendala bahasa tak menghalangi komunikasi kami walaupun sebagian kami sambung dengan bahasa isyarat. Maklum aku tak bisa bahasa turki dan dia juga tak faham bahasa indonesia. Kami sama-sama sedikit mengerti bahasa Inggris.
Setibanya di tanah air, kukirimi Sencer Tarkan foto-fotonya, dan kami berteman di FB.


PENAMPILAN HATI Oleh-oleh Umroh 2013 (3)






“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad-jasad kalian dan tidak juga kepada rupa-rupa kalian akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian (dan amalan-amalan kalian)” (Hadits Riwayat Muslim).






“ Di tanah suci ini, ada banyak keistimewaan. Diantaranya ya ibu-ibu, memakai kucir di jilbabnya, atau memakai bunga di atas kepalanya dan tidak malu. Coba kalau di tanah air, mungkin tidak ada yang mau...”
“ Bapak-bapak ini, pergi ke Mall, memakai pakaian ihram, juga biasa saja...hanya ada di tanah suci semua pengecualian ini...”


WAKTU YANG BERLARI Oleh-oleh Umroh (2)



Salah satu kesan yang rata-rata dialami para jemaah adalah sangat cepatnya waktu berlalu saat ziyarah ke Mekkah dan Madinah.  Bangun pagi sekitar 02.30. bersiap ke masjid karena janjian sholat tahajud berjamaah di lantai 2 masjidil haram. Jarak antara hotel Elaf multaqo dengan masjid sekitar 200 m. namun tentu butuh sekitar 15 menit untuk turun dari kamar hingga sampai ke lantai 2 masjid.





Wednesday, April 17, 2013

DOA SAPU JAGAT oleh-oleh Umroh 2013 ( 1)







Diantara ilmu yang kuperdalam dari prosesi umrah kemarin adalah pemaknaan dari doa sapu jagat.
Apa itu doa sapu jagat ?
Anda pasti sudah menghafalnya.
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Al-Baqarah: 201). 
Doa ini juga kita baca saat thawaf pada posisi antara rukun yamani dan hajar aswad.


Apa sih kebahagiaan akhirat ?
Para ahli tafsir sepakat bahwa arti dan maksud kebaikan akhirat adalah surga, sebab di akhirat manusia hanya punya dua pilihan, yaitu surga dan neraka. Allah SWT berfirman, "Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (QS. An-Naazi'at: 37-41).

Salah satu ustadz pembimbing menyampaikan bahwa makna kebahagiaan akhirat itu ada 4:
1. Dilindungi dari siksa kubur.
2.Dimudahkan dalam hisab
3. Dijauhkan dari api neraka,
4. Mendapat ridho Allah,  dimasukkan dalam  syurga

Adapun kebaikan di dunia itu apa ?
Mungkin  akan banyak ragam jawabannya
Syekh Ahmad Abdurrahim Abdul Bar mengandaikan :
“jika kebaikan akhirat adalah surga maka, kebaikan dunia harus otomatis menjadi penyebab bagi kebaikan akhirat.”
Jadi ini penjelasan ustadz yang sinkron denganm hal diatas.
Kebaikan dunia itu ada 4.
1. Diberi iman dan taqwa dan istiqomah di dalamnya.
2. Ilmu yang bermanfaat.
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Siapa yang ingin dunia, wajib baginya memiliki ilmu. Siapa yang ingin akherat, wajib baginya pula memiliki ilmu.” 
Maksudnya adalah ilmu sangat dibutuhkan untuk memperoleh dunia dan akherat.
3. Anak yang sholih



4. Harta yang berkah untuk amal jariyah

           Ibnu Wahb (wafat th. 197 H) rahimahullah berkata, “Aku mendengar Sufyan Ats tsauri rahimahullah berkata, “Kebaikan di dunia adalah rizqi yang baik dan ilmu, sedangkan kebaikan di akhirat adalah Surga.” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/229-230, no.252 dan 253, dan 254) dan al ‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 141)
Hmm sepakat saja ya.
Bukankah Ilmu yang bermanfaat, anak yang sholih dan harta yang disedekahkan adalah amal jariyah yang tak terputus pahalanya bahkan setelah kita mati.
Jadi kesimpulannya, jika kita mengucapkan doa itu, iringilah dengan melakukan kebaikan di dunia yang akan membawa pada kebaikan akhirat.





Pertanyaan untuk diri sendiri adalah :
Sudahkan kita pelihara iman dan taqwa kita ?
Sudahkan kita menuntuk ilmu dan mengamalkan serta membagi ilmu kita ?
Sudahkah kita memilih pasangan yang baik agar memperoleh anak yant solih dan solihah ?
Jika sudah punya anak-anak< apakah kita telah mendidiknya dengan baik ?
Kemudian, apakah setiap rupiah yang kita cari dan belanjakan, memiliki korelasi dengan akhirat lantaran senantiasa kita zakati, sebagian kita sedekahkan dan wakafkan. Apakah harta kita memberi kemanfaatan pada orang banyak atau hanya pada diri kita sendiri ?

Monggo dijawab sendiri.

Mertosanan kulon 17 April 2013

Friday, February 24, 2012

Masjid Nabawi : Jatuh Cinta Yang Kualami di Tanah Suci (41)


Oleh : Ida Nur Laila


Sungguh indah masjid nabawi yang terhampar megah di hadapanku. Lebih indah dari foto-foto yang pernah kulihat. Lampu-lampu bersinar di menara yang menjulang. Ornamen jendela , pintu, dinding, semua nampak indah bagiku. Saat memasukinya, aku makin terpesona dengan berbagai  ornamen interior masjid.
Di dalam masjid terhampar karpet merah tebal untuk alas sholat. Antara tempat laki-laki dan perempuan, dibatasi oleh sekat dari kayu berukir, sekat ini memiliki pintu-pintu atau gate yang menghubungkan 2 area terpisah ini. Saat hendak memasuki roudhoh, gate itu dibuka satu persatu.
Masjid nabawi, bukan  hanya memuaskan mata, tapi juga memuaskan batin. Aku duduk berlama-lama menghirup auranya dalam-dalam. Mengisi seluruh rongga dadaku yang telah lama merindu pada tempat warisan nabi ini. Dini hari itu adalah saat pertama aku mengunjungi tempat suci ini. Bersyukur aku diijinkan Allah mengunjungi tempat mulia ini.

Keutamaannya dinyatakan oleh Nabi saw., sebagaimana diterima dari Jabir ra.:
"Satu kali sholat  di masjidku ini, lebih besar pahalanya dari seribu kali salat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram. Dan satu kali salat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu kali salat di masjid lainnya" (Riwayat Ahmad, dengan sanad yang sah).
Ketika hari mulai terang, aku memanjakan mataku  memandangi seluruh bagian masjid. Atapnya, dindingnya, karpetnya, para petugasnya, seluruh jamaah yang hadir. Kubah bagian dari atap akan menutup saat menjelang waktu dhuha. Bergesernya kubah atap sangat halus, nyaris tanpa suara, hingga kadang jamaah tidak menyadarinya.
Aku memandangi dan merenungi berbagai macam jamaah, warna kulitnya, bahasanya, cara berbicaranya, karakternya.  Mereka telah datang dari berbagai penjuru dunia, menempuh perjalanan yang jauh, semua dengan niat suci beribadah. Dan kini kami para jamaah bernaung dalam satu atap.
Di halaman aku menyaksikan langit yang berubah warna, dari gelap menuju terang hingga cerah terang benderang dalam siraman hangat matahari pagi. Orang yang duduk asyik masyuk berdzikir, membaca Alqur’an tanpa hirau orang yang lalu lalang. Duduk bergerombol bersama rekannya atau menyendiri. Ibu yang bersama anak-anaknya, kadang beserta bawaannya yang banyak bertumpuk di sampingnya.
Masjid nabawi sungguh memikat hatiku. Kubayangkan Rasulullah berabad yang lalu, menyambangi masjid setiap hari. sholat lima waktu dan menggelar majelis taklim. Bermusyawarah dan beriktikaf di masjid yang tentu kala itu bentuknya sangat sederhana. Masih berlantai pasir . Hingga kini, area masjid yang asli telah ditandai dengan tiang dan ornamen atap yang berbeda dari masjid perluasan.
Kucoba menghadirkan suasana ruhiyah kenabian saat itu. Ketika para shahabat sholat dan bershof rapi di belakang nabi. Ketika mereka duduk mengelilingi nabi dan berlomba dekat dengan nabi, menanti perkataan nabi yang mulia. Kubayangkan para shahabat besar, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Azzubair, Ibnu Mas’ud, Bilal...duduk mengelilingi nabi. Kadang bersimbah air mata ketika mendengar taushiyah nabi, kadang tersenyum gembira ketika Rasul bercanda....Ah semoga kelak di syurga aku diijinkan untuk menghadiri majelis nabi.
Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah saw., setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah beliau dari Mekkah ke Madinah. Masjid Nabawi dibangun sejak saat-saat pertama Rasulullah saw. tiba di Madinah.  Lokasinya  ialah di tempat unta tunggangan Nabi saw. menghentikan perjalanannya. Saat itu banyak tawaran dari penduduk Madinah untuk mempersilahkan Rasulullah tinggal dalam rumah mereka. Rasulullah membiarkan untanya memilihkan lokasi tempat tinggal beliau. Lokasi itu semula adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, yang kemudian dibeli oleh Rasulullah saw. untuk dibangunkan masjid dan tempat kediaman beliau.
Awalnya, masjid ini berukuran sekitar 50 m  × 50 m, dengan tinggi atap sekitar 3,5 m Rasulullah saw. turut membangunnya dengan tangannya sendiri, bersama-sama dengan para shahabat dan kaum muslimin. Tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah, sedangkan atapnya dari daun kurma dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Sebagian atapnya dibiarkan terbuka begitu saja. Selama sembilan tahun pertama, masjid ini tanpa penerangan di malam hari. Hanya di waktu Isya, diadakan sedikit penerangan dengan membakar jerami.
Kemudian melekat pada salah satu sisi masjid, dibangun kediaman Nabi saw. Kediaman Nabi ini tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya, hanya tentu saja lebih tertutup. Selain itu ada pula bagian yang digunakan sebagai tempat orang-orang fakir-miskin yang tidak memiliki rumah. Belakangan, orang-orang ini dikenal sebagai ahlussufah atau para penghuni teras masjid.
Setelah itu berkali-kali masjid ini direnovasi dan diperluas. Renovasi yang pertama dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khathab di tahun 17 H, dan yang kedua oleh Khalifah Utsman bin Affan di tahun 29 H. Di zaman modern, Raja Abdul Aziz  dari Kerajaan Saudi Arabia meluaskan masjid ini menjadi 6.024 m² di tahun 1372 H. Perluasan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd di tahun 1414 H, sehingga luas bangunan masjidnya hampir mencapai 100.000 m², ditambah dengan lantai atas yang mencapai luas 67.000 m² dan pelataran masjid yang dapat digunakan untuk salat seluas 135.000 m². Masjid Nabawi kini dapat menampung kira-kira 535.000 jamaah. Apakah setelah itu ada renovasi lagi, aku belum mendapat sumber informasi. Karena seorang ustadzah menyampaikan bahwa masjid ini mampu menampung 1 juta jamaah. Wallahu a’lam.
Dalam masjid yang sekarang, terdapat makam Rasulullah, Abu Bakar ra, dan Umar ra. Rasulullah saw. dimakamkan di tempat meninggalnya, yakni di tempat yang dahulunya adalah kamar Ummul Mukminin Aisyah ra., isteri Nabi saw. Kemudian berturut-turut dimakamkan pula dua shahabat terdekatnya di tempat yang sama, yakni  Abu Bakar Al-Shiddiq dan Umar bin khatthab. Karena perluasan-perluasan Masjid Nabawi, ketiga makam itu kini berada di dalam masjid, yakni di sudut tenggara (kiri depan) masjid. Saya sempat mendekat ke makam Rasul dan mengucapkan salam dan shalawat saat mengunjungi raudhoh.  Juga memberi salam kepada Abu Bakar dan Umar bin Khatthab.
Aisyah sendiri, dan banyak lagi shahabat yang lain, dimakamkan di pemakaman umum Baqi. Dahulu terpisah cukup jauh, kini dengan perluasan masjid, Baqi jadi terletak bersebelahan dengan halaman Masjid Nabawi. Sayangnya saya tidak sempat mengunjungi makam baqi, hanya lewat  melintas dalam bus saat perjalanan, dan melihat dari kejauhan. Beberapa teman sempat  ziyarah ke makam Baqi’.
Memasuki masjid Nabawi dari pintu perempuan, mula-mula memasuki halaman berpagar besi,  halaman ini cukup luas dan beratap payung yang bisa membuka dan menutup. Setelah itu ada selapis pagar lagi untuk membatasi dengan halaman yang khusus diperuntukkan perempuan. Halaman ini juga dinaungi payung. Pada halaman dalam ini ada beberapa karpet merah yang dibentangkan di kanan dan kiri halaman. 
Terdapat dua area toilet perempuan yang sangat memadai dari sisi jumlah, walaupun fasilitasnya cukup sederhana. Toilet terawat bersih dan dijaga juga oleh para asykar dan petugas cleaning servis perempuan. Semua memakai penutup wajah.. Tentang toilet ini telah saya ceritakan terdahulu.
Para penjaga laki-laki memiliki pos di gerbang ini. Mereka tegas mengingatkan dan melarang para laki-laki memasuki halaman khusus untuk perempuan. Setelah memasuki halaman, kita akan segera bisa memasuki pintu masjid yang dijaga oleh para asykar yang berpakaian serba hitam dan bercadar. Mereka teliti sekali memeriksa isi tas dan barang bawaan pengunjung masjid.
Diantara barang yang dilarang untuk dibawa memasuki masjid adalah spidol, kamera, HP berkamera, makanan, dan mungkin juga senjata atau benda tajam seperti gunting. Namun ada saja akal pengunjung untuk menyelundupkan barang–barang tersebut misal dengan menaruh HP berkamera di kaus kaki atau saku baju.membawa makanan diantara mukena atau kerudung yang dibawa.Hhmm ada-ada saja.
Pengunjung yang membawa tempat minum atau botol air tidak dilarang. Entahlah jika membawa jerigen besar. Dalam masjid disediakan banyak sekali tempat minum dispenser jumbo berisi air zam-zam. Ada yang dingin dan ada yang suhu kamar. Para asykar melarang keras penggunaan air zam-zam untuk berwudhu.
Terpasang di halaman dan dalam masjid, bentangan pita merah putih pembatas antara area duduk dan area lalu lalang para jamaah. Seorang teman mengomentari warna pita tersebut.
“Mengapa berwarna merah putih? Apakah karena jamaah dari Indonesia paling banyak...?”
“Atau jamaah Indonesia yang paling susah diatur...?”
“Ah kita husnudzon saja bahwa pembuatnya hanya memproduksi pita merah putih...”
Itu hanya gurauan diantara kami yang sangat  sensitif dengan warna bendera kita.
Dalam masjid banyak asykar dan cleaning servis. Mereka sangat berusaha menjaga kebersihan dan ketertiban dalam masjid. Suara para petugas bercadar yang kira-kira cantik-cantik ini sering terdengar melengking mengingatkan para jamaah .
“ ibu...ibu masuk-masuk...jangan duduk...jangan duduk!”
Suara itu terdengar lucu sekalipun diucapkan dengan tegas, lantara logatnya yang tidak pas dengan telinga Indonesia.
Jika ada yang ketahuan memotret atau merekam bagian dalam masjid, maka petugas akan meminta ponselnya dan menghapus gambar tersebut.
“ Haram memotret...!” begitu larang mereka.  Namun ada saja yang diam-diam berusaha memotret. Kufikir jika kita datang untuk beribadah, mengapa kita melakukan sesuatu yang dilarang...
Jika ingin memotret, aku sengaja membawa kamera dan sholat di halaman masjid. Disini tidak dilarang kita membuat dokumentasi sepuasnya.
Inilah interaksi pertamaku secara fisik dengan Masjid Nabawi. Kalau ada istilah di masjid hatiku terkait, maka masjid nabawi telah membuat aku jatuh cinta. Aku selalu akan kembali, bismillah.





Thursday, February 23, 2012

Ibadah Romantis Yang Kualami di Tanah Suci (40)



 Oleh : Ida Nur Laila

Tahun 2008, ketika suamiku diizinkan Allah mengunjungi Baitullah  atas undangan Raja Saudi, beliau beberapa kali SMS yang nadanya melankolis.
“Aku sedang sholat malam dan sholat shubuh di lantai 3 Masjidil Haram, beratapkan langit dan bertabur bintang, sambil menatap Kakbah, subhanallah.”
“Aku sholat bersama ustdz HNW, beliau duduk berdampingan bersama istrinya. Di Masjidil Haram ini sungguh romantis, suami istri bisa bergandengan kemana-mana bersama, dan sholat berdampingan..”
Beberapa kali suamiku sms tentang keriduannya.
Dulu aku hanya bisa membayangkan dan sekarang ketika berangkat berhaji sendirian, aku mengalaminya. Merasakannya sendiri. Merasakan kesepian yang dialami suamiku.
Banyak pasangan suami istri beribadah bersama, sholat berdampingan. Bergandengan tangan melakukan sa’i, berbimbingan melakukan thawaf. Kalau ke toilet diantar dan ditunggui di depan pintu masuk toilet, khawatir tersesat atau terpisah.

Jabal Magnet


Serial Wisata Haji (8)  
Oleh : Ida Nur Laila

Pertama kali mendengar tentang Jabal Magnet, percaya nggak percaya. Betulkah ada magnet sebesar gunung? Dan inilah kenyataannya.
Rombongan empat bus yang kami naiki, menuju ke lokasi jabal magnet kira-kira 30 km dari kota Madinah.  Sebagian masyarakat Indonesia yang pernah berhaji, berumrah, atau mengunjungi Arab Saudi tentu pernah mendengar dan mendatangi tempat itu.
Dalam perjalanan menuju kawasan Jabal Magnet dari Madinah, rombongan tidak habis-habisnya memuaskan  pandangan ke bagian kiri dan kanan kendaraan yang terlihat sejumlah perkebunan kurma dan hamparan bukit berbatuan. Sepuluh kilometer menjelang Jabal Magnet, rombongan melewati sebuah danau buatan atau bendungan yang cukup besar, tapi saat ini dalam keadaan kering, jadi sama sekali tidak terlihat seperti danau.Konon berguna untuk menampung air di musim hujan.
Ketika sampai di lokasi, rombongan  membuktikan misteri Gunung Magnet , tiba-tiba kendaraan terasa berat dan susah untuk melaju. Seperti ada yang menolak dari depan atau menarik dari belakang. Kami lalu berhenti dan sang pengemudi pun mematikan mobil dan hanya menyalakan lampu sign.
Alhasil, mobil berjalan sendiri ke arah berlawanan (mundur), bahkan sanggup mendaki tanjakan.

Tuesday, January 31, 2012

Ladang Onta


Wisata Haji (7)  
Oleh : Ida Nur Laila

Senyumnya imuut_dokpri


Ladang Onta
Wisata selanjutnya adalah mengunjungi peternakan onta atau ladang onta.
Menempuh perjalanan yang lumayan jauh, tanpa aku tahu arah dan mana tempatnya, sampailah rombongan empat bus kami di sebuah lembah diantara bukit-bukit. Di sanalah terdapat beberapa lokasi kandang unta. Yang disebut kandang hanyalah pagar kawat dan besi yang mengililingi sejumlah unta di tengah panas terik padang pasir. Beberapa tanaman semak tumbuh agak tinggi, namun daunnya yang kecil-kecil dan tidak rimbun tak mampu meneduhi.
Aku pernah melihat onta di tanah air, di kebon binatang tentunya. Ada satu atau dua onta penghuni bon bin yang bisa ditonton pengunjung. Namun di ladang onta ini, banyak onta dalam berbagai ukuran dan gaya yang bisa ditonton. Warna bulu unta ini bermacam-macam. Ada yang putih, kekuningan, abu-abu, kehitaman, coklat...kebanyakan berpunuk satu. Para pengunjung tertarik untuk memotret atau berpose bersama sang artis padang pasir berleher jenjang itu. Akupun memotret seekor unta. Rupanya sang unta sungguh sadar kamera, ia lantas berpose tertawa memamerkan giginya...ah ada-ada saja.

Wisata Haji (6) Bukit Uhud Calon Penghuni Surga


Yang Kualami di Tanah Suci (37)
Oleh : Ida Nur Laila

Bukit Uhud-gambar dari google

Bukit Uhud, Saksi Sejarah
Menuju bukit uhud, banyak jamaah yang sudah kelelahan dan ketiduran. Aku terlalu penasaran tentang bukit uhud, jadi tidak sempat untuk mengantuk, apalagi tidur. Kuhabiskan perjalanan dengan memotret dan menshoot perjalanan kami. Sesampai di lokasi, banyak yang enggan turun lantaran panas terik siang itu serasa tak tertahankan. Bahkan ada yang tetap tertidur saat bus berhenti di lokasi. Aku mencoba turun untuk lebih mengenal dan meresapi kisah tentang bukit uhud dan perang uhud.
Bukit uhud adalah bukit batu yang berwarna kemerahan, dari kejauhan nampak agak merah muda. Terletak 4 mil dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 mil. Di bukit inilah terjadi peristiwa yang sangat penting, yaitu perang Uhud. Berdiri di bawah panas terik, kupandangi bukit uhud, kompleks makam syuhada Uhud dan bukit Rumah. Anganku melayang pada sejarah tempat ini.
Pertempuran Uhud adalah pertempuran yang pecah antara kaum muslim dan kaum kafir Quraesy pada tanggal 22 Maret 625 M (7 Syawal 3 H). Pertempuran ini terjadi kurang lebih setahun lebih seminggu setelah Perang Badar. Tentara Islam berjumlah 700 orang sedangkan tentara kafir berjumlah 3.000 orang, sungguh bukan jumlah yang berimbang.

Kebun Kurma


Wisata Haji (5)
Oleh : Ida Nur Laila



Kunjungan  ke kebun kurma menjawab penasaran kami tentang serba-serbi buah ajaib ini. Aku mengira bahwa kebun kurma yang akan kami kunjungi menempati area yang sangat luas. Demikian pula tempat penjualan produk kurma, kubayangkan sangat besar dan luas. Namun kenyataan sepertinya tidak demikian. Paling tidak yang kuamati. Atau pengalamanku yang terbatas. Jalan menuju kebun kurma cukup sempit untuk bus besar yang kami tumpangi. Jika berpapasan agak kesulitan. Namun tempat parkir cukup lapang untuk menampung banyak bus.


Dalam perjalanan kadang kami harus berhenti untuk berpapasan. Pada kesempatan inilah aku melihat ayam-ayam berkeliaran. Wah rupanya ukuran dan warnanya mirip juga dengan ayam di kampungku di pelosok Bantul.
Begitu sampai, kami memasuki area penjualan produk kurma. Ini adalah kali pertama bagiku menyaksikan berbagai macam buah kurma dalam jumlah yang banyak. Bentuk, ukuran dan warna, serta khasiat dan harga berbeda-beda.

Masjid Quba


Wisata Haji (4)  
Oleh : Ida Nur Laila



Selanjutnya saya ajak anda berziyarah ke masjid Quba. Alhamdulillah Allah mengizinkan kami dua kali mengunjungi dan sholat dua rekaat di masjid Quba.
Masjid Quba adalah masjid pertama yang didirikan oleh Nabi, sesampainya beliau hijrah ke Madinah.
Rasulullah SAW pada tahun 1 Hijriyah atau 622 M di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah. Dalam Qur’an disebutkan bahwa masjid Quba adalah masjid yang dibangun atas dasar takwa (QS. At Taubah:108).

Friday, January 20, 2012

Wisata Haji (3) Yang Kualami di Tanah Suci (34)



Oleh : Ida Nur Laila


Sekarang saya ajak anda mengunjungi masjid Qiblatain. Tepatnya, kami berusaha mengunjunginya, namun karena waktu yang telah beranjak siang, semangat para jamaah telah menyusut. Jadi kami hanya melewatinya. Aku sedih, sungguh sedih, lantaran ingin sekali menginjakkan kaki di tempat yang sangat bersejarah itu. Tapi untuk mengobatinya, kita belajar saja tentang riwayat masjid tersebut.
Masjid Qiblatain (artinya: masjid dua kiblat) adalah salah satu masjid terkenal di Madinah. Masjid ini mula-mula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat Istana Raja ke jurusan Wadi Aqiq atau di atas sebuah bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah.

Yang Kualami di Tanah Suci (33)


Wisata Haji (2)
Oleh : Ida Nur Laila


Selanjutnya kami menuju Jabal Rahmah. Perjalanan ini melewati wilayah Mina dan Arafah yang tengah disibukkan oleh pendirian tenda-tenda.  Jabal Rahmah adalah bukit batu tanpa tetumbuhan, dihiasi batu-batu besar di lerengnya. Jabal Rahmah berada di bagian timur Padang Arafah di kota Mekkah Arab Saudi. Jabal berarti sebuah bukit atau gunung, sementara Rahmah adalah kasih sayang.
Jabal Rahmah, Kisah Pertemuan Adam dan Hawa
Sesuai dengan namanya, bukit ini di yakini sebagai pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka dipisahkan dan diturunkan dari syurga oleh Allah selama bertahun-tahun setelah melakukan kesalahan dengan memakan buah khuldi yang terlarang. Walaupun tidak ada nash yang terkait dengan hal tersebut.
Konon berdasarkan cerita ahli sejarah, Nabi Adam diturunkan di negeri India, sedangkan Siti Hawa diturunkan di Irak. Setelah keduanya bertaubat untuk memohon ampun, akhirnya atas ijin Allah mereka dipertemukan di bukit ini. Setelah pertemuan ini, Adam dan Hawa melanjutkan hidup mereka dan melahirkan anak-anak keturunannya sampai sekarang.

Yang Kualami di Tanah Suci (32)


Wisata Haji (1)
Oleh : Ida Nur Laila

Haji kok berwisata...ah maksudnya wisata religi-plus mumpung di Tanah suci. Kami mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang ada di wilayah Makkah dan Madinah seperti masjid Kuba, masjid Qiblatain, percetakan Alqur’an, bukit Uhud, jabal Rahmah, jabal Tsur, jabal Nur. Wisata plusnya ke kebun kurma, Jabal Magnet, peternakan unta dan ke Jeddah.
Pagi itu kami bersiap untuk mengunjungi Jabal Tsur dan Jabal Rahmah, juga meninjau wilayah Arafah, Mina dan Muzdalifah yang akan menjadi tempat utama ibadah haji beberapa hari lagi. Berangkat dalam rombongan empat bus, aku mendapat tempat di bus 2. Sebelum berangkat dilakukan pengecekan penumpang bus, dan memastikan siapa saja tetangga duduk kita. Nanti saat pulang juga diminta tetap dalam kursinya masing-masing agar lebih mudah untuk pengecekan. Tentu agar tidak ada yang hilang atau tertinggal.
Tidak lupa jamaah diingatkan untuk memakai gelang pengenal dari logam maupun gelang karet warna biru dari maktab. Kalung ID card dari travel juga dipakai. Perlengkapan pribadi seperti tas paspor, topi, kacamata, masker, payung dan tempat minum...tidak ketinggalan. O ya sediakan juga uang kecil untuk shodaqoh di sepanjang jalan. Walaupun shodaqoh dengan uang besar juga sangat boleh...hehe. Setelah rombongan lengkap, kami bersama membaca doa perjalanan dan doa berkendara. Bus pun  mulai melaju meninggalkan apartemen Syauqiyah.

Tuesday, January 17, 2012

Yang Kualami di Tanah Suci (31)


Bersama para Nenek (7)
Oleh : Ida Nur Laila

 Saat di Mekkah, interaksiku  dengan jamaah dari negara lain lebih terbatas lantaran aku mendapat tamu bulanan selama 5 hari dari 7 hariku tinggal di Mekkah. Maka perkenalan dengan para nenek hanya terjadi beberapa kali. Selain itu, jika di masjid Nabawi seringkali aku tinggal duduk berlama-lama dalam masjid. Di Masjidil Haram, dengan sedikit hari yang kumiliki, aku memilih berkeliling melihat-lihat dan mengenal situasi sekitar masjid.
Sore hari selepas waktu jamaah sholat ‘asyar, adalah waktu yang nyaman untuk berkeliling di halaman Masjid. Jamaah belum terlalu padat memenuhi halaman. Cuaca cerah dan suhu tidak terlalu panas. Angin bertiup semilir sesekali, dan tidak terlalu kencang. Aku dan mbak Retna berkeliling memutari halaman masjid.
Di salah satu halaman, dekat dengan tempat yang sedang di renovasi, duduk seorang kakek, sendirian. Ia duduk bersila di atas selembar tikar, menghadap ke arah masjid, terpisah dari jamaah lain. Di sebelahnya ada kursi roda. Kami menghampirinya dan meminta ijin untuk memotretnya. Ia mengijinkan. Aku memotretnya beberapa kali dengan beberapa sudut pandang. Seorang kakek lain menghampiri dan ingin juga dipotret, maka aku memotret mereka berdua. Ketika kutunjukkan hasilnya, mereka tertawa senang. Ketika kakek yang satu berlalu, datanglah kakek lain yang juga ingin dipotret. Maka aku memotret lagi, dan ia senang dengan hasil fotonya.

Monday, January 16, 2012

Yang Kualami di Tanah Suci (30)


Bersama para Nenek (6)
Oleh : Ida Nur Laila


“I can’t speak Arabic...” kataku pada wanita muda cantik yang bergabung terakhir.
Ia menterjemahkan pembicaraan nenek Tunis padaku, dengan bahasa Inggris. Rupanya nenek Tunis pernah tinggal di Indonesia, di Jakarta, sekitar tahun 80-an. Ia mengunjungi beberapa kota seperti Bandung, Jogjakarta dan beberapa pulau lain. Ia tinggal selama 2 tahun. Itulah yang menyebabkan ia tertarik ketika tahu saya dari Indonesia. Ia menanyakan tentang gempa  di Jogja beberapa tahun lalu.
Kami sempat berfoto bersama, dipotret oleh sang penerjemah cantik yang ternyata dari Turki. Sayang ia tidak mau diajak bergantian berfoto. Aku menghormati pilihannya.
Nenek Tunis ini senang bercerita, ia bicara dengan sangat cepat. Akhirnya ketika pembicaraan makin rumit, wanita Turki ini menyerah,  ia mengaku hanya bisa bahasa Arab sedikit dan bahasa Inggris sedikit, sehingga kesulitan menjalani profesi dadakan  sebagai penterjemah kami. Dengan sopan ia permisi pulang dan kami bersalaman hangat.

Yang Kualami di Tanah Suci (29)


Bersama para Nenek (5)
Oleh : Ida Nur Laila


Saya perhatikan penampilan nenek ini, ia memakai baju muslim longdress, bermotif bunga-bunga tulip kecil. Tidak memakai kaus kaki. Kerudungnya kain putih polos dan tidak memakai peniti. Ia mengikatnya dengan tidak rapi. Sedikit rambut perak menyembul dari sela-sela kerudung.
Saya mencari peniti cadangan dalam tas paspor yang selalu  saya bawa kemana-mana. Alhamdulillah dapat satu peniti. Saya minta ijin untuk mendandaninya, nenek itu mengijinkan. Kurapikan rambutnya yang sedikit menyembul di atas pelipis, lalu kupasangkan peniti. Ia berterima kasih. Saya bertanya namanya, namun saya kesulitan untuk mengeja, jadi saya tersenyum saja dan gantian menyebutkan nama.
Pagi itu, sebagaimana pagi yang lain, saya memakai kerudung rangkap untuk mengurangi hawa dingin, biasanya memang berlapis 3. Kerudung pertama yang biasa kupakai, warna putih. Diluarnya saya memakai kerudung bermotif laba-laba warna hitam putih yang saya beli di Mekkah. Di luarnya lagi saya memakai mukena seragam travel.

Saturday, January 14, 2012

Yang Kualami di Tanah Suci (28)


Bersama para Nenek (4)
Oleh : Ida Nur Laila

Sungguh mereka adalah nenek yang penurut. Jika bersama kami pergi ke masjid, mereka menurut diajak menempati shof di sisi manapun. Kalau kami ajak masuk ke dalam, mereka menurut. Ketika kami ingin mengambil shof di halaman, lantaran ingin mengambil foto-foto masjid kala senja hari, mereka juga menurut.
Saya menawari dua nenek jika mereka mau, saya antar dulu ke dalam masjid, nanti jika kami akan pulang akan kami jemput ke dalam. Nenek memilih untuk bersama kami melaksanakan jamaah sholat maghrib dan isya di halaman. Kami khawatir nenek sakit,lantaran angin malam dan dinginnya udara sangat terasa. Namun sekali lagi, dua nenek hebat ini tidak mengeluh kedinginan.
Beruntungnya kami, karena kami jadi memiliki teman yang akan menunggui tempat duduk kami selama kami berkeliling mencari foto. Jadinya kami tidak akan kehilangan tempat duduk jika sholat isya telah menjelang.