Monday, November 28, 2011

Pengalaman Spiritual di Tanah Suci


Setiap orang yang melaksanakan ibadah haji, memiliki pengalaman spiritual masing-masing. Setiap pengalaman spiritual tersebut menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Sebelum saya memulai menceritakan pengalaman spiritual saya saat haji, saya akan nukilkan dulu contoh pengalaman spiritual yang dialami oleh bapak Ir H. Basri A. Bakar, MSi. 

Berikut penuturan pak Basri A. Bakar.

Saya melaksanakan haji pada tahun 2002/2003 sebagai petugas yang dibiayai pemerintah. Mungkin saja kesempatan berharga itu diberikan karena saya dinilai telah mengabdi lama di Masjid Raya sebagai Pemred Tabloid Gema Baiturrahman. Sebagai petugas, saya menyadari bahwa melayani jamaah harus diutamakan dari melayani diri sendiri. Dengan demikian tugas saya membantu ketua kloter, yakni melayani seluruh jamaah yang bergabung dalam kloter yang berjumlah 325 orang.

Berhasil membuka koper 
Ada cerita menarik yang sulit saya lupakan. Waktu itu seluruh jamaah baru tiba di sebuah hotel di Madinah setelah menempuh perjalanan dengan bus dari Jeddah. Hotel ini merupakan penginapan bagi jamaah haji selama beberapa hari di Madinah untuk melaksanakan shalat arbain. Saya sebagai petugas berkewajiban mengecek kondisi seluruh calon jamaah haji. Rupanya ada seorang jamaah wanita yang kebingungan karena tak bisa membuka koper pakaiannya. Kunci koper hilang entah di mana. Ibu ini sangat susah karena tidak dapat membuka koper yang didalamnya berisi pakaian dan peralatan lainnya.

Saya berusaha menenangkan jamaah tersebut yang kebetulan sekamar dengan lima jamaah wanita lain. Semua jamaah yang sekamar dengannya telah mencoba membuka koper dengan kunci koper mereka masing-masing, siapa tahu sama dan bisa berhasil. Ternyata sia-sia, tidak ada satupun kunci yang sesuai. Saya datang memberi semangat, sambil memberi perintah kepada enam ibu yang ada di kamar itu berdoa dengan ikhlas dan khusyuk. Saya katakan bahwa saya akan berusaha membuka dengan kunci yang ada pada saya, mudah-mudahan bisa cocok.

Saya ikut berdoa dan sepertinya tiba-tiba datang sebuah bisikan bahwa saya akan bisa membuka koper yang terkunci itu. Setelah saya mengucapkan Basmalah, perlahan-lahan saya buka koper dengan kunci yang ada pada saya. Allah ternyata mengabulkan doa saya dan para ibu tersebut merasa terkejut karena koper dapat dibuka dengan kunci milik saya. Bayangkan betapa gembiranya hati jamaah yang sudah berusia sekitar 60 tahun itu. Berkali-kali ia mengucapkan syukur dan terima kasih kepada saya. Saya mengingatkan, bahwa Allah yang menolong kesulitan kita.

Setelah itu saya ingin memberi satu kunci milik saya kepadanya berhubung saya masih punya dua kunci lagi. Tapi sebelumnya gembok koper tersebut saya tes lagi dalam posisi terkunci terpisah dengan koper. Suatu keanehan terjadi di hadapan enam orang saksi waktu itu. Ternyata anak kunci untuk membuka koper tadi, tak bisa lagi membuka. Jadi hanya berlaku untuk satu kali saja. Saya termangu-mangu dengan kejadian itu. Subhanallah, Allah hanya mengabulkan doa kami hanya untuk mampu membuka koper ibu yang sedang dilanda kesusahan. Selanjutnya terpaksa gembok itu diganti dengan yang baru.

Tiba-tiba ada Lalat
Peristiwa lain terjadi tatkala kami sedang makan siang di penginapan saat berada di kota Mekkah. Mungkin waktu itu saya sedikit lupa bahwa selama berada di tanah suci, setiap perkataan dan perbuatan harus selalu dijaga. Saat makan, hati kecil bertanya kenapa di Mekkah tidak ada satu ekorpun lalat seperti halnya di tanah air. Mungkin saya khilaf mengatakan dalam hati bahwa andai kata ada jamaah yang tanpa sengaja membawa dua ekor lalat saja, Mekkah jadi berlalat sehingga sangat mengganggu jamaah haji yang beribadah.

Belum habis saya berpikir dan berangan-angan tak pantas itu, tiba-tiba saya pun melihat dua ekor lalat mulai beterbangan dalam ruang penginapan. Selanjutnya jumlahnya lebih dari sepuluh ekor. Saya sangat takut waktu itu. Saya sadar terhadap dosa yang terlanjur saya ucapkan meskipun hanya dalam hati. Sampai-sampai teman kami petugas tim kesehatan bertanya, kenapa tiba-tiba ada lalat. Seketika itu saya istighfar berkali-kali, seraya mengaku atas kesalahan yang telah saya lakukan. Alhamdulillah, dalam beberapa saat kemudian, lalat itupun menghilang.

Tersesat tak tahu kamarnya
Ada-ada saja kejadian yang terjadi di luar logika saat berada di tanah suci. Pada hari keempat, di saat berada di sebuah penginapan di Madinah, ada seorang jamaah laki-laki yang sudah lama berputar-putar mencari kamarnya. Jamaah ini bukan orang awam yang tak bisa baca tulis, namun setidaknya seorang sarjana dan bekerja sebagai pegawai negeri. Saya tanyakan kepadanya di kamar berapa dan lantai berapa ia tinggal. Ternyata ia seperti tak mampu lagi membaca petunjuk hotel dengan angka dan simbol-simbol. Lalu dengan senang hati saya tunjukkan kamarnya.

Besoknya demikian pula, saya temukan dia sedang kesulitan mencari kamar istirahat saat pulang dari masjid. Bahkan saat itu ia sedang berada di lantai empat, sementara posisi kamarnya ada di lantai lima. Berkali-kali saya beristighfar, semoga bapak itu diberi kemudahan selama berada di tanah suci. Saya tidak pernah kaitkan dengan sesuatu yang berbau mistik dan tahyul, tapi barangkali itulah ketentuan Allah bagi seseorang.

No comments:

Post a Comment