Saturday, January 14, 2012

Yang Kualami di Tanah Suci (27)


Bersama para Nenek (3)
Oleh : Ida Nur Laila

Seminggu sebelum kepulangan ke tanah suci, saya mendapat  tamu bulanan. Saat itu hari pertama sampai di Mekkah sepulang kami dari Madinah. Saya menjadi cemas, siapakah nanti yang akan bersedia membersamai nenek saat pergi ke masjid untuk berjamaah sholat.
Situasi di Mekkah sungguh berbeda dengan di Madinah. Hotel Madinah Al-Mubarok lebih simpel dibandingkan hotel Daar Al-Eiman yang ada di Asshofwa tower. Sekalipun halaman hotel persis di depan masjid, namun jika salah ambil pintu keluar masjid, tentu tidak mudah mencarinya. Hotel kami  ini persis di depan pintu King Abdul Aziz. Sudah sampai di halamanpun, jika salah ambil jalan, mungkin justru masuk ke Grand Zam-zam atau ke Rumah sakit, karena pintunya cuma berdampingan. Hal ini sempat terjadi pada beberapa jamaah.
Sudah masuk ke hotel pun, lorong menuju kamar sungguh banyak. Belok kanan, belok kiri dan memakai lift,  jumlah lift juga sangat banyak. Bahkan sampai di kamarpun, nenek ini tidak berani tinggal sendirian. Waah.

Allah Maha Pemurah, saat itulah kami berseberangan kamar dengan jamaah dari Jakarta, namanya juga sama denganku. Kak Zubaida, biasa dipanggil Ida, pada hari saya mendapat tamu bulanan, beliau baru saja suci dari bulanannya. Jadi beliaulah yang mengambil alih peran saya, membersamai nenek. Saya berlinang air mata mendengar ketulusan mbak Ida menolong nenek.
Beliau bercerita, bahwa seharusnya pada saat ini beliau pergi berhaji bersama ibu mertuanya. Namun Allah telah memanggil ibu mertuanya ke Rahmatullah, sehingga beliau berhaji sendirian. Dengan membersamai nenek, beliau merasa inilah baktinya pada ibu mertuanya yang kebetulan secara fisik juga sangat mirip dengan nenek. Subhanallah.... Bahkan  Kak Ida mendorong nenek melaksanakan thowaf  saat umrah, di lantai dua dengan menggunakan kursi roda milik hotel.
“ Di sini saya dapat dua anak, Ida dari Jogja dan Ida dari Jakarta...” kata nenek menyebut kami.
Saya sangat senang berteman dengan ibu Nur dan juga kak Ida. Semoga persaudaraan kami berlanjut hingga di akhirat dalam syurgaNya, Insya Allah, amin.
Nenek yang lain adalah sepasang nenek dari Kalimantan. Nenek Patimah dan nenek Salmah ini adalah dua orang yang berbesanan. Anak lelaki nenek Patimah menikah dengan anak gadis nenek Salmah. Nenek Patimah tinggi dan agak kurus. Menurutku agak mirip dengan ibu mertuaku. Nenek Salmah berpostur sedang dan memakai kaca mata. Usianya sedikit lebih muda, menurut perkiraanku. Agak mirip dengan ibuku dari sisi perawakan. Melihat mereka berdua, aku membayangkan ibuku dan ibu mertua jika mereka pergi berhaji berdua.
Kedua nenek ini menjadi tetangga kamarku saat di hotel di Madinah. Dua shahabatku, mbak Awie dan mbak Retna, sekamar dengan mereka. Oleh karena itu aku sering mengunjungi kamarnya. Dua nenek ini sungguh hebat, mereka sangat bersemangat dalam menunaikan ibadah. Walaupun mereka tidak bisa bahasa Arab, tidak tahu bagaimana cara naik lift, cara pergi ke masjid, cara kembali ke hotel, namun keduanya selalu bersiap sholat jamaah ke masjid.
Saat dua rekanku belum siap berangkat, mereka selalu telah rapi dan siap ke masjid lebih awal. Jika tidak diantar teman kami, mereka akan menunggu di lorong, dekat lift untuk mencari teman berjalan menuju ke masjid. Kadang aku yang menemukan mereka menunggu, jadi kuantar mereka ke masjid. Demikian pula saat akan kembali ke Hotel, mereka akan menunggu di pintu gerbang masjid, mencari teman dengan atribut yang sama, lalu mengikutinya sampai ke Hotel. Begitulah setiap hari, dan mereka tidak pernah tersesat.
Dua nenek ini sedikit bicara tapi banyak beramal sholih. Kamar mereka selalu rapi, barang bawaan mereka tidak banyak, dan mereka selalu punya waktu untuk beribadah. Dua shahabatku menceritakan kekaguman mereka pada dua nenek yang sangat mandiri. Saat thowaf dan sa’i, dua nenek ini berjalan dengan cepat tanpa mengeluh sama sekali. Mereka selalu bergandengan, tanpa banyak bicara.
Saya mendapat kisah mengharukan tentang perjalanan panjang mereka ke Tanah suci. Tahun 2009, berdua mereka mendaftar haji plus pada sebuah travel haji. Sudah dinyatakan mendapat jatah berangkat, dan melakukan berbagai persiapan. Dari mengurus administrasi, periksa kesehatan, mengepak barang dan pamitan kepada keluarga, tetangga dan handai tolan.
Namun apa yang terjadi, mereka hanya terbang sampai Jakarta. Bersama dengan beberapa orang lainnya, dua nenek ini tidak sampai ke Tanah suci. Travelnya bermasalah dalam pemberangkatan mereka. Selama 21 hari mereka hanya ditampung di Jakarta.Tiap hari hanya beribadah dan menangis sedih. Sedih, malu dan menyesal.
Akhirnya mereka kembali ke kampung halaman bersamaan dengan kepulangan jamaah haji. Tentu dengan sedih dan malu tak terkira. Kedua nenek itu berusaha ikhlash. Uang mereka dikembalikan. Pada tahun 2010, mereka berdua berangkat umrah dan kini 2011, Alhamdulillah dapat pergi berhaji dengan travel bersamaan dengan kami. Kedua nenek sangat bersyukur. Itulah sebabnya mereka sangat bersemangat beribadah dan tak pernah mengeluh. Bahkan saat nenek Patimah sakit, beliau hanya diam saja, tidur berbaring tanpa pernah mengeluh.  
Bersambung.

1 comment:

  1. Saya nangis baca postingan yang ini bu... subhanallah!!!

    ReplyDelete