Saturday, August 9, 2014

Menjadi kontraktor Selama 15 tahun



Gegara menulis tentang Rumah tanpa pagar dan Winnie Mandela dan membaca komen para pengunjung,...jadi pengin menulis tentang asal muasal rumah. 
Biar teman-teman tahu...bukan tiba-tiba kami punya rumah besar. Bukan tiba-tiba.

Paviliun untuk tetamu
Begini kisahnya....eh ada yang pengin tahu enggak sih? (krik...krik...krik...)

Kami menikah bulan Juli tahun1991. Status masih mahasiswa, penghasilan pas-pasan hanya dari menulis di majalah dan mengelola buletin. Jadi sungguh minim hanya cukup buat makan sehari-hari. Situasi itulah yang membuat kami makin rajin menulis.Semakin banyak tulisan...semakin bisa buat bayar SPP atau bayar kontrakan rumah. Honor terbesar adalah jika dimuat di rubrik hikmah salah satu koran Islam yang sedang naik daun.

Semula kami mendapat pinjaman rumah gratis dari seorang dosen. Rumahnya bagus sih, gedhe juga, hanya jauhnya
...10 km dari kampus. Sementara saya mulai hamil anak pertama....Terasa banget beratnya, kuliah, sambil hamil dan rumah yang jauh. Badan berasa sakit semua jika malam tiba...hiks.

Suami baruku yang baik...kan belum setahun jadi masih baru, akhirnya berhasil mengumpulkan uang  untuk mengontrak rumah yang lebih dekat dengan kampus. Di situlah kami tinggal selama setahun. Setahun saja. Sebenarnya tuan rumah seorang nenek yang baik. Penjual bubur yang tiap pagi menggratiskan sarapan untuk kami. Hanya saja setelah punya pembantu, nenek ini sering bertengkar dengan pembantu kami...yaah saya mengalah untuk pindah rumah saja.

Rumah ketiga lumayan nyaman. Kami menempati selama dua tahun. Lalu terjadilah salah faham. Kata suamiku yang punya rumah yang salah dan kita yang faham. Maksudnya mereka salah karena menaikkan harga dan kami faham bahwa kami nggak bisa bayar...jadi kami memilih pindah #halah.

Rumah keempat lumayan nyaman. Tak jauh dari rumah ketiga. Harganya juga oke. Saat anak-anak mulai sekolah, kami terpaksa pindah karena kasihan pada si nomer satu. Kakak ini sekolahnya pindah jauh. Dulu sekolahnya mengontrak sebuah rumah, karena murid makin banyak, jadi butuh kontrak lokal yang lebih memadai...jadi sekolahnya pindah kontrakan...Hmm sekolah juga ngontrak!

Huaa...kami terpaksa ikutan pindah kontrakan. Kalau tidak ikut pindah, kasihan kakak. Lagian saya jadi repot antar jemput lantaran abinya jumpalitan kerja dan kuliah, saya tugas antar jemput anak sambil punya dua balita...eh sambil kuliah juga.

Sampailah kami di rumah kelima. Murah dan dekat sekolah anak-anak. Hanya saja, cuma punya satu pintu keluar dan tidak punya halaman belakang....seperti yang pernah saya ceritakan di sini.

Lingkungannya juga kurang kondusif. Saat itu si kakak sudah SD, jadi kami mencari yang dekat SD si kakak. Dan sampailah kami di rumah keenam. Rumah paling mending dari semua kontrakan sebelumnya. Dekat dengan tempat kerjaku, tempat kerja suami, sekolah anak-anak....saking kerasannya, kami tinggal di sana selama 7 tahun. Tuan rumah juga baik, tidak pernah menaikkan harga sewa. Akhirnya tiap tahun kami naikkan sendiri karena merasa tidak enak....

Sebenarnyalah saya capek pindahan. Tiap pindahan ada saja gerabah dan pecah belah yang pecah. Namanya juga pecah belah. Juga hancurnya koleksi tanaman bunga dan pot-potku....menyedihkan pokoknya.

Begitulah kisah 15 tahun menjadi kontraktor. Bukan pemborong tapi kontrak sana kontrak sini. Kapan dong punya rumahnya?


(bersambung)

34 comments:

  1. hahahaha....mimi jg sempat ngontrak dan pindah 2x. Tapi syukurlah di tahun pertama udh bisa bangun rumah sendiri yg amat sangat dekat dgn kantor. Meski cuma dinding papan tapi karena sebelahan dengan kantor, mempermudah utk check anak di rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamduliullah Mimi. rumah dekat tempat kerja itu efisiensi banyak hal...semoga Mimi dan anak-anak sehat selalu...amiin

      Delete
  2. Ah maaak dirimu bikin penasaran aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. tayang besok pagi ya...penasarannya dipanjangin...

      Delete
  3. Menyimak....soalnya masih ngontrak juga dan mimpi punya rumah,

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga bu Agustin segera punya rumah impian amiin

      Delete
  4. Masya Allah, Mak...
    Hihihi, ini tahun ketiga keluarga saya kontrak rumah (yang kedua)
    Mudah-mudahan ya, Allah memberi rejeki biar bisa punya rumah sendiri kayak eMak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin semoga segera mendapat rumah impian yang nyaman dan berkah mak...

      Delete
  5. Hihihi....saya malah punya rumah ditinggl dan pilih ngekos mak hehe....
    Ditunggu cerita slnjutnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. nanti malam akan tayang mak...insya Allah. kapan cerita gantian tetang perjalanan hidup mak...?

      Delete
  6. Kronologi pindah rumah beda2. Unik. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Idah kudoakan dirimu kelak segera punya rumah nggak perlu jadi kontraktor amiin

      Delete
  7. Maaak ternyata ada perjuangan sebelum dapet rumah yang sekarang ya. Kereen. Mudah-mudahan tak lama lagi saya juga bisa dapet rumah impian yang berhalaman luas. Sekarang disyukuri dulu yang ada, meskipun kecil udah rumah sendiri :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga mak...rumah tumbuh seperti jumlah keluarga kita...

      Delete
  8. wah lama juga ya Mak jadi kontraktor.. banyak suka dukanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. begitulah mak...prosesnya sangat panjang

      Delete
  9. sampe sekarang, saya belum punya rumah sendiri, nih, Mak. Malah masih tinggal dengan orang tua. Sempet sedih ketika ada seorang teman yang meledek katanya saya gak bisa jauh dari 'ketek' ibu. Padahal bukan itu alasannya. Dan, saya gak merasa perlu memberi tahu kepada sleuruh orang alasan masih tinggal bersama org tua.

    Postingan Mak Ida menginspirasi saya. Semua ini hasil dari sebuah proses yang cepat atau lambat bisa kita nikmati hasilnya. Semoga saya juga bisa punya rumah seasri milik Mak Ida :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin...saya doakan mak.Bergabung dengan ortu juga bagian dari berbakti, semoga dimudahkan ya mak.

      Delete
  10. Menarik sekali mak, saya yang baru 2 tahun menikah juga mengalami nasib yang sama. Entah sampai kapan jadi kontraktor. Semoga Allah memudahkan rezeki kami biar busa punya rumah sendiri. Sebenarnya di kampung ada rumah emak, dan beliau cuma tinggal sendiri. Sebagai anak oermepuan aceh pidie dan satu2nya, maka rumah trsbt jadi milik saya,mtspimsuami kerja di banda aceh, jadi ga mungkin tinggal di kamoung yang jaraknya 100km dari banda aceh

    ReplyDelete
    Replies
    1. mak Liza....masih panjang jalannya...semoga dimudahkan amiin

      Delete
  11. Replies
    1. yang ketiga sudah tayang kok Miss fenny...

      Delete
  12. Baru saja mau komen "Lanjutannya mana?", ealah ternyata begitu saya klik homepage, ternyata sudah diupdate, bahkan sudah sampai tulisan ke 4.... hehehe....

    BTW, Blognya bagus bu, tulisannya ringan dan membetahkan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. monggo pak agus ...silahkan berkunjung di dunia maya maupun dunia nyata.

      Delete
  13. Replies
    1. ayooo mampir dan menginap bukan hanya nginap di blog mak...

      Delete
  14. Dulu semasa saya kuliah, spertinya pernah ke rumah mak yg ke-6. Tapi sy saat itu cuma "katut" sodara yg kebetulan mampir ke rmh mak. Dan akhirnya lebaran sy bs berkunjung sendiri di rmh mak yg banguntapan, senangnyaaa;))

    ReplyDelete
  15. Iya bu saya jadi bs lbh belajar sabar n bersyukur krn rcn mau pindah kontrakan ke5 kalinya dan beda2 kota..tp selalu semangat bertemu dg org2 baru apalgi tetangga yg baik bu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. injih pak Achmad, senang bertemu orang baru, tapi lebih senang menetap punya rumah yang nyaman ya...barakallahu lakum semoga rumahnya berkah, amiin

      Delete
  16. مَاشَآءَاللّهُ rame bener Чα"̮ blog nya, nyesel baru tau hihihihi salam kenal Чα"̮ mak, minta doanya Semoga segera ßisά̲ Punya rumah sendiri juga yg luas Dan berkah seperti mak . Rumah yg sekarang statusnya masih kredit jadi masih Blum tenang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga mak sitta segera lunas kreditnya, semoga segera punya rumah yang lebih besarm nyaman dan berkah amiin.

      Delete