Monday, September 30, 2013

THE STORY OF BACKYARD



koleksi pribadi


Sejak kami menikah dan menjadi ‘kontraktor’ selama 15 tahun, kami kurang beruntung dalam urusan halaman belakang.  Rumah pertama kami adalah pinjaman gratis dari seorang dosen yang kebanyakan rumah. Rumahnya besar dengan 4 kamar dan garasi yang muat dua mobil, terlalu besar untuk pengantin baru, namun tetap tidak memiliki halaman belakang. Hanya halaman samping, itupun sedikit tempat menjemur baju. Juga halaman depan yang berukuran 2x3 m2.


Aku sempat menanam pohon mangga yang pernah kuceritakan dalam salah satu postingan di wallku.
Rumah ke dua adalah kontrakan di pinggiran kota. Rumah pendopo milik janda tua bernama mbah Sastro, ini memiliki ironi. Halaman depannya sangat luas. Begitu luasnya hingga sungguh melelahkan untuk menyapunya setiap pagi, lantaran ada beberapa pohon besar yang menaunginya. Ironinya adalah tidak memiliki halaman belakang. Sama sekali. Sejengkalpun.

Saat situasi menghendaki kami harus pindah rumah kontrakan ketiga, adalah rumah putih mungil yang cukup menyenangkan, terletak di posisi paling pinggir dari sebuah perumahan. Kami memiliki halaman samping yang luas dan halaman depan yang cukup nyaman, namun halaman belakang adalah area kecil tempat kami menjemur baju.

Kemudian kami menuju rumah ke empat, kontrakan yang lebih besar di pinggir jalan besar dengan sedikit halaman belakang yang bisa kutanami beberapa sayuran seperti terong, tomat dan cabe.
Namun karena harus berbagi dengan jemuran, tetap saja tidak nyaman.

Rumah terparah adalah rumah kelima yang kami pilih lantaran dekat dengan sekolah anak-anak. Sama sekali tidak punya halaman belakang dan pintu depan hanya satu. Ada juga sebenarnya pintu samping, namun kami matikan lantaran ruangan kami pakai sebagai kamar tidur. Halaman belakang adalah sawah tetangga, hanya semeter dari tembok belakang. Jadinya air rembesan sawah suka masuk ke kamar.
Rumah ke 6 tidak kalah memilukan.

Ah kok memilukan. Kami punya halaman belakang yang luas. Bahkan sangat luas, nyaman lantaran ada pohon jambu dan mangga yang sering juga berbuah.
Memilukan lantaran halaman itu juga halaman depan anak-anak kost putri, yang demi kebaikan semua fihak, maka  menjadi area terlarang bagi suamiku. Yang kost ada belasan mahasiswi, jadi kalau poling pendapat, kami akan kalah.

Jadi halaman belakang itu juga tak dapat dinikmati. Inilah sisi memilukan itu, punya sesuatu yang menarik, tapi tak bisa menikmati, melihatpun tidak.
Aku dan suamiku adalah anak-anak dusun yang terbiasa hidup dengan rumah berhalaman luas. Di halaman rumah masa kecil kami tumbuh, bermain bersama teman, mengeksplorasi alam dan melakukan berbagai kesenangan.

Halaman belakang menjadi bagian dari obsesi kami, terutama suamiku. Ingin mengulang masa kecil, bermain dengan anak, tidur-tiduran, berkeman, memanjat, bersepeda, membakar sesuatu...kalau dulu mungkin ketela dan umbi-umbian, atau minimal membakar sampah. Hingga saat kami diberi rizki oleh Allah untuk membangun rumah, maka halaman belakang adalah prioritas.

Kini Allah karuniakan halaman belakang yang indah tempat kami beraktivitas. Ada beberapa pohon mangga, pohon pepaya dan tanaman hias. Anak-anak gadisku bisa bermain bebas dengan membuka kerudungnya lantaran aman syar’i dari pandangan orang lain. Terkadang kami pesta makan malam, pengajian, bahkan sholat berjamaah. Atau hanya iseng duduk-duduk bercengkerama sambil melihat bintang. Membakar sate, ikan , jagung atau roti. Mendirikan tenda atau menggelar meja pingpong. Bermain badminton seadanya, atau bermain sepeda. Kadang joging dan bercengkerama dengan binatang piaraan.

koleksi pribadi

Di bulan Ramadhan, kami kadang berbuka puasa atau sholat tarawih di halaman belakang. Tak lupa bermain kembang api. Yang paling menikmati halaman belakang adalah suamiku. Tiap hari duduk mengetik menulis buku sambil menikmati taman halaman belakang yang selalu diimpikannya. Untuk para tetamu juga kami sediakan tempat untuk sekedar berbincang dalam suasana santai,.... jadi bertamulah ke rumah kami.
Alhamdulillah, puji syukur pada Allah, atas semua karunia ini. Semoga halaman belakang menjadikan kami lebih produktif dalam berkarya, dalam menciptakan keindahan keluarga dan mendapatkan keseimbangan energi untuk melanjutkan berbagai amanah yang menanti. Amin.

Bagi anda para pembaca, saya doakan memiliki halaman belakang yang luas dan indah juga. Amin.
O ya kami tunggu kunjungan anda ke halaman belakang kami.

18 comments:

  1. Jadi pengen jalan-jalan ke sana Bu.. boleh kan?

    Paketnya sudah sampai, makasih bunda..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sama-sama...silahkan kalau mau berkunjung

      Delete
  2. Ini ukuran halaman belakangnya sekitar berapa meter ya Mb, berapa x berapa? #mupeng :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. halaman belakang sekitar 16x 15 m2 mak

      Delete
  3. waduuuuh.... halaman belakangnya seukuran seluruh rumahku Maaak... pasti nyaman banget punya halaman segeda lapangan gini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya doakan dirimu juga bisa punya mak...memang asyik bangets

      Delete
  4. Replies
    1. saya doakan mak Agustina juga punya halaman belakang yang keren dan nyaman

      Delete
  5. Pengen punya rumah kaya gitu.. aamiin ya Allah

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya doakan kesampaian segera punya rumah nyaman yang berkah

      Delete
  6. Rumahnya dimana to Mak? *kali aja deket bisa maen hehehe

    ReplyDelete
  7. Saya membaca postingan bunda dari yang kontrakan 15 tahun, rumah tanpa pagar dan yang terakhir ini... Sybhanallah perjuangannya, tapi alhamdulillah yah bisa berbuah manis dan menginspirasi... semoga aku kelak juga bisa memiliki rumah seperti ini... terutama yang memiliki halaman belakang... soalnya bener kata bunda... aman untuk bermain untuk anak gading yang ingin lepas kerudung... hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya doakan bunda mendapatkan rumah impiannya...amiin. masih ada episode ke 3 ya...

      Delete
  8. Kalo saya tidak punya halaman belakang, tapi halaman samping, alhamdulillah. Hampir sama dengan bu Ida.. pas hunting rumah juga sering kepentok sama tempat jemuran... udah sreg gak ada tempat jemuran, jadi melemahkan semangat. alhamdulillah yang sekarang sudah lumayan ideal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. turut bahagia mnak Ika...moga rumah dan halamannya berkah amiin

      Delete
  9. subhanallah..pengen punya halaman belakang yang luas juga kayak rumah bundaaa...aamiin YA Robb

    ReplyDelete
  10. semoga terwujud mbak, rumah dan halaman belakang yang diimpikan

    ReplyDelete
  11. wah seru yah punya halaman belalang yang luas.aamiin semoga bisa punya rumah dan halaman belakang yg luas

    ReplyDelete