Sunday, September 22, 2013

Standar berbeda untuk keluarga


Pernahkan suatu ketika anda tanpa sengaja menyenggol atau menginjak orang yang belum anda kenal. Mungkin di kendaraan umum, di tempat belanja, di terminal, di trotoar, di rumah makan atau di tempat keramaian yang lain.
Apa yang kemudian anda ucapkan pertama kali ?
“Maaf tidak sengaja.. “ Tentu dengan tatapan bersalah, anda akan segera meminta maaf.
Pernahkan ketika anda sedang berbincang dengan rekan kerja anda, sahabat, relasi atau orang sudah anda kenal, tiba-tiba wajah teman berbincang tersebut berubah. Menampakkan suasana hatinya. Jika anda merasakan perubahan tersebut, anda akan bertanya,
“ Maaf, apakah saya telah menyinggung perasaan anda?”
“ Maaf, apakah pertanyaan saya membuat anda tersinggung...? Kalau begitu lupakan saja”
Itu adalah dialog dan etika sehari-hari yang kita pakai pada umumnya.
Demikian pula ketika seseorang yang tidak anda kenal berbuat baik kepada anda. Suatu ketika tanpa sengaja ada barang anda yang tercecer, mungkin pulpen, buku, kaca mata, topi atau dompet. Lalu seseorang mengejar anda untuk mengembalikan barang tersebut. Tentu anda akan mengucapkan terima kasih. Semakin besar nilai barangnya, anda akan semakin amat sangat berterima kasih.
Ketika seorang rekan berbaik hati membawakan barang anda, menawari anda permen atau tisu, atau kebaikan kecil lainnya, anda akan berterima kasih. Jika kebaikan itu dilakukan berulang-ulang, anda tentu ingin membalasnya.
Itu juga bagian dari etika dan akhlaq yang baik.


Namun pernahkan anda memperhatikan hubungan dalam sebuah keluarga.
Justru antara suami dengan istri, atau istri dengan suami, atau orang tua dengan anak dan sebaliknya. Dalam hubungan yang sangat intens dan berlangsung dalam waktu yang lama, tidak mustahil ada hal-hal yang membuat tidak nyaman. Kesalahan kecil atau bahkan kesalahan besar. Namun apakah terjadi pola segera meminta maaf?
Ketika ada kata-kata yang menyakitkan, ketika meninggalkan musyawarah dalam mengambil keputusan, ketika lupa janji. Terasa berat untuk meminta maaf justru pada orang yang dekat, dengan pasangan atau dengan anak. Padahal istri sampai menangis tidak dapat tidur karena terluka hatinya. Padahal anak sampai terisak-isak lantaran sedihnya. Atau mungkin suami  sudah sangat geram dan sedih lantaran perbuatan istri.
Demikian pula dalam hal mengukur dan menghargai kebaikan pasangan, anak atau orang tua. Seorang istri yang mendapat nafkah bulanan dari suaminya, apakah setiap kali suaminya memberi maka ia mengucapakan terima kasih ?
“Alhamdulillah, terimakasih ayah, atas uang belanjanya..”
Namun tak jarang yang justru memberengut, dan berkata ketus:
“ Kok cuma segini ayah, mana cukup...?!”
Atau mungkin ada yang berdalih, “ kan suami memberi istri itu adalah kewajibannya, jadi memang seharusnya demikian. Tidak perlu setiap kali berterimakasih...”
Ketika pasangan mau melayani hubungan, ketika suami memberi nafkah bati, pernahkan terucap terima kasih kepada pasangan ?
Saat seseorang tidak melakukan kewajiban, secara umum akan dianggap sebagai orang yang tidak baik.Maka setiap orang melakukan kewajiban, tentu merupakan kebaikan.Bukankah tukang parkir yang membantu anda memutar mobil, dan andapun membayarnya, masih anda ucapkan terima kasih...?
Ada pasangan yang telah lama pisah ranjang lantaran istri menolak melayani suami, atau sebaliknya suami yang tak pernah lagi memberi nafkah batin, padahal pasangannya sangat membutuhkan. Jika ada yang melakukan kewajiban tersebut, bukankah itu kebaikan yang layak untuk mengucap terima kasih.
Sebaliknya juga seorang suami yang menyaksikan istrinya melakukan banyak hal untuk dirinya dan anak-anaknya. Mendapati anak yang sudah dimandikan, wangi bersih dan sehat, acapkali seorang ayah menganggap biasa saja. Tak ada terima kasih pada istri yang telah melakukannya. Namun jika pembantu yang melakukan dan menyerahkan anak yang sudah bersih dan cakep itu, sang ayah akan bilang “ terima kasih bik..”
Waah.
Seorang istri yang sudah ikut banting tulang mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga, membantu menemani anak belajar, membuat minum, menyuapi anak, memasak makanan....belum tentu terucap terimakasih dari suami dan anak-anak.
Jika anda membayar guru les privat yang menemani anak belajar selama 1 jam, dan anda telah membayarnya, ia berpamitan dan anda akan mengucapkan terima kasih. Apalagi jika nilai anak menjadi bagus, mungkin anda rela memberinya bonus. Para suami yang mendapati istrinya membimbing anak segera bisa membaca, menjadi juara dan berprestasi, belum tentu berterima kasih atas semua jasa istrinya.
“ Ah kan kewajiban ibu untuk menemani belajar dan mendidik anak...” sesekali ada juga yang berdalih demikian.
Lah, kalau ada ibu yang menelantarkan anaknya, anak belajar malah ditinggal nonton sinetron. Anak lapar tidak diberi makan, anak sakit dibiarkan...apakah itu perbuatan baik? Tentu orang akan menyumpahi...,” ibu macam apa itu!”
Jadi, jadi...
Hmm mulailah merenungkan. Apakah diri kita bagian dari ilustrasi standar ganda? Dimanakah posisi anda? Apakah anda adalah orang yang mudah meminta maaf kepada orang asing dan enggan untuk segera meminta maaf pada istri atau anak. Semoga tidak demikian. Semoga anda adalah orang yang ringan untuk meminta maaf dan memaafkan pasangan.
Apakah anda orang yang pelit berterimakasih kepada pasangan dan anak, sementara mudah berterimakasih kepada teman atau orang asing...?
Jika demikian, saatnya untuk bertaubat. Sadarlah, segera meminta maaf dan segera berterima kasih.Sebelum terlambat.
Maaf jika ada yang tersinggung.
Sekedar perenungan dan pengingatan ya...





2 comments:

  1. malam Mak..
    oiya.. mak mau jd sponsor di GA saya?
    bisa japri ke emailku ya mak..
    di andic.noorma@gmail.com

    terima kasih

    ReplyDelete
  2. Haloo Mak Noorma, siapa nih jadinya pemebang GA nya ?

    ReplyDelete