Thursday, May 1, 2014

Mengasah kesabaran dan rasa kepedulian pada anak.


Kasus bullying di depan mata kami.

Pada suatu hari, ada keributan di depan rumahku. Seorang ibu yang memarahi anaknya dengan sangat keras. Lalu raungan si anak yang memilukan.

Merasa terganggu dan ingin tahu, aku melongok dari jendela kamar. Ternyata ada anakku juga tengah mengintip kehebohan itu.

Kutunggu beberapa saat konflik ibu anak yang bahkan tak kukenal itu, barangkali segera reda.
“Kamu anak nakal! Biar ibu tinggal saja di sini biar diambil orang!” keras suara ibunya.
Plak...plak aku dengar ia memukuli pantat anaknya dengan sandal.

Anak itu duduk menggelesot di tepi jalan meraung-raung.
“ Ayo bangun, jalan ...apa kutinggal...!” hardiknya. Lalu kakinya menendang  si anak yang makin meraung.


“Aku mau jajan...mau jajan...!”
Rengek anak yang kuperkirakan baru berusia 3-4 tahunan.

Si ibu masih saja mengomel dan membentak dengan tangan berkacak pinggang.
Tak tahan aku bergegas keluar. Tentu aku tak bisa membiarkan kekerasan terjadi di depan rumahku.
“Umi tolongin itu...nanti kalau anaknya meninggal gimana...”kata anakku dengan wajah cemas.
“Kamu tunggu sini saja ya...” pesanku agar anakku tidak ikut keluar rumah.

Baru saja kubuka pintu pagar untuk menghampiri mereka, datang sebuah motor yang dikenndarai seorang perempuan.
“Ayo bawa pulang saja...”kata pengendara motor itu.

Ibu yang sedang meradang itu mengangkat anak yang masih saja meraung dan meronta-ronta. Si anak di taruh di boncengan dan ibu itu ikut duduk di boncengan.
Ia masih saja meronta-ronta hingga motor oleng. Aku takut jika mereka jatuh.

“Mbak...hati-hati...pelan saja...” kataku.
“Memang ini anak nakal...!” kata ibu itu dengan wajah makin berang. Tangannya mampir mencubit paha si anak. Aku menjerit kaget. Bersamaan dengan anak yang juga menjerit kesakitan.

“Sudah ...sudah nanti di rumah saja...”kata pengendara yang depan. Kukira dia adalah tetangga si ibu yang marah.
Mereka berlalu, sayup-sayup masih kudengar jeritan di anak.

Aku masuk rumah dengan lemas. Jantungku berdebar. Campur aduk antara jengkel, marah dan kasihan.
Siapakah mereka?

Seharusnya lebih banyak lagi aku berbuat untuk keluarga-keluarga itu agar mereka mengerti bahwa cara menangani anak seperti itu sungguh salah.
Putriku mendapati aku duduk ternangu sambil meminum segelas air.
“Kasihan ya mi...”
Aku meraih dan memeluknya.
“Umi nggak pernah begitu kan sama kakak...?”

Ia memelukku dan mengusap air matanya sambil menggeleng.
“Tidak baik orang tua melakukan kekasaran pada anak...kalau kamu mengamuk seperti itu dulu, umi memelukmu, menggendongmu dan menciummu...”
Ia makin erat memelukku. Kami berurai air mata.

”Kamu cepat reda dan umi lalu bertanya apa maumu...kadang kamu minta sesuatu yang umi belum bisa membelikan...umi akan menjelaskan dan kalau itu hal yang perlu dan sangat kamu inginkan, umi berjanji dan berusaha suatu ketika membelikan kamu...”

“Besok kalau kamu punya anak yang sedang rewel begitu, kamu harus sabar. Banyak istighfar agar setan tidak menguasai keadaan....”

“Ibu itu sepertinya memang tidak mampu, dan anak itu sepertinya memang rewel sekali, namun semua itu tidak jadi alasan utnuk berlaku demikian. Di rumah saja tidak boleh, apalagi di pinggir jalan dan jadi tontonan orang...”

“Semoga umi bisa membuat lebih banyak lagi pengajian...agar para ibu semakin baik pada anaknya...seperti ibu yang tadi...”

Siang itu kami berdua belajar banyak, dari sebuah peristiwa tak terduga.
Semoga anaku benar-benar belajar. Aku harus menyiapkan dia menjadi seorang ibu.

Tentang si nomer 3 yang peduli ada di sini. Klik.

Tentang si sulung yang peduli, ada di sini. Klik.

24 comments:

  1. Saya beberapa kali lihat seperti itu. Dan, kejadiannya selalu di mall. Yang terakhir beberapa minggu lalu. Entah apa penyebabnya, saya mendengar seorang ibu marah-marah ke anaknya yang umurnya mungkin sepantar sama anak saya yang pertama (sekitar 10-12 tahun)

    "Lo tuh gak bisa dibilangin sama mama. Bener-bener dongo kayak bapak lo!"

    => rasanya saya sedih banget dengernya. Semarah-marahnya saya, belum pernah sampe keucap kayak gitu. Dan, semoga jangan pernah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak Myra...kayaknya kita harus melakukan lebih banyak lagi ya untuk penyadaran masyarakat...makasih udah menjadi pengunjung pertama.

      Delete
  2. sangat bermanfaat sekali bos... thx sharingnya yia...

    ReplyDelete
  3. LIKE IT, Tanggung jawab orangtua terhadap anak harus ditingkatkan.. semoga selalu di lindungi ya mak :D

    ReplyDelete
  4. Prihatin ya Mak...hiks...hiks....

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya...kekerasan yang bermula dari keluarga.

      Delete
  5. Gmn ya bu.kalo kita lihat marahnya ibu itu terkait byk hal dan kesalahan anak jadi pelampiasan kemarahan.apa suka memarahi anak itu termasuk karakter seseorang ato sikon yg ada pd saat itu? Mhon pencerahan

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang kasus perkasus bu. tetapi kenakalan anak juga bisa disikapi dengan bijak jika si ibu bukan pemarah

      Delete
  6. anak rewel emang kadang bikin bundanya marah, harus banyak2 uistighfar supaya syetan tidak menguasai diri kita, thanks sudah mengingatkan maak

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama mak rahmi. saya juga terus belajar.

      Delete
  7. Anak saya sekarang udah mulai maunya sendiri, susah dibilangin hehe tapi insya allah masih sabar... apalagi setelah baca tulisan ini, mudah2an bisa selalu memeluk dan mencium anak walaupun dia lagi cengeng di tempat umum ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul bunda, pelukan sayang dan bisikan mesra akan meredakan emosi anak.

      Delete
  8. duh, ditampok pake sendal? untung bukan bakiak mak hehe.. aku juga kurang setuju sama bullying

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, sampai bunyinya keras banget mak.

      Delete
  9. selalu sedih kalau ada peristiwa kayak gini. Jadi ibu memang perlu kesabaran luar biasa, apalagi anak tergantung didikan orang tua. duuh..nggak kebayang perasaan si anak waktu di pukul. semoga semakin tinggi ya, mak..kesadaran orang tua utk mendidik anak dg penuh kasih sayang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. mak Waya...tentu mak waya kalau marah malah nyanyi jadi anaknya seneng...hihi

      Delete
  10. Replies
    1. ya mak, aku yang menyaksikan langsung juga tangis-tangisan sama anakku

      Delete
  11. sadis bener ih si mamak itu. segalak2nya aku gak pernah sampe kayak gitu :(
    perlu belajar bersabar juga nih, thks for share ya Mak Ida

    ReplyDelete
  12. aku juga pernah lihat seperti itu mak,,,si mamak langsung pake nabok pipi anak nya,,miris banget emang,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa kelak jadi apa ya...anak-anak yang sedari kecil telah dikasari orang tuanya.

      Delete