Wednesday, March 19, 2014

Mengelola Kasus bullying.(bagian ke 7)


Ayah bunda, sesungguhnya ancaman bullying bisa terjadi kepada siapa saja dan kapan saja. Ia bisa menimpa anak dalam berbagai usia dan jenjang study. Bahkan sampai strata mahasiswa sekalipun. Bukankah kita bersama telah banyak menyimak beritanya di berbagai media. Iih kadang syerem-syereem sampai meminta korban jiwa...hiii....



Demikian pula pelaku bullying, bisa dari berbagai kalangan. Kadang terjadi kasus berantai dimana pelaku bullying di suatu tempat, sebenarnya adalah korban di tempat yang lain.

“Bullying tidaklah sama dengan occasional conflict atau pertengkaran biasa yang umum terjadi pada anak. Konflik pada anak adalah normal dan membuat anak belajar cara bernegosiasi dan bersepakat satu sama lain. Bullying merujuk pada tindakan yang bertujuan menyakiti dan dilakukan secara berulang. Sang korban biasanya anak yang lebih lemah dibandingkan sang pelaku.”


Adapun definisi bullying sudah saya kutip di postingan pertama di sini.
Sekarang saya mulai dari tindakan yang dikategorikan sebagai bullying.
Ada bullying secara verbal, adalah memanggil dengan panggilan yang buruk, menghina, merendahkan atau mengolok-olok, mempermalukan di depan orang banyak.
Kemudian yang tergolong bullying secara psikis yaitu intimidasi, pelecehan, pengucilan.
Melakukan pemalakan, pengompasan atau perampasan barang.
Juga yang tergolong dalam kekerasan fisik seperti memukul, menjambak, menendang,  mencekik, menyuruh melakukan hal-hal yang tidak pantas, tidak disukai atau memalukan.

Sebagai orang tua, saya ajak anda untuk mengenari ciri-ciri anak yang menjadi korban bullying. Dengan bersegera mengenali cirinya, maka kita bisa segera mengelola masalah ini sedini mungkin sejak dimulainya. Korban bullying kebanyakan merasakan tekanan yang membuatnya takut untuk melaporkan apa yang dialaminya, seperti yang terjadi pada anakku.

Ciri-ciri yang harus diperhatikan di antaranya:
1. Enggan untuk pergi sekolah 
2. Sering sakit secara tiba-tiba 
3. Mengalami penurunan nilai 
4. Barang yang dimiliki hilang atau rusak 
5. Mimpi buruk atau bahkan sulit untuk terlelap 
6. Rasa amarah dan benci semakin mudah meluap dan meningkat 
7. Sulit untuk berteman dengan teman baru 
8. Memiliki tanda fisik, seperti memar atau luka

Dengan kita secara rutin mengajak anak mengobrol, memperhatikan fisiknya, mengikuti kemajuan akademisnya serta sesekali sidak isi tas dan isi lemarinya, kita akan segera mengenali apakah ‘terjadi sesuatu’ yang tidak biasa pada anak kita.

Saya sendiri agak terlambat menyadari, sudah beberapa bulan kasus menimpa anakku, dan baru terungkap setelah efeknya memuncak. Saya teliti diantara sebabnya karena saya tak pernah berfikir bahwa bullying menjadi penyebab anak sering sakit. Tak pernah menyangka bahwa terjadi hal yang “tak masuk akal’ pada anak saya. Namun bukankah itu tetap terjadi?

Jangan meniru saya ya, yang selalu berprasangka baik pada semua orang dan teman-teman anakku sehingga menilai sebab sakit hanya dari aspek medis semata.

Kesalahan kami sebagai orang tua kami juga tidak pernah membekali anak pengetahuan dan ketrampilan menghadapi kekerasan dari temannya. Hal ini dikarenakan kami merasa selalu memilih tempat-tempat yang baik untuk sekolah anak-anak.
Naah kalau saya rangkum, bagaimana sikap orang tua terhadap kasus bullying, saya bagi dalam tiga tahap.

Pertama pencegahan, kedua jika mengalami, ketiga evaluasi dan recovery.
Untuk tahap pertama, ini yang penting. Orang tua sebaiknya selalu membina hubungan persahabatan dengan anak secara kontinu. Dengan komunikasi yang intens dan setiap hari, maka orang tua akan mudah mengenali jika ada ‘perubahan’ ke arah yang negatif pada anaknya baik pada aspek fisik maupun mental.

Selain itu perlu orang tua membekali anak dengan sikap yang harus dilakukan anak saat mengalami bullying atau melihat peristiwa. Misal saat dialog anak menceritakan peristiwa yang terjadi pada temannya. Kita bisa bertanya, “Kalau kamu yang dibegitukan, apa yang akan kamu lakukan?”
Atau “Saat kamu melihat peristiwa itu, seharusnya apa yang kamu lakukan?”

‘Pesannya’ adalah anak mengetahui bahwa bullying itu tindakan yang salah dan tak dapat dibiarkan, lalu anak berani untuk membuat laporan kasus kepada fihak terkait, dan jika ia mengalami, ia harus percaya bahwa orang tuanya adalah orang yang layak untuk dipercayainya.

Membina komunikasi dengan guru dan fihak sekolah juga menjadi hal yang penting agar penangan dapat lebih utuh. Saya juga suka berteman dengan teman-teman anak saya, karena dari mereka juga kita bisa mengetahui lebih banyak hal dari pergaulan anak. Lebih baik lagi jika berteman dengan orang tua anak-anak kita.

Kedua, jika terjadi bullying pada anak kita.
Jika kita melihat ciri-ciri korban bullying pada anak kita, maka tanyakan dengan cara yang tepat pada anak. Bisa juga komunikasi ke guru dan temannya untuk melengkapi data. Jika anak belum juga mau mengaku apa yang sebenarnya terjadi, orang tua harus terus melakukan pendekatan hingga segala sesuatunya menjadi lebih jelas. Jika memang terbukti telah terjadi, libatkan pihak sekolah untuk menyelesaikan. Terus dampingi anak  untuk meminimalisir dampak psikis.

Saya akhirnya memindahkan sekolah anak, atas permintaan dia sendiri, untuk ia dapat merasakan semangat bersekolah lagi. Ini pilihan terakhir yang dikomunikasikan dengan anak. Namun jangan sampai mudah mengambil keputusan pindah sehingga harus beberapa kali pindah sekolah. Anak kita juga perlu dikuatkan bahwa ia tidak selalu harus meninggalkan sekolahnya untuk menyelesaikan problem itu. Anak harus juga diajari untuk berani menghadapi masalah. Jadi orang tua ikut mengukur seberapa berat problem sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat.

Pada tekanan psikis yang berat, mungkin diperlukan peran konseling profesional untuk pemulihan. Pada kasus yang telah mengarah pada kriminal, bisa saja dibawa ke yang berwajib.

Orang tua lebih mengevaluasi lagi hubungannya dengan anak. Jangan sampai lengah dan terulang untuk kedua kalinya. Terus membina hubungan dengan sekolah dan teman-teman anak. Memantau kesehatan fisik dan psikis anak agar semua trauma dapat dituntaskan. Berbagi cerita dengan sesama orang tua tanpa maksud menyebarluaskan keburukan adalah yang cukup membantu bagi orang tua lain agar mereka tidak mengalami hal yang sama.

Ah kira-kira baru begitu yang dapat saya bagi...
Adapun jawaban untuk petanyaan: “Bagaimana jika anak kita yang menjadi pelaku bullying...?”
Siapa yang bisa jawab?
Ntar saya mengumpulkan dulu referensi karena belum pernah mengalami yang serius. Kalau di rumah dengan banyak anak, mereka memang kadang bercanda berlebihan yang kadang berasa bullying secara verbal. Namun ini bukan referensi utama. So, sekian saja ya, semoga bermanfaat.

Saya mohon maaf jika ada fihak yang merasa tercemarkan nama baiknya. Bukan maksud saya demikian. Saya juga berterimakasih untuk semua pembaca dan pemberi respon dari postingan 1-7. Tanpa pembaca postingan ini tak ada artinya.
Sekali lagi terimakasih dan mari saling mendoakan untuk kebaikan anak-anak kita, generasi muda Indonesia yang dipundak mereka kita berharap estafeta kepemimpinan negeri ini.

Bahan bacaan:

Senang jika anak kita bisa bersikap peduli seperti di sini. Klik.

38 comments:

  1. Mak, kayaknya aku harus mulai dari edisi pertama ya. Kasus yg menarik dan pasti gk gampang menghadapinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuuk mak Donna...tapi jangan pusing ya...

      Delete
  2. Pas pertama baca penasaran, karena anaknya sudah besar, dan kupikir masa sih anak sebesar itu ngga bilang kalo dibully teman. Tapi pas ngikutin ceritanya, akhirnya saya ngerti. Memang ga mudah buat anak untuk cerita, dan ga mudah juga buat orgtua utk menyikapinya. Makasih mak untuk sharingnya, bermanfaat sekali. Semoga para orangtua, anak dan sekolah tambah aware dengan kasus bullying seperti ini

    ReplyDelete
  3. Anakku.. jg koeban bullying mak.. perlengkapan sekolahnya seriing banget ilang. Hiks...
    TFS mak, aku dapet ilmu baru dari sini

    ReplyDelete
  4. Sedih ya Mak. Anak orang lain saja mengalami hal seperti ini, saya ikut sedih. Mudah2an tidak dialami anak saya. Eh, anak sulung saya pernah sebenarnya waktu SD. Ada kakak kelas, beberapa tahun di atasnya bberapa kali meremas - maaf - kemaluannya tapi untung suami saya pernah melihatnya. Jadi suami memperhatikannya dengan lebih ketat dan untungnya akhirnya anak itu tamat.

    Kalo sama yang tengah, baru kelas 1 SD, sy mulai kasih bekal spt ini ... kan teman2nya ada yang suka nyuruh2 seenaknya, suka tiba2 kasih uang. Sy bilang jangan mau kalo disuruh2, kamu kan bukan pembantunya si A. Bilang sama dia, bahwa dia tidak boleh seenaknya nyuruh2 kamu. Kalo dikasih uang jangan mau karena suatu saat kamu harus ngasih uang juga sama dia. Kalo dia maksa minta barangmu, jangan mau, kalau perlu marahi. Yaa .. menurut saya anak2 perlu sesekali diajar galak sama temannya, Mak :D

    Anak2 sy, si sulung dan si tengah cenderung nurut saja sama teman2nya. Kalo sy dulu, sejak kelas 1 SD galak, padahal aslinya saya pendiam, pemalu. Tapi kalo ada yg memperlakukan saya seenaknya seperti mengambil barang2 saya, saya galak dan jadi gak takut walau itu anak cowok sekali pun. Sejak kelas 1 SD sampe kelas 1 SMA, kalo saya sebel sama teman cowok yang suma ambil barang saya, saya datangi, saya omeli, dan saya cubit sekeras2nya hihihi ..

    Makasih colekannya Mak ... benar, ini harus jadi perhatian khusus kita. Kasihan anak2 kalo mengalami hal ini ... alhamdulillah masalah dengan anaknya mak Ida teratasi ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih sharingnya mak Mugniar. Itulah mungkin kami nih kurang membekali anak untuk bersikap saat menghadapi bullying. semoga anak-anak kita menjadi anak yang baik ya mak. sudah sehatkah?

      Delete
  5. Saya sering menyimak cerita anak saya. Memang berat pergaulan anak sekarang. Banyak yang "mentang". Semoga bisa selalu menjadi sahabat anak2 supaya mereka bisa cerita2. Nice post mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mak Lusi...semoga asap tidak berpengaruh pada kesehatan anak2 di tempat mak Lusi

      Delete
  6. memang perhatian ortu sangat dibutuhkan ya mak,,apalagi zaman sekarang adalah zaman yg luar biasa,,apa-apa bisa saja mungkin,,,yg dibutuhkan memang sebuah pengawasan dan bagaimana kita bersikap bijak terhadap mereka,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul banget mak...kudu waskat dengan cara yang bijak tanpa kesan interogasi

      Delete
  7. dulu waktu sekolah aku sering melihat teman2 yg melakukan bullying, biasanya anak orang kaya. Ternyata luar biasa ya dampaknya... pelajaran berharga untuk anakku niy bu...

    ReplyDelete
  8. serem juga ya mbak ,jadi was-was saya sama anak-anak

    ReplyDelete
  9. Biasanya mereka juga suka jd sering melamun,tertutup,was-was dan menyendiri...tdk spt biasanya mak Ida...dr pengalaman teman sy yg prnh jd guru BP mak...

    ReplyDelete
  10. anak sy TK umur 5 th sering ga mau sekolah krn dinakali teman2nya. waktu sy tanya siapa yg nakalin n sy sebut nama satu per satu, trnyt semua teman laki dianggap nakalin. teman perempuan baik semua. ada mmg yg suka nggangguin anak sy itu mak. ya dr dorong2an meja, lempar alat tulis anak sy, nyoret2 buku/kerjaan anak sy. itu termasuk bullying ga sih mak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mak, jika terus menerus dan menjadi tekanan psikis dan kerugian bagi anak. kita ajri juga anak untuk tegas dan kuat mak

      Delete
  11. Akhirnya tuntas membaca 7 episode. Sebagai ibu yang memiliki sepasang anak beranjak usia remaja, tulisan Mak Ida sangat mencerahkan. Saya jadi mengevaluasi diri, sudahkan saya membangun komuniasi yang nyaman dan kontinyu dengan kedua anak saya? Akankah saya bisa bersikap tenang jika mengetahui mereka di bully? Banyak yang harys saya benahi dalam diri agar bisa mengantisipasi aktifitas dan pergaulan edua anak saya. terima kasih Mak

    ReplyDelete
  12. Jadi ingat pengalaman sulung saya waktu masih TK, Mak :( TFS ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hampir semua anak pernah mengalami ya, hanya ada yang berlanjut, ada yang tidak mak.

      Delete
  13. Tulisan yang sangat bermanfaat, mak Ida. Terimakasih. Jadi PR buat orangtua untuk menjalin komunikasi yg baik dg anak2nya, membentuk mereka mjd anak2 yang kuat dan tegas (*catatan buat aku sendiri).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih kunjungannya mak dwina, yuuk saling mendoakan

      Delete
  14. Baru tamat baca episode 1-7 kasuk Bully ini Mb, terima kasih sharingnya.
    Saya tahu tak mudah menghilangkan 'rasa sedih' apalagi Mb Ida sudah melakukan tugas sebagai ibu dengan sebaik2nya.

    Semoga dengan ditulisnya kisah ini bisa kami ambil pelajarannya agar anak-anak tak mengalami kasus serupa.

    Terima kasih banyak mb, salam dari Palembang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kembali dari Jogja. makasih mak sudah berkunjung. rupanya hingga hari ini terus terjadi kasus bullying....bahkan membawa korban meninggal.

      Delete
  15. Asalammualikum

    Salam kenal juga mak.
    Tulisannya ini sangat mencerahkan dan sangat jarang yang mengupas topik bulying
    Mudah mudahan bermanfaat bagi masyarakat pembaca blog ini.
    Terima kasih dan sukses selalu ya mak Ida

    Wasalam

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih kunjungannya. alhamdulillah semoga memang membawa manfaat, amiin

      Delete
  16. Baru tau saya buk
    Hehehe
    :)
    Minta komentar nya .. sekalian follow juga boleh
    http://resepberbagaikueenak.blogspot.com/2014/07/cara-membuat-kue-pastel.html

    ReplyDelete
  17. Ngga ngira ya sekolah favorit ternyata tidak menjamin bersih dari geng? Saya yg dulu SMA di boarding school gratis di Magelang dahulu ngga bisa paham mengapa banyak orangtua di kota besar (baca: Jakarta) bela-belain milih sekolah saya di kaki lembah Tidar? Alasan yg saya dengar antara lain untuk menghindari narkoba, untuk menghindari anak2 nakal (baca: geng), ya intinya supaya anak bisa sekolah dg steril. Ternyata yg ditakutkan yg begini ya barangkali? Serem ya pergaulan remaja skg? Saya sebelumnya ngga terbayang sampai akhirnya baca kisah dari ustadzah ini... anak saya lelaki 3 orang skg masih preschool semua, ini kisah yg baik buat bekal saya nanti.. syukron ustadzah :))

    ReplyDelete
  18. Hiks :'( baru baca ini umi... tapi salut buat anak umi yang bisa move on..
    Aku move on nya lama mi..
    Dulu waktu aku TK sering dicubitin temen sebangku & pas SD pernah dipalakin sama temen sekelas tiap jam istirahat, pernah jg diambil paksa tugasku karena ada temen yg mau nyontek..
    sadar2 kalo itu adalah tindak bullying setelah aku gede..jd kaya ada ketakutan sama orang2. bahkan kalo ada di tempat rame atau forum dimana Q gk bisa ngobrol/sosialisasi dgn orang lain sewajarnya, ujungnya malah pusing & mual.. normal gak sih mi ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya begitulah...moga dimudahkan dalam membersamai anak-anak ya

      Delete