Saturday, March 15, 2014

Anakku korban Bullying (6)

(bagian ke 6)

Membolos Lagi?

Bismillah, saya lanjutkan curhatan ini.

Pada suatu pagi, sekitar sebulan setelah pindah sekolah dan masuk semester baru di kelas tiga, anakku pamit berangkat sekolah.
“Sekalian aku mau bayar sekolah Mi...” katanya saat sarapan. Aku menatapnya dengan bahagia, sekarang ia nampak jauh lebih sehat dan gembira. Pagi-pagi selalu sudah siap dan bersemangat berangkat. Kuberikan bayaran sekolah dan uang saku untuk sepekan. Uang saku biasa saya berikan di hari Senin.

Sekitar jam 08.30, saat bekerja di Apotek, saya merasa tidak enak hati. Jadi saya SMS Wali kelas dan guru BPnya.
“Bagaimana perkembangan anak saya?” begitu kata-kata yang sering saya SMS kan, nyaris setiap pekan.
“Baik bu, sudah gembira dan akrab dengan teman-temannya. Dari sisi pelajaran juga cepat menyesuaikan diri. Btw kok sekarang tidak masuk sekolah kenapa ya...?”
Deg.
Apalagi ini?
Apakah ia membolos lagi? Duuh Gusti...saya mau jawab apa?


“Ya Ust coba saya cek di rumah, tadi pagi berangkat dan pamitan mau ke sekolah, jangan-jangan ia pulang lagi karena sakit. Nanti saya kabari lagi....”
Saya menelepon rumah, menanyakan apakah anakku pulang lagi setelah tadi pagi pamit berangkat sekolah. Di rumah tidak ada. Saya menepon HPnya, aktif tapi tidak diangkat.
Buntu.

Saya bekerja dengan kalut. Beribu pertanyaan memenuhi benak. Cukup mengganggu karena saya berhadapan dengan banyak pasien yang membutuhkan konsentrasi. Setiap sepuluh menit saya menelepon. Juga mengirim SMS.
“Mas kamu dimana ya?” tak ada jawaban.
Saya sudah solat dhuha, jadi kutenangkan hati dengan berdoa. Keringat dingin membasahiku dan jantungku terus berdebur kencang.

Suamiku yang kukabari menjawab ringan, mungkin ia berusaha menenangkan hatiku.
“ Kita tunggu sampai jam pulang sekolah, setelah itu kita cari lagi...”
Hmm kelamaan pikirku. Jangan-jangan ia di RS, kecelakaan misalnya? Atau ia mengabaikan lagi janjinya untuk menjadi anak baik? Apakah mungkin ia berada di tempat game?

Berfikir macam-macam hanya membuatku makin panik. Semua kemungkinan buruk. Jika ia kecelakaan aku juga tidak menginginkannya. Jika ia ke game online juga bukan kabar baik. Atau jangan-jangan ia di-bully lagi oleh geng yang dulu? Ini juga buruk.

Saya menyerah dan menyibukkan diri dengan membaca dzikir dan doa di sela aktivitas di Apotek.

Tepat adzan dhuhur saya segera mengambil air wudhu dan bergegas sholat dhuhur. Air mata tak dapat kubendung saat mengadukan semua kegundahan hati pada Allah. Saya  menangis sejadi-jadinya. (Naah sekarang saya nangis lagi).
“Ya Allah dimanapun ia berada. Ketuklah ia untuk ingat pada ibunya. Berikan kesadaran padanya untuk mengingat rumah dan segera pulang...” itu saja doa yang kuulang-ulang.

Allah Maha menjawab doa. Begitu saya melipat sajadah, ada telepon masuk. Anakku! Gemetaran saya mengangkat ponsel.
“Mas...?”
“Umi, aku kecelakaan. Aku pingsan dan ditolong orang kampung...ini aku sudah kuat dan akan pulang...”
“Mas jangan pulang...posisi kamu dimana? Biar Umi jemput saja...?” Namun ia segera memutuskan telepon dan saya mencoba menelepon balik, ia tak mengangkatnya. Saya meng-SMS hal yang sama, biar kami yang jemput dan ia tinggal menyampaikan lokasinya. Ia tak menjawab.

Saya mengabari suami tentang situasi ini dan meminta untuk segera mengabari jika anak sampai di rumah. Saya mencegatnya di depan apotek, karena jalur pulang ke rumah pasti akan melewati tempat kerjaku.
Benar, sekitar setengah jam kemudian, ia melintas. Saya bergegas pamit pulang awal untuk menemuinya.

Kudapati di rumah ia sedang dirawat oleh suamiku. Antara lega dan sedih, membuat saya berurai air mata.
“Umi hampir lapor Polisi naak...” kataku sambil merawat lukanya.

Ceritanya ia berkendara untuk berangkat sekolah jam 06.30. Di ring road hanya sekitar 3 km dari rumah, ia dikejutkan oleh munculnya sebuah kendaraan dari gang di tepi ring road. Karena menghindar, ia justru jatuh terjungkal. Saat jatuh ada motor lain yang menabrak kepalanya. Ia pingsan. Penduduk setempat menggotongnya dan menunggui hingga ia sadar. Rupanya ada sekitar tiga jam ia tak sadarkan diri.

Setelah sadar, ia mendapat cerita semua peristiwa itu. Ia belum begitu ngeh untuk segera mengambil HP dan melihat pesan serta miscall dari saya maupun ayahnya. Setelah merasa agak kuat, ia lantas pamitan untuk pulang. Lelaki tua penghuni rumah yang menungguinya, ia beri uang Rp.20.000 sebagai tanda terimakasih. Saat hendak pulang ia baru menengok hp dan mendapat banyak panggilan dan SMS. Ia segera menelepon saya.

Hmm aku mau bilang apa. Antara heran, jengkel dan terimakasih kepada orang-orang yang menolong anakku. Mengapa anak pingsan sekian lama dan tak ada yang berinisiatif membawa ke RS? Duuh apakah memang begitu tidak mampu dan tidak terpelajarnya orang yang menolongnya sampai tidak punya akses ke RS dan berfikir misal menemukan ponsel anakku dan mengabari kami.

Kulihat luka lecetnya dan memar memanjang di sekitar tangan dan kaki. Juga di bagian pinggang. Berdarah tapi tidak banyak. Ada bagian celananya yang sobek. Sekalipun ia pingsan namun ia dalam keadaan memakai helm saat jatuh jadi kepalanya aman. Namun demikian ia tak mau diajak ke RS hari itu, katanya sangat lemas dan capek. Saya mengobatinya sendiri dengan analgesik dan antibiotik. Mengoles luka-lukanya dan segera memberinya makan. Ia memilih tidur beristirahat.

Saya segera mengabari sekolah situasi ini dan sekalian memohon ijin untuk tidak masuk hingga ia pulih kembali. Sore harinya teman-temannya sepulang sekolah berombongan menengok. Rupanya ia sudah diterima dan disayangi oleh teman-temannya.

Esoknya saya memaksanya ke RS untuk menjalani cek up karena sempat pingsan cukup lama, apalagi kemarin ia mengeluh perutnya mual. Alhamdulillah hasil pemeriksaan baik dan ia hanya luka-luka luar saja. Beberapa hari kemudian ia sudah bisa berangkat sekolah dan menolak diantar, tetap mengendarai motornya sendiri. Saya memesankan untuk pelan-pelan dan hati-hati.

Saya mencoba mendatangi lokasi yang disebutkan, namun gagal mencari rumah orang yang menolongnya. Saya hanya ingin berterimakasih dan memberikan imbalan sekedarnya atas apa yang telah dilakukan pada anakku saat mengalami kecelakaan itu.

Hingga kini masih belum masuk akal bagiku bahwa ada orang yang tidak berinisiatif membawa ke RS anakku yang pingsan keselakaan. Padahal kalau ada yang mau menggeledah, anakku membawa uang Rp. 700.000, bayaran sekolah yang dimintanya tadi pagi. Hpnya ternyata di saku celana dalam keadaan silent sehingga tak ada yang mendengar panggilanku yang berulang-ulang.

Bagaimanapun saya bersyukur anakku dalam keadaan yang lumayan baik. Alhamdulillah juga ada yang mau menolongnya. Setiap peristiwa pasti ada hikmah. Setidaknya kepercayaanku pada putraku lebih baik lagi.

Semoga hanya saya yang mengalami hal ini. Tidak mudah membersamai anak remaja. Saya merasa sudah melakukan yang sebaik-baiknya sebagai seorang ibu. Selalu memasak makanan kesukaan agar dilahap habis dan berkah untuk kesehatan. Mengecek PR dan tugas sekolah serta berhubungan intens dengan fihak sekolah, ternyata kecolongan juga.

Semoga ke depan tak terulang lagi. Amanah banyak anak tentu membawa konsekwensi yang berat di era modern ini. Selanjutnya kita selalu berdoa agar selalu dilindungi dari musibah apapun. Terutama dari musibah keruntuhan moral anak remaja.

Mohon doa restunya kini ia sedang belajar giat untuk menyongsong Unas. Tiap hari beberapa temannya menginap untuk belajar bersama untuk menghadapi try out, pemantapan dan semacamnya. Melihat para jejaka muda yang antusias belajar membuatku merasa bangga melayani mereka.

Demikian kisahku. Semoga bermanfaat sebagai pelajaran bagi yang lain.
Bagaimana sikap orang tua saat anak menjadi korban bullying? Atau justru menjadi pelaku ?
(Bersambung ke bagian 7)


24 comments:

  1. Semoga sukses di Unas nya ya mas...
    Membaca cerita panjang mba Ida, membuat air mata membendung, tarikan nafas berulang2, dan istighfar terus menerus. Menajga anak remaja, sungguh sesuatu yang berat ya mba....

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mari kita saling dukung menjaga generasi muda kita

      Delete
  2. Membaca dari bagian pertama sampai keenam membuat air mata beberapa kali berurai..... hiks....jadi inget krucilsku... mdh2an mereka tidak mengalaminya. Tapi happy ending ya Mak dapat sekolah yg lebih Islami mudah2an...ga jadi tinggal kelas juga, alhamdulillah semua kejadian selalu penuh hikmah. Mudah2an juga UN nya sukses serta cita2nya menjadi dokter bedah tulang tercapai. Aamiin Allohumma Aamiin.

    ReplyDelete
  3. Membersamai remaja di zaman sekarang memang tidak mudah ya bu.. Semoga Alloh selalu memberi kemudahan.. Terima kasih sharingnya bu.. Saya masih menunggu bagian 7nya..

    ReplyDelete
  4. Maaak.... nangis lagi nih.. menetes air mataku.. Alhamdulillah ada orang-orang baik dan polos yang menolongnya. Kebayang kalau ketemu orang jahat, digeledah bukan buat menolong tapi malah dirampok.
    Alhamdulillah si Mas bisa pulang sendiri, kemauannya besar sekali.
    Terimakasih sudah berbagi hal ini di blog mak Ida ini. Ada 3 ABG di rumah niih... pelajaran banget hal seperti ini.

    ReplyDelete
  5. Mak, emang mas nya usia berapa? maaf aku baru baca yang ke 6 ini :D

    semoga cepet pulih dan uasnya lancar ya

    ReplyDelete
  6. walah.. jadi inget dulu juga pernah keponakan berkasus sama kaya gitu, mak. semoga tulisan ini jadi pelajaran buat kita sema ya mak.

    ReplyDelete
  7. Ya ampuuun menetes air mata. Semoga UN nya sukses serta cita2nya menjadi dokter bedah tulang tercapai. Dokter bedah tulang itu mngingatkanku pada novelnya Kan Abik 'Bumi Cinta'.

    ReplyDelete
  8. Saya banyak belajar banget dari tulisan mak ida, kelak buat bekal pelajaran buat anak saya yang sudah mau sd :)

    semoga sukses UN nya yaa mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mak shinta...saya juga belajar ngeblog dari mak sjinta. sayang kemarin gak sempat foto berdua mak.

      Delete
  9. Mak Ida, terima kasih untuk tulisan2 inspiratif dan penuh manfaat ini. Aku belajar banyak dari mak Ida. Semoga UN nya berjalan lancar dan mendapat hasil terbaik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin makasih mak...senang dikunjungi makpon.

      Delete
  10. Mbak Ida, anaknya gak trauma? sudah baikan sekarang?

    Saya coba berbagi pengalaman saya.. mudah2an bisa tercerahkan.. soalnya saya juga dari dulu (SD-SMA kelas 1)suka di bully.. Baru bisa bangkit SMA kelas 2 an dan Mulai PD kuliah semster 4..
    Berbaagi pengalaaman.. mudah2an bermanfaat..Silahkan dibuka :http://tajdiidunnisaa.wordpress.com/2013/07/17/apa-salahku/
    (ayunda Slamet)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih banget mak, insya Allah bermanfaat sharingnya

      Delete
  11. salam silaturahim, mak Ida ...
    benar membersamai anak remaja itu bukan hal yang mudah, anak sulung saya sekarang baru saja masuk kuliah, dan turun naik khawatir cemas dan waswas selalu menyertai. Terimakasih sudahberbagi, semoga si mas segera pulih

    ReplyDelete
  12. inilah kasih sayang tulus seorang ibu ke anaknya yg beranjak dewasa...peluk mak ida

    ReplyDelete
    Replies
    1. peluuk mak Chela...hati2 anak SD juga sudah ada kasus ya

      Delete