Thursday, May 15, 2014

TB Resisten Obat, Apa dan Bagaimana?


Saya punya seorang teman, profesinya perawat. Ia sangat perhatian dalam urusan kesehatan. Kebetulan putranya yang masih bayi didiagnosa flek paru dan mendapat pengobatan selama 6 bulan.

Ia menduga, putranya tertular dari tetangga dekat rumahnya, sebut saja mbah Wongso, seorang kakek yang menderita TB, tapi susah diajak berobat.

Dokpri

Pada suatu hari ia terlupa memberikan obat untuk anaknya, saking situasinya memang sedang rumit. Kulihat kepanikan yang amat sangat.
“Aku khawatir anakku resisten obat.....”
Heh, resisten?


Saya jadi penasaran dengan kata yang menjadi ‘momok’ dalam dunia pengobatan ini.Banyak orang awam yang tidak mengetahui betapa ‘merepotkan’ saat seseorang resisten terhadap suatu obat. Eh sebenarnya bukan orang itu, tapi kuman yang menyerangnya itu yang mengalami resistensi.

Lho apa sih makna dari resisten obat itu apa sih?

Resistensi obat adalah perlawanan yang terjadi ketika bakteri, virus dan parasit lainnya secara bertahap kehilangan kepekaan terhadap obat yang sebelumnya membunuh mereka. Saat obat lebih banyak digunakan, risiko resistensi obat meningkat karena kasus penggunaan antibiotik yang tidak tepat atau putus obat meningkat.

Pada pengobatan yang berkesinambungan dalam waktu lama seperti pada kasus TB, ancaman resistensi obat sangat mungkin terjadi.

Dokpri

Dokpri

Berikut fakta resistensi terhadap obat TB di Indonesia:

Credit

Resisten terhadap obat TB dapat digolongkan menjadi 3:

1.     TB Resisten obat adalah TB yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis yang telah mengalami resisten terhadap OAT.
2.     TB-MDR atau Multi Drugs Resistant Tubercolusis adalah TB resisten terhadap 2 obat potensial INH dan rifampisin atau obat lini pertama lainnya.
3.     Extensively Drugs Resistant Tuberculosis adalah TB MDR yang disertai kekebalan pada obat lini kedua yaitu golongan fluorokuinolon dan setidaknya satu obat anti TB lini kedua suntikan yaitu kanamisin, kapreomisin dan amikasin.

Credit 

Bagaimana Resistensi terjadi?

Hal tersebut dapat terjadi karena:

1.     Terlambat mendiagnosa dan isolasi penderita MDR-TB
2.     Pemberian obat yang tidak tepat yaitu pasien tidak menyelesaikan pengobatan yang diberikan
3.     Petugas kesehatan memberikan pengobatan yang tidak tepat, baik paduan, dosis, lama pengobatan dan kualitas obat.

Dokpri

Dokpri

Siapa saja yang dapat terkena TB Resisten, MDR-TB atau XDR-TB?
Resistensi tersebut dapat mengenai siapa saja, akan tetapi biasanya terjadi pada orang yang:
  • Tidak menelan obat TB secara teratur atau seperti yang disarankan oleh petugas kesehatan
  • Sakit TB berulang serta mempunyai riwayat mendapatkan pengobatan TB sebelumnya
  • Datang dari wilayah yang mempunyai beban TB Resistan obat yang tinggi
  • Kontak erat dengan seseorang yang sakit TB Resistan Obat.

Dalam video penyuluhan yang dibuat oleh TB-Indonesia bekerjasama dengan USAID, diceritakan tentang Chasanah yang menderita MDR-TB, bukan karena tidak patuh minum obat, tetapi karena tertular kuman MDR-TB. Chasanah berobat setiap hari untuk mendapat penyembuhan di RS Persahabatan demi menyelamatkan hidupnya.
Video dapat dilihat di sini.

Apa perbedaan pengobatan pada TB dan TB-MDR atau TB-XDR?
Itulah yang saya sebut lebih merepotkan, karena butuh waktu lebih lama dan biaya yang lebih banyak. Jika pengobatan TB biasa hanya membutuhkan waktu 6 bulan, maka pada MDR-TB membutuhkan waktu 18-24 bulan. Obatnya juga berbeda dan lebih mahal. Lebih mahalnya sampai 100x lipat!

Huwaa...!
Yang lebih sulit adalah menyembuhkan TB XDR, karena kuman telah kebal terhadap obat lini kedua.

Kabar baiknya, deteksi TB-MDR dengan metode GeneX-pert hanya membutuhkan waktu 2 jam. Dulunya pemeriksaan lab ini membutuhkan waktu 8 minggu. Waktu bagi penyembuhan TB sangat berharga, karena selama belum diobati sangat mungkin menularkan ke orang lain. Pemeriksaan lab dengan Gene Expert dapat dilakukan di 17 tempat di Indonesia.


Mengingat bahayanya TB Resisten dan MDR-TB, maka pasien, PMO dan tenaga medis harus benar-benar memahami agar tidak terjadi kasus MDR-TB ini. Pemerintah telah menjalin kerjasama dengan USAID untuk penanganan TB Reisten dan MDR-TB yang tepat dan juga tujuan penanganan TB yang lebih baik di Indonesia.

Credit

Dilakukan berbagai cara untuk menanggulangi dan mencegah TB Resisten Obat/ MDR-TB diantaranya dengan dukungan politis, memperbaiki fasilitas rumah sakit, mengadakan pelatihan dokter dan paramedis di sektor negeri maupun swasta, bekerjasama dengan produsen obat yang beredar di Indonesia agar memproduksi obat TB yang berkualitas terjaga ketersediaannya.

Diantara kunci penyembuhan Resistensi obat adalah cepatnya diagnosa, pengobatan yang tepat, ketersediaan obat dan kepatuhan pasien.

Dokpri

Terkait dengan kepatuhan minum obat, perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1.     Motivasi yang kuat dari penderita untuk sembuh. Hal ini membutuhkan dukungan psikososial dari orang di sekitarnya.

2.     Pendampingan minum obat untuk mencegah lupa, malas atau jenuh minum obat. Termasuk mengontrol persediaan obat.

3.     Membuat cara-cara khusus untuk teknis mengingat waktu minum obat seperti membuat tulisan jam minum obat yang ditempelkan di pintu kamar, pintu almari, pintu kulkas atau tempat yang mudah dilihat setiap waktu. Dapat pula membuat alarm waktu minum obat yang berulang dengan weker atau HP.

Kembali ke kisah temanku tadi, akhirnya ia dan suaminya membujuk anak-anak mbah Wongso untuk mau mengantarkan embahnya menjalani pemeriksaan dan melakukan pengobatan. Alhamdulillah mbak Wongso mau berobat.

Yaah, tak mungkin ia pindah rumah karena terlanjur tinggal di situ. Padahal ia tak ingin kejadian berulang anaknya tertular atau tetangga lain tertular. 

Bukankah memang demikian, kita harus peduli untuk menemukan pasien TB dan mendampingi, memotivasi, menfasilitasi pengobatan yang hingga tuntas. Demi Indonesia yang lebih baik dan bebas TB Resisten.

Dokpri

Sumber:

19 comments:

  1. maakk.. yang gambar siapa?? lucu banget... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. anakku...emang yang terakhir bikin ngikik

      Delete
  2. ha..ha...gambare petan berjama'ah. lucu maaak :)

    ReplyDelete
  3. Wkwkwkwk mbah wongso iku sopD
    kereeennnn ^^

    ReplyDelete
  4. sukaaa banget sama ilustrasinya mak:D

    ReplyDelete
  5. Hahaha yang terakhir bikin ketawa :))

    ReplyDelete
  6. wah lucu ilustrasinya ... semoga sukses ya mbak Ida

    ReplyDelete
  7. Bagus sekali tulisan dan ilustrasinya saya akan pertimbangkan tulisan mbak untuk dinominasikan sebagai juara serial #4 lomba ini

    ReplyDelete
  8. Akhirnya bisa juga kesini. Penasaran sama ilustrasinya. Bikin buku cerita keren lo mak :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe mak Lusi...produsernya lagi sibuk TA....

      Delete
  9. Ibu, izin share ilustrasinya ya, terima kasih Bu :) Btw tulisannya sangat bermanfaat Bu hihi

    ReplyDelete