Monday, June 30, 2014

Saling Balas Suami-Istri (1)



Peristiwa ini sungguh terjadi. Seorang suami yang pulang kerja dan mendapati istrinya di rumah dalam keadaan cemberut, tersinggung dan ikut cemberut. Ia bertanya sebab marahnya sang istri dan jawaban yang diterima sungguh tidak mengenakkan. Walaupun cemberutnya bukan karena suaminya.

“Tahu tidak, hari ini aku capek sekali dan anakmu rewelnya minta ampun!” kata si istri ketus.
“Lah kalau tahu repot, kenapa pembantu malah kamu berhentikan?” rupanya baru beberapa hari yang lalu mereka mem-PHK PRT.
“Eh lha kerjanya nggak becus, bikin kesel di hati saja...Papa sih nggak ngadepin tiap hari, aku yang jengkel lihat cara kerjanya...”
“Tapi Mama kalau capek jadi marah-marah...nggak enak juga”
“Papa bantuin cari lagi kek, bantuin Mama urus rumah kek...malah ikutan marah!”

Bla-bla...percekcokan berlanjut. Temanya berubah ubah. Dari sikap istri, kasus pembantu, sikap suami, kenakalan anak. Tak ada habisnya.
Saling balas.


Kemarin ada kasus berbeda pada keluarga berbeda.
Seorang istri mengadukan suaminya tidak mau diajak mudik. Dia ingin sebelum puasa mudik ke kampung halamannya yang hanya berjarak 2 jam berkendara, sekedar ziyarah makam ayahnya.

Dua pekan sebelumnya saya sudah dengan dari suaminya bahwa istrinya tidak mau diajak mudik ke rumah asal suami, bahkan sudah setahun terakhir karena konfliks dengan ibu mertuanya.

Jadi saya berkomentar pada sang istri yang mengadu.
“Kenapa jadi saling balas?’
“Saling balas ya bu? Begitu ya”
“Lha katanya mbak nggak mau diajak mudik, bahkan sudah lama tidak berkunjung ke rumah mertua...”
Ia tertunduk dan mulai menangis. Entah apa maknanya.

Ada yang lebih parah lagi. Seorang istri yang mengaku pernah tergelincir, pernah selingkuh. Lalu ia insyaf dan ingin menjadi istri yang baik. Suaminya yang terlanjur sakit hati, justru membalas perbuatan istrinya dengan perbuatan yang setimpal. Saya saksikan sendiri ia menjadi ganjen dan menggoda beberapa perempuan.

“Kalau istri saya bisa selingkuh, memangnya saya tidak?  Ada lho yang mau dengan saya bu. Ada mahasiswi PTS...”
“Trus mau buktiin apa? Kamu masih bisa tebar pesona gitu? Atau buktikan bahwa kamu sama buruknya dengan istrimu? Klop dong....padahal istrimu sekarang taubat mau baik, kenapa kamu malah jadi mau buruk...”

Dia tercenung dengan kata-kata saya yang menohok. Saya memang sedikit jengkel karena ia mengaku teman saya, jadi tidaklah layak sebagai teman malah memamerkan keburukan dengan bangga.

Fenomena saling balas ini sepertinya umum sekali. Ada aksi, ada reaksi. Reaksi spontan sering kali sebesar aksinya dan kadang lebih besar lagi. Reaksi yang emosional.
Jika tidak mau merenung dan berfikir matang, maka tidak akan pernah ada ujungnya. 

Masing-masing menyimpan kartu. Sayangnya kartu hitam pasangan yang lebih banyak disimpan. Keburukan. Adapun kartu putih, seolah menguap bagai susu dalam belanga.

Kepada para suami, sering saya pesankan, bahwa ia adalah pemimpin rumah tangga.
Suami lah yang bertanggungjawab terhadap surga dan neraka anak istrinya. Semangatnya adalah mendidik dan menjaga keluarga melalui keteladanan.

Jika bersikap saling balas keburukan seperti anak kecil semua atau pribadi kerdil yang tersimpan dalam tubuh orang dewasa. Suami harus memberi contoh termasuk dalam hal meminta maaf dan cepat memaafkan. Jika ia konsisten dengan prinsip itu, anak dan istrinya akan mudah mengikuti.

Adapun untuk para istri, saya sering pesankan bahwa setiap kebaikan akan selalu berbalas kebaikan. Dan sebaliknya. Suami istri ibarat dua orang yang saling bercermin. Apa yang menimpanya bisa jadi  dipicu oleh apa yang dilakukannya.

Jika istri lebih banyak menebar kebaikan, mencintai pasangan dengan tulus dan sepenuh hati, mudah memaafkan dan mudah meminta maaf, memberikan yang terbaik, berkomunikasi santun penuh cinta dalam bahasa verbal dan non verbal. Semoga suaminya cepat atau lambat juga akan berubah.

Kepada ke dua belah fihak saya pesankan: Yang penting mulailah dari membaguskan kualitas diri anda. Kualitas hubungan anda dengan Allah, kualitas ibadah anda, kualitas akhlak anda. Maka Allah yang akan memantaskan pasangan anda.

Jika ia memang jodoh anda, maka Allah akan berikan kesadaran padanya untuk juga menjadi baik seperti anda. Jika ia tak kunjung menjadi baik, biarlah Tangan Allah yang mengaturnya, apakah yang akan menjadi taqdir anda.

Jangan selalu berfikir bercerai untuk setiap konflik dan perbedaan. Karena sejatinya pernikahan adalah menejemen perbendaan dan konflik adalah kemestian. Jika emergency exit berupa perceraian memang menjadi taqdir anda, akan ada jalan dengan sendirinya.
Huff.

Tak sedikit kesabaran yang berbuah baik. Seorang teman yang 20 tahun menikah dengan berbagai suka duka dan pahit manis cerita. Orang lain melihat dari luar, sepertinya banyak dukanya. Suaminya kadang berfikir poligami, ekonomi belum mapan, hingga sekarang masih harus mencari kontrakan tiap tahun, usahanya jatuh bangun. Hutangnya berjibun. Tak jarang suami meninggalkannya selama beberapa bulan. Lebih sering mengancam untuk menceraikannya. Kadang juga ada masa suaminya baik sekali.

Tapi kulihat istrinya adalah perempuan surga. Sangat sabar dan terus setia. Menurutnya ini adalah pilihan hidupnya. Ia bertaubat dan mohon maaf pada orang tua dan teman-temannya. Terus berbuat baik pada suami dan anak-anak. Tak pernah ia membalas keburukan sedikitpun. Sekarang suaminya telah insyaf. Mereka mulai kembali relasi yang baru dan tampak harmonis.

Daya tahan. Daya tahan seorang istri atau suami dalam sabar menghadapi ujian rumah tangga, diantara yang menentukan akhir cerita. Dan jangan pernah berfikir saling balas keburukan.

Keburukan yang dilakukan orang lain, tak pernah menghalalkan untuk kita juga berbuat buruk. Karena masing-masing menanggung amalnya sendiri.
(Bersambung)


18 comments:

  1. Keren mak postingannya. hehe jadi keinget sama efek #CHSI (Catatan Hati Seorang Istri), kata suami saya .
    Emak Ida Nur Laila, Mantabs blognya. makasih share-nya

    ReplyDelete
  2. Sarat ilmu, mak. Ilmu yg aplikatif..trima ksh ya mak atas pencerahannya^^

    ReplyDelete
  3. Diperlukan SAMAWA tuk mengarungi bahtera kehidupan...

    ReplyDelete
  4. MasyaAllah. Dinamika kehidupan berumah tangga, beragam dan bermacam2 ya mba... Semoga kita selalu dilindungi oleh Allah dari perbuatan2 buruk yg akan mengancam kehidupan rumah tangga kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin.iya betul banget butuh kesabaran. makasih kunjungannya ya.

      Delete
  5. share postingan2 yang ada di blog ini menarik sekali mak .
    yang single juga suka baca :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi silahkan.makasih ya jika suka berkunjung dan suka share.

      Delete
  6. Mak,,postingannya bikin mak jleb,,,nangis sendiri didepan kompi :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduuh maaf...cup-cup ini sapu tangan mak

      Delete
  7. Kasus di atas sring bgt saya temui si kantor, Ibuuu.
    Emm, kalau saya tebar pesonanya di depan Bu ida saja. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Idah...makasih ya. besok buber datang ya...nginap di rumahkuu

      Delete
  8. Aku speechless,Mak. Pasang-surut dalam rumah tangga memang pasti akan ada ya. Semoga aku dan suami bisa tetap saling mencintai dan bertahan sampai maut memisahkan. Aamiin.

    Btw, aku juga mauuu nginep di rumahmu, Maaaak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin...kapan ke jogja berlibur tak puter-puterin...ahaha jangan pusing. Btw aku juga pengin nginap di rumahmu hiks...

      Delete
  9. Selama mata masih bisa bebas memandang jatuh cinta jatuh cinta kan bakal terus hadir kan ustadzah

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin semoga jatuh cinta pada pasangan sendiri saja ya

      Delete