Wednesday, December 4, 2013

SUKA DUKA JADI KONSELOR

Pantai Tanjung menangis, NTT

Seringkali orang heran dan bertanya-tanya, bagaimana asal muasalnya daku dan suamiku menjadi konselor atau konsultan. Kami bukanlah psikolog, bukan psikiater dan bukan pula lulusan pendidikan Bimbingan Konseling.
Ingin tahu jawabnya? 
Hey Ge eR ya daku ini, seperti ada yang menunggu jawaban saja.

Begini, awalnya karena suka mengisi pengajian dan seminar, jadilah ada saja orang bertanya. Ditambah suamiku suka menulis buku bertema keluarga, maka jalan seakan terbuka. Satu dua lama-lama banyak yang konsultasi.


Kepalang basah, kami membuat Lembaga kecil-kecilan Jogja Family Center.  Ternyata sambutan makin hangat, beberapa kota lain terinspirasi untuk menbuat serupa itu, seperti Pontianak Family Center, Lampung Family Center, dan di beberapa tempat lain yang tak lagi kami bisa mengingatnya.

Apa saja kegiatan di JFC?
Pencerahan dan diskusi tema keluarga di grup Pengajian Permata dan blog Wonderful-family. Konseling melalui media seperti SMS. BBM, Email dan fb. Konseling dengan tatap muka jika memang diperlukan.

Nah kasus klien tentu rahasia yang harus kami simpan. Daku hanya cerita seputar suka duka menjadi konselor saja, bukan kasus detailnya. Seperti kisah kemarin sore. Hpku menjerit. Kulihat nomer yang memanggilku, ada nama yang kuawali dengan huruf K-. Artinya itu dari klien. Ada jam-jam aku tak akan mengangkat telepon dari klien, misal diatas jam 9 malam, atau sebelum jam 9 pagi. Karena masih sore, jam 5-an kira-kira, maka aku mengangkatnya.

“ Assalamu’alaikum bunda...dengan bunda Ida?”
“ Iya betul, maaf dengan mbak siapa?’
“ Saya ibu fulan. Saya sedang ada masalah bunda, dengan suami saya....bla-bla...dulu saya pernah satu kali sowan dan konsultasi dengan bunda...”
“ O ya...?” ingatanku berputar berusaha mencari selintas wajah dengan inisial namanya dan bayangan kasusnya.
“ Kemarin siang itu bunda, saya keluar dari kantor dengan maksud konsul ke bunda, tapi saya tidak jadi dan saya pergi ke rumah teman. Kebetulan suami ke kantor dan tidak mendapati saya. Suami marah dan menuduh saya macam-macam...bunda tolong saya ya...”
“ Apa yang bisa saya tolong...?’
“ Nanti kalu suami konfirmasi ke bunda, tolong bunda bilang kalau kemarin siang ketemuan dengan saya...”
Jleb!

Bisa salah faham jika hanya membaca judulnya
“ Maaf mbak, mengapa tidak terus terang saja sama suami dan bilang ke temannya jika konfirmasi dengan suami. Kemarin saya ada pengajian pada jam tersebut. Saya tidak bisa melakukan itu mbak. Paling saya akan bilang kalau kita pernah bertemu, tapi saya lupa kapan...”
“ Begitu ya bunda...?” ada nada kecewa diseberang sana.
” Terus terang itu akan membawa kebaikan jangka panjang....begitu ya mbak...” jelasku tegas.
“ Ya, terimaksih bunda...” telepon ditutup, tanpa menutupi nada kecewa yang tersisa.

Fiuhh.
Klien punya masalah, dan konselor diajak ikut berbohong. Oh no. tak ada kamus itu. Mengapa daku harus bertanggung jawab atas perbuatan klien yang bahkan daku tak tahu perbuatan apa yang dilakukannya....

Sebenarnya daku sedikit tersinggung, beraninya mbak tersebut melibatkan daku dalam sekenarionya. Atau bisa jadi dia sudah kepalang basah dan tak punya alibi yang akan membuat suaminya percaya kecuali menyeret daku....

Suamiku selalu memesankan agar tidak membawa masalah klien ke ranah pribadi kami, atau ke keluarga kami. Juga untuk tidak terlalu mencampuri konflik kecuali langkah-langkah yang normatif. Kuingat selalu pesan itu.

Kisah lain, suatu hari tiba-tiba saja ada sms masuk dari seorang ibu.
“ Bunda, saat ini saya naik bus menuju rumah bunda. Saya bawa anak saya yang usia 6 bulan. Saya bermaksud menenangkan diri di rumah bunda barang 2 atau 3 bulan...”
Wow...

Daku dan suami segera mendiskusikan situasi darurat itu. Daku dan suami tak mengenal klien tersebut secara pribadi, nama, rumah dan kasusnya. Apa jadinya jika tiba-tiba tinggal di rumah kami. Kami perkirakan dengan jarak 12 jam perjalanan bus, dia akan tiba di Jogja pada waktu menjelang maghrib. Hasil diskusi kami: jangan sampai klien tersebut menginap di rumah kami, kami akan sewakan hotel di dekat terminal dan menemuinya di sana. Kemudian membujuknya dengan segala cara untuk mau pulang kembali ke rumah.

Begitulah pada jam kedatangannya, kami menjemput ke terminal dan mengantarkannya ke hotel. Seorang ibu berwajah kalut yang menggendong bayi usia 6 bulan dengan menenteng tas pakaian yang cukup besar, cukup menggambarkan situasinya. Malam itu kami berdialog banyak dan terus memotivasi.

Esoknya kami kembali lagi ke hotel dan membawakannya tiket bus pulang. Alhamdulillah ybs mau dibujuk untuk pulang dan kembali kepada keluarganya. Kami membawakan uang dan oleh-oleh ala kadarnya untuk naik angkot dari terminal menuju rumahnya dan sekledar uang makan di jalan. Ternyata ia meninggalkan empat anak di rumahnya yang masih usia TK, SD dan SMP.

Hmmm ...kejadian yang membuat kami geleng-geleng kepala dengan kenekatannya.
Tentang ibu yang pergi dari rumah dan ingin menumpang tinggal, bukan hanya sekali ini. Sebelumnya juga telah ada beberapa, tetapi ini adalah orang terjauh yang betul-betul nekat tanpa konfirmasi atau meminta ijin.
Memang kudu lapang dada menjadi konselor. Kami memang menyediakan paviliun untuk menginap tetamu. Kadang juga yang ingin konseling datang menginap. Namun kami tak meniatkan menampung orang-orang yang melarikan diri dari keluarganya dan melarikan diri dari masalah.

Sesekali kami mendapat semprotan dari fihak-fihak yang bermasalah. Misal suatu ketika suamiku mendapat telepon marah-marah dari seorang lelaki yang tak dikenalnya.
“ Mas, anda ini siapa? Mengapa selingkuh dengan istri saya?! Jangan mengganggu rumah tangga orang!” suaranya lantang, sangar penuh emosi.
“ Maaf bapak ini siapa, dari mana? Dan istri anda siapa?” jawab suamiku kebingungan.
“ Tidak usah pura-pura, anda sering sekali menjadi tempat curhat istri saya. Saya dapatkan nomer anda dari HP istri saya...!”
“ O begitu...jadi begini pak, perkenalkan nama saya Cahyadi, saya ini konsultan masalah pernikahan. Setiap hari banyak orang SMS atau telepon ke saya untuk mencari solusi masalah keluarga. Saya tidak tahu dan kadang tidak tanya siapa saja, mereka, namanya atau tinggal dimana. Saya hanya fokus pada masalahnya. Lha bapak itu tinggal dimana dan siapa nama istri bapak?”
“...Ooo jadi bapak ini konsultan? Bapak tinggal dimana?”
“ Di Jogja...”
Bla..bla... dan berakhir dengan si penelepon dari luar jawa itu minta maaf. Itu namanya happy ending.


 

Kadang endingnya tidak happy. Seperti dua bulan yang lalu saat saya di damprat dan diteror dituduh merestui, menfasilitasi seorang laki-laki yang poligami. Padahal saya tidak tahu siapa laki-laki itu, namanya, tempat tinggalnya, ketemu sekalipun tidak pernah...beberapa hari istrinya, kakaknya, iparnya semua marah-marah dan minta saya bertanggung jawab. Rupanya lelaki poligami itu telah membawa-bawa nama kami untuk pernikahan siri-nya yang ditentang habis-habisan oleh istri dan saudaranya.

Tidak tahukan mereka bahwa suamiku menulis sebuah buku berjudul : “Bahagiakan Diri dengan Satu Istri” ?
Karena bosan menjelaskan, akhirnya telepon dari mereka kuhafalkan dan tidak kuangkat lagi. Tamat.

Kemungkinan si calon istri adalah salah satu dari orang yang pernah tanya satu dan lain hal tentang pernikahan, dan daku pernah menjawabnya. Nah ini dijadikan dalih kami telah memproses mereka. Ho hoh ho... siapa dan yang mana mereka ya...

Semua peristiwa itu menjadi pelajaran bagi kami untuk lain kali lebih berhati-hati. Selama ini kami merasa telah berhatri-hati, namun tetap saja ada resiko. Bukankah menjadi konselor memang memasuki wilayah konflik yang beresiko. Namun satu yang selalu kami pesankan pada klien, bahwa dialog dengan kami adalah jalan untuk rujuk, damai dan bukan jalan perceraian. Perceraian, jalannya ke kantor Pengadilan Agama.

Seru kan menjadi konselor. Siapa mau?

Artikel di Majalah Ummi Edisi Khusus

25 comments:

  1. wah seru ya mak, tapi emang kudu ekstra hati2. Sukses terus ya mak ^_^

    ReplyDelete
  2. waaahh nggak kebayang, mak. seruuuuuu. banyak keluar materi juga ya demi klien. :))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe Allah maha kaya mak mengganti dengan banyak jalan

      Delete
  3. Waaaahhh mak, saya bacanya sampe ikut2 an tegang,,, sukses selalu ya mak... :)

    ReplyDelete
  4. waaah.. ternyata mak ida ini adalah istri pak cahyadi takariawan tooo..?? suami-istri orang hebat, senang bisa 'kenal' mak ida lewat KEB :)

    hmm, ternyata jadi konselor harus siap nerima berbagai kejadian tak terduga ya.. terimakasih sudah berbagi.. :)

    ReplyDelete
  5. Bunda, blognya ga bisa difollow ya? Saya kenal Pak Cahyadi (bukunya, maksudnya :D). Gak nyangka ketemu istrinya di sini.

    ReplyDelete
  6. waah suami istri kompakan ya. Subhanallaah, sudah banyak membantu orang, semoga sukses n sabar selalu ya mak :)

    ReplyDelete
  7. hihi, jadi kebawa2 pak cah yo mbak. terus nganti meh lali itu apoteke eheheh *eh ora ding

    ReplyDelete
  8. wah.. saya selalu penasaran sama profesi konselor pernikahan ini. biasanya cuma tau dari film hehe. keliatannya di Indonesia belum banyak ya? profesi yang menarik dan bertujuan mulia! :)
    salam kenal dari Spanyol :)

    ReplyDelete
  9. luar biasa sekali pengalamannya Bu.
    kami juga berusaha membantu konsultasi, tp tdk sedahsyat Ibu Ida dan Pak Cahyadi...

    btw, boleh mampir blog kami...
    http://baitijannati.wordpress.com/

    ReplyDelete
  10. wah bunda, keren banget ini. banyak yang mencari dan memberi manfaat untuk orang lain :)

    ReplyDelete
  11. Ga nyangka, yg kmarin ninggalin jejak di blog sederhana saya adalah orang hebat *jadi malu. Saya punya beberapa buku ibu dan bapak Cahyadi, dan saya suka sekali buku-bukunya

    ReplyDelete
  12. Assalamualaikum, waah ditinggal tidur sudah banyak tetamu. terimakasih kunjungannya Dwi Aryanti, Miss Rochma, Farid Maruf, theibrahimsfamily.com, muktiamini, vica item, Leyla Hana, Ririn Syahriani, Istiadzah Rohyati, Titanic Azrialdi, ofi tusiana, mohon doa semuanya kami selalu istiqomah. senang jika ada yang bergabung bersama kami menjadi konselor sosial. banyak keluarga Indonesia yang perlu dibersamai....

    ReplyDelete
  13. Wah kyak roller coaster ya Mba Ida, bisa tegang, bisa senyum dan aneka kejutan lainnya yang datang tiap hari. Hebat deh bisa berbagi waktu dengan orang lain, mendampingi suami tapi tetep bisa ngeblog juga.

    ReplyDelete
  14. wah, hrs byk2 nimbun sabar kl kyk gini, ya, Mbak :D

    ReplyDelete
  15. Makasih kunjungannya mak efi, mak myra, mohon doa mak, bisa terus memberi kemanfaatan amin

    ReplyDelete
  16. Selalu suka baca tulisannya bu ida.

    ReplyDelete
  17. makasih kunjungannya umi Nadliroh...

    ReplyDelete
  18. haduduuuh seru banget Maak .. semoga tetap sabar & amanah, karena masih banyak sekali pasangan yang belum mampu mendapatkan solusi yg baik untuk masalah mereka. aamiin

    ReplyDelete
  19. makasih kunjungannya mak kopisusu...amiin untuk semua doa kebaikan. ikutan GA ku mak...resensi buku wonderful husband...

    ReplyDelete
  20. seruuu yah mbak jadi konselor hehehe ^^

    ReplyDelete
  21. begitulah mak...makasih sudah berkunjung

    ReplyDelete
  22. Seru mak jd konselor. Jd tertarik nih, tp hrs berbenah diri dulu^^"

    ReplyDelete