Tuesday, January 13, 2015

Model Rambut dan Perselisihan Orang Tua Anak



Suatu hari saya sedang di sebuah salon muslimah. Tak sengaja saya mendengar percakapan di kursi samping saya. Percakapan yang cukup membuat saya mengangkat kepala dan mengalihkan mata saya dari majalah kesehatan di hadapan saya.

“Betul mbak segini?”
Tak terdengar jawaban. Mungkin hanya anggukan.
“Yakin? Potong bob?” sang hairstylis sepertinya meragukan gadis custumernya.
“Iya mbak, segitu kok, tadi sudah berniat!” yang menyahut keras justru suporternya, kawan gadis yang akan potong rambut.

Saat itu saya masih menulikan telinga dan fokus pada artikel tentang hypertensi di hadapan saya.
Kres ... kres ... kres ...




“Rambutnya boleh saya minta mbak? Sayang sih?” itu suara lantang gadis suporter.
“Naah cantik kan ...! Hore rambutku sekarang lebih panjang dari rambutmu!” masih suara gadis suporter. Inilah yang membuatku memalingkan wajah memandang mereka.
Menyadari saya menatap mereka, gadis suporter memberi penjelasan.
“Rambutnya tadi panjang sampai tungkai bu!”

Terkejut saya memandang potongan rambut yang berserakan di lantai. Iya betul panjang banget. Saya tersenyum melihat wajah gamang di samping saya. Gadis cantik imut dengan potongan gaya bob diatas bahu. Senyum tipisnya sama dengan yang kulihat saat tadi ia memasuki ruangan dengan balutan kerudung biru benhur.

“Saya juga pernah memotong rambut dari sepinggang menjadi pendek, saat kuliah” kataku, entah dengan maksud menghibur atau sekedar berbagi, ”rasanya senang dan sedih”
Saya sendiri tidak yakin, apakah ungkapanku akan menguatkan hatinya, ataukan ia tak butuh dikuatkan.

“Sudah bilang sama bundanya apa belum?”
Tiba-tiba saya iseng bertanya. Kuingat ibuku dulu suka komentar atau campur tangan dalam urusan potong rambut demikian pula aku terhadap anak perempuanku, setidaknya sampai mereka usia SMP.
“Kalau bilang, pasti dilarang” katanya datar, masih dengan senyum tipis.

Ia mohon ijin keluar ruangan setelah membenahi kerudungnya. Kulihat wajah cantik yang gamang menghilang dari balik pintu.

Hmmph.
Entah mengapa aku mengambil nafas berat.

***
Apakah berlebihan jika saya tengah melihat sebuah pemberontakan kecil?
Rambut sebatas tungkai, kira-kira sejak kapan orang tuanya merawatnya? 

Mungkin sejak ia balita tak pernah dipotong. Kubayangkan sang ibu yang selalu menyisir dan merawat rambut si anak. Nanti jika libur semester tiba, si anak akan pulang mudik dan apakah yang akan terjadi di rumah?

Ingatanku melayang pada masa saya diujung kelas 6 SD. Saya pergi membuat pas foto untuk wisuda. Saat itu kakak sedang sakit dan ibu menunggui di RS. Saya pergi sendiri ke studio foto. Saat melihat hasil fotonya jelek dengan rambut yang tak rapi. Ibu memaksakan diri meninggalkan kakak untuk mengantar saya. Kami foto ulang setelah memotong rambut terlebih dahulu. Hasilnya memang lebih rapi.

“Foto ini akan kamu pakai seumur hidup” kata ibuku yang selalu memperhatikan detail.
Kemudian saya ingat saat kelas lima SD, saya ingin memanjangkan rambut. Ibu tidak sepakat karena mengenali saya termasuk gadis yang malas sisiran. Jadi ibu memotong rambut saya sesuai dengan seleranya. Pendek banget. Kenyataan itu membuat saya menangis seharian di depan kaca. Tidak terima dengan mahkota saya yang raib oleh gunting rambut. Esoknya saya sekolah dengan mata bengkak dan bungkam terhadap olok-olok teman saya.

Kejadian masih berulang saat SMP. Ibu membawa saya ke salon dan memaksakan model O kappa O kappa. Itu model yang saya tahu kemudian dari komiknya Maruko-chan. Sebenarnyalah semacam potong bathok. Dan saya masuk sekolah dengan rasa malu yang sangat.
Kapok.

Saya berjanji tak akan memaksakan model rambut apapun pada putri-putri saya. Yah, kenyataanya saya mengajari mereka memakai kerudung sejak bayi. Namun untuk model rambut, saya suka menyarankan ini itu, kemudian keputusan ada di tangan mereka.

Kembali pada gadis cantik tadi.
“Semester berapa dik?’ tanyaku padanya saat bersamaan membayar di kasir.
“Semester 7 bu," masih dengan senyum tipisnya. Kerudung biru benhur seolah tak menunjukkan beda antara rambut setungkai atau sebahu. Tapi saya menduga ada yang berbeda dalam perasaan gadis itu.

Apakah ia puas bisa menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan orang tua? Apakah ia menyesal? Apakah itu wujud kemenangan sebuah pemberontakan atas dominasi orang tua?

Pertanyaan-pertanyaan tadi hanya bergulung-gulung saja di fikiran saya. Tanpa pernah menemukan jawaban sebenarnya. Hanya gadis itu yang tahu makna acara potong rambutnya.

“Seperti menebang pohon ya, menanamnya puluhan tahun dan hanya butuh satu jam untuk menumbangkan ... “

Di dalam tadi saya sempat berkomentar seperti itu. Sesungguhnya saya menyesali ucapan itu. Khawatir menyinggung perasaan gadis itu. Tapi ia tetap tersenyum tipis penuh misteri.

Bagaimana kisah anda dan putri anda? Atau kisah anda dan ibu anda dalam urusan potong rambut?



24 comments:

  1. soal potong rambut kalo sama ibu aku lebih sepaham mak, kalo sama ayah,hmm,,ayahku sukanya aku berambut pendek,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitu ya. Ayah juga punya usul saking sayangnya

      Delete
  2. ihh sayang banget ya Mak, rambut sepanjang itu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe begitulah mbak ninik, setiap orang boleh punya pendapat dan menentukan nasib rambutnya sendiri hehe

      Delete
  3. Mak sejak kecil saya juga sering memanjangkan rambut, tapi tidak ada kewajiban sih, bahkan ibu saya membebaskan gaya rambut saya. Saat menikah saya bertemu dengan lelaki pengagum rambut panjang. Demi menyenangkan suami saya rawat rambut saya hingga sepinggang. Sempat berontak dan memotong rambut tanpa sepengetahuannya, ternyata malah berujung percekcokan. Alhamdulillah saat ini suami sudah menerima keadaan, bagaimanapun model rambut saya dia tidak pernah protes. Namun saya tetap berpedoman bahwa rambut adalah mahkota wanita, sebaiknya kita jaga dan rawat dg baik.

    ReplyDelete
  4. Sama kayak ibuku, dulu rambutku dilarang dipotong, maunya panjang.
    klo dipotong harus ada persetujuan ibuku..hehe

    ibuku pernah marah2 sama tanteku yg sudah motong rambutku tanpa bilang2 dulu.
    hiihihi, klo inget sampe sekarang sy suka khawatir motong rambut, takut ibu ngambek lg kayak dulu itu.

    ReplyDelete
  5. saya juga sempat sepinggang mak rambutnya, tapi terus setelah punya anak dipotong pendek biar ga ribet :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ibu, alhamdulilah cukup demokratis untuk urusan rambut, biasanya hanya memberi saran saja. Tapi keputusan tergantung kami. Kalau saya penyuka rambut panjang tapi setelah punya anak akhirnya memutuskan untuk pendekin rambut karena supaya ga ribet. Suami juga ga masalah dengan panjang dan pendeknya rambut :)

      Delete
    2. emang ya, kalau udsah beranak haha...mendingan rambut pendek. habis melahirkan biasanya pada rontok. sediih.

      Delete
  6. bukan sama ibu malahan mba, sama ayah, mau ikutan ibu kriting spiral malahan ga boleh, kalau mau potong rambut juga harus ijin beliau he he he...

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah ayahnya perhatian banget mak Fitri

      Delete
  7. jadi inget kalo dulu nyobain gaya potongan rambut baru mama selalu komentarnya "kenapa ga di model oval aja si?" oval memang bentuk rambut beliau mbak dari dulu mbak.. lha yg namanya anak muda kan suka pengen eksperimen gitu :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. mak Muna, saya juga suka eksperimen hehe

      Delete
  8. jadi ingat sewaktu suami ada pekerjaan di luar kota dan ketika kembali rambut anakknya sudah dipotong oleh mbahnya, kecewa banget meskipun sekarang rambutnya sudah panjang lagi.

    ReplyDelete
  9. ini sayaaaa. tapi bukan sama ibu saya melainkan ayah. ayah lebih suka saya berambut panjang jadi dari kecil rambut saya panjang. lulus SMA dengan niat "memberontak", saya potong sebahu. ayah sebel banget dan bilang rambut saya jelek-jelek terus. terus saya malah menyesal karena mengecewakan ayah. sampai sekarang, meski berjilbab, panjang terus lagi deh rambutnya.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. duuh sayang banget sama ayah...semoga sehat selalu tuh rambutnya dan ayahnya mak Annisa

      Delete
  10. anak kedua saya, sepertinya tdk terlalu suka dgn rambut panjang. Inginnya dipotong, tapi ayahnya melarang. Ayahnya lebih suka anak perempuan dgn rambut panjang. Kalau saya sih, terserah anak saya saja. Apapun modelnya kalau memang tdk model yg aneh2 tdk apa2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mak Santi, ternyata ya, orang tua pengin lihat anaknya dengan penampilan tertentu. Semua karena sayang ya

      Delete
  11. saya tidak pernah punya masalah dengan model rambut dan alhamdulillah punya kebebasan untuk mengaturnya. termasuk ketika saya memutuskan untuk botak akibat terlalu banyak rambut yang rontok pasca kemo. Untungnya, suami, Bo, et Obi mendukung mak, jadi saya PD aja :)...memng urusan rambut bukan perkara sederhana..inget waktu smp pernah memutuskan untuk memotong pendek rambut keritingku dan tidak pantas sama sekali hehehe...tapi karena keputusan sendiri, konsekuensinya pun saya yang tanggung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ngebayangin mama bo potong pendek, pastilah kribo haha. Saya salut dengan mak indah yang luar biasa. menginspirasi banyak orang. sukses untukmu mak

      Delete
  12. Kalau saya sih rambut antara ortu sama aku gak sepaham banget. Ortu pengennya model gini, aku maunya model lain, lagian rambut aku susah diatur dan dimodelinnya. Terlalu tebal terkadang bikin kesal juga.Pengen rambut pendek ortu pengennya aku rambut panjang. Pengen dikeriting ortu pengennya lurus. Macam2 aja

    ReplyDelete