Tuesday, August 12, 2014

Penggemar dan Keutuhan Rumah Tangga

Fans club (bagian 1)

Ini kisah pengantin baru. Seorang mahasiswa aktivis kampus dan seorang mahasiswi dari kampus lain. Mereka menikah dengan proses yang bersih, tanpa pacaran. Setelah menikah, suami baru ini mengajak istrinya ke kampus untuk suatu keperluan. Betapa terkejut sang istri menyaksikan bagaimana sambutan para mahasiswi terutama adik-adik kelas itu kepada suaminya. Kebanyakan mereka belum tahu bahwa sang kakak tingkat idola itu telah menikah.

Saya hanya menerima curhatan saat ia menceritakan bahwa sepanjang jalan pulang ia menangis cemburu melihat di kampus suaminya masih ramah meladeni para penggemarnya.


Itu cerita masa lalu ya, sekarang 18 tahun kemudian, semoga tak lagi terjadi pada mereka.

Cerita lain menimpa orang kebanyakan. Bukan aktivis kegiatan keislaman. Dalam sebuah seminar, saya mengenal perempuan cantik salah seorang peserta seminar. Bertukar pin dan akun fb, kami lanjutkan pertemanan di dunia maya. 

Ibu cantik ini curhat, suaminya teman kuliahnya sendiri. Tampan dan mempesona. Saking tampannya, hingga sekarang ia selalu was-was karena ada saja perempuan yang menjadi penggemar suaminya, di lingkungan manapun mereka berada. Saat jalan bersama suaminya saja, ia merasakan ada saja perempuan yang melirik atau memandangi suaminya. Banyak teman kantor suaminya yang menurutnya selalu mencari alasan untuk berhubungan dengan suaminya. Ia bertanya bagaimana mengelola rasa cemburunya dan menjaga suaminya. Dia juga berpesan baiknya para lajang jika mencari suami janganlah yang terlalu cakep mempesona, karena bisa makan hati seumur hidup...hehey.

Saya lantas ingat para seleb yang kawin cerai dan selalu dilanda gosip dan isu. Begitulah dunia mereka karena ketenaran dan keelokan menjadi daya tarik utama.Sementara gaya pergaulan sungguh terbuka.

Fans club ini sekalipun tidak diresmikan, ternyata ada ya dimana-mana. Dalam dunia nyata lho. Tak pandang usia, atau miskin kaya. Dulu saya kerja di suatu tempat yang tetanggaan dengan toko jam. Ada karyawan yang putih molek dan seksi. Jika ia lewat mana saja, mau beli makan siang misalnya, maka bisa dipastikan semua mata tertawan olehnya.

Bahkan mata para lelaki yang sudah beristri. Atau lelaki gaek yang ubanan. Yang iseng akan bersuit-suit, misalnya penjaga toko kaca mata dan tukang becak. Dan gadis itu seperti putri tak berdosa, melenggang dan melempar senyum saja kepada para penggemarnya.
Waah bayangkan saja jika ia telah bersuami, betapa makan hati suaminya.

Saya punya pengalaman pribadi tentang penggemar ini. Ada kurun waktu dimana saya rutin menulis untuk sebuah majalah keislaman yang cukup berjaya pada masanya. Saya akhirnya berhenti karena alasan penggemar. Suatu ketika datang surat penggemar, seorang yang mengirimkan biodata, foto, foto kopi KTP, Kartu Keluarga,  dan terang-terangan melamar saya. Ia adalah pelanggan majalah yang tertarik dengan tulisan saya.

Saat itu tahun 90-an, internet sepertinya belum mewabah di Indonesia, maka ia bahkan belum melihat foto saya, usia saya atau apapun informasi tentang saya. Atau bahkan ia tak tahu bahwa saya telah bersuami dan beranak dua! 

Walau Cuma seorang saja penggemar, demi menjaga keutuhan rumah tangga, saya purtuskan berhenti menulis di media itu. Surat penggemar itu, tak pernah saya jawab. Sekarang dengan dumay, mudah untuk melihat informasi tentang seseorang, jati diri dan fotonya. Tentu semua punya plus minusnya.

Apa sih tujuan menulis kisah-kisah di atas?
Sebagai konsultan keluarga, cukup banyak kasus goyahnya rumah tangga karena urusan penggemar ini. Lebih banyak dari kasus ekonomi menurut pengamatan saya. Saya tak ingin lebih banyak lagi terjadi. Begitulah alasan saya.

Dari mana memulai agar rumah tangga kokoh tak tergoyahkan?
1.   Mulai dari kekokohan internal.
Hmm jadi ingat jargon iklan vitamin, health inside fresh out side.Saya ganti saja ya, sehat di dalam, aman di luar.

Rumah tangga yang sehat di dalam, kokoh di dalam, sekuat apapun gempuran dari luar, insya Allah tak akan mempan. Keguncangan itu wajar terjadi, namun akan segera menemukan kesimbangannya kembali, tanpa jatuh tersungkur, apalagi terpuruk. Namun jika lemah di dalam, hembusan ringan, atau bahkan tanpa guncangan dari luar, tetap saja akan ambruk.
Kekokohan ini diawalai dengan visi yang jelas dan komitmen diantara pasangan itu. Dua hal ini menjadi garansi selesainya persoalan penting diantara suami istri.
Itu prinsip pertama.

Prinsip ke 2?

Ah bersambung saja ya...biar penasaran...hihi maaf. 

11 comments:

  1. Ditunggu tulisan selanjutnya Mak Ida ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya...entar lagi diposting ya. makasih sudah mampir.

      Delete
  2. haduh... benar2 jadi penasaran nih mba... hehehe..
    nunggu kelanjuatannya ah... *gelartikar* :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini bahannya diskusi yang duluuu itu lho

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Hmm, penasaran juga sama sambungannya mak. Ditunggu yaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah bikin makpon penasaran...banyak penggemar nih mak #piss

      Delete