Tuesday, November 25, 2014

Kisah Jeruk nipis dan bukan penjual buah


Tadi sore menjelang maghrib ada SMS masuk dari tetanggaku yang agak jauh rumahnya.

"Bu, bolehkah saya minta jeruk nipis depan rumah ?"
"Untuk apa mbak..?" tanyaku, khawatir kalau keperluannya mendesak.
"Untuk ngecilin badan bu, mbuang lemak.."
"O kalau begitu besok saja biar dipetikkan driverku...."
Jawabku masih via SMS.

Memang ada aturan yang dibuat ibuku bahwa pohon jeruk itu tak boleh dipetik di malam hari. Karena akan membuatnya tak mau berbuah lagi.
Entah ilmu bertanamnya dari mana, tapi saya nurut saja. Lebih karena alasan taat dan menyenangkan ibu. Disisi lain repot amat memanjat pohon jeruk malam2. Bisa kena duri atau semut.
 
Gambar dari sini.

Namun sesungguhnya saya ragu, apakah ada buah yang layak petik. Pasalnya baru pekan lalu iparku datang dan mengambil satu kresek penuh.

Kemarin saat memasak nasi dan mengiris jeruk, saya berkomentar:
"Waah jeruknya sekarang kecil-kecil..."
"Itu karena aku beli ke warung. Jeruk kita belum ada yang tua, lagian susah metiknya tinggi banget..." jawab ibuku.

Kira-kira 10 tahun yll kami menanam pohon jeruk nipis di pot. Dua tahun kemudian saat sudah memiliki rumah sendiri kami pindahkan ke tanah halaman depan rumah.

Bertahun membangun harapan, pohon jeruk ini tak jua berbuah. Hanya dahannya yang makin rimbun. Kami sempat pesimis akan masa depan pohon jeruk itu. Alhamdulillah sekitar tiga tahun yang lalu mulai berbuah. Artinya tujuh tahun penantian...

Puncaknya setengah tahun yang lalu. Dahannya yang rimbun dipenuhi buah.
Saking banyaknya tiap hari ada yang jatuh ke tanah. Buahnya besar dan sampai berwarna kekuningan.

Kepada para tetangga sudah kuikrarkan untuk mengambil kapan saja mereka membutuhkan. Saat panen bahkan bisa dibagikan kepada lebih dari dua puluh rumah yang masing2 mendapat 8-10 butir. Ukurannya juga mantap betul.

Jika keluarga besar dan teman-teman datang, mereka memetiknya sesuai kebutuhan.  Bahkan ada yang membawa 1-2 kresek penuh.
Kami pernah beberapa kali mengirimi 3-4 kiloan buah jeruk ini ke mertua.

Saya pribadi menggunakannya tiap hari untuk memasak nasi. Hasilnya nasi lebih putih dan tidak segera basi meskipun sudah 24 jam. Seringkali juga untuk obat batuk dan membuat minuman isotonis.

Dalam rangka mantu kemarin, pohon itu dipangkas hingga tinggal 1/4 bagian yang menjulang ke atas. Kalau tidak dipangkas khawatir durinya mengenai tetami. Juga karena akan dipasangi tenda.

Setelah panen raya, sekarang buahnya belum tua. Tetapi gambaran pohon dengan dahan menjuntai dan buah yang lebat mungkin terus saja ada dalam ingatan beberapa orang.

"Besok kalau ke sini, tolong bawakan jeruk nipis Mi....."
Begitu pesan mertuaku dua bulan yang lalu saat kami menengok beliau.
"Ya Yang ..." kujawab saja begitu sambil membayangkan pohon jerukku yang dahannya sudah tinggal sedikit.
Kupikir jika pada saat akan menengok dan belum ada yg siap petik, akan kubelikan saja.

Bulan berikutnya saat suami akan menengok ibu mertuaku dan saya berhalangan tak bisa menyertai, saya pesan untuk membelikan 2 kg jeruk nipis ke supermarket. Bukannya saya tidak suka ke pasar tradisional, tetapi maksudku agar dapat yang bagus. Di pasar dekat rumah, seringkali adanya kecil-kecil.
Mungkin suamiku hanya menyerahkan jeruk itu tanpa bercerita asal-usulnya.

Eh apa komentar mertuaku saat bulan kemarin bertemu denganku.
"Kok jeruke cilik-cilik...ora koyo mbiyen..."
Akhirnya saya berterus terang bahwa itu panenan supermarket....

Kembali ke pasal tetangga tadi, malam ini saya berdoa, semoga ada keajaiban buah jeruk depan rumah besok banyak yang besar dan bisa dipetik. Tidak enak mengecewakan harapan orang lain yang masih mengira pohon jeruk kami penuh dengan buah ranum.
Kalau toh besok belum layak dipetik...ya kubelikan saja untuk tetangga yang minta itu.

Pagi ini saya mruput mengambil galah dan mencoba peruntungan memetik buah jeruk. Hmm lumayan sulit ya kalau belum tua. Akhirnya kupanggil driver untuk mengambil tangga dan memetikkan.

Memang belum terlalu tua, tapi alhamdulillah paling tidak lebih besar dari yang dijual di warung. Setelah dapat sekitar 15 biji, kuambil 5 untuk kami pakai sendiri. Lalu saya SMS tetanggaku untuk mengambilnya.

“Berapa bu harganya...?” kata tetanggaku saat menerima kresek berisi buah jeruk
“Ha...?” tentu saja aku njondhil.
Dalam riwayat hidup kami tak penah menjual hasil panen apapun, mau jeruk, jagung, mangga, pepaya atau pisang yang tiap pekan panen. Bahkan padi, kacang tanah dan ikan sekalipun. Kami ini bukan petani atau pedagang buah.

“Gratis mbak...”
“Waah saya jadi enggak enak merepotkan ibu...”wajahnya bersemu merah.
Saya menepuk-nepuk pundaknya dengan gembira.
“Saya senang kok...enggak papa...cuma itu sedikit dan belum tua. Besok kalau panennya bagus saya kasih lagi....”

Ia berlalu dan aku tersenyum geli. Orang mau beli kukira mau minta. Beginilah kalau bukan penjual buah.

Maklum kan saya penjual buku.


17 comments:

  1. wah senengnya py tetangga kayak mba ida..he he

    ReplyDelete
    Replies
    1. sini mak fitri pindah dekat rumahku...

      Delete
    2. mbak ida..mitos klo mlm petik buah jeruknya kok gak adaaaaa??? Tiwas mocone smpi habis jebul gur cerita ..curhat hadeeehhhh

      Delete
  2. Enak Kalo rumah nya deket mak Ida hihi bisa 'saling to long menolong' alias minta jeruk nipisnya

    ReplyDelete
  3. enak jadi tetangga mak ida,,aku kan lagi diet juga,,,mau main kerumahnya dan minta jeruknya juga *langsung ditoyor ama mak ida...hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe mak Dwiex tetangganya juga pasti suak...

      Delete
  4. pohon jeruk nipis yang menebar manfaat ya mba... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah semua karunia Allah mbak santi Dewi

      Delete
  5. Baru tau bisa mempertahankan nasi biar ga basi. Coba ah. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. resepnya, setelah beras dicuci dan dituang ke majic com, tambahkan air perasan jeruk nipis. insya allah hasilnya bagus mak. kalau beras sekilo yang jeruk nipis 1.

      Delete
    2. Rasanya jadi asam-asam gitu ya mbak ida, nasinya?

      Delete
    3. enggak mak. rasanya biasa saja. cobain deh

      Delete
  6. Seneng mambaca artikel ini. kemarin2 baca artikel pak Cahyadi bagi2 rambutan juga. Memang jika ada yang bisa dibagi dengan tetangga itu lebih menyenangkan.

    Ohya bu, sekedar berbagi info; untuk menanam buah sebaiknya memang tidak pakai dari biji ataupun kalau beli yang sudah jadi tanaman harus tahu asalnya. Untuk jeruk yang memakai okulasi (ada batang bawah dan batang atas) tahun ke-2 saja sudah belajar berbuah. Dan tahun ke-3 sudah berbuah lebat. Harganya gak mahal kok, Rp 8.500,- saja per polybagnya (per tanaman). Kebetulan di kantor mandat peneltiannya salah satunya jeruk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh makasih ilmunya pak. kami kadang membeli pohon tanpa begitu mengeti asal-usulnya.

      Delete
  7. Pengen jadi tetangga mak ida deh hehe, mak itu jeruk nipisnya ditetesin ke nasi yang mau dimasak gitu ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak. peras airnya kasih 2 sendok saja per kg.

      Delete