Saturday, December 13, 2014

Membuat tombol "RESTART"



Entah mengapa saya suka menulis tentang Revo. Barangkali karena sesungguhnya anakku adalah guruku. Guru untuk belajar tentang pengendalian diri dan banyak lagi hal lainnya. Seperti kisah kami di hari Ahad saat Revo berumur sekitaran 6 tahun.

Pagi itu Revo bangun dengan senyum manis.
"Umi, aku bawa Max...!" serunya.
"Waah ganteng alhamdulillah sudah bangun. Kok langsung bawa max (kucing), sekarang pipis, wudhu sholat dulu..." Aku mengingatkan ritual paginya.

Revo belum mau menuruti dan mulai bermain dengan kucing kesayangannya. Abangnya menemaninya. Saya tak terlalu merekam aktivitas mereka, namun sesekali terus menyapa dan mengingatkan Revo untuk pipis, wudhu sholat, sambil saya mengetik di depan PC.

Tiba-tiba saya sadari mereka telah bersilang pendapat, karena abangnya menyuruh solat juga. Abangnya meninggalkan Revo dan Revo mulai marah, membuangi bantal kursi ke lantai. Kucingnya masih saja dipelukannya.


"Revo, bantalnya jangan dibuangi, itu tadi sudah dirapikan...”
Bukannya menurut, ia malah membantah dan berteriak.
"Lha bang Dif nggak mau main sama aku...!"

Saya meninggalkan pekerjaanku, mendekat ke Revo untuk lebih fokus dan bicara tegas.
"Revo jadi seperti ini karena main max. Sekarang max dikembalikan, atau Umi yang ambil max-nya..."

"Huwaa...umi kok kasar sama aku..." Ia mulai meledak.
"Umi kan tidak kasar, Umi harus bilang apa biar Revo nurut?" Eh,  tapi sepertinya suaraku mulai meninggi juga.
"Tapi bagiku itu kasar. Aku maunya Umi bilang seperti saat Umi masih di kursi sana tadi..."

Hmmm saya mengambil nafas dan berfikir sejenak. Melanjutkan sikap tegasku, pasti Revo akan menangis walaupun menurut, atau saya mengulang dan memperbaiki caraku.
Saya memilih yang ke dua.

Saya kembali ke kursi depan komputer, mengambil nafas, tersenyum  dan berkata dengan nada riang:
"Po, ganteng pinter, bantalnya yang pada jatuh diambil ya, kembalikan yang rapi. Trus max masukkan kandang dulu sampai Revo pipis wudhu sholat..."

Sungguh mengejutkan, tanpa jeda. Revo bangkit.
"Ya mi, aku kembalikan max dulu..." ia bangkit, memasukkan kucing ke kandang dan mulai memunguti bantalnya.
Dengan wajah cerah!
Hmmm....alhamdulillah.

Revo telah mengingatkanku untuk menekan tombol restart. Memulai semua dari awal, sekalipun terlah terjadi kesalahan. Kesediaanku dan kesediaan Revo untuk mengulangi dengan cara yang lebih baik, itu sungguh kadang tidak mudah. Apalagi jika kekeliruan telah jauh.

Alhamdulillah jika anda lebih baik dari itu.
Intinya adalah miliki dan temukan tombol 'restart' dalam diri kita masing-masing.  Itu berguna saat emosi mulai meninggi karena sikap seseorang, apakah  anak, suami atau orang lain.

Semoga anda punya.
Jika belum, segeralah membuatnya.

Tentang Revo dan sopan santun ada di sini.

Kalau mogok sekolah ada di sini.

Tentang doa kami yang bertentangan ada di sini.

15 comments:

  1. Subhanallah... tombol restart itu yg masih terus saya usahakan mak :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuuk mak, kita memang harus selalu menusahakan. kadang juga masih lupa hehe

      Delete
  2. wah saya jdi belajar ni bu ustadzah kadang setan menyelip" di nafsu;" kita...

    ReplyDelete
  3. setuju mak, saya kadang juga gt sama murid saya. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. murid banyak, anak orang banyak ya...pastinya harus banyak tombol nih. sukses bu guru

      Delete
  4. *nyoba belajar tombol restart + pasokan sabar digudang :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuuk mak gudangnya yang besar dan punya pabrik sabar hehe

      Delete
  5. Betul mak. Kadang saya lupa menekan tombol restart. Ah jadi merasa bersalah dengan anak-anak, makasih pengingatnya mak. Sangat bermanfaat. Salam kenal :)

    ReplyDelete
  6. duh jadi ingettombol restart ku akhir-akhir ini sering lupa dipencet mak ida :'( karena semua perhatian lagi tumplek blek ke baby Kahfi...makasih udah diingetin lagi pas baca postingan ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh iya mak fitri...yang penting sempet posting bento hehe

      Delete
  7. Trima kasih bu ida, saya seperti diingatkan kembali ...

    ReplyDelete
  8. Terima kasih ilmunya Bu..., Saya kadang bingung mau bikin apa kalau situasinya sudah begitu.

    ReplyDelete