Tuesday, October 20, 2015

Mengenang ibu (5)

Nilapke

"Umi, neng ngendi?"
Tiba-tiba aku merindukan dering.telepon dan suara itu.
Setahun terakhir ini, kami menyempatkan sebulan sekali mengunjungi ibu. Jika saya terlambat sowan, ibu akan menelepon. Sejak sebelum ramadhan, frekwensinya kunjungan menjadi sepekan sekali. Dan sebulan terakhir bahkan sepekan dua kali.
Pekan yang terakhir itu hampir tiap hari saya bolak-balik menunggui mertua.
Terkadang bersama suami, kadang sendirian. 

Dulu saya selalu mengabarkan rencana kunjungan dan menanyakan oleh-oleh yang diinginkan ibu. Sampai hafal.
Gudeg adem ayem, garang asem, selat solo, jajannya srabi notosuman, roti boy atau bakpia.
Buahnya apel, belimbing dan pear.
Sejak sakit berat, ibu tak lagi kerso dhahar. Tiap hari hanya bubur. Maka saya bawakan abon sapi serta bawang goreng Palu.
"Enak " kata ibu tiap mendapat oleh-oleh. Dicicip walaupun sedikit, sudah menyenangkan kami.

"Umi, neng ndi?"
Telepon itu makin sering dua bulan terakhir ini. Kadang saya sedang beredar di berbagai kota. Sedih tak bisa bersegera memenuhi panggilan ibu.
"Ojo dadi atimu, ben dino tak telepon. Aku ki pengin ditiliki. Pengin ngerti kabarmu..."
"Jangan jadi beban pikiran bagimu, aku ingin ditengok, juga ingin tahu kabarmu..."
Jika menengok, yang kulakukan hanya mengaji, sambil memijit punggung ibu. Terkadang ibu tertidur saat mendengarkan. Jika aku menyudahi dan keluar kamar, tak lama ibu akan terbangun dan meminta seseorang memanggilku.
"Umi kon ngaji, neng kene!"
Hadeuh...meleleh air mata saya menuliskan ini.


Setahun terakhir ini menu oleh-oleh saya berubah. Susu Kc, chlorophyl , marie regall, dan beberapa obat yang dipesan.
Buahnya hanya anggur.
Sepekan terakhir, ibu tak lagi menelepon. Berganti kabar berita di grup keluarga yang mengharu biru. Malam Ahad saya sowan. Kondisi ibu membaik. Hari senin saya sowan lagi.

Seharian kami menunggui. Saya memijit punggungnya, membacakan 1 juz, surat Yasin serta Arrahman.
Menyenandungkan doa nabi Ayyub , nabi Yusuf dan doa kesembuhan. Membaca kalimat thoyyibah. Tanpa putus. Membujuknya ke rumah sakit, tapi ibu tidak kerso.
Pada saat Maghrib, ibu menyuruh kami pulang.
"Wis balio, wis bengi." Hanya itu kata terakhir setelah memegangi tangan suamiku cukup lama. Memegang dengan cara yang tak biasa. Ibu duduk bersimpuh di kasur. Suamiku berjongkok di lantai. Tangan ibu dan tangan suami bertaut jari jemari. Beberapa waktu. Suamiku hanya terpekur. Dan aku di sampingnya memandang dengan bersimbah air mata. Air mata yang kusembunyikan dari ibu.  Hingga ibu puas dan melepaskannya.

Ternyata itu pertemuan terakhir. Dini hari ibu berpulang.
Nilapke.
Orang jawa bilang begitu.
Selasa pagi kucium kening yang yang mulai dingin menguning. Tak lagi ada yang akan meneleponku.
Kulihat roti regall, susu kc dan anggur merah, semua masih utuh. Belum dibuka segelnya.
Ibu tak lagi pernah membukanya.
Bersyukur aku sempat memandikan dan mengkafani jasad ibu mertua. Menyolatkan dan mendoakan.

Dan kini aku tergugu, kembali merindukan dering telepon, dan suara lemah dengan nafas yang terengah oleh sesak:
"Umi, neng ngendi?"

#hari ke8

5 comments:

  1. Saya jadi berkaca- kaca baca ini mbak... Mengingatkan saya untuk selalu membahagiakan Ibu mumpung saya masih diberi kesempatan.
    Semoga amal ibadah Ibu Mertua mbak diterima di sisiNYA.. aamiin..

    ReplyDelete
  2. sangat menyentuh kisahnya
    semoga amal ibadah ibunya bisa diterima disisiNYA

    ReplyDelete
  3. berlinangair mata ini mbak... saya juga baru kehilangan ibunda tercinta tepat 10 hari yang lalu :-(

    ReplyDelete
  4. Ibunda saya juga meninggal tgl 18 Oktober kemarin, dan bahkan saya baru 2 minggu sebelumnya sempat mempersering mengunjungi ibu saya...

    Membaca tulisan ini membuat saya kembali mengingat detil terakhir ibunda saya,,,persis seperti apa yang dituliskan di sini.

    ReplyDelete