Sunday, January 22, 2017

Prasangka

Sudut pandang

Siang terik, lewat jam 13.30. Seorang lelaki memarkir motor di halaman rumah. Gerah dan lelah menampak dari peluh di dahi.
Bayangan rumah teduh, segelas air dingin dan nasi hangat, sangat menyenangkan.

Namun saat memasuki rumah, yang nyaring didengar adalah dua anaknya berteriak dan menangis berebut sebuah mainan.

Diletakkannya barang bawaan, sebagian belanjaan dan sisa  dagangan. Dilerainya kedua anak yg tengah bertengkar.

Celingak-celinguk dicarinya sang isteri. Tak nampak jua. Beberapa saat akhirnya anak-anak dapat ditenangkan.
Lalu tergopoh-gopoh istrinya muncul dari belakang.

"Aduh maaf abang. Aku lagi jemur baju. Mumpung panas. Tadi baru sempat nyuci. Seharian listrik mati. Baru hidup dan air ngalir. Jadi bisa nyuci..."

Lelaki itu tersenyum berusaha maklum. Ia menuju ke dapur dan membuka penutup meja.

"Ya ampun baang...aku lupa. Nasinya sudah habis dimakan anak-anak. Tadi listrik hidup malah ingatnya nyuci...belum ngidupin rice cooker..."

Lelaki itu tersenyum masam.
Rupanya ia harus menunda mengisi perutnya.

Lalu pergilah ia merebahkan diri di tempat tidur. Sembari menyisihkan barang-barang yang berantakan memenuhi tempat tidur.

Biarlah ia menunggu nasi masak, sambil merebahkan diri melepas lelah. Hari ini adalah hari yang berat. Namun tak ingin diceritakannya pada istrinya.

Dari kamar ia mendengar istrinya  mengomeli dua putranya yang membuat rumah berantakan.

Hmm, hatinya enggak enak banget mendengarnya. Coba ditulikannya telinga sambil memejamkan mata.
Mengapa selalu berulang kisah ini.
Keinginan sekedar istirah tak pernah bisa nyaman. Istrinya seakan tak pernah selesai dengan urusan rumah dan dua anaknya.

Dalam hati ia menyimpan kecewa. Merasa tak sepenuhnya mendapat hak ketenangan dan
perhatian dari istrinya.

Belum lagi ia memejam. Muncullah istrinya.
"Bang...gasnya habis. Aku mau gorengin abang telur.. abang beliin gih sebentar ke toko di ujung gang."

Lelaki itu menghembuskan nafas kesal tak terucap.
Bergegas ia mengambil gas, memanggulnya tanpa berkata-kata. Namun wajah keruhnya tak mampu disembunyikannya. Sambil menstater motor, masih terdengar keributan di balik pintu rumah: dua anaknya bertengkar dan istrinya melerai dengan omelan panjang kali lebar.

Sempurna sudah kecewanya.

***

Di rumah yang sama.
Perempuan itu, sejak pagi berjibaku. Ada beberapa jahitan baju yang harus diselesaikannya.
Listrik mati, maka tak kurang akal ia menggenjot saja mesin jahitnya. Semua dilakukannya setelah suaminya berangkat kerja, dua balitanya terpenuhi makan dan sudah rapi mandi.

Listrik mati dan ia tak bisa mencuci piring pun baju. Apalagi mengepel rumah.
Lewat dhuhur barulah pompa menyala dan ia dapat mencuci baju.
Serta tumpukan piring kotor. Dua anaknya tak henti memberantakkan isi rumah. Hingga lelah kaki dan tangannya merapikan. Dan tetap berantakan.
Rasanya tak ada waktu barang lima menit untuk sekedar selonjor. Waktu seakan berlari saat ia sibuk menyiapkan makan untuk anaknya. Menyuapi di kecil. Membereskan makan si sulung yang berlepotan. Mengganti ompol, mengajak mereka sholat dhuhur...lanjut mencuci baju.

Jika ia lengah sebentar, seringkali dua anaknya bertengkar.
Namun dari belakang, sembari menjemur baju ia tetap memantau keributan di dalam rumah.
Ketika tak ada suara ribut, ia justru bertanya-tanya, dan bergegas masuk menengok.

Rupanya suaminya tengah menenangkan 2 anaknya.
Rasanya ingin benar ia menumpahkan semua harinya yang tidak terlalu menyenangkan. Semprotan pelanggan yang akan mengambil jahitan dan ternyata belum kelar.
Listrik yang mati hingga cucian tertunda, tukang sayur enggak lewat jadi ia tak bisa belanja.

Namun melihat wajah masam suami, ia mengurungkan ceritanya antara rasa jengkel dan rasa bersalah saat suaminya tertunda makan siang karena nasi habis.

Inginnya ia mendapat hiburan yang tulus dari suaminya, sekedar bilang : " ya udah gak papa, aku tunggu saja."

Namun alih-alih menghibur, suaminya memilih masuk kamar.
Dan saat anaknya mulai bertengkar, ia makin riweuh. Dongkol. Seandainya suaminya mau bermain dengan dua putranya barang sebentar, ia akan segera selesai menyiapkan makan siang.

Dan gondoknya bertambah saat menyadari gasnya habis. Dengan enggan ia minta tolong pada suaminya.
Tak mungkin ia pergi meninggalkan rumah dan membeli gas, meninggalkan dua balita yang rawan bertengkar. Sementara suaminya justru tidur siang.

Ah tidur siang. Itu adalah barang mewah yang telah lama tak bisa dilakukan sejak memiliki anak. Tega banget jika suaminya melakukannya dan membiarkannya berjibaku.

Dan kecewanya bertambah saat suami menuruti permintaannya, membeli gas dengan muka masam, tanpa kata-kata.

Maka, diluapkannya pada omelan saat dua balitanya mulai saling merengak.
Sempurna sudah kecewanya.

***

Ketika hanya melihat dengan sudut pandang apa yang telah kita berikan dan apa yang kita harapkan, maka bersiaplah untuk menelan kecewa.

Cobalah sedikit bergeser dan melihat, pada sisi apa yang telah dilakukan pasangan kita.

Berbagai keruwetan yg diceritakan, semoga menyisakan kemaafan dan permakluman. Serta menumbuhkan keinginan untuk menjadi secercah kegembiraan, dengan senyum cerah, suara merdu dan kabar kebaikan. Apalagi hiburan dan pujian serta kesyukuran atas anugerah keluarga.

Baiti jannati, bukan turun dari langit. Namun surga yang tercipta dalam cinta dan kesediaan menghargai pasangan. 

@lailacahyadi

2 comments:

  1. Mba masih jd konselor pernikahan? Bisa minta kontaknya atau alamatnya mba?

    ReplyDelete