Friday, December 9, 2011

Yang Kualami di Tanah Suci (7)

IBRAHIM
Oleh : Ida Nur Laila


Dari balik kaca jendela bus, aku memperhatikan sosoknya. Berjalan memanggul plastik berisi sampah, menuju lokasi kotak penampungan sampah, lalu berbalik kembali ke apartemen. Langkahnya khas. Posturnya tinggi, agak kurusan. Kulitnya legam. Wajahnya sangat Arab dusun. Rambutnya keriting kemerahan. Bajunya lusuh agak kedodoran. Mungkin pemberian tuannya.

Hatiku berdentang-dentang. Kubayangkan apakah Bilal shahabat nabi juga mirip dengannya. Kalau dalam film sejarah yang dulu kusaksikan saat SD, tubuh Bilal tinggi besar. Tapi ini kali pertama aku memperhatikan seorang pekerja kelas bawah, yang masih terlihat lugu. Ia adalah cleaning service di aparteman syauqiyah. Ia yang bertugas menjaga kebersihan apartemen 4 lantai yang masing-masing lantai rata-rata memiliki 12 kamar. Ia tidur di lorong bawah tangga lantai dasar. Jadi kalau memasuki pintu apartemen, kita akan langsung melihat tempat tidurnya, di bawah tangga naik. Di sebelah lift.  Satu-satunya list di apartemen ini.

Kutahu kemudian, namanya Ibrahim.

Nama yang indah, karena sama dengan bapak para nabi, abul ambiya, Nabiyyullah Ibrahim As.


Tapi Ibrahim ini betul-betul kelihatan polos.

Suatu siang, tengah hari, sekitar jam  14.00 waktu mekkah. Saat udara panas dan AC di kamar apartemen yang kami huni bertujuh, tidak mampu menyejukkan ruangan. Kami beristirahat, berbaring dalam kamar. Beberapa teman tidur melepas kerudungnya. Aku, di tempat asing, berat bagiku melepas kerudung. Jadi aku duduk dan membaca buku, dengan pakaian lengkap.

Tiba-tiba dari kamar sebelah, yang terhubung pintu tanpa daun pintu, muncullah si cleaning service, Ibrahim. Ia membawa sapu dan mulai menyapu. Aku terperanjat. Pintu kamar kami sudah terkunci, tapi ia masuk dari kamar sebelah.

“ Hai.. go away, ukhruj...keluar..keluar..” kataku, “ tunggu sebentar...wait a minute..” aku ngomong campur-campur. Ini kali pertama aku bicara dengannya. Aku tidak tahu bahasa apa yang difahaminya.

Ia mematung sejenak lalu mulai menyapu tanpa memperhatikan kami. Aku bergegas menutup kepala dan rambut beberapa teman yang tengah tidur. Lalu duduk di tempat tidur mengawasi Ibrahim bekerja. Ia bekerja seperti robot, tidak memperhatikan siapapun yang ada di ruangan itu.

Selesai menyapu ia keluar tanpa bicara. Aku melepas nafas lega dan memberi tahu teman-teman bahwa kedaan sudah aman. Kami jadi ramai berdiskusi, bagaimana mungkin seorang cleaning service, laki-laki, tiba-tiba masuk ruangan, tidak minta ijin dan tidak mengetuk pintu. Ini hari pertama kami di Syauqiyah. Tentu kami semua shock. Lalu datanglah seorang jamaah dari kamar sebelah, minta maaf. Ia lupa bahwa kamar kami sudah berpenghuni. Ialah yang telah memanggil Ibrahim untuk membersihkan kamarnya. Rupanya Ibrahim mengira, termasuk kamar kami.

Okelah salah faham. Tapi kami sedikit jengkel juga. Sehingga kami putuskan untuk selalu memakai kerudung saat dalam kamar. Hingga malam tiba dan kami yakin bahwa bukan hanya pintu kamar kami yang terkunci, tapi juga kamar tetangga sebelah, yang terhubung dengan kamar kami, tanpa daun pintu.

Seorang teman masuk, dan tidak mengetahui kejadian tersebut. Ia mulai tidur dengan melepas kerudungnya, dan mulai lelap. Aku membiarkannya karena menganggap urusan Ibrahim telah selesai. Pintu kami  telah kami kunci.

Tiba-tiba ibrahim masuk lagi, melalui pintu kamar sebelah, kali ini membawa ember dan kain pel. Masya Allah. Cepat kututup kepala teman di sebelahku, dan menyuruh Ibrahim keluar. Teman saya marah dan mengomeli Ibrahim dengan bahasa Inggris. Sefasih apapun, tentu Ibrahim hanya terlongong-longong bingung. Mungkin bahkan ia tidak tahu bahasa apa itu. Jadi ia pergi dengan bingung, dan kami mendongkol. Tapi kira-kira ia mengerti bahwa kami marah karena ia masuk kamar tanpa ijin. Slonong boy.

Masalah itupun akhirnya sampai ke pengelola. Kami minta tak ada cleaning service yang diijinkan membersihkan kamar. Kami akan membersihkan kamar kami sendiri. Kami juga lebih berhati-hati ketika akan membuka kerudung. Dan tidak lupa mengunci pintu serta mewaspadai pintu kamar tetangga.

Mungkin Ibrahim kena marah. Saya tidak tahu persis. Sejak itu Ibrahim tidak pernah masuk kamar kami. Bahkan jika bertemu kami, ia seolah takut atau segan. Sebagai konsekwensi, teman kami DR. Retna yang paling rajin mengambil alih peran Ibrahim, menjadi cleaning service. Setiap hari ia meminjam peralatan Ibrahim dan menyapu serta mengepel kamar. Semoga pahala terlimpah untuk saudariku ini.

Aku membayangkan seorang Arab badui yang polos. Memasuki masjid Rasulullah dan buang air di sana. Lantas para shahabat marah, dan hendak memukulnya. Nabi yang mulia memaafkannya.

Jadi mengapa kami tidak bisa memaafkan Ibrahim yang sebenarnya mungkin memang tidak tahu tentang aurat wanita dan jam istirahat.

Kami putuskan untuk memberinya shodaqoh sebagai bagian dari perbaikan hubungan kami. Ibrahim sangat senang dan berkali-kali mengucapkan syukur dan terima kasih. Alhamdulillah, setelah itu ia bisa tersenyum dan tidak takut lagi dengan kami. Beberapa kali kami memintanya mengepel kamar, dan ia lakukan dengan senang hati. Hubungan kami tetap baik hingga saat kami harus angkat kaki dari apartemen Syauqiyah.

Pelajarannya adalah, selalu berhati-hatilah di tempat yang baru. Jangan membuka kerudung sampai benar dipastikan kamar aman terkunci dari pintu manapun.

Dan para cleaning service semestinya diajari tentang adab meminta ijin dan sebagainya. 

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete