Tuesday, October 22, 2013

'Royal Wedding' Keraton Yogya dan Pernikahan Yang Langgeng

foto minjam dari : http://setiawantara.wordpress.com/2011/10/19/foto-dan-video-royal-wedding-keraton-yogyakarta/
Halo rekan bloger dan para pembaca sekalian. Ini nih yang up to date....!

Keraton Yogyakarta  menggelar pernikahan putri keempat Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Putri keempat Sri Sultan Hamengku Buwono X yang  menikah adalah GKR Hayu dengan KPH Notonegoro. Prosesi pernikahan akan digelar selama 3 hari, mulai 21-23 Oktober 2013.

Prosesi telah  dimulai pada hari Senin 21 Oktober 2013 dengan siraman dan nyantri bagi calon pengantin putra, KPH Notonegoro. Sementara calon pengantin putri GKR Hayu akan sungkeman di Kraton Kilen dan upacara siraman. Pada Senin malam Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X  melakukan tantingan atau menanyakan sekali lagi sebelum proses akad nikah kepada calon pengantin putri.

Hari kedua prosesi yaitu hari ini,  dilanjutkan dengan ijab dan panggih di keraton. Resepsi dan pamitan yang dihadiri Presiden SBY dan tamu VIP lain, digelar di hari terakhir atau Rabu tanggal 23 Oktober 2013. Sultan telah memobilisasi semua kepada daerah tingkat II di DIY, Camat serta Kepala desa. Byuh...byuh...


Resepsi Royal Wedding Keraton Yogyakarta akan digelar di Kepatihan pada Rabu (23/10) esok pukul 10.00 WIB. Sebelum Royal Wedding akan ada kirab pengantin menggunakan kereta dari Keraton menuju Kepatihan.  Inilah yang paling menarik karena bisa dinikmati khalayak.

Sebanyak 360 prajurit, 12 kereta dan 68 kuda telah disiapkan untuk parade ini. Kereta-kereta kuda ini akan digunakan saat kirab dari Keraton Yogyakarta menuju tempat acara resepsi di Kepatihan, di kompleks Kantor Gubernur DIY di Jl Malioboro. Masyarakat bisa melihat arak-arakannya di sepanjang rute kirab.

Kereta pengantin akan berangkat dari Keben Kraton diikuti kereta yang akan dinaiki utusan dalem. Dari Keben, rombongan kereta pengantin melewati Jl Rotowijayan, depan Masjid Besar Kauman, Museum Sonobudoyo, baru ke arah utara melewati Jl Trikora menuju Jl Malioboro. Saat rombongan pengantin sampai di depan Museum Sonobudoyo, Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama GKR Hemas berangkat dari Pagelaran Kraton.

Rombongan Sultan yang akan berangkat dari Pagelaran akan dikawal 240 prajuri dari empat bregada yakni Wirobrojo, Daeng, Ketanggung dan Mantrijero. Sultan akan menuju Pagelaran melewati Siti Hinggil setelah rombongan pengantin berangkat dari Keben.

foto minjam dari : http://setiawantara.wordpress.com/2011/10/19/foto-dan-video-royal-wedding-keraton-yogyakarta/
Begitulah sekilas berita sodara-sodara...

Melihat dan mendengar kemegahan resepsi yang konon juga akan dihadiri oleh Presiden dan utusan berbagai negara, tentu juga utusan dari kerajaan yang ada di nusantara, aku jadi berfikir tentang hakekat penikahan.

Beberapa waktu yang lalu telah berkunjung ke rumahku, seorang mahasiswa yang akan menyusun skripsi tentang pernikahan. Dia seperti mahasiswi lainnya, biasa saja, namun pemikirannya yang menurutku luar biasa untuk uasianya yang masih belia, 22 tahun. Dalam penuturannya, skripsi tersebut dilatarbelakangi keprihatinannya atas fenomena perceraian dewasa ini. Juga fenomena banyaknya problem rumah tangga di masyarakat sekitar. Ia sampai pada kesimpulan bahwa semua itu terjadi karena kurangnya bekal ilmu, konsep, visi dalam berkeluarga. Seringkali orang yang akan menikah lebih memperhatikan persiapan finansial dan berbekal cinta . Kurang memperhatikan bekal mental, spiritual dan konsep.

Lalu melayanglah ingatan pada resepsi pertunangan agung ...eh heboh seorang artis ndangdut yang dua hari kemudian telah bubar lantaran sang calon pria Vicky Prasetyo dicokok aparat. Ah kalau artis mungkin gak biasa ya dibuat ukuran....berapa banyak yang menggelar pesta heboh dan satu atau dua tahun kemudian sudah bercerai.

Eh fenomena ini tidak hanya di kalangan artis lho. Tetanggaku punya cerita, dua puluh tahun yang lalu ia dipaksa nikah oleh orang tuanya di Surabaya. Padahal dia telah punya kekasih. Sebagai anak perempuan pertama, resepsi pernikahannya digelar dengan meriah. Namun pada tengah malam, setelah resepsi usai, ia pergi melarikan diri diantar oleh suaminya ke terminal bus. Malam itu juga ia berkendara ke jogja menemui kekasihnya dan mereka menikah tanpa sepengetahuan orang tuanya. Herannya, suami resminya itu kok ya mau, sampai mengantarkan mempelainya untuk melarikan diri. Ternyata bukan hanya di sinetron ya....!

Kembali ke topik, pertanyaannya, apa yang akan membuat keluarga bertahan hingga aki nini ?
Seorang peserta seminar pra nikah yang digelar mahasiswa UGM hari ahad tanggal 20 oktober kemarin melontarkan pertanyaan :
“ Ibu, apakah benar ungkapan berikut : Jika semua orang siap atau mempersiapkan pernikahan dengan baik, maka tidak akan ada perceraian....Betulkah bu ?”
Kebetulan nih, penulis sedang jadi nara sumber, jadi boleh dong menjawab.

Apa jawabannya, tunggu ya di seri berikutnya...biar penasaran sekarang mau ngantor dulu...

Maaf...bersambung bag (2)

5 comments:

  1. kalo boleh jujur, sekarang ini sy sedikit menyesal kenapa dulu pas nikah hrs menghabiskan banyak uang, karena di kondisi yg sekarang ini, kalo dpikir2 uang segitu bs sy buat modal usaha xixi.... cm dulu ya ga kepikiran sampe kesitu. mungkin ini termasuk bentuk proses pendewasaan jg ya.

    ReplyDelete
  2. hehe penyesalan yang membawa hikmah pendewasaan ya mak rita dewi. makasih sudah berkunjung.

    ReplyDelete
  3. Kan jogja istemewa mak Inno Vasion...ada kewajiban memakai pakaian adat untuk fotografer yang mendaftar resmi. makasih sudah berkunjung.

    ReplyDelete