Sunday, November 24, 2013

BERITA KECELAKAAN......BENARKAH?

Masih tentang Penyalahgunaan media Informasi.

Pagi ini sekitar jam 09.00 nada dering HPku berbunyi. Oow dari suamiku tersayang yang sedang rapat di luar kota.
“ Umi... umi dimana?  Tolong ke sekolah SMA...sekarang ya, tanyakan apakah Sinta anak pak Fulan ada di sekolah. Sebenarnya abi juga meragukan, tapi ini bapaknya stress karena barusan mendapat telepon anaknya kecelakaan dan kritis...” berondongan meluncur dari suamiku.
“ Aku di apotek. Okee siap...tapi menurutku itu tipu-tipu deh...” kataku kalem.
“ Iya mungkin saja, tapi sekarang ya ke SMAnya...karena kita berusaha telepon tak ada yang mengangkat. Mungkin sedang di kelas...”
Setelah mengiyakan dan menutup telepon, saya celingak-celinguk. Oiya, mobilku masuk bengkel dari kemarin, jadi saya harus cari transport untuk sampai ke sekolah yang dimaksud.
Saya segera SMS driver. Sudah mendapat jawaban ok.
Sembari menunggu jemputan yang jadi terasa lama gak datang-datang, saya mencoba menghubungi nomer beberapa guru yang saya kenal. Juga nomer HP anakku yang bersekolah di lokasi yang sama.  Nihil. Tak satupun yang mengangkat. Hingga jemputanku datang. Berepaka kali suamiku menelepon apakah aku sudah sampai di sekolah atau belum. Ya jelas belum...berangkat saja belum.


Perjalanan yang hanya 3km terasa jauh. Di jalan suamiku SMS update info nama lengkap dan kelas si anak.
Hanya tinggal 400m dari sekolah, ada telepon dari suamiku:
“ Umi...gak jadi ke sekolah saja. Ini sudah nyambung. Anaknya sudah membalas SMS, dia baik-baik saja dan sedang di sekolah...”
Whoaaa...!!

Jika mendengar kisah seperti di atas, mungkin mudah mengatakan :
“ Jaman ginii.... masih ada yang terpengaruh tipu-tipu murahan...?”

Aku, ibuku dan si no3
 Namun senyatanya, saat mengalami sendiri, atau ada teman yang mengalami di depan mata kita, tak mungkin muncul komentar seperti itu. Kami yang berusaha rasional, tetap saja terpengaruh sedikit... atau banyak. Apalagi saya memiliki pengalaman pribadi, si nomer 3 yang kelas 3 SMA suatu hari tidak sampai ke sekolah. Saya mengetahuinya lantaran saat dhuha, terasa tidak enak hati. Maka saya segera SMS wali kelas dan guru BPnya menanyakan keadaan putraku yang kebetulan baru  dua bulan pindah sekolah.
Gurunya menjawab anakku telah menyesuaikan diri dengan baik. Namun sang guru bertanya mengapa hari ini anakku tidak masuk sekolah?
Bagai disambar petir, jantung saya berdegup kencang. Kuingat tadi jam 06.15, putraku meminta uang SPP dan kuberikan, bahkan kulebihkan untuk uang sakunya selama sepekan.
Dalam kegalauan saya berusaha menelepon anak. Ternyata tidak diangkat. SMS tidak di jawab. Lalu saya menelepon ke rumah, kebetulan suamiku ada di rumah. Anak kami tidak ada di rumah.
Berkelebat bayangan kebaikan dan keburukan dalam fikiranku. Dimanakah anakku?
Siksaan fikiran dan perasaan itu berlangsung hingga waktu adzan dhuhur. Saya bergegas wudhu, sholat dan berdoa mohon petunjuk pada Allah.
“ Ya Allah, dimanapun anakku berada saat ini, sadarkanlah, panggillah hatinya untuk ingat rumah dan orang tuanya....Amin”
Hanya beberapa menit setelah aku mengakhiri munajat siangku, ada SMS masuk dari anakku.
“ Umi aku tadi kecelakaan. Aku pingsan di pinggir ring road dan ditolong di rumah warga. Sekarang aku sudah baik-baik saja.. aku mau pulang saja...” Lega bercampur galau, segera kubalas SMSnya.
“ Jangan pulang sendiri. SMS alamat nanti umi jemput” tak ada balasan.
Tak sabar menunggu jawaban saya langsung menelepon. Tidak diangkat oleh anakku. Maka saya berusaha mencegatnya di depan tempat kerjaku sambil terus menelepon. Jalan pulang ke rumah melewati tempat kerjaku.
Singkat cerita saya bergegas pulang setelah suami mengabarkan kedatangan anak kami yang luka-luka dan sempat pingsan beberapa jam.

Kembali ke urusan SMS tipu-tipu.
Anda bisa membayangkan bahwa kami memaklumi kegalauan teman tersebut karena bayangan peristiwa buruk bisa menimpa anak kita atau siapa saja..
Esoknya, setelah suami pulang, saya bertanya kronologi dan situasi yang mencengkam bagi temannya yang nyaris menjadi korban penipuan.
“ Pagi itu pak Fulan dapat telepon. Katanya dari guru BP SMA yang mengabarkan anaknya kecelakaan. Anaknya sedang kritis dan harus mendapat pertolongan segera. Kini anak itu dibawa ke RS sarjito. Ada alat medis yang harus dipasang saat itu juga, namun harus ditebus oleh orang tuanya...”
Mereka tengah rapat saat telepon itu datang, terjadilah kegaduhan. Dalam kepanikan Pak Fulan mencatat nomer rekening yang dituju setelah gagal menelepon anak dan sekolah untuk melakukan kroscek. Teman-temannya melarang untuk transfer sebelum ada kejelasan. Banyak orang berusaha menelepon teman, koneksi atau siapapun yang terkait dengan keberadaan anak tersebut, termasuk suamiku yang menelepon saya.
Salah seorang teman ganti mengangkat telepon yang berdering lagi.
“ Halo, ini apotek Kimia Farma...”demikian dari seberang.
“ Lho, bukannya ini no guru BP yang tadi?”
“ Iya,  ini gurunya ada di sini, menunggu transfer dari bapak. Jika sudah transfer barang akan segera kami kirim ke RS untuk segera dipasang ke putri bapak”
“Lho, ini bukan di RS?  Memang apoteknya dimana?”
“ Apoteknya di depan RS Sarjito. Di seberangnya...”
Karena rombongan itu berasal dari Jogja, jadi semua mengetahui situasi di sekitar RS Sarjito. Tak ada apotek KF di depan Sarjito.
“ Lho kan seberangnya kampus UGM?’
“ Iya di sebelah kampus itu. Segera transfer pak, kasihan anak bapak nanti tidak tertolong...”
Suara di seberang mulai tidak sabar. Para suporter yang ikut mengerubungi saling berpandangan, semua merasakan keanehan.
“ Terusin saja, biar habis pulsanya....” percakapan berlanjut bertele-tele hingga pak Fulan berseru bahwa ia mendapat balasan SMS dari putrinya. Akhirnya mereka bisa saling bertelepon dan putrinya meyakinkan ia betul-betul tidak mengalami peritiwa apapun. Ternyata, masih menurut putrinya, dalam waktu bersamaan telah ada beberapa orang tua temannya yang juga menjadi sasaran berita palsu tersebut. Alhamdulillah tidak ada yang menjadi korban. Sasarannya biasanya anak pejabat. Memang pak Fulan ini juga pejabat.
Adapun teman yang tadi masih kontak dengan penipu, telepon dari seberangpun putus. Dan semua ketegangan itu selesai dilanjut dengan perbincangan pengalaman orang-orang yang pernah mendengar cerita serupa.
Begitulah sekilas berbagi pengalaman berita kecelakaan palsu.

Percaya nggak percaya, berbeda kesan kita saat mengalami sendiri atau hanya mendengar cerita.
Tetap waspada yang jaga ketenangan agar tidak salah melangkah.
Ah semoga kita tak ada yang mengalaminya, baik mengalami telepon tipuan, atau mengalami kecelakaan. Dan semoga para penipu ikut membaca ini...saya doakan segera bertaubat dan mencari rejeki dengan jalan yang halal. Atau kalau terus menipu, semoga teretangkap penegak hukum biar mendapat balasan yang layak!
Waspadalah!
Waspadalah!



9 comments:

  1. Orang spt itu dosanya mgkn berlipat2 ya mak, sdh menipu, membuat khawatir org jg...prnh pembantuku dl ditelp org ktx ankx menabrak org sp meninggal, skrg dikantor polisi, ini mendesak bapak hrs membyr skrg u ganti rugi, klo tdk ank bpk dipenjara dll pjg lebar...alhamdulillah sblm si bpk cr pjman kesana sini, si ank sdh muncul dg keadaan segar bugar...ktx dr main dirmh teman, & tdk menabrak seorgpun...Jahat sekali org spt ini makkk...

    ReplyDelete
  2. aduh.. kalo yang beginian memang mau nggak mau tetep bikin panik ya mak. apalagi ndilalahnya si anak tak kunjung bisa dihubungi, juga pihak sekolah. tapi untung si bapak fulan masih bisa rasional dan tidak buru-buru, trus juga penipunya agak2 ngawurr tentang lokasi. hadeeeh, dasar penipu..
    alhamdulillah, ikut lega bahwa si anak baik2 saja dan penipunya gagal.
    makasih sharingnya mak :)

    ReplyDelete
  3. makasih komen dan kunjungan mak Irowati dan mak Ofi Tusiana. ada 2 orang teman dekat saya yang sudah kena tipu... yang satu kena 40 juta pakai acara ngantar ke JKT. dan yang satu kena 17 jt plus perhiasan emas 10 gram.bikin panik lalu bikin geram...

    ReplyDelete
  4. bapakku juga pernah mengalaminya. kebetulan aku lagi kerja malam. untungnya bapakku menanyakan posisinya dimana. nggak bisa jawab deh si penelepon.

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah masih dilindungi ya...websitemini, makasih kunjungannya.

    ReplyDelete
  6. Bapak saya pernah ditelpon sama penipu dan saya yang nyolot2 marahin dia hahaha.... abis ngeselin sih

    ReplyDelete
  7. Iya Mba, Bapak yang kayak gini...Kita harus waspada dan harus check and ricek...

    ReplyDelete
  8. waw.. bikin deg-degan juga ya mbak.

    ReplyDelete
  9. Mak Efi Fitriyyah emang bisa akting marah-marah...? hahaha
    Mak fitri anita, makasih kunjungannya. semoga kita selalu waspada!
    Adit purana begitulah kalau mengalami sendiri...

    ReplyDelete