Monday, March 31, 2014

Blogger Ajak Semua Peduli Lingkungan.

Gambar dari sini
Belum lama kita semua prihatin dengan bencana Nasional kabut asap di Riau dan sekitarnya. Kabut asap yang membawa kerugian hingga puluhan trilyun rupiah ini murni ulah manusia. Ini yang mengenaskan.

Konon kebiasaan membakar, membakar apa saja telah ada di masyarakat setempat. Mungkin kalau di kampungku, orang membakar batu bata, membakar sampah atau yang paling luas membakar ladang tebu yang akan ditanami lagi.
Masalah menjadi besar saat pembakaran dilakukan di ladang atau hutan yang luas dan akhirnya tak terkendali lagi.


Gambar dari sini  
Duuh mengapa bisa demikian ya...?
Mengapa banyak pengusaha yang berfikiran praktis dan pragmatis tanpa mengingat akibat jangka panjang?

Kukira jawabannya adalah tipisnya kepedulian pada lingkungan dan mau enak atau untungnya sendiri. Huh menurutku pengusaha yang membakar ladangnya seperti koruptor yang mencuri uang rakyat. Kalau ini lebih jahat karena mengusir udara segar dan meracuni jutaan orang dengan udara tercemar zat berbahaya.

Naah kapan persoalan ini akan selesai? Karena senyatanya setiap tahun berulang. Jika ditangkap hanyalah aktor lapangan, bukan aktor intelektual.

Blogger urun rembug nih, menurut saya, problem penyelamatan lingkungan ini harus dimulai dari semua sisi. Okee diurai satu persatu ya...

Pertama, dimulai dari keluarga.

Keluarga memegang peran penting untuk menanamkan cinta bumi, cinta lingkungan kepada anak-anak melalui pembiasaan prilaku. Misal seorang ayah atau bunda, membiasakan untuk menggunakan peralatan yang bisa dipakai ulang dalam operasional rumah tangga.

Contoh sederhana memilih menggunakan serbet, lap atau sapu tangan dibandingkan tisu. Memilah sampah sesuai dengan kategori untuk memudahkan proses daur ulang. Membeli barang kebutuhan dalam kemasan besar atau refill untuk mengurangi limbah kemasan. Sukur lagi pilih produk dari produsen atau perusahaan yang mengampanyekan peduli lingkungan.

Kami biasa mengumpulkan sampah plastik dan kertas secara terpisah dari sampah organik, agar bisa di’sedekahkan’ kepada yang membutuhkan.
Prilaku mencintai pohon misalnya, tiap keluarga dapat melatih anaknya dengan hadiah pohon. Anak-anak mulai usia balita, dapat diberi pohon sebagai hadiah ulang tahunnya. Pohon ini nantinya akan dirawat dan menjadi sahabat bagi anak. Dari waktu ke waktu dapat difoto anak bersama pohonnya untuk melihat perbandingan tinggi mereka dan ini akan menanamkan kecintaan pada pohon.

 
Gambar koleksi pribadi

Lah kalau orang kota tak memiliki lahan bagaimana?
Sekarang kan banyak teknologi untuk membuat tabulampot. Selama ada kemauan, pasti ada jalan. Percayalah menanam pohon yang relatif lama pertumbuhannya, akan membuat anak menyadari bahwa setiap batang pohon itu sangat berharga. Menanti sebuah pohon menjadi tinggi menjulang butuh belasan tahun, sementara menebangnya hanya membutuhkan tak kurang dari satu jam.

Orang tua juga mencontohkan dan membiasakan anak untuk menggunakan transportasi masal dan sepeda. Menggunakan mobil pribadi hanya saat dibutuhkan. Anak akan belajar untuk hemat energi. Juga dalam pemakaian listrik seperti penggunaan lampu, mematikan alat elektronik, mematikan kran air dalam keseharian.

Sebenarnya masih banyak ya, tentang pendidikan cinta lingkungan yang bisa dilakukan oleh masing-masing keluarga. Tinggal bagaimana kitanya melakukan banyak penyadaran kepada orang tua sebagai teladan utama anak-anaknya.

Kedua, pendidikan cinta lingkungan melalui sekolah.

Guru dan sekolah memegang peranan penting dalam pembentukan karakter anak. Sekarang banyak sekolah yang mencanangkan diri menjadi Greenschool. Bagus ya...jika memang terpadu antar kurikulum, program dan pembiasaan prilaku.

Gambar koleksi pribadi 
Di sekolah anakku, dalam acara parenting school, salah satu materinya adalah pencanangan dan sosialisasi green school. Setelah itu pada pekan berikutnya dilanjutkan dengan aksi penanaman pohon dan taman sekolah. Subhanallah, pengaruhnya sungguh nyata. Orang tua semua terlibat dan belajar tentang cara menanam yang tepat, jenis tumbuhan yang disarankan dan anak-anak juga belajar keanekaragaman kekayaan alam kita.

Hingga kini, kita masih melihat aneka tanaman di sekolah putraku, ada yang dalam pot seperti belimbing wuluh, terong, tomat, kedondong, jambu air, jambu biji, dll. Seringkali nampak buahnya yang ranum menggoda dan bisa menjadi bahan pembelajaran.

Ada pula yang ditanam di kebun dan halaman sekolah seperti mangga, rambutan, jeruk, alpokat, belimbing dan tanaman seperti akasia dan sono keling. Sejak kelas satu ada journey to schoolyard dimana anak-anak akan mencatat tanaman apa saja yang ada di sekolah. Halaman sekolah menjadi lebih rindang dan sejuk dengan berlimpahnya oksigen.

gambar koleksi pribadi

Sekolah anakku juga melakukan pengelolaan sampah dengan tertib. Para siswa sudah diajarkan untuk memilah sampah dengan baik. Selain itu pada acara market day tiap hari Jumat, anak-anak hanya boleh berjualan dengan kemasan yang non plastik atau menggunakan wadah yang bisa dipakai kembali. Kantin sekolah juga memberlakukan hal serupa. Alhamdulillah semoga kelak anak-anak terbiasa dengan paperless dan no plastic.

Foto lukisan di sekolah anakku-koleksi pribadi

Ketiga, melakukan penyadaran di masyarakat.

Sekarang telah banyak desa percontohan yang melakukan pengelolaan sampah secara mandiri. Sampah ini bahkan bisa menjadi salah satu sumber pendapatan untuk pribadi maupun kas desa. Kami berlangganan membuang sampah pada desa sebelah yang telah menjadi desa percontohan pengelolaan sampah mandiri. Mereka juga menerima kunjungan dari banyak kelompok masyarakat atau instansi yang ingin studi banding.
Gambar dari sini
Masyarakat penting untuk dilibatkan. Merekalah salah satu pengaman sosial untuk tidak terjadinya bencana lingkungan yang lebih besar. Contoh di desaku, adalah desa pengrajin batu bata. Beberapa orang menjadi pengusaha kecil, menggunakan tanahnya sendiri sebagai bahan baku batu bata. Setelah tanah sawahnya sendiri telah tergali cukup dalam mulailah mereka mengontrak tanah di sekitarnya dengan membeli lapisan teratas hingga sedalam 1m. Akibatnya banyak lahan sawah yang disewakan untuk dibuat batu bata. Bisa dibayangkan, setelah habis masa kontrak, tanah yang sudah tergali sedalam 1 m ini akan sulit ditanami. Akhirnya banyak yang dijual dan menjadi lahan perumahan.

Belum lagi betapa kacaunya sawah sebelah menyebelah dari tanah yang telah digali itu, lantaran salah irigasi yang sering bocor. Air tak mau dibohongi, mereka terus mencari yang lebih rendah dan tanah persawahan yang lebih tinggi, kekurangan air. Sedih ya membayangkan sebagian lahan desa menjadi kubangan air di saat hujan, dan kekeringan di musim kemarau. Produktifitas jauh menurun.

Gambar dari sini
Dengan beberapa edukasi, sebagian pengusaha batu-bata ini mengubah usahanya menjadi pembuatan batako dan buis beton berbahan semen dan pasir. Ada juga yang beralih profesi.

Banyak hal bisa dilakukan dengan edukasi dan keterlibatan masyarakat ini, misal melalui dasa wisma atau PKK untuk kalangan ibu-ibu. Melalui pertemuan RT untuk bapak-bapak atau karang taruna. Bisa juga dengan sosialisasi melalui pelatihan, pengajian bahkan khotbah jumat. Tema seperti pengelolaan sampah, penanaman pohon sangat relevan apalagi jika dikaitkan dengan sumber pendapatan untuk menaikkan kualitas hidup.
Salut untuk WWF-Indonesia yang telah melakukan banyak hal dalam upaya penyelamatan lingkungan ini.

Apa sih WWF-Indonesia?

WWF-Indonesia merupakan LSM konservasi alam terbesar dan tertua di Indonesia yang telah memulai kegiatannya sejak tahun 1962. Hingga saat ini, WWF-Indonesia bekerja di 28 kantor wilayah dari Aceh dan Papua dan memiliki lebih dari 400 staf.

Sejak tahun 2006, organisasi ini didukung oleh lebih dari 54,000 supporter dari seluruh Nusantara. Pengin tahu lebih jauh? Info lebih lanjut, silakan kunjungi www.wwf.or.id

 

Keempat, penyelamatan lingkungan melalui regulasi dari pemerintah.

Seandainya para kepala daerah dan politisi eh anggota Dewan yang terhormat, memiliki political will untuk isu lingkungan, sesungguhnya cukup menjadi harapan untuk menyelesaikan problem lingkungan dalam jangka panjang.

Buat program, kampanye dan ada alokasi dana yang memadai, rekrut relawan dari kalangan masyarakat, pelajar, mahasiswa dan libatkan ibu rumah tangga. Wuiih kita bisa melongo melihat hasil yang mencengangkan jika semua tergerak untuk mengangkat isu ini.

Sayangnya para Caleg, bakal calon politisi, sedikit sekali yang menawarkan isu penyelamatan lingkungan. Takut kali ya dengan para pengusaha yang bisa terdampak dari isu itu. Biasanya nih mereka mengangkat isu ekonomi dan fasilitas pembangunan. Apakah isu lingkungan tidak layak jual untuk menaikkan suara? Waah adakah Caleg atau Capres yang mau mencoba?

Gambar pinjam dari sini

Mirisnya, dari cara kampanye saja sudah nampak betapa tipisnya rasa peduli lingkungan dari para caleg. Itu terlihat dari banyaknya poster dan bendera yang ‘menyakiti’ pohon dan menjadi sampah pemandangan.

Belum lagi arak-arakan kampanye yang memboroskan bbm untuk sekedar show force. Yuuk para blogger yang punya pena keyboard setajam silet, serukan pada para Caleg dan Capres untuk lebih peduli pada lingkungan.

Serukan pada masyarakat untuk memilih partai dan Caleg apalagi Capres yang mau selamatkan bumi Indonesia dalam skala yang lebih luas. Agar tak ada Presiden yang nantinya menjual tanah air, bahan tambang dan pasir laut  untuk memperkaya diri sendiri, kelompok, dan para pengusaha hitam.

Yuhuu saatnya blogger beraksi, dengan menulis tema lingkungan, ada atau pun
tidak ada lomba blog karena ini masalah tanggungjawab kepada Allah dan anak cucu nanti.

20 comments:

  1. ayo kita jaga lingkungan mak...bersama pasti bisa...

    sukses untuk lombanya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih doanya mak. Uuuk jaga lingkungan ocee

      Delete
  2. Konsep greenschool bagus juga tuh bu. Investasi jangka panjang buat lingkungan kita. :) nice post

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya...bagusnya semua sekolah mencanangkan ini mulai dari edukasi ke guru dan komite sekolah, lanjut ke siswa dan ortu.

      Delete
  3. Untuk menciptakan lingkungan yang ramah, go green, memang perlu dukungan dan kerjasama yg baik ya, Ibu. Keluarga, sekolah, Desa sampai tingkatan tinggi.

    Eh, itu pohon kepel bukan si, Bu?.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mak IdAh, revo sangat berminat pada alam.

      Delete
  4. kalau bukan kita siapa lagi yang peduli lingkungan ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mak Lidya...mulai dari diri sendiri...

      Delete
  5. peduli lingkungan harus dimulai dari diri sendiri ya mak....ada banyak cara untuk mewujudkannya

    Semoga caleg yang terpilih memang benar-benar wakil rakyat yang sanggup menampung segala aspirasi rakyat termasuk kepedulian pada lingkungan kita yang makin hari tambah rusak

    Semoga sukses lombanya ya mak
    Salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih kunjungannya juga doanya...yuuk selalu ingat untuk peduli

      Delete
  6. detik-detik terakhir #IngatLingkungan..saya juga ikutan Bu Ida..

    ReplyDelete
  7. bener banget, mak.. tips nomor satu jitu: dimulai dr keluarga :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak, btw ditunggu alamat dan no hpnya ya mak. DM tweet saja

      Delete
  8. Ayoooo kita cinta bumi Maakk..

    Sukses lombanya ya Mak.. :)

    ReplyDelete
  9. Menarik mbak, mari wujudkan secara nyata, mari menanam pohon ! Sekarang semakin menarik karena ada program revolusioner, "MENANAM POHON SEKALIGUS MENDAPATKAN MANFAAT EKONOMOMI DALAM PENANAMAN DAN KAMPANYENYA"

    Cari Tahu caranya di : http://www.greenwarriorindonesia.com

    ReplyDelete