Wednesday, March 5, 2014

TEGURAN SUAMI

Cahaya yang terlalu terang, justru menyilaukan
Seorang bunda mengeluhkan, suaminya menegurnya dan mengatakan bahwa ia telah kecanduan medsos, bahkan dianggap agak abai dengan perhatian kepada anak.
Bunda ini tak terima.

“Coba bu, setiap pagi saya jumpalitan di dapur dan menyiapkan anak sekolah. Dia mah tidur saja. Saya tahu memang dia lelah oleh banyaknya pekerjaan. Trus kalau anak sudah berangkat sekolah, apa salahnya saya menengok medsos sebelum berangkat kerja. Lah malam hari saat dia pulang dan anak saya tidur, dia lihat saya di depan komputer lagi. Kadang sampai malam saya mengetik. Dikiranya saya hanya sibuk dengan medsos. Padahal ada banyak hal yang saya lakukan. Medsos hanya sampingan saja....”
Kulihat dia meradang dengan penjelasannya.


“Kalau memang ibu tak seperti yang dituduhkan, mengapa ibu harus marah...?”
Komentarku berusaha sekalem mungkin.
“Masalahnya, apa dia tidak berkaca. Lha kalau bersama saya, matanya saja tak pernah beralih dari HP. Kemanapun ia tak lepas dari HP, saya merasa diabaikan...”
Hmmm.
***

Tak ada yang salah dengan kesalnya si istri. Dan tak ada yang salah dengan teguran suami. Suami menegur istri tentu karena cinta dan sayangnya pada istri. Tentu karena ia ingin mendapat perhatian lebih dari istrinya, bukan dari perempuan lain. Bisa jadi juga suami telah melihat kadang istri melalaikan sebagian urusan rumah tangga lantaran sibuk dengan internetnya.
Istri kesal karena ia merasa telah melakukan apa yang menjadi tugasnya dan ia menghibur diri dengan medsos. Ia juga merasa bahwa ia telah menjaga diri agar tidak keterlaluan.

Trus gimana dong?
Kalau saya ditanya, jawaban saya begini.
“Minta maaf saja sama suami, dan berjanji untuk lebih bisa mengatur waktu ke depannya. Tak perlu menunjuk balik kelalaian suami yang sebenarnya juga ‘dijajah’ oleh 3 HP pribadinya. Tak ada orang yang suka jika sedang mengingatkan, tiba-tiba hidungnya ditunjuk balik bahwa ia jauh lebih menghabiskan waktu dalam berinteraksi dengan gadget-nya....”

Laah sayangnya tidak semua orang suka dengan nasehat saya.
Jadi seringkali tetep ada yang protes.
“Saya gak terima bu...”
“Trus kenapa kalau gak terima?”
“Ya saya akan membela diri ”
“Apa gunanya membela diri?”
“Ya saya kan tidak sepenuhnya salah, jangan sembarangan menuduh dong. Dia itu juga harus melihat kesalahannya...”
Oo...

Dan anda para pembaca, silahkan memilih sikap yang mana.
Saya memilih untuk tetap menjaga hubungan baik dengan suami dengan tidak memperpanjang permasalahan. Tidak usah berdebat. Sekalipun kita merasa benar, kalau suami melihat ada yang tidak benar dari apa yang kita lakukan, apa salahnya berkaca ulang. Sudah benarkah ’kebenaran’ menurut kita?

Apa beratnya menundukkan ego dan harga diri demi keutuhan rumah tangga. Bukankah kalau diingatkan suami lantas si istri menurut, itu poin positif seorang istri di mata suami?
Tentu akan menambah cinta dan sayang suami.
Dari pada ‘ngeyel, membela diri dan balik menuduh. Hasil akhir apa yang akan dicapai?
Jika ingin mengingatkan suami, ingatkan saja lain kali. Jangan kaitkan dengan teguran suami pada kita. Dia tidak akan suka. Dan mengapa pula menegur suami menunggu dia menegur kita.

Marilah menjadi pasangan yang dewasa, berinteraksi dengan penuh cinta, saling menjaga dan saling percaya. Berprasangka baik, memaafkan dan memberikan harapan kebaikan.

Eh berbeda pendapat juga boleh kok.

25 comments:

  1. Hehehe saya belum punya pasangan, soalnya baru lulus SMA, tapi biasanya yang kaya gitu kejadian sama temen sepantaran. Kadang kesel juga lagi pengen cerita, mereka malahan sibuk sama smartphone mereka sendiri.
    Memang ya selalu dibutuhkan instrospeksi dari masing-masing pihak :))
    Salam kenal, Bunda :))

    ReplyDelete
  2. Iya bu....sebenarnya menekan ego sendiri yg paling susah. Namanya emak2, emosinya gampang kesulut :( tp syukurnya, suami saya orangnya malah lebih sabar dari saya. Jadi dia dah maklum kl istrinya ini, amat sangat galak :D
    Anyway....makasih tulisannya bu. Mencerahkan. Harus lbh sering2 naklukin ego....scr dah mau 15 th nikah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. okee sama-sama alhamdulillah makasih kunjungannya

      Delete
  3. yapz,,,benar,,,jangan memperpanjang masalah. lagian nurut pada suami akan ada poin positif dan poin tersendiri dari suami,,so nggak ada salahnya memang jika kita mengalah,,,

    ReplyDelete
  4. setuju banget mak ida....awal2 ego saya juga tinggi, sekarang kalo suami menegur ato bernada tinggi, saya lebih baik diam, kalo sudah reda saya langsungminta maaf....beres....masalah ga berlanjut.....hatipun tentram...

    ReplyDelete
  5. heheheh. kalau saya selalu inget ini bu,
    “Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya, niscaya dia masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan.”(HR. Ahmad nomor 1661, hadits hasan lighairihi).

    jadi bikin saya meredam segala emosi kalau ditegur :D

    ReplyDelete
  6. Nasehatnya adem banget mba Ida :)

    ReplyDelete
  7. Ah,tertampar.ad tips menaklukkan ego ga bu?secara saya dan suami menikah baru seumur jagung (3tahun) dan berusia sebaya pula

    ReplyDelete
  8. wah, nasehat yang baru bisa kupraktekkan jika sudah bersuami nanti mbak hehehe

    ReplyDelete
  9. wah, ini masukan buat saya yg sering ngeyel nih mak:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuiih sepertinya bukan potongan ngeyel hihi

      Delete
  10. iisshh saya juga suka gt mb...ga terima kalau dibilang suka berlebihan online di socmed (krn merasa semua kerjaan sudah beres)...tapi saya berusaha ga memperpanjang masalah...walopun kadang susah hehehe...salam kenal ya mb :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga...makasih sudah berkunjung

      Delete
  11. sekarang saya jarang online malam hari mbak apalagi ada suamiku dirumah, kecuali sedang kedatangan tamu bulanan saya bisa online malam hari :)

    ReplyDelete
  12. Terima kasih sharingnya Bu...
    Selama ini saya silent reader aja...
    Saya suka tulisan2 Ibu...

    Susah ternyata kalau lagi dikasih tau ga ngeles alias membela diri...
    Harus belajar lagi menerima kritikan

    ReplyDelete