Tuesday, April 8, 2014

Golput = ajari anak alergi politik...?

Gambar dari sini.

Pernahkan anda menyaksikan anak anda melihat tayangan berita televisi saat mengabarkan penangkapan atau persidangan koruptor?
Apa komentar anda ketika anak bertanya tentang koruptor?
“Jangan jadi pejabat atau politisi nak, nanti bisa terjerat korupsi...”

Demikiankah jawaban anda?
Ah pasti tidak demikian.


Mestinya setiap orang tua ingin anaknya siap menjadi calon pemimpin ini. Itulah sebabnya anda mengajarinya untuk mandiri, memiliki manajemen diri yang bagus. Anda senang jika ia menjadi ketua regu, ketua kelas atau petugas upacara. Anda bangga saat ia tampil, berpidato, mewakili sekolahnya untuk even kejuaraan, karena itu akan melatih keberanian dan tanggungjawabnya.

Tidak, secara verbal, tak ada orang tua yang ‘menyuruh’ anaknya untuk menjadi pengikut dan rakyat jelata. Semua ingin anaknya berprestasi dan memberi sumbangsih untuk negeri kita tercinta.

Tapi menyongsong hajatan lima tahunan ini, banyak lhoh orang tua yang lupa mencontohkan keteladanan mencintai negeri ini. Ini buktinya.

Saya membeli spidol di kios fotocopy. Mbak pemilik adalah orang luar Jawa yang mengontrak dan membuka usaha itu sejak beberapa tahun yang lalu.
“Mbak dapat undangan kah untuk mencoblos?”
“Dapat kok, TPS nya di belakang sono ya...?”
“Iya mbak...ntar sudah punya pilihan apa belum...?"
“Gak tahu tuh, saya golput saja...” Eh aku yang kaget!
“Jangan dong...kalau orang baik seperti Embak nih gak milih...ntar yang naik politisi busuk...”
...............

Itu satu dari sekian orang yang kutanyai. Memang saya tidak membuat prosentasenya, tetapi jumlahnya berbilang.  Saya sering menanyai pelanggan tentang kesiapan mereka mengikuti pesta demokrasi, tak sedikit yang mengatakan gak mau nyoblos.
Seorang bapak yang bersungut-sungut membeli kapas, menanyakan kapas dalam kemasan terkecil.

“Ini hanya Rp. 1.200 kok pak...buat apa toh?”
“Huh buat sumbat kuping...itu tuh kampanyenya Indonesia h*bat, tapi bikin telinga tuli...gimana mau dipilih kalau gak simpatik gitu...” bapak ini kelihatan emosi berat.
“Ikutan partai yang kampanyenya santun pak...” #modekampanyeon.
“Kan kalau milih harus yang kenal dan kita tahu baik...gak ada caleg baik yang mengenalkan diri pada saya...”

Duuh ada ya tipe jual mahal begini, yang harus didekati satu persatu.
“Eh bapak kan kenal saya...saya baik kan pak?” #modemerayuon.
“Ibu nih nyaleg...?”
“Enggak, tapi teman saya kan nyaleg...!”
“Ogah ah saya gak kenal teman ibu...saya golput saja...”
“Kalau orang baik seperti bapak tidak mau kasih suara...yang naik tuh yang bikin telinga tuli...”
“Biar saja...masa bodoh...!” dan dia berlalu dengan muka ditekuk dan telinga disumbat.
Hadew.

Dialognya dengan saya begitu. Saya membuat dialog imajiner bapak itu dengan anaknya.
“Bapak besok pilih partai apa?”
“Bapak gak milih nak...semua partai gak ada yang baik...!”
Anaknya pasti melongo.
“Jadi saya besok kalau besar pilih apa dong?”
“Kalau ada yang baik pilih saja, gak ada ya gak usah pilih...”

Waah kalau semua orang tua yang sekarang golput mengirimkan pesan verbal dan non verbal demikian pada anaknya, apa jadinya negeri ini 15 tahun lagi? 25 tahun lagi? Saat anak-anak itu seharusnya tampil menjadi pemimpin di negeri ini. Bagaimana jika semua memilih menyingkir dari politik?

Kini saja kita telah melihat krisis kepemimpinan nasional. Nyaris semua capres berumur. Kemana perginya Sukarno muda yang visioner pada usia 26 tahun?
Kemana perginya ekonom koperasi Muhammad Hatta yang mendampinginya?
Dimana Habibi muda yang menjadi menteri saat 27 tahun?

Saat ini para mahasiswa ada (banyak) yang memilih golput karena nggak mau repot sedikit mengurus A5.

Gambar dari sini.

Tulisan miris ini untuk anda yang peduli masa depan bangsa ini. Mari jangan golput. Diantara yang mengecewakan anda, pasti ada yang paling sedikit kuantitas mengecewakannya.

Ada penelitian yang menunjukkan fakta bahwa golput menyumbang korupsi. Uuh gak percaya...! Yah ketik saja kata kunci ‘golput menyumbang korupsi’.....
Ini saya kutipkan salah satunya.

Gambar dari sini

Yuuk buktikan cinta tanah air ini  dengan mencoblos menggunakan akal sehat dan mata hati.


16 comments:

  1. sebelum nyoblos di kotak besi,berdo'a dulu hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. sipp...moga dapat petunjuk memilih orang baik

      Delete
  2. Wuah saya termasuk mahasiswa yg males ngurus A5 nih
    Tapi kan katanya bsok bisa langsung milih tanpa A5

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah...tetap nyoblos ya untuk indonesia yang lebih baik.

      Delete
  3. A5?
    dulu saya golput, besok kayaknya enggak :D

    ReplyDelete
  4. Bismillah,,,semoga besok pas nyoblos nggak salah pilih,,,semoga nantinya menjadi pemimpin yg amanah,,,mendengarkan jeritan rakyat,,,terutama rakyat miskin,,,,

    ReplyDelete
  5. smoga yang terpilih benar2 bisa mewakilkan suara rakyat.. amiiin

    ReplyDelete
  6. Pokoknya jangan sampai golput. Karena golput itu sama juga dengan golongan penakut!

    ReplyDelete
  7. Hmm mauk akal Mak ... makasih pencerahannya. Sy sudah dari TPS nih Mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah...bantu doa untuk semua partai Islam mak.

      Delete
  8. Replies
    1. Alhamdulillah mak. Saya percaya mak Lidya cinta Indonesia.

      Delete