Wednesday, April 30, 2014

Must Move On


Part 2.

Haloo Miss Fenny dan semua saja...ini sambungannya part 1 ya...


Kuatur jadwal dengan padat. Setiap hari tidur awal setelah sholat isya. Lalu jam 12 bangun. Biasanya tidak tidur hingga pagi untuk menyusun analisa skripsi, mengolah data dan sebagainya.

Kadang kejenuhan datang dan semangat menurun. Yah lelah fisik mengurus dua anak. Sementara ekonomi kami juga sangat berat karena suamiku belum mendapatkan pekerjaan yang memadai. Sementara aktivitasku sebagai pengelola majalah, bagian dari caraku mencari nafkah, juga tidak surut.


Saya juga masih menjadi ketua sebuah LSM. Jadilah saya kehilangan fokus dan prioritas.

Mensarikan hikmah move on untuk para mahasiswa

Satu lagi, saya mendapat dosen pembimbing yang super judes. Aduh maafkan saya bu Dosen....Setidaknya itu yang saya rasakan saat itu. Tapi kini justru saya sangat berterima kasih, karena dengan sikapnya itu saya menjadi bekerja keras.... 

Setelah melakukan seminar, untuk revisi harus didampingi dan di-acc juga oleh dua dosen penguji. Jadilah saya seperti bola ping-pong yang dilempar dari satu penguji ke penguji yang lain.

Revisi ini disetujui dosen ini dan ditolak dosen yang lain. Jadi pernah nih menikmati saat ngeper berhadapan dengan dosen killer yang tidak mau mentolelir apapun alasan kita.

Hiks...terkadang seharian anakku kuungsikan ke rumah temanku agar aku bisa mengejar deadline skripsi.

O ya dalam situasi yang berat itu, saya hamil anak ke 3. Sementara itu ayahku menderita sakit kanker dan dirawat di rumah sakit di Jogja. Setiap hari saya harus bolak-balik antar ibu ke RS atau mengantar baju dan makanan ke RS. Kadang piket menjaga ayahku.

Ya Allah betul-betul tahun yang berat. Masih bertambah dengan adik bungsuku jatuh sakit dan di opname di RS yang berbeda, di Jogja juga.

Hari-hariku adalah kerja keras. Sangat keras karena kemudian tidak punya pembantu. Secara finansial kami betul-betul tercekik dan skripsiku tak mau kompromi. Dua orang terdekatku opname di RS. Bapak opname sejak bulan Juli hingga November saat beliau meninggal.

Allah Maha Pengasih, pada bulan Agustus akhirnya kelar juga. Saya diwisuda. Berkurang banget bebanku. Sepertinya.... 
Karena ternyata tidak berkurang.

Saya mengambil cuti karena hamil dan melahirkan pada bulan Mei 1996. Saat itu saya masih jeda menanti pendaftaran pendidikan profesi pada bulan Juli. Kuliah profesi sungguh berat. Setiap hari berangkat jam 06.30. Sembari memiliki bayi merah, kulakukan semuanya.

Semester berikutnya jadwal PKL ke RS, Apotek, Puskesmas, Dinkes dan Pabrik obat. Kubawa bayiku dan seorang pembantu agar aku tetap bisa memberikan yang terbaik untuk anakku. Bahkan si nomer satu yang duduk di bangku TK A sakit, jadi saya membawanya ke tempat kost PKL agar dapat merawatnya.

Semua jatuh bangun kulalui hingga pada bulan Juli aku bisa melakukan sumpah profesi. Alhamdulillah.
Apakah keadaanku lebih baik?

Ternyata tidak juga. Sepeninggal ayahku, saya harus membiayai kuliah dua adik. Kami masih mengontrak, dengan 3 anak, seorang ibu dan seorang pembantu.

Membiayai kuliah dua orang tentu tidak mudah. Kami banting tulang melakukan kerja apa saja agar dapur tetap megepul dan tetap bisa mengirimi dua mahasiswa. Saya menjahit, berjualan, menulis, dan mengajar sebagai asisten dosen. Masih juga mengelola Apotek.

Suamiku mengajar bahkan di 5 kampus. Hingga setiap kali di sore hari duduk selonjor sambil berdiam diri.
“Abi kenapa kalau sampai di rumah mesti langsung mandi, minum teh dan diam saja...” tanya sulungku yang berusia 6 tahun. Ia sungguh anak yang cerdas dan kritis.

“ Abi capek mbak, seharian bicara ke kelas dari pagi sampai sore...jadi kalau di rumah pengin diam...karena kalau bicara di rumah gak ada yang membayar...”jawabnya berseloroh yang membuat aku terpingkal-pingkal.

Yaah semua kesulitan kami lewati dengan canda tawa. Itulah bagian dari cara kami saling menguatkan.

Kalau mau diteruskan...tentu masih banyak onak duri yang kami lalui hingga kini.
Eh tidak semuanya onak duri, terlalu banyak juga kegembiraan dan bahagia datang menyapa.

Namun kami mengerti bahwa hidup masih terus berputar. Kami tidak yakin sekarang berapa di atas atau di bawah. Kami berharap bahwa kami mendaki terus dan jika badaidatang menyapa, kami hanya perlu melakukan satu hal : move on.

Must Move On 
Terus bergerak. Seperti prinsip pesawat terbang, apapun situasi di angkasa, maka solusinya adalah terus terbang hingga mencapai tujuan pendaratan. Karena jika berhenti di angkasa, pastilah jatuh ke bumi seperti pesawat terbang yang konon nyungsep di palung.

Berbagai-bagai ujian hidup adalah bagian dari proses pendewasaan yang akan memperkaya jiwa. Semoga membuahkan kearifan dan benar, sehingga berbuah manis pada kematangan menghadapi apa saja.

Dan di kemudian hari setelah semua ujian, kita bisa menuturkan pada anak cucu sari hikmah dari setiap terminal peristiwa dan rasa.

Roda nasib yang berputar adalah kemestian, menikmatinya menjadi kunci meraih kebahagian. Senjata untuk terus move On hanya dua, sabar dan syukur.


Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Jejaring Miss Fenny:




14 comments:

  1. baca ini jadi bersyukur Mak.. pengalaman skripsiku yg jg maju mundur 2 tahun tidak ada apa2nya dibanding dirimu Mak Ida.. benar2 Allah itu Maha Penyayang, tidak akan memberikan permasalahan hidup pada hambaNya melebihi yang bisa hambaNya tanggung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul banget mak...rekorku mengulang 3 x dan akhirnya ganti judul. padahal ipeku 3,4 haha

      Delete
  2. Sekarang saya juga menghitung waktu terus nih, mak, nungguin anak2 cepet gede :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. move on ya mak...semua menjadikan perjalanan waktu sebagai ladang pahala

      Delete
  3. betul sekali,,,roda nasib akan selalu berputar mak,,nggak akan selalu di bawah terus,,suatu saat pasti akan di atas,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. siip mak....setuku. kalau perlu menaik terusss

      Delete
  4. Subhanallah ...
    mak Idaaa, kisahnya benar2 jatuh bangun. Tapi spirit move on itu selalu menjadi pemantik ya. Buah akan selalu memberi sesuai pupuk dan rawatan kita.
    Sukses terus, mak. Sungguh inspiratif
    #pengenmeluk

    ReplyDelete
    Replies
    1. peluuuk mak...idenya mak Fenny nih judulnya kereen

      Delete
  5. saya baru masuk tingkat akhir, sekarang semester 8. Target lulus akhir 2014 atau awal 2015. Doakan ya maaaak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga dimudahkan dan lancar dengan nilai terbaik mak sekar

      Delete
  6. Mak, 10 jempol deh untuk perjuangannya. Pengalaman hidup Fenny ternyata masih belum sebarapa ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. tangan siapa mak yang 10 jempol semua...hihi...semoga hidupmu tidak sulit mak, selalu mendaki dalam kebaikan amiin

      Delete
  7. Farida PuspitasariAugust 22, 2014 at 10:21 AM

    Subhanallah..terkagum-kagum karna Allah telah menuntunku menjamah blog ini. Sungguh menginspirasi untuk tetap kuat bertahan di tengah keadaan sulit. Memang ya mak ida, atas apapun segala kondisi kita, harus terus move on. Segala sesuatu pasti akan berlalu. Baik sedih maupun senang. Terima kasih sekali untuk tulisannya. Big hug, salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal mbak farida big hug. semoga bermanfaat amin. keep move on

      Delete