Friday, June 20, 2014

Cinta dan Harapan untuk Indonesia



Huaa....!
Hura-hura pilpres ini sungguh menyita energi seluruh bangsa. Prihatin bingits dengan pola kampanye yang gelap mata.
Seandainya seluruh anak negeri ini mau sedikit merenung dan bertanya di relung hati:
Sebesar apakah cintanya pada Indonesia?
Seperti apakah cintanya untuk Indonesia?

Puisi ini adalah bagian dari keprihatinan dan ekspresi cinta saya untuk negeri ini.
Mari simak ya.

MERINDU INDONESIA YANG SESUNGGUHNYA

Blarrr...!
Seolah kudengar petir menggelegar
Menyalakan langit katulistiwa
Kala Gadjah Mada acungkan keris ikrarkan sumpah Palapa

Itu sudah jauuuh berlalu, kawan
Saat negeri ini masih bernama nuswantara
Namun inspirasinya
Telah sampai di meja diskusi
Para pejuang proklamasi penggagas negeri
Inilah Indonesia yang sesungguhnya
Penuh semangat juang wariskan epik kepahlawanan

Blarrr...!
Seolah kudengar dentum meriam Belanda, Jepang, Sekutu silih berganti
Berabad memerah tanah negeri ini
Dengan darah para pribumi
Menggelegar pidato Bung Tomo
Berkilat pedang Tjut Nyak Dien
Keteguhan Diponegoro
Hasanuddin, Sisingamangaraja, Agus Salim, Teuku Umar, Imam Bonjol, Pattimura, Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantara...
Dan Sudirman, dengan separuh paru-paru
Memimpin gerilya

Tak berhingga pahlawan yang tersurat dalam sejarah
Atau yang tak pernah tersebut nama
Merelakan tulang dan darah
Menopang kemerdekaan dan pembangunan

Namun kini, kemana Indonesia yang sesungguhnya?
Ketika ribuan anak jalanan menangis di kolong jembatan
Remaja kaya berhura-hura
Para dokter berdemo menuntut keadilan
Dan pengadilan,
bak opera murahan

Tindak anarki menjadi tontonan
Para politisi bukanlah negarawan,
hingga di Monas mungkin butuh lebih banyak tiang gantungan
Setiap jiwa terlahir menanggung hutang
Dan bayi-bayi terbuang, bertanya apa salah mereka

Ibu pertiwi menangis tanpa air mata, kawan
Menyaksikan carut marut sendi kehidupan
Merindukan Indonesia yang sesungguhnya
Ketika minyak tak pernah langka
Dan para satwa tak kehilangan habitat
Ketika rasa malu menjadi pakaian anak perawan
Dan pemimpin bangga dalam kesederhanaan

Di mana Indonesia yang sesungguhnya?
Apakah hanya tinggal cerita?
Yang terwariskan menjadi legenda?

Tidak...tidaakk...tidaaakkk!
Indonesia hanya sedang menanti,
Reformasi yang mengembalikan jati diri
Menanti,
Lahirnya putra bangsa yang menjunjung harga diri
Pejabat yang bermartabat
Dan warga yang santun saling menghormat

Kawan, mari mengais dari puing-puing sejarah
Keteladanan para pencerah
Kesungguhan, kejujuran, belas kasih, dan pantang penyerah
Mari ruahkan di dada anak-anak berseragam putih merah
Yang berlarian dengan wajah cerah
Terbang menjemput mimpi di bangku-bangku sekolah

Lalu kudengar syahdu di sudut-sudut kampung
Para ibu yang menidurkan bayinya
Dengan dendang nina bobo,
Tanpa khawatir harga BBM, LPG dan tarif listrik melonjak
Para petani yang menggiring bebek ke sawah,
tanpa khawatir harga padi merendah
Pengusaha tenteram berbenah
Tanpa khawatir rupiah melemah
Para  pekerja duduk tenang di kereta,
Tanpa khawatir kemacetan jalan ibu kota
Orang mengaji berkopiah
Tanpa khawatir dituduh teroris

Ibu pertiwi jangan menangis
Masih ada sepenggal nurani
Di dada generasi muda
Yang harus kita jaga
Dari korupsi usia
Masih,
Masih,
Masih ,
Ada harapan dan cinta
Untuk Indonesia yang sesungguhnya

Mari bermohon kepada Yang di Atas Sana
Rahmat dan karuniaNya
Dan terus berkarya
Dalam gelora cinta
Untuk Indonesia baru yang sesungguhnya.

Jogjakarta, 10 Januari 2014.
Ida Nur Laela.




10 comments:

  1. semoga saja Indonesia jadi lebih baik

    ReplyDelete
  2. Harusnya masyarakt kini bercermin dari sejarah,.sehingga bisa mensyukuri atas segala nikmat jaman kini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul banget...saatnya isi kemerdekaan dengan hal yang baik

      Delete
  3. Replies
    1. setuju mak, masih banyak orang baik di negeri ini

      Delete
  4. wah mak Ida suka puisi juga , sy suka banget apa saja yg terlihat pasti jadi rangkaian puisi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak...kalau lagi muncul romantisnya.

      Delete