Monday, July 7, 2014

Jalan mendaki itu adalah berkeluarga.



Jika anda pernah mendaki gunung, pastinya merasakan suka dukanya. Rasa lelah, beban yang berat, terperosok, tertusuk duri, tergelincir, kedinginan, sesak nafas, teman yang butuh pertolongan, dan mungkin juga salah jalan. Mungkin juga bertemu binatang buas atau sekedar lintah yang menjijikkan. Semua itu seakan terbayar saat mencapai puncak dengan penuh kegembiraan menyaksikan sunrise dan pemandangan yang memanjakan mata.

Racikan pengalaman yang menjadi memori indah bahkan hingga bertahun kemudian. Setelahnya kita akan menceritakan dan mengenangnya, bahkan tentang segala penderitaan perjalanan, dengan sudut pandang kebanggaan dan kebahagiaan.



Berkeluarga, ibarat pergi mendaki, dengan tim bermula dua orang, suami istri.
Terkadang salah satu mengeluh, atau keduanya mengeluh. Terkadang capek, dan harus jeda sejenak mengambil nafas. Terkadang yang satu harus menahan diri, karena pasangannya berjalan sangat lambat dan meminta pengertian.

Kekurangan bekal, menghadapi cuaca ekstrim, panas terik menyengat, gerimis hingga hujan badai berhalilintar. Dan sakit yang mungkin menyerang.

Bertemu persimpangan kadang berselisih jalan mana yang akan dipilih. Ketika kabut datang seakan gelap semua arah tak tahu hendak kemana. Hanya bisa bergandengan tangan dan meraba langkah dengan mata kaki.

Terkadang ada banyak godaan di jalan, bebungaan yang indah, buah-buahan atau ranting berserak. Ketika ingin memunguti bisa jadi menghambat perjalanan. Atau sibuk mengumpulkan  renik-renik dan enggan melanjutkan ke puncak lantaran beratnya bawaan suvenir perjalanan.

Berapa banyak pendaki yang menghabiskan energi dengan mengeluh sepanjang jalan, atau ramai bertengkar tentang arah perjalanan. Beberapa ada yang terperosok atau terjungkal dalam jurang yang dalam. Ada yang selamat dan bisa kembali, ada yang hilang tak tentu rimbanya.

Berkeluarga, adalah pengalaman mendaki dengan semua tantangan dan resikonya. Semakin tinggi gunung yang ingin ditaklukkan, semakin butuh persiapan mental, pemahaman medan dan kelapangan dada bekerjasama dengan team.

Perbekalan seorang pendaki tidaklah harus banyak, namun penting membawa barang-barang vital sesuai kebutuhan. Kompas, peta, bekal makanan, minuman, obat-obatan dan sekedar alas tidur. Jaket dan kaus kaki pengusir dingin, mantol hujan,  tongkat dan tali mungkin bagian yang akan diperlukan.

Saya hanya pendaki amatiran yang penah sesekali menjelajah gunung. Namun cukuplah kiranya menjadi pengalaman membayangkan sulit dan terjalnya medan dan dinamika pendakian. Menghadapi situasi yang mungkin tidak diperkirakan.

Berkeluarga adalah pengalaman yang diinginkan semua orang. Namun apakah telah mempersiapkan tantangan pendakian? Atau mengira bisa duduk manis di mobil hingga tiba-tiba telah sampai di puncak?

Gunung Api Purba. Nglaggeran.

Semua berpulang kepada setiap pasangan.
Kerja keras, kesetiaan dalam team, semua racikan rasa dan cuaca ekstrim adalah kemestian yang akan memperkaya jiwa. Jadi janganlah banyak mengeluh dan milikilah daya tahan, karena itulah yang akan melahirkan rasa bahagia.

Oke, keep move on dan nikmati saja semua prosesnya karena jalan mendaki itu adalah berkeluarga.

Spesial untuk suamiku, cintaku, guru, sahabat dan inspirasiku.
Terimakasih untuk semua pelajaran kehidupan yang engkau sajikan. Terimakasih untuk tetap setia dalam SATU team bersamaku, selamanya.
Mengenang 23 tahun kebersamaan kami.


Mertosanan kulon, 7 Juli 2014.

28 comments:

  1. Semoga senantiasa SaMaRa ya bu..:) Doakan saya juga, ingin jd istri solehah tp prakteknya msh seujung kuku..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah amiin. Semoga juga dirimu sekeluarga

      Delete
  2. Begitu juga menjadi guru.. Mendaki bak perjuangan pendakian.. Yg penting jgn banyak mengeluh teruslah jalan sampai ke puncak 'karier' yg di inginkan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betl banget...bisa diterapkan dalan semua bentuk perjuangan kehidupan.

      Delete
  3. sudah 23 tahun ya Mba Ida..moga langgeng terus ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin makasih mak fitri....nggak tahunya aku sudah tua haha

      Delete
  4. Uhuuuks
    ...Fenny baru seusia digit belakang usia pernikahn mak Ida

    ReplyDelete
    Replies
    1. jalan masih panjang mak Fenny...semoga enak dinikmati apapun rasanya...

      Delete
  5. Umur pernikahan kami hampir 1/3 umur pernikahan Mak Ida. Semoga kami tetap bisa terus mendaki dengan baik ya Mak, mohon doa... ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya allah selama ada keikhlasan dan kesabaran

      Delete
  6. Happy anniversary, Mak. Semoga langgeng mendaki bersama dengan tim :)
    Terima kasih untuk petuahnya.. berguna sekali buat yg masih emak wannabe macam saya :)

    Salam,
    Phie

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Phie semoga jodohmu tepat dan baiiikk amiin

      Delete
  7. dalem bgt maknanya mak..
    o iya, barakallah ya mak sdh 23 tahun. Smoga kluarga mak ida slalu samawa dan menginspirasi kita smua. Keep move on:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin,. makasih doanya mak. semoga demikian pula dengan keluargamu, amiin

      Delete
  8. semoga tetap langgeng, mak ida. feel happy for you :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mak Sary. demikian pula dengan mak Sary

      Delete
  9. Ah...
    Membaca tulisan ini, semakin bertambah saja semangat saya. Semangat untuk segera mendaki bersama Ms L. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga dimudahkan Mas.dan menjadi keluarga sakinah amiin

      Delete
  10. Gak enak kalau mendaki dengan cara duduk manis di mobil. . .
    Gak menantang, Bu. :D


    Happy anniversary ya, Bu. Semoga bahagia selalu. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya idah...cocoknya buat nenek-nenek sakit lutut saja. kalau yang muda lebih romantis kehujanan berdua lalu berteduh di bawah pohon...hahaha

      Delete
  11. setuju dengan perumpaannya yang mendaki, Mak :)

    ReplyDelete
  12. Ikut senang mbak, smg bahagia, senantiasa dihimpun dalam kebaikan dan awet sampai kakek nenek...

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiin semoga demikian pula padamu dik

      Delete
  13. Huaa Mak Ida udah 23 tahun ya.. selamat ya mak, moga selalu samara, aamiin

    ReplyDelete