Tuesday, July 8, 2014

Mengelola Anak yang Kecanduan Game


Hari Sabtu kemarin saya berkesempatan mengisi kajian Ramadhan di sebuah masjid. Pesertanya semua usia. Temanya sungguh menarik, tentang mendidik anak di Era Gadget.

Ehm...sebenarnya saya agak ragu dengan tema ini. Pasalnya hingga kini saya masih terus berjuang untuk menegakkan interaksi yang sehat dan proposional dengan gadget di keluarga. So, ini adalah pembelajaran konsistensi bagi saya sendiri.

Memiliki 3 anak lelaki usia SD, SMP dan SMA adalah ujian berat terkait hobi main game. Anak perempuan tidak terlalu, banyak hal menarik lain yang cukup menyibukkan mereka...tetapi anak lelaki...hadeuh!

“ Akan main game? Baca 1 juz dulu ...wajib ya sayang!”


Demikian tulisan besar-besar di atas layar PC di rumah kami. Jika bukan bulan Ramadhan, berlaku game time hanya Jumat sore hingga Ahad sore. Berhubung liburan, seolah menjadi pembenaran mereka boleh main game setiap hari.

Tulisan di atas bagian dari pengendalian. Melengkapi aturan lain, misalnya belum boleh main jika belum mandi dan mengerjakan tugas  pagi. Tiap main 2 jam harus cabut rumput selama ½ jam. Atau tiap berapa jam main harus baca buku sebanyak jam main. Kami ijinkan mereka main game di rumah, tapi tidak boleh di warnet atau play station.

Butuh perjuangan dan konsistensi untuk menegakkan aturan itu.
Akhir-akhir ini saya melihat mereka mengakali dengan beralih gadget. Jadi seakan aturan itu hanya berlaku di PC rumah. Adapun jika sudah dua jam, mereka akan beralih ke ipad, ipod atau smartphone. ‘Kreatifnya’ selalu ada celah ya, untuk melanggar aturan ya.

Itu contoh tantangan yang kuhadapi dengan anak-anakku sendiri. Malam itu, aku tetap memberanikan diri membahas tema tersebut.

Ibu moderator acara adalah seorang pembina pengajian di masjid yang lumayan besar itu. Beliau mengantarkan dengan vulgar dan berapi-api.

“Beberapa waktu yang lalu, kita semua digegerkan oleh ibu X yang kehilangan  anaknya. Hingga larut malam, ibunya bertanya ke para tetangga dimana anaknya, ternyata si anak, semua yaitu mas Y, mendekam di warnet....”

Waah aku merasa sangat tidak nyaman mendengar penyebutan nama pribadi di depan forum untuk sesuatu yang kurang postif. Eh ternyata masih berlanjut.

“...hingga ibu X mendemo warnet itu untuk tutup saja karena dianggap merusak anak-anak muda di kampung ini...”

Buntutnya ibu moderator ini pada kesempatan demo itu menasehati bahwa jika warnet yang ini ditutup, maka Mas X dan teman-temannya akan mencari warnet lain yang lebih jauh, dan tentu akan semakin susah ditemukan oleh orang tuanya, saat si anak tidak pulang.

Media alternatif
Itulah salah satu latar belakang diadakannya acara kajian ini. Dari dialog yang cukup hidup, saya coba rumuskan masalah anak-anak dan kecanduan gadget.
1.     Anak-anak selalu ingin tahu, internet membuka peluang untuk mereka menjelajah dunia.
2.     Kurangnya pendampingan orang tua dan alternatif kegiatan positif di dunia nyata menyebabkan perhatian anak tersedot ke dunia maya. Seandainya di setiap kampung ada klub bulu tangkis, pingpong, sepak bola, voli, klub kesenian, klub menulis, klub bahasa...pastilah banyak waktu tercurah untuk berlatih dan mengikuti even-even lomba.
3.     Kurangnya  media alternatif seperti perpustakaan untuk memuaskan keingintahuan anak.
4.     Kesenjangan pengetahuan orang tua-anak dalam penguasaan teknologi, sehingga ortu kurang bisa bijak mensikapi. Menciptakan konlik ortu-anak yang memperburuk situasi.
5.     Keterlambatan di dalam penanganan kecanduan. Orang tua terlambat mengenali saat anaknya mulai kena bibit kecanduan.
6.     Sebagian orang tua kurang menyadari bahaya yang mengancam dibalik ketergantungan pada gadget ini.

 


“Bagaimana mengingatkan anak agar mereka mau mendengarkan orang tua? Jika sudah main game, mereka tidak mau belajar dan membantu orang tua...” Itu pertanyaan salah seorang bapak tentang anak lelakinya yang usia SMP.

1.     Saya mengajak para ortu untuk memulai dengan bertaubat. Jika ortu melihat kesalahan pada anak, maka bercerminllah untuk menelisik kesalaha diri. Bertaubat kepada Allah dan bermohon agar Allah ampuni dab beri kesadaran pada anaknya.
2.     Setelah itu Jadilah orang tua ruhiyah, rajinlah untuk mendekat kepada Allah dengan ibadah seperti sholat malam dan mengaji, karena akan memuat orang tua memiliki “qoulan tsaqila” atau kata-kata yang berbobot. Kata-kata orang tua akan mengendap di hati anak dan memiliki pengaruh kuat.
3.     Mulailah dengan keteladanan. Saat orang tua bersama anak, jangan abaikan anak dengan sibuk sendiri bermedsos atau sms-an, yang membuat anak merasa terabaikan. Batasi interaksi ortu dengan gadget untuk mencontohkan pada anak bahwa kitalah yang mengatur teknologi dan bukan gadget yang menjajah hidup kita.
4.     Hindarkan tidakan pragmatis seperti memberikan gadget pada balita agar mereka diam anteng karena orang tua sedang repot.
5.     Buatlah lebih banyak acara bersama anak, seperti memasak bersama, berkebun, bermain, mendampingin belajar, pergi makan bersama atau piknik refreshing. Saat melakukan itu, jauhkan diri anda dengan gadget.

Temani anak mengenal


6.     Bergaul dan berkomunikasilah dengan penuh cinta kepada anak anda. Baik dengan bahasa verbal maupun non verbal. Anak akan merasakan cinta dan perhatian orang tuanya. Hingga saat anda menasehati anak, anda dapat mengandalkan garansi cinta ini.
“Anakku, jika kamu sayang ibu, tolong ya, berhenti main game. Kamu sayang sama ibu kan? Ibu sayang banget padamu”  Kukira tak akan anak mengatakan  
“Aku nggak cinta sama ibu!” kecuali memang jika ortunya telah berlaku menyebalkan dan menyakiti hatinya selama ini. Jika ortu telah selalu berusaha mencurahi cinta, pastilah anak akan terketuk hatinya.

Saya kadang berkata:
“Mas, ibu sayang sama kamu,. Kamu bisa lihat dan rasakan kan? Kalau ibu melarang ini itu, semua karena ibu ingin yang baik buat kamu. Jika kamu sayang ibu, turutlah nasehat ibu...”

Biasanya akan mempan untuk menjadikan ia menuruti apa yang saya nasehatkan.

Ah saya terus beristghfar dan berjuang karena masih jauh dari konsistensi pelaksanaan semua idealitas. Mohon doanya ya pembaca semua, semoga anak-anak (dan juga kita), tidak dijajah sarana teknologi. Semoga bisa menjadikan kemajuan IT untuk pengembangan diri, potensi dan kontribusi.

Silahkan menambahkan tips untuk menghindarkan anak dari kecanduan gadget.

Saya bagikan pulsa @ 10 rb untuk 5 komentar tips yang menarik. Sertakan akun twitter dikomentar anda. komentar ditunggu hingga tanggal 1 Agustus 2014.

28 comments:

  1. Anak-anak saya tidak terlalu senang bermain game di komputer atau gadget Mak (atau memang belum ya? :) ) maklum, baru umur tujuh dan tiga tahun. Mereka lebih senang bermain di luar dengan teman-temannya. Main sepeda, main bola, bahkan role play. Mudah-mudahan terus seperti itu ya Mak... Saya mau fokus ke hafalan Quran. Jikalaupun akhirnya mereka terpapar dari teman-temannya, saya akan mensyaratkan hafalan 10 ayat dulu :). Is that too much? Mudah-mudahan tidak ya Mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah ide bagus. yang penting telaten untuk mendampingi. semoga anak terbebas dari game selamanya

      Delete
  2. Untuk tips menghindarkan anak dari kecanduan game, bagaimana kalau mengalihkan kecanduannya dengan hal-hal yang lebih mengasyikan dan membutuhkan gerakan fisik, bukan cuma sepuluh jari. Ajak anak bermain di luar. Bisa main bola, main tap benteng, galaksin, petak umpet. Kalau untuk anak yang sudah besar bisa diajak bersepeda. Betewe permainan itu kemana semua ya? Saya yakin jarang anak yang mengenalnya. Kecuali kita yang mengenalkannya. Kita buat gerakan back to permainan fisik yuuk!!

    ReplyDelete
  3. jadi inget dulu tiap hari kl ada anak yg bolos,pagi2 setelah cek siapa aja yg g masuk sekolah dan tlp ortu yg ternyata mereka brgkat ke sekolah,lalu saya pergi dan ngecek dari warnet 1 ke warnet yg lain atau warnet2 tempat anak2 SMP nongkrong (info dr anak2)...bener2 anak dijajah sama GO, sedih rasanya :(
    makasih banyak mak sharingnya,kebetulan saya belum dikasih rizki anak jadi ilmunya saya simpan dulu,semoga kelak bermanfaat..^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya silahkan dipraktekan untuk anak orang lain.

      Delete
  4. Iya BU Ida, susahnya menghindarkan kesukaan anak laki2 bermain game ya...anak saya yang 2 tahun sudah mulai hobi banget pegang gadget...

    ReplyDelete
    Replies
    1. waah....dikurangi sebelum kebablasan ya

      Delete
  5. kalau saya biasanya membatasi mbak, trus alihkan ke mainan lain

    ReplyDelete
  6. Iya, ya. Kadang biar anak diem dikasih deh si gadget itu. :)
    Buat jadwal dan batasan2 bermain yo, Bu. Apik tipsnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Idah mungkin bisa kasih tambahan tips....

      Delete
  7. Saya belajar banyak dari Mak Ida ... saya masih keteteran :)

    Terima kasih, Mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oya, saya kalo menghukum anak2, hukuman terberat adalah menjauhkan mereka dari HP atau lepi selama beberapa hari. Jadi dikasih tahu, kesalahannya apa dan hukumannya.

      Delete
  8. Mak ida tulisannya sangat bermanfaat,, sukaaakkk sekali :D

    oya mak mau sharing aja, karena saya blm pernah pnya anak jd belum bs komentar, tapi saya punya 2 keponakan yang sangat dekat dengan saya. kelas 2 SD dan kelas 1 SD.

    Bagi anak-anak jaman sekarang nampaknya tak bisa dipisahkan dr gadget atau game. Namun ternyata banyak upaya seperti yang mak Ida sampaikan diatas untuk mengelolanya.

    Nah, saya juga melihat upaya-upaya kecil yang dilakukan kakak saya terhadap anak-anaknya yang gemar memegang gadget baik tablet maupun PC atau laptop.

    Kalo anak kecil apa sih yang di cari di gadget pasti game. nah supaya anak tidak melulu bermain game kakak saya mengajarkan pada anaknya untuk menggunakan gadgetnya itu sebagai media pembelajaran yang menyenangkan. misalkan:

    1. Anak-anaknya suka sekali menyanyi. Nah kakakku meminta anak-anaknya untuk bernyanyi lagu-lagu islam yang diajarkan di TPA, kemudia sholawat2 sambil mereka di dandani dengan kerudung yang cantik (kebetulan anak2nya cewek) lalu direkam menggunakan gadgetnya itu, setelah selesai mereka tonton bersama-sama lagi.

    lalu kini mereka terbiasa merekam aksi mereka bergantian dengan gadgetnya, baik menyanyi ataupun aksi mereka saat bermaiin sekolah sekolahan. Jadi fokus mereka bukan pada Game.

    2. Agar anaknya tidak menjadi autis pada gadget dan mjd individual kakakku selalu meminta anaknya mengajak temannya untuk melihat isi gadgetnya misalkan menunjukkan foto-fotonya atau video2nya.. atau bermain bersama game yang ada di gadget (secara bergantian) ini jua mengajarkan anaknya untuk bisa berbagi. Tentunya dengan game dalam gadget yang mendidik.

    3. Soal internet anak-anak jaman sekarang juga sudah canggih, nah urusan internet ini karena masih kecil-kecil kakak saya juga selalu mendampingi anaknya. biasanya anak-anaknya kalau main internet suka lihat lihat gambar tokok idolanya seperti helo kitty, frozen, Rapunzel dll tapi kakak saya juga mengajak anak-anak menambah pengetahuannya dg internet misalkan. anak-anak seringkan dengar kata HAJI nah yuk lihat makkah madinah itu seperti apa???

    4. Kakakku juga mengajarkan anak-anaknya untuk selalu sholat tepat waktu dan berjamaah. pokoknya saat adzan tiba harus langsung letakkan gadget dan maianan apapun ambil air wudlu atau tidak diijinkan bermain apapun lagi nantinya. Jd sholat tepat waktu sudah bukan lagi paksaan namun menjadi kebiasaan.

    Intinya orang tua harus mendampingi anak, jd kalau anak ada apa-apa larinya k orang tua karena orang tuanya asyi mampu menjadi sahabat bagi anaknya.

    itu aja deh mak ida sharing saya :D terus menginspirasi mak idaaaaa :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow mak Icha komennya kereen banget...pastinya bermanfaat bagi semua yang mau membacanya nih...ayuuk kita bisa tiru.

      Delete
  9. Hal ini sama dengan orang tuaku sekarang yang merubah sikap dalam mendidik anak anaknya untuk hari depan. Orang tua saya peduli terhadap perihal yang mencakup akan masa depan anak anaknya. Saya sebagai anaknya merasa bangga dengan orang tua saya. Jika saya menghadapi suatu musibah atau masalah entah dalam kehidupan sehari hari maupun untuk hari hari depan anaknya.

    Orang tua saya peduli jika anaknya sedih meratap di kamar mereka akan mencari tau apa masalahnya agar bersikap jujur pada orang tua. Tanpa ada kejujuran dari orang tua dan anak tak mungkin hal itu bisa menyelesaikan masalah masalah pelik

    Langsung saja tips tips saya ssbagai anaknya

    1. Membujuk tanpa harus marah marah. Kita di usahakan sesabar mungkin. Mang marah bisa menyelesaikan masalah yang kecanduan ngegame

    2. Dulu saya alat penggemar game. Saya selalu membaca buku buku yang saya suka. Terutama cerita sejarah dari alur yang berbeda beda. Hingga saya suka sejarah termasuk mengingat masa lalu orang tua saya dan nenek saya. Mereka bercerita tentang masa lalu sehingga membekas tentang perjuangan orang tua atau nenek saya. Saya salut mendengar cerita beliau

    3. Mendengarkan ceramah kajian unik yang tentu sangat berbeda dari pengajian lain yang bisa mengena di hati. Kalau pengajian cuma itu itu aja bosen kalo ndenger dan lebih pengen ngegame

    4. Selalu memberikan yang terbak bagi anaknya. Sehingga itu berkesan di hari tua sanga anak. Saya anaknya sampai menangis haru melihat orang tua kami yang mempersembahkan yang terbaik bagi kami

    5. Orang tua selalu memberikan opsi kamu pilih dunia ini dengan segala kesenangan yang ada. Tenang saja neraka masih luas untuk di tempati. Atau memilih surga yang penuh dengan kenikmatan yang tak pernah di bayangkan di dunia ini. Kalau menghendaki dunia sebagai tempat bersenang senang silakan. Neraka masih ada tempatnya kok

    sudah itu tips tips versi dari saya. Mungkin masih ada yang lebih baik dari saya. Silakan di tambah | @KhoirudinF | Salam persaudaraan

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih komennya mas Khoirussin...semua tips bermanfaat...waah bisa memperkaya artikel nih

      Delete
  10. menarik topiknya, Mak.
    saya belum merasakan ya, karena belum ada anak, hehe. Tapi saya ada pengalaman dengan keponakan yang meski kasusnya beda (bukan terkait kecanduan game) tapi mirip solusinya. Dia sekarang sudah SMP. anak laki-laki yang nafsu makannya tuh gede. jadi, di rumah neneknya (dia tinggal di sana sementara), dia pasti nggak bisa diem dari ngemil. alhasil, badannya makin bongsor, nggak sesuai ma umurnya. neneknya akhirnya menyaratkan dia untuk olahraga di sekolah, dengan ikut eskul basket, kalau memang masih doyan ngemil di rumah. selain badannya gemuk, dia jadi malas gerak termasuk belajar, karena itulah syarat ini diambil. hasilnya, dia memang jadi ideal badannya dan prestasi sekolahnya nggak jeblok.

    kalau melihat kasus di atas, terkait keberadaan gadget semacam tab, smartphone, dkk, ini memang dilema. jika dilihat dari sisi kesehatan dan pertumbuhan anak, penggunaan gadget semacam ini di usia dini memang terlarang (saya pernah baca artikel singkatnya), karena menghambat proses kreativitas anak, dan perkembangan motoriknya. anak-anak yang masih dalam fase pertumbuhan seharusnya lebih banyak beraktivitas fisik, bermain di alam, atau aktivitas main indoor yang melibatkan kreativitas dan kebersamaan.
    kalau menurut saya, komputernya sudah bagus dibatasi jamnya untuk ngegame, sedang untuk tab dkk bisa diletakkan di tempat tersembunyi dan dipinjamkan dengan aturan tertentu dan dengan izin. ponsel untuk anak-anak sebaiknya jangan diberi yang canggih, cukup yang bisa menelpon dan sms.
    aktivitas di luar rumah harus diperbanyak, seperti disediakan sudut khusus di halaman buat ring basket, net badminton atau meja pingpong mungkin. memang repot sih kalau sendiri, sebab ibu kan biasanya nggak menemani anak (apalagi anak lelaki berolahraga). jadi kerja sama dengan ayahnya perlu. atau kalau nggak, belikan saja tenda besar yang bisa dipakai sewaktu-waktu di halaman untuk bermain bersama.
    pokoknya perbanyak aktivitas fisik terutama di luar. kalau memang lingkungannya aman (termasuk pergaulan dengan kawan sebaya), nggak ada salahnya mereka bermain.

    terakhir, saya jadi ingat sama Musa si hafidz cilik yg sering terdengar namanya sekrang. sang ayah menyatakan, kunci kesuksesan membimbing anaknya sehingga sibuk dengan Al-Quran dan bermain yang positif itu adlh kedisiplinan dan komitmen dari ortunya. sang anak sejak balita sudah dibiasakan bangun jam tiga pagi, diberi jadwal ketat tapi juga tak mengenyampingkan aktivitas bermainnya sebgai kanak-kanak. kalau baca kisah hidup para ulama dulu, juga nggak jauh beda. terutama peran ibu yang mendorong anak untuk fokus pada ilmu semenjak dini.

    wah, saya sih berkomentar sambil belajar dan bercermin. saya akui ini butuh pengorbanan besar dan nggak gampang tapi saya yakin bisa, apalagi mak Ida hehe..
    maaf ya, kepanjangan.
    makasih sharingnya, Mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mak lani gak papa kepanjangan saya seneng deh. kamu juga punya tenda dan sering kami pasang di halaman belakang. problemnya adalah waktu pendampingan. sepertiunya anak-anak males main jika tidak ditemani ortu...hihi makasih ya mak.salam buat kemenakan yang gemukan dan harus diet...tetap semangat ya.

      Delete
  11. Jadi masukan yang sangat berarti sekali nih dari Bunda Ida...mengingat anak saya yang sulung freak banget sama Gadget. Terima kasih atas nice sharing artikelnya. Slam ngeblog selalu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam ngeblog mak Christanty...tantangan orang tua di jaman modern ya mak.

      Delete
  12. Wah sharingnya sangat bermanfaat, Mak. Makasih banget ilmunya :)
    Saya sendiri juga masih keteteran menghadapi anak lelaki saya yg masih 4 tahun.
    Dia juga suka ngegame offline dan liat mainan di youtube. Kalo liat youtube sih bisa saya batasi, yaitu satu jam setelah maghrib, itu jadwalnya. Tapi kalau ngegame (baik di tablet atau PC) itu yg masih belum mau diatur. Paling kalo udah 1 jam gitu saya alihkan ke mainan lain atau kesibukan lain. Seringnya masih susah juga sih. Tapi gimana lagi kadang kewalahan mbujuknya, hehe.. *malah curhat*

    Idealnya sih ya seperti tips-tips dari mak Ida dan teman-teman di atas. Dan intinya emang ortu terutama ibu harus selalu mendampingi saat anak main/ngagame, selalu membangun kedekatan secara emosional, dan terus mendoakan anak-anak kita agar selalu dalam penjagaan dan perlindungan Allah SWT, dan agar kelak menjadi orang yang shalih/shalihah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih kunjungannya Diah...semoga bisa mendidik anak-anak dengan baik ya

      Delete
  13. tersu terang anak2 sy selalu sy untuk sering mengobrol di tempat tidur sambil bercengkerama atau bikin kegiatan bersama. Jadi mereka tahu waktu kapan mereka duduk di laptopnya kapan mereka hrs berkomunikasi dg org lain, semua tgt ortunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul banget Tira...selama ortu mau meluangkan waktu lebih banyak bersma anak, mereka semoga jauh dari gadget

      Delete
  14. WOW Keren nie artikernya
    Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
    Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    ReplyDelete
  15. anak yang ketagihan main game sebenarnya memiliki gelombang otak dan kecerdasan diatas rata-rata orang pada umumnya.
    Tinggal bagaimana caranya kita mampu mengarahkan agar anak tersebut mampu mengoptimalkan gelombang otaknya untuk meningkatkan prestasi akademiknya
    bergabunglah dengan kami di www.bakatsuper.com dan temukan rahasia ajaib otak manusia

    ReplyDelete