Monday, December 22, 2014

Religiusitas Seorang Perempuan Sederhana


“Saya sedang puasa, bu Ida...” begitu tolaknya halus saat saya menawarinya bekal makanan. Saya selalu membawa sesuatu untuk camilan saat kerja.

“Puasa apa bu? Ini kan hari Selasa?” tanyaku sambil memanggil ingatan, apakah ini ayyamul bidh atau beliau sedang menyahur hutang puasa Ramadhan. Namun tak perlu menunggu lama, beliau menjelaskan alasan puasanya.
“Si Miske sedang ujian tengah semester.Saya biasa puasa saat anak testing. Biar doanya lebih maqbul....”

Saya meneliti perempuan bertubuh padat berisi dengan penampilan yang ‘biasa-biasa’ saja ini.
Tak kelihatan bahwa beliau seorang yang religius. Memakai kerudung hanya jika mengikuti acara resmi, itupun kerudung sampir. Namun siapa sangka, beliau sangat ‘religius’?
Setidaknya keyakinannya pada kekuatan doa ibu.


Putri terkecilnya yang duduk di bangku kelas 6 SD ini adalah harapannya. Anak pertama lelaki, sudah lama bekerja tapi masih melajang juga. Anak kedua memiliki keterbatasan dalam berfikir sehingga pendidikan hanya berhenti sampai SMP saja. Anak ketiga kuliah dan sedang menyelesaikan skripsi.

Ibu ini seperti kebanyakan perempuan lain. Beliau bekerja membesarkan anak-anaknya sendirian semenjak suaminya meninggal. Si kecil saat itu baru berusia 3 tahun. Oleh karenanya sang ibu benar-benar mencurahkan cintanya pada si bungsu mengingat ia tak lagi mendapat kasih sayang seorang ayah.

Setiap habis maghrib, beliau menyempatkan menunggui putrinya membaca Alqur’an. Sejak ia masih belajar a-ba-ta hingga kini sudah fasih membaca Alqur’an. Ibunya sendiri kurang fasih, namun selalu menyimak bacaan anaknya.
Setelahnya menemani belajar, walaupun dengan terkantuk-kantuk setelah lelah seharian bekerja.

Yang lebih istimewa adalah sholat malam.
Beliau nyaris jarang melewatkan munajat untuk anak-anaknya, apalagi jika sedang musim ujian. Munajatnya menjadi lebih lama.

Seolah berjawab, Miske tumbuh menjadi gadis pintar dan gembira. Nilai akademisnya membanggakan dan selalu bersemangat belajar. Semoga demikian seterusnya.

Sudah lama saya tak berkabar lagi, namun dua tahun yang lalu kami mengunjungi beliau dan mendapat kabar putri bungsu ini sudah kuliah dan hampir lulus. Beliau masih saja ceria dan ramah.

Diam-diam saya belajar banyak pada ibu sederhana ini tentang bagaimana bersabar dan memberi dukungan membersamai anak menuntut ilmu. Setelahnya saya berusaha rajin puasa setiap kali anak ujian...namuun duuh beratnya karena saya lebih sering dalam keadaan hamil dan menyusui.

Di hari ibu ini, saya mengenangnya. Mengingat semua pesan kebaikannya yang pernah dicontohkannya. Mengingat semua resep masakan yang pernah diajarkannya: sate ayam, bolu kukus, bakwan dan pisang goreng kelapa parut....

Saya mendoakan seorang guru kehidupan yang Allah kirimkan pada saya dalam kurun waktu saya bekerja bersamanya. Semoga beliau diberi keberkahan dalam hidup dan anak-anaknya menjadi jalan surga untuknya.

Oya, semoga Allah karuniakan kemudahan hidup untuknya, seperti namanya: Yusrah.

Semoga menginspirasi untuk kita menjadi ibu yang lebih baik.
Selamat hari ibu.








Ket: Ayyamul bidh : puasa senah tengah bulan pada tanggal 13, 14, 15 menurut kalender Hijriyah.

Umrah bersama ibu ada di sini
Postingan yang bikin ibuku menangis ada di sini.

8 comments:

  1. Barakallah, bu Yusrah.

    Kisah yang sangat menginspirasi, Mak :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak alhamdulillah. allah kirimkan banyak guru kehidupan untukku.

      Delete
  2. subhanallah, tergambar sekali kalau doa dan kasih ibu sepanjang masa :)

    ReplyDelete