Sunday, July 19, 2015

Visiting Grandma


Sebuah foto yang menggambarkan ironi keluarga masa kini, banyak beredar. Diantaranya adalah foto sekelompok orang yang "visiting grandma".
Ya, mudik identik dengan menengok nenek.
Namun apakah benar-benar menengok?
Karena, seringkali yang hadir adalah fisik-fisik yang secara perhatian sibuk dengan gadget masing-masing.

Berkumpul dalam acara keluarga besar, namun semua kepala terpekur khusyuk pada benda kecil dalam genggaman. 
Sang nenek menengok ke sana-kemari dan sedikit bingung dengan prilaku anak cucunya:
"Gerangan apa yang ada dalam kotak kecil bernama smart phone itu? Yang begitu menyihir hingga melupakan esensi kunjungan hari Raya?"

credit


Hmm apakah ada juga resah dengan fenomena ini?
Atau justru menikmati?
Barangkali, perlu jam penyitaan gadget. Saat acara berkunjung, atau boleh dalam kebersamaan keluarga lainnya, seseorang mengedarkan keranjang.
Keranjang tempat semua orang menitipkan gadget mereka.
Meninggalkan dunia maya dan bersadar diri dalam dunia nyata.
Saling bincang, canda dan senyum dengan kanan kiri kerabatnya.
Mendengarkan cerita dan petuah nenek. Menertawakan kisah masa kecil keluarga, dan bukan lelucon teman grup WA.

Hmm menarik bukan.
Kembalikan kehangatan keluarga di waktu istimewa. Menyempurnakan makna silaturahmi yang sesungguhnya.
Nanti, nanti setelah selesai semua, bisa diambil lagi titipannya. Boleh bertukar pula....



Dan pada saat kami berkumpul bersama di rumah mertua,
"Anak-anak, selama acara silaturahim keluarga, semua Hp ditaruh ya. Semua bebas gadget..."
Begitu pengumuman dari salah seorang iparku. Alhamdulillah mengaplikasikan postinganku beberapa hari yang lalu.
Semua anak dan dewasa dalam berbagai usia, dengan sukarela meletakkan gadgetnya.
Suasana penuh tawa dan canda. Yang tua berbagi pengalaman, yang muda berbagi cerita dan bertanya.

Kulihat ibu mertuaku. Dalam usia senja dan banyak keriput di sekujur tubuhnya, parasnya berseri ceria.
Seolah telah hilang asma, maag, penyakit jantung dan semua derita sakit tua. Berkumpulnya anak cucu serta cicit seolah obat mujarab dan motivasi, untuk membersamai keluarga lebih lama.
"Rukun...rukun ojo congkrah..."
Itu saja yang dipesankannya.

"Eyang tahu, kalian semua sibuk. Tapi eyang inginnya selalu ada yang menengok..."
Hmm saya merasa tertohok. Mungkin jadwalku menengok sepekan sekali, tak lagi memadai. Maka sering sekali ibu mertua menelepon dan bertanya:
"Umi, sekarang sedang dimana?"
Padahal jadwal beredar sepertinya tidak kompromi.

Harus lebih pandai atur waktu lagi nih.
Sesungguhnya, anaklah yang seharusnya butuh menengok orang tua, sebagai bagian dari baktinya. Bukan saja orang tua yang merindukan anak menantu dan cucunya.


Koleksi pribadi

2 comments:

  1. Nah itu susah banget ngasih tau ABG sekarang. Biasanya saya bikin request ke yangtrinya bikin masakan macam2, terus anak2 tak suruh bantuin. Mau nggak mau mrk naruh gadgetnya. Sambil masak mereka ngobrol, nyangtrinya senang bisa melepas kangen

    ReplyDelete