Thursday, May 12, 2016

Serupa Malin Kundang


Pagi ini, tiba-tiba Revo   tentang istilah dzalim. Dia sedang di kamar mandi, saya menunggui di luaran.
"Umi, dzalim itu apa?"

Saya harus berfikir sejenak, mencari jawaban yang tepat.
"Dzalim itu jika mengambil hak orang lain tanpa izin."
"Kalau dzalim pada binatang?"
"Iya ada juga"
"Misalnya apa?:
"Misalnya, kita kan mengurung Sushi, kemudian malah enggak memberi makan dan minum. Namanya dzalim sama sushi (kucingnya Revo)."

Dia berdiam diri. Tanpa suara dari dalam kamar mandi.
"Kalau Malin Kundang, dzalim sama ibunya, kenapa?"
"Karena ia tak mau mengakui ibunya" jawabku.

Revo menimpali, masih dari dalam kamar mandi.
"Dia malu kan, sama istrinya, karena ibunya tua dan miskin!"
"Iya. Kalau umi tua dan miskin, apakah kamu akan malu punya umi?"
Tanyaku.

"Enggak, aku enggak malu. Umi kan belum tua, dan kaya"

Haha...
Namanya juga kanak-kanak.

***

Dialog pagi ini dengan Revo, mengingatkanku pada kisah sekitar 38 tahun silam.
Aku masih SD saat peristiwa serupa Malin Kundang, terjadi di kampungku.

Salah seorang pemuda yatim dari keluarga kurang mampu, merantau ke Jakarta. Entah apa yang dikerjakannya, saya masih terlalu kecil untuk memahaminya.
Yang kutahu, setelah sekian waktu, ia pulang membawa perempuan. Konon calon istrinya.
Yang memprihatinkan adalah, ia meminta seluruh keluarga besar bersandiwara untuknya.

Karena malu pada calon istrinya yang anak kota, ia mengaku sebagai anak dari tantenya, yang hidup sedikit lebih baik secara ekonomi. Tak juga bisa dibilang kaya.
Tantenya hanya tinggal  bersebelahan dengan gubugnya yang reyot. Dimana tinggal berjubel ibu dan 5 saudaranya.

Ia memanggil tantenya biasanya bulik, sekarang ia panggil mami. Calon istrinya diinapkan di rumah tantenya itu. Dan 8 anak tantenya juga harus mengganti panggilan Mamak dengan Mami.

Beberapa hari sandiwara itu menjadi pembicaraan khalayak. Beberapa orang dewasa dan anak yang penasaran, termasuk saya, datang menyambangi untuk melihat perempuan dan anak durhaka itu.
Anak yang tak mau mengakui ibu dan saudaranya.

Singkat cerita, namanya persekongkolan, rupanya tak pernah diridhoi Allah. Entah siapa yang membocorkan, maka gadis Jakarta itu akhirnya mengerti cerita yang sesungguhnya.

Ia marah dan bergegas pulang ke Jakarta, dengan menumpang bus malam. Tak jelas bagiku alasan kemarahannya.

Apakah ia tersinggung karena dibohongi. Atau kah ia kecewa, karena lelaki idamannya berasal dari keluarga miskin. Bahkan sangat miskin.

Sekali lagi, saya terlalu kecil memahami kerumitan itu. Mengapa seseorang tega berbuat demikian pada keluarganya sendiri.

Banyak orang mencibir dan cerita ini menjadi buah bibir.
Di pasar, di warung atau di kebun. Bahkan tak habis menjadi bahan cemohan dan tertawaan di siang dan sore hari saat perempuan yang kurang kerjaan berkumpul sembari mencari kutu atau menyuap anak bayinya.

Adapun pemuda desa itu, karena malu, pergi lagi entah kemana. Saya pun tahu kabar selanjutnya bertahun kemudian. Hidupnya tak juga membaik.

Apakah kini masih ada kisah serupa Malin Kundang?
Wallahu a'lam..

6 comments: