Wednesday, September 25, 2013

MERAWAT JIWA




Suatu hari aku mengunjungi sebuah sekolah dasar. Saat asyik berdialog dengan Kepala Sekolah, terdengar sedikit kehebohan. Anak yang berteriak-teriak dan meronta. Suara pintu berdebam ditendang kaki si anak di sela teriakannya. Lalu beberapa bujukan guru mencoba menenangkan. Seorang ibu guru memangku anak yang masih menangis keras.

Kepala sekolah menyebut nama anak itu. Beliau langsung tahu tanpa harus menengok siapa yang menangis. Aku berdiri dan melongok keluar jendela. 
" Sudah beberapa kali, atau malah cukup sering..."
" Kira-kira sebabnya apa bu...?"
" kalau menurut hasil konsultasi dengan psikolog, pola asuh yang diterapkan ibunya. Karena kakaknya juga berperilaku serupa. Sepertinya adiknya juga berpotensi demikian..."
Aku membayangkan ibunda anak itu. Satu dua kali aku pernah bertemu, seorang perempuan cantik, sangat cantik malah, pintar dan kaya. Terdidik tentu, karena dosen di sebuah perguruan tinggi. Hmm apakah benar masalah pola asuh...?
Aku tak dapat menyimpulkan tanpa fakta.
" Apakah orang tuanya tahu masalah ini...?"
" Tahu bu, kami sudah beberapa kali dialog. kalau versi orang tuanya dia di rumah anak manis....namun dilacak di TK dulu ternyata sudah terjadi hal serupa ini "
" Kalau sebab pemicu kemarahan anak ini apa bu ?"

Waah kok jadi wawancara.

Sungguh bukan sekedar ingin tahu, aku meniatkan diri menjadi pengamat pendidikan anak, agar aku menjadi praktisi yang belajar dari situasi seperti apapun.

" Masalah sepele saja bu. Kadang ia tak bisa menerima konsekwensi dari kesepakatan atau tersinggung oleh temannya ..." Jelas kepala sekolah.


Aku jadi ingat beberapa kasus anak yang sulit dan orang tuanya berkonsultasi padaku. Ada yang menolak makan dan minum. Orang tuanya menjadi direpotkan oleh anak TK besar ini dari sejak ia bangun hingga ia tidur lagi. Bahkan orang tuanya tak punya waktu kecuali saat ia berada di sekolah. Setelah saya gali, masalah justru ada pada ibunya. 
Atau anak belum berusia tiga tahun yang sering mengamuk dan tak jelas maunya, sehingga sering dimarahi oleh orang tuanya. Apalagi saat ia punya adik,tingkah lakunya semakin menjadi. Sekali lagi, masalahnya ternyata ada pada kedua orang tuanya.
Kata rekanku yang ahli Psikiatri, kadang saat menangani satu klien, sesungguhnya ia menangani beberapa klien sekaligus. Misal seorang ibu yang membawa anak gadisnya yang stress berat. Ternyata dari penggalian sang psikiater, penyebab sress adalah sikap, pola asuh dari orang-orang terdekatnya. Jadi yang seharusnya diterapi bukan saja klien, tapi juga ibu dan bapaknya.
Dalam sebuah keluarga tentu saja semua saling berhubungan. Apalagi antara orang tua dan anak. Kesalahan dalam pola asuh, ternyata berpengaruh besar pada karakter dan kesehatan jiwa anak.

Kesimpulan saya adalah : mari merawat jiwa anak yang menjadi amanah Allah, dengan memulai dari merawat jiwa kita sendiri.
Agar tidak menyesal di kemudian hari.

Silahkan berbagi pengalaman anda , cara merawat jiwa ini......

No comments:

Post a Comment