Wednesday, October 9, 2013

BUKAN BU MUSLIMAH-NYA LASYKAR PELANGI (Mengenang pak Diyatmo)

Langit , suatu ketika
Orangnya tidak terlalu tinggi, badannya cukup berisi, tapi tidak gemuk. Rambutnya lurus, bahkan terlihat kaku, hingga sering memerlukan pomade (vaslin rambut) untuk merapikannya. Kulitnya coklat terang, dengan wajah oval dan kumis yang khas.
Pak Diyatmo namanya. Guru SDku di SDN 3 Wonogiri.
Aku sangat terkesan dengan beliau karena beliau mengajarku sejak masa yang bisa kuingat, yakni kelas 2 SD, hingga kelas 6. Pernah menjadi wali kelasku di kelas 6.
Pak Diyatmo tidak sebagaimana guru yang lain, yang seringkali apa adanya. Beliau sedikit nyeni atau nyastra. Mungkin ini yang membuat aku  memiliki kenangan tersendiri.
Pada masa itu, guru SD modelnya adalah guru kelas. Guru kelas mengajar beberapa mata pelajaran. Hanya beberapa pelajaran yang diajarkan oleh guru lain seperti : olah raga, seni lukis, agama.


Pak Diyatmo mengajar beberapa pelajaran, yang kuingat adalah saat beliau mengajar bahasa Indonesia. Begitu mengesankan.
Beliau kadang menyuruh kami membaca berita, berpura-pura sedang menjadi penyiar televisi dengan membaca teks cerita dalam buku paket ajar. Beliau mengajari artikulasi,  intonasi, gaya membaca dan menyuruh kami membaca bergiliran.  Mengarang adalah pelajaran yang kusukai.
Seringkali beliau memotivasi para muridnya untuk menulis puisi. Bahkan kadang terkesan memaksakan, lantaran kita semua diberi tugas menulis puisi tentang apa saja. Dari puisi yang dikumpulkan para siwa, beliau akan memilih yang nampaknya bagus dan beliau sendiri yang mengirimkan ke Koran atau Majalah.
Puisiku pernah dianggap cukup baik, aku sendiri sudah lupa yang mana, saking kerapnya disuruh membuat puisi. Namun ketika dikirimkan  ke media cetak, tidak dimuat. Yang sempat dimuat adalah karya seorang temanku. Kuingat namanya Sabilarrosyad. Aku mengingatnya lantaran tak seorangpun menduga ia bisa membuat puisi pendek yang sangat menarik. Sabil tipe anak pintar culun yang kurang gaul. Kadang kita kerjain karena keluguannya, sedikit aneh bahwa ia ternyata nyastra juga. Entah jika ia membaca ini, ia ingat atau tidak.
Puisi ini lantaran dianggap istimewa, sampai pak Diyatmo membacakannya di depan kelas berulang-ulang dengan penuh ekspresi dan pujian. Begini puisinya kalau aku tidak salah ingat :

Salah satu eksotisme semak di Gunung purba Nglaren


















Di bawah pohon

….ssss sejuknya
…..ssss segarnya
Bila duduk di bawah pohon

Begitu saja. Pendek. Singkat. Jelas. Namun bermakna. Lebih-lebih karena pak Diyatmo membacakannya dengan merem melek seolah sedang ngisis di bawah pohon saat terik matahari.
Kembali tentang pak Diyatmo. Ada satu hal yang kusesali dari kebersamaan dengan beliau. Pernah ketika aku kelas 5 SD, ada pemilihan Bintang Pustaka. Yakni siswa yang akan mewakili sekolah dalam lomba penguasaan buku-buku perpustakaan. Rupanya pak Diyatmo cukup memperhatikan bahwa aku penggemar buku dan suka bersempit-sempit di perpustakaan sekolah kami yang sangat sempit. Aku suka membaca di perpus yang terletak di dalam kantor guru dan bersebelahan dengan UKS. Perpus yang hanya terdiri dari 1 rak buku. Beliau menunjukku untuk mewakili sekolah maju dalam lomba Bintang Pustaka. Tapi aku menolaknya. Aku tidak PD mengikuti lomba. 
Akhirnya seorang adik kelas yang juga putra dari kepala sekolah SMPN di kotaku yang ditunjuk untuk mengikuti lomba. Dan kalah. Itulah momen berharga yang kusesali karena pernah kulewatkan. Namun mungkin memang demikian perjalanan yang harus kulalui. Sebenarnya aku sedih lantaran melihat kekecewaan guruku tercinta itu. 

Beliau juga motivator yang mampu memunculkan bakat terpendamku. Misal saat acara Kartinian, ada lomba melawak. Beliau meminta aku dan seorang temanku mengikuti lomba tersebut. Aku dan Elva, sohibku mempersiapkannya dengan serius. Kami membuat naskah sendiri dan berlatih beberapa kali. Tanpa ada yang membimbing. Ternyata  grup duo ini memenangi juara satu ha ha ha..jadi dalam keseriusanku ternyata ada juga bakat humor.
Sisi lain, beliau memang cukup  humoris, suka bercanda walau kadang keterlaluan. Misalnya suka memanggil nama muridnya dengan sembarang nama. Memang lucu, tapi kadang yang bersangkutan jengkel karena nama yang digunakan biasanya nama –nama yang terkesan ndeso.
Beliau suka mengupas dan mengartikan nama-nama.
“ Kalau anak  desa itu namanya biasanya berakhiran i…. sumi, tini, sri, kemi, yuni, yani… Kalau anak kota itu berakhiran konsonan a, seperti  Ida, Elva, Diyah….”
Kami semua tertawa, karena senyatalah kami sama-sama dari desa.

Jika memberi nasehat, bagiku sangat berkesan. Misalnya beliau pernah bertanya:
“ Siapa yang rajin minum susu…?” aku termasuk yang mengangkat tangan diantara sedikit temanku yang mengangkat tangan.
“ Susu itu bagus untuk otak kalian. Kalian akan tidak mudah lelah belajar jika rajin minum susu…ayo yang lainnya mulai sekarang yang rajin minum susu ” begitu pesannya. Maka hingga kuliah, aku terus saja minum susu.
Beberapa teman mengguman lantaran orang tuanya tidak mampu membelikan susu.
Beliau juga yang mengajari sikap duduk yang baik, jarang pandang saat menbaca buku sejauh 30 cm. tidak boleh membaca sambil tiduran dsb. Semua itu selalu kuingat….walaupun kadang tidak kupraktekan, terutama dalam hal larangan membaca sambil tiduran.

Kenangan terakhir adalah saat perpisahan kelas. Hari terakhir kami dikelas enam. Setelah pengumuman kelulusan dan selesai tetek bengek administrasi, kami habiskan waktu dengan bernyanyi bersama pak Diyatmo.
Angkatanku mungkin kurang beruntung lantaran tidak ada pesta perpisahan sekolah. Biasanya SD Negeri  seperti  sekolah kami dengan dana yang terbatas, tidak setiap tahun bisa mengadakan pesta perpisahan dan wisuda. Biasanya beberapa tahun sekali acara besar itu digelar. Kuingat biasanya kami meminjam aula SMAN I yang terdekat dan cukup luas.
Namun begitulah, giliran angkatan kami, giliran tidak dirayakan.
Sebagai walikelas, sepertinya pak Diyatmo sangat menyayangkan hal itu. Sehingga hari terakhir kami, hanya dilewatkan di kelas. Kepala sekolah memberikan ucapan selamat dan pesan-pesan. Lalu ada wakil siswa yang menyampaikan kesan pesannya dan ucapan terimakasih untuk para guru.
Lalu kami bertukar kado silang berisi makanan sebagai hidangan perpisahan.
Isinya juga hal yang sangat biasa lantaran harga yang dipatok hanya beberapa ratus rupiyah. Bahkan kami saling mengerjai dan menertawakan  kesialan jika ada teman yang membuka kadonya dan mendapat makanan yang kurang  favorit seperti marning atau berondong, bahkan krupuk.

Sepertinya pak Diyatmo tidak ingin melewatkan waktu terakhir kami berlalu  cepat. Beliau mengajak kami bernyanyi bersama, aneka nyanyian. Mengajak kami melakukan pentas spontanitas untuk bergembira sesaat. Beliau juga menanyakan tentang cita-cita kami. Kebanyakan temanku mengatakan ingin menjadi guru. Termasuk aku. Sampai beliau memberi nasehat bahwa sekalipun guru itu profesi mulia, namun masih banyak profesi yang lain. Maka ketika semua ditanya ulang tentang cita-cita, kamipun banyak yang berubah cita-cita. Namanya juga anak-anak.
Selebihnya kami bernyanyi-nyanyi.
Sampai sekarang aku masih ingat syair dan nada yang kami nyanyikan secara bergelombang dalam beberapa nada.
“ SD tiga kuu… sd tiga kuu… SD tiga kuuuu …SD tidakuu….”
Demikian kami nyanyikan berulang-ulang. Kadang hanya dengan mmmm tanpa menyanyikan syairnya, hingga bibir-bibir kami bergetar  dan kali terpingkal-pingkal bersama. Seperti tak ada jarak antar guru dan murid.
Sederhana sekali ya, tapi karena sederhananya, jadi mudah untuk kukenang.
Terakhir beliau menyampaikan renungan dengan mata yang berkaca-kaca. Beliau memesankan hal-hal tentang akhlaq yang baik. Lalu kami saling bersalaman bermaafan sebagai akhir dari kebersamaan kami di SD. Kami menangis cukup lama hingga pulang dengan mata yang sembab.
Namun sebagaimana anak-anak yang mudah beralih suasana, dalam perjalanan pulang, kami sudah tertawa-tawa lagi.


Begitulah yang kuingat tentang salah seorang guruku. Beliau sangat menginspirasiku. Hingga kini, aku suka menulis cerita dan menikmati puisi, diantaranya karena pak Diyatmo. Kusadari betapa kuat pengaruh seorang guru pada murid, seperti yang kukenang dari pak Diyatmo. Walaupun aku tak bisa menceritakan beliau seperti cara Andrea Hirata mengagumi bu Muslimah dalam Lasykar Pelangi, namun tak akan kulupakan jasa pak Diyatmo.
Terimakasih guruku. Semoga menjadi bagian dari amal sholihmu. Kudengar beliau telah berpulang. Semoga mendapat tempat yang layak di sisiNya.

No comments:

Post a Comment