Tuesday, October 8, 2013

MENGATASI KONFLIK DALAM RUMAH TANGGA



Dalam beberapa kesempatan, saya mendapati ibu-ibu yang mengeluhkan suaminya secara terbuka. Baik kepada saya di forum formal dan non formal, maupun saat saya menyaksikan acara siraman rohani di TV.
Mengantisipasi penyampaian di forum formal, seringkali saya membuat rambu-rambu pertanyaan. Misalnya begini :
1.      Dalam bertanya tidak boleh menunjuk nama, atau menyebutkan suami saya, atau anak saya, karena itu akan tidak mengenakkan apalagi jika menyangkut aib.
2.      Jika menyangkut aib yang berat, mohon untuk bertanya secara pribadi di luar forum.
Alhamdulillah pertanyaan menjadi bisa dikontrol dan tak ada acara mengumbar aib di depan orang banyak.
Dalam forum informal, jika ada yang mengeluh di depan orang banyak, akan saya ingatkan dengan halus. Lain halnya jika mengeluh dalam sessi konsultasi, maka ada nasehat standar  yang akan saya sampaikan. Misalnya begini :
“ Apakah ibu sudah menyampaikan keluhan ibu pada suami ? dengan cara yang baik tentunya...” Ternyata  ada juga para istri yang sebenarnya menyembunyikan atau belum menyampaikan hal yang ia keluhkan pada suaminya. Jika memang sudah menyampaikan, akan saya lanjutkan dengan pertanyaan :
“ Apa yang sudah coba ibu lakukan terhadap masalah ini ?”
Karena jika saya langsung memberikan saran-saran, ternyata ada yang sudah berupaya melakukan banyak hal.
Kemudian, saya akan sampaikan :
“ Menurut ibu, lebih mudah mana merubah orang lain atau merubah diri sendiri ?”
Biasanya mereka akan menjawab : Merubah diri sendiri lebih mudah dari pada merubah orang lain.
Tentu saja setengah benar setengah  kurang benar. Lho kok ?
Merubah diri sendiri mudah jika yang bersangkutan mau menyadari kesalahan dan mau berusaha merubah. Menjadi sulit jika susah untuk disadarkan bahwa yang bersangkutan punya andil kesalahan. Karena dalam konflik suami istri tidak ada satu fihak 100% benar dan fihak lain 100% salah. Pasti ada andil kesalahan walaupun prosentase bergeser dari satu waktu ke waktu yang lain.
Namun merubah orang lain juga tidak mudah karena orang lain tidak dalam kendali kita. Begitulah. Maka saya akan mengajak para klien untuk mencoba memperbaiki situasi dengan merubah diri sendiri dahulu. Bukannya memulai dengan menuntut orang lain  yang berubah.
“ Kadang apa yang terjadi pada kita atau yang kita alami adalah cermin dari prilaku kita sendiri tanpa kita sadari....”
Mungkin mudah ya saya mengatakan. Orang mungkin mengatakan : Ibu tidak pernah mengalami apa yang saya alami. Ibu punya suami yang baik-baik saja...
Ehm. Bukankah Allah menjanjikan jodoh sesuai dengan kualitas kita. Apakah tiba-tiba saja suami saya atau saya pribadi, menjadi baik dan pola hubungan kami menjadi nyaman begitu saja. Itu bukan sesuatu yang given. Saya tak perlu menceritakan bunga-bunga dan kerikil  dalam pernikahan kami. Ringkasnya bahwa kemauan untuk merubah diri, selalu bersikap positif dan bermohon petunjuk Allah untuk dikaruniai kecerdasan memilih cara dan sikap terbaik saat menghadapi riak ataupun badai, itu yang menjadi kunci apakah kita akan lolos dalam ujian atau tidak.
Masalah dalam rumah tangga adalah kemestian. Bahkan masalah adalah kemestian dalam hidup. Tinggal bagaimana kita menerima dan berdamai dengan masalah itu untuk dapat menjinakkannya bahkan menjadikannya kuda tunggangan untuk meraih harmoni dalam cinta yang semakin tumbuh subur. Semua pil pahit dalam rumah tangga, bisa diolah menjadi pupuk yang menyuburkan, jika ada kemauan untuk berusaha tentu saja. Dan itu dimulai dari diri sendiri.

Rahasia manajemen konflik yang selanjutnya adalah : janganlah cepat mengeluh terhadap apa yang dialami. Terutama untuk para wanita yang suka curhat. Tahanlah masalah dalam diri anda sendiri. Adukan hanya pada Allah karena itulah batas kesabaran. Sambil instrospeksi dan cooling down. Terus berdoa, mendekat dan bermunajat pada Allah .
“ Jika anda punya masalah dengan orang lain, maka yang pertama : Periksalah dulu hubungan anda dengan allah. Apakah anda punya masalah dalam hubungan dengan Allah. Apakah anda telah membaguskan hubungan dengan Allah...?”
Silahkan untuk dijawab.
Lalu jika  anda harus mengeluh dan mencari solusi, carilah orang yang tepat. Orang yang amanah, sudah berkeluarga, jika anda perempuan, carilah konsultan yang perempuan atau ustadzah. Demikian pula jika anda laki-laki, carilah yang sesama laki-laki. Ini untuk menghindarkan fitnah. Saya menemui beberapa kasus, saat seseorang curhat dan meminta solusi pada lawan jenis, apalagi yang tidak punya kompetensi, yang terjadi justru menambah masalah baru. Lain kali saja saya cerita tentang masalah baru ini.
Intinya jika masalah itu harus sampai pada orang lain, maka harus dipastikan tidak menambah masalah baru, tidak menyebarkan aib, tidak sekedar memuaskan diri, namun bagian dari solusi.
Demikian ya. Semoga anda dan saya mendapat manfaat dari sarapan pagi ini. Dan semoga anda yang ingin bertanya sudah menemukan solusi dari tulisan ini.


Selamat pagi, selamat beraktivitas. Bismillah memulai hari dengan optimisme. Meraih cinta Allah dan menebarkan cinta untuk keluarga dan sesama. Dimulai dari merubah diri.
Mari berusaha bersama.


5 comments:

  1. Subhanalloh, mencerahkan sekali ibu.maturnuwun :)

    ReplyDelete
  2. Bermanfaat sekali tulisannya Mbak, salam kenal :)

    ReplyDelete
  3. salam kenal kembali Oci YM. Terimakasih sudah berkunjung. Terimakasih juga buat Istiq PS yang sudah berkunjung dan komen.

    ReplyDelete
  4. Artikel ini bisa diikutkan dalam Give Away-nya mbak uniek nih. Link-nya ini umi, brangkali berkenan ^^ http://uniek-kaswarganti.blogspot.com/2013/09/giveaway-10th-wedding-anniversary.html

    ReplyDelete
  5. o iya makasih infonya mbak Ika Koentjoro, coba deh...belum pernah ikuta GA...

    ReplyDelete