Thursday, October 17, 2013

PENGANTIN YANG MELARIKAN DIRI

Masa kecil Sushi imut
Dua kucing kami, Sushi dan Max. Penampilan mereka sungguh menipu, Sushi si kucing cewek usia 9,5 bulan, berbulu abu-kuning layaknya kucing kebanyakan. Namun wajah imut dan bulu panjangnya yang indah menjadikannya istimewa. Sushi sangat lincah, berlarian kesana kemari dan suka melompat. Beberapa kali punya riwayat kabur, menjelajah genting tetangga.

Adapun Max adalah  kucing cowok dengan usia yang sebaya Sushi. Penampilannya justru kalem dan anggun dengan bulu putih mulus yang indah. Ekornya panjang dan lebat. Max cukup malas sebagai kucing jantan. Kerjanya duduk duduk dan lebih sering tidur mendengkur. Orang yang tidak mengenal mereka seringkali mengira Max sebagi Sushi dan Sushi sebagai Max.


SEnin, tanggal 14 Oktober 2013.
“ Sushi sepertinya sudah ingin nikahan nih...” kataku pada Azka sebagai owner 2 kucing.
Hari itu Sushi menampakkan tanda-tanda sudah siap kawin. Tiba-tiba saja ia tidak seperti biasanya yang suka berlarian. Ia hanya mengeong lirih sambil mendekam dan menungging. Dua hari sudah perilaku Sushi demikian, namun si Max sepertinya tidak faham juga. Ia tetap cuek dan melanjutkan hobi tidurnya. Tentu saja kami tidak bisa memaksa Max untuk segera menikahi Sushi...heheh...

“ Gimana kalau kita carikan pejantan yang siap ?” kata Azka.
Max malas-malasan
Ingat akan tawaran teman umrahku, ibu Tintin, untuk menjodohkan kucing, maka aku mengontaknya. Alhamdulillah dapat respon baik. Maka dua hari kemudian kami antarkan Suhsi menjadi pengantin.Dalam perjalanan semua baik-baik saja. Sushi tenang di mobil, menjelajah atau duduk-duduk manis.

Sampai di rumah bu Tintin, kami bawa Sushi dan melepasnya ketika telah tenang. Ichiro si calon pengantin cowok, adalah kucing putih serupa Max. Ichiro juga seperti Max, sedang tidur di bawah kursi saat kami datang.

Pertama didekatkan, Sushi langsung mendatangi Ichiro. Namun setelah dekat, tiba-tiba ia mendesis marah dan berlari menjauh. Mungkin ia takut mengenali bahwa kucing putih itu bukan Max. Sushi masuk ke kolong sofa dan tidak mau keluar lagi hingga kami pulang.

Adapun ichiro, mengetahui ada pendatang baru, ia segera mendatangi keranjang dan tempat makan Sushi. Setelah puas membaui, ia menandai keranjang dengan kencingnya. Kemudian itu ia mendatangi Sushi,  menunggui dengan sabar dibelakang sofa, berharap Sushi mau keluar berkenalan dengannya.

Sore harinya kami meng-up date data tentang Sushi. Konon Sushi sudah mau keluar, tapi belum mau makan. Esoknya Sushi sudah baik, bermain biasa, tapi masih galak kalau didekati Ichiro. Mereka hanya berpandangan dalam jarak yang aman. Menurut bu Tintin, sepertinya masa kawin Sushi sudah lewat. Mengengar kabar itu, kami memutuskan untuk mengambil Sushi pada hari ke tiga.

Apalagi melihat bagaimana Max panik, tidak mau tidur-tidur tapi sibuk menjelajah seluruh pelosok rumah untuk membaui keberadaan Sushi. Max juga sering mengeong dan mogok makan. Aneh ya...padahal jika ada Sushi, ia hanya cuek dan  tidur saja.  Oleh banyak alasan itu, kami janjian untuk menjemput Sushi di siang atau sore hari. Mungkin begitulah prilaku para bapak, sepertinya cuek pada istri, tapi jika tidak ada akan dicari sampai ke pelosok bumi.

Hari ke tiga, jam 6 pagi. Bu Tintin telepon dengan panik.
“ Sushi kabur.....!”  
Kronologinya, Sushi dan Ichiro yang sudah akrab bermain kejar-kejaran. Mungkin pdkt gitu. Bermainlah mereka hingga ke teras. Teras telah dibuat aman dengan ditutup semua lubang. Saat tuan rumah masuk  sebentar, tak lama kemudian Ichiro masuk dan mulai duduk tenang sendirian. Menyadari tidak ada Sushi bu Tintin panik dan menelepon kami.

Anak-anak segera melesat ke TKP yang jarak tempuhnya sekitar 30 menit dari rumah kami. Azka, Dija dan Hamda  tidak sabar untuk segera terlibat dalam pengejaran pelarian sushi. Mereka membawa beberapa mainan kesukaan Sushi.

“ Kalian tidak usah cemas, Sushi pasti ditemukan...” pesanku pada Azka yang akan menyetir. Jam padat melintasi Jogja, aku khawatir jika ia menyetir dalam keadaan panik.
Kami menyusul setengah jam kemudian untuk membantu pencarian. Sepanjang perjalanan aku membaca dzikr maktsurat dan banyak bersalawat. Kupikir boleh gak ya aku bersalawat agar kucing kami ditemukan....ah Allah Maha Tahu.
Sampai di TKP kami mendengar kronologi ulang. Lalu berpencar. Aku menyambangi pekarangan kosong persis di sebelah kanan rumah ibu Tintin. Pekarangan itu hanya berisi semak belukar. Kupanggil Sushi dan kusisir pekarangan, tapi hasilnya nihil.

Mulailah aku menisir memutari komplek perumahan. Bahkan hingga ke kebun kosong di sebelah perumahan yang menghubungkan dengan kampung. Kutemukan empat ekor kucing dan bukan Sushi.
Kembali ke rumah bu Tintin. Kami berkumpul dan mengevaluasi.

“ Sushi tak mungkin pergi jauh. Biasanya jika lari keluar rumah, ia hanya makan rumput lalu sembunyi di semak-semak...” kataku. Bersepakatlah kami untuk menempuh jalur jalur pencarian dengan kertas pengumuman. Azka, Dija dan Hamda pergi ke warnet untuk membuat pengumuman kehilangan yang akan kami tempel di beberapa tempat. Warung soto, seperti pesan bu Tintin, karena 3 kali Ichiro kabur, ditemukan melalui pengumuman di warung soto. Dan beberapa tempat lain.

“ Bang Difa...” tiba-tiba driverku berseru dari di pekarangan kosong samping rumah bu Tintin. Difa melesat ke sana.
“ Ini ada kucing besar seperti Max...Max apa bukan ya ?” kata Darojat bercanda. Ternyata...
“ Sushii...” teriak Difa sambil menggendong Sushi. Kami semua berkerumun dan berteriak senang. Darojat melongo.

“ Kukira Sushi itu yang bulunya putih, dan ini si Max yang abu-abu!” katanya polos.
Oalah...jadi tadi ikut muter-muter tapi dia tidak juga mengerti yang mana yang dicari. Bahkan saat meilhat Sushi, ia tidak tahu bahwa itu adalah Sushi. Makanya ia bercanda memanggil Difa dan bertanya apakah Max mungkin sampai ke situ. Tentu saja tak mungkin lantaran Max aman nun jauh di rumah kita. Tapi alhamdulillah dia punya selera humor. Seandainya ia menganggap yang mendekam di bawah semak itu adalah kucing lain, dan tidak memanggil Difa, mungkin Sushi tak kita temukan.

Tidurr....purr...purrr
Dalam perjalanan pulang kami ramai mengarang cerita: Sushi menolak kawin paksa. Sebenarnya Sushi naksir Max dan berharap berjodoh dengan Max. Ia sangat kecewa ketika dijodohkan dengan Ichiro yang sudah kakek-kakek. Ibarat anak SMP mau dinikahkan paksa dengan kakek tua. Sushi pilih melarikan diri dan bersembunyi daripada menikah dengan Ichiro. Bahkan seleranya langsung padam saat bertemu ichiro. Ha... ha... ha...

Akhirnya kami bawa pulang Sushi dengan kelegaan dan kegembiraan. Walaupun perjodohan dengan Ichiro gagal, namun kami senang karena Sushi telah ditemukan. Kini kami melihat Shusi dan Max berbaring baring berdua. Makan berdua. Jika Sushi sedang menjelajah, Max segera mencari. Saat telah melihat dan memastikan posisi Sushi, Max akan berbaring dan tidur lagi dengan tenang.

Kehidupan telah kembali seperti semula. Semoga jika besok Sushi siap nikah, Max juga telah siap melamarnya. Semoga ya, agar tak perlu ada cerita kawin paksa di jaman modern ini.

12 comments:

  1. hahaha... aduh kasian sushi disuruh menikah dngn pria yg tidak dia cinta #runaway bride :D

    ReplyDelete
  2. hehe...tuan punya rencana...ternyata kucing yang menentukan...makasih ya sudah mampir....rita dewi

    ReplyDelete
  3. ahaha...lucu, kucing juga punya perasaan, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. ternyata juga punya selera, Sushi nggak mau dengan yang tua bangka

      Delete
  4. Ya ampun Ibu, saya ketawa ngakak baca tulisan ini,,,, lucuk...:)

    ReplyDelete
  5. saya yang nulis juga ketawa. now sushi dan max sangat akurr.

    ReplyDelete
  6. hihihihi...kisah cinta yang lucuuu...kucingnya cakep=cakep maaak :D...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak...tunggu seri selanjutnya tentang cinta segitiga

      Delete
  7. hihihihi...kisah cinta yang lucuuu...kucingnya cakep=cakep maaak :D...

    ReplyDelete
  8. Ya mak indah...setelah acara melarikan diri itu...sushi lari sekali lagi...hehe "gadis binal" julukan untuk sushi...

    ReplyDelete
  9. Hihi lucu sekali....seperti siti nurbaya yg mau dijodohkan dg datuk maringgih ya mak....hihi...mesam mesem mbacanya mak Ida....

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ternyata kami juga pelaku kawin paksa...

      Delete