Monday, June 9, 2014

Liburan = Saat untuk Khitan?



"Jadinya kapan nih mau janjian khitan?"
"Hari pertama libur saja..."
"Ah kan butuh persiapan...gimana kalau hari ke dua?"

Haha...aku tertawa saja melihat komunikasi para bunda melalui grup Whats App kelas Revo. Memang pembicaraan itu sudah ada saat saya menyampaikan tentang pendidikan seksual untuk anak di pertemuan POMG bulan lalu.
Rencana khitan bersama mungkin akan membuat anak-anak punya nyali....semoga ya.

Mengapa saya menulis ini?

Gegara seorang bunda request untuk sharing pengalaman menghitankan anak. Yah anak lelakiku 3 orang, sudah khitan semua alhamdulillah.
Bagi sebagian orang tua, acara mengkhitankan anak bagai mimpi buruk yang wajib dialami. Tapi namanya mimpi, pastilah segera berlalu, walaupun saat mengalami terasa mengerikan dan lamaa...


Oke saya mulai saja kisah saya.
Saat khitan, anak lelakiku terbesar, si nomer 3 duduk di bangku SD klas 1, kira-kira umurnya 7 tahun. Beberapa  mahasiswa UIN tetanggaku sedang panik karena mereka menjadi panitia khitanan masal dan kekurangan peserta. Mereka adalah takmir masjid yang lumayan bergengsi karena terletak di sebuah komplek perumahan perwira dan donaturnya para purnawirawan pejabat militer.

Naah mereka menemukan anak-anakku dan membujuk untuk memenuhi kuota dengan berbagai iming-iming fasilitas yang memang 'menguntungkan'...#halah si emak matre.

Niatnya sekalian mumpung gratis, dapat tas, sepatu, baju, sarung, plus uang saku yang cukup besar. Ya, saya mau saja. Waktu itu memang statusnya masih kontraktor, jadi pantes sajalah ikutan khitanan masal haha...
Masalahnya muncul karena si nomer 3 sasaran utama tidak mau. Jadi ada PR tambahan acara pembujukan.

"Kak, besok ikutan khitanan ya..."
"Enggak mau takuut...!'
"Anak laki-laki kan memang wajib dikhitan. Itu sunnah Rasul lho. Biar sehat dan bersih kalau bersuci..."
"Enggak!"
"Ada pahalanya lho...lagian kalau sudah besar besok maluu dong"

Ia mulai mikir-mikir.
"Betul lho, enakan waktu masih kecil pas liburan begini, rame-rame jadinya senang banyak temannya....besok boleh minta hadiah kok..."
Setelah negosiasi, ia mulai membuat penawaran.

"Aku mau kalau adik juga dikhitan..." ia tidak meminta hadiah apapun, tapi syaratnya itu alamak...!

Adiknya belum ada dua tahun. Baru 1,5 tahun malah. Setelah diskusi dengan suami dan minta advis teman dokter, kami bulat tekat untuk juga mengkhitan si adik pada usia 1,5 tahun itu.

Jadilah beberapa cerita seputar khitan kami sampaikan ke kakak untuk persiapan mental. Kalau si adik belum ngeh, jadi nanti sajalah. Bapaknya menceritakan berbagai cerita khitan, pengalaman pribadi maupun pakdenya anakku.

Kami khawatir pada hari H si kakak akan berubah fikiran jika tidak dibekali dengan pemahaman yang kuat. Kurang positifnya sunatan masal adalah saat menunggu giliran dan melihat anak lain meraung-raung...bisa menciutkan nyali dan menjadikan anak mundur.

Pada hari H, ada upacara dulu, pengarahan umum untuk orang tua, lalu doa bersama dan mulailah jeng...jeng...

Saat menunggu giliran, panitia menghibur anak-anak dengan cerita menarik oleh seorang pendongeng yang piawai. Namun namanya juga anak-anak, tetap saja mereka pecah konsentrasi mendengar teriakan-teriakan yang dapat giliran duluan.

Senangnya jika ada yang keluar dari ruang operasi dengan senyum-senyum tanpa air mata. Karena jadi contoh baik dan menyenangkan bagi anak lain. Lah giliran yang heboh dan pakai acara melarikan diri...tahulah sendiri apa akibatnya bagi para pengantri...

Tiba giliran, si kakak memang panik dan sempat berkata untuk tidak jadi saja...namun saya mengatakannya bahwa ditunda juga akan sama saja, jadi kita hadapi bersama saja...

Saya memeluknya erat untuk menutupinya dari petugas yang melakukan sirkum sisi.Ia sempat menangis sebentar lalu tidak lagi. Hingga di rumah ia tidak lagi menangis, hanya ketakutan masih saja membayang di wajahnya.

Adapun si adik, sempat meronta dan menangis...namun sungguh cepat pula pulihnya. Bahkan sampai di rumah perbannya langsung lepas, sehingga saya harus memasangnya.

Sore dan malamnya si kakak heboh. demikian pula setiap kali akan pipis atau pup, atau akan ganti perban. Waah teriakannya heboh. Kami juga harus mengipasi lukanya karena ia merasa kepanasan.

Selama lima hari paling tidak si kakak cukup rewel. Ia tidak mengijinkan siapapun melihat luka khitannya. Hanya ayahnya yang boleh menolongnya. Karena ayahnya tidak berani merawat luka, jadi saya mengganti perban saat ia tertidur.

Menggantinya dengan sangat hati-hati agar ia tidak terbangun. Mula-mula saya mengompresnya dengan revanol agar perban yang lekat dapat lepas dengan mudah, lalu melepaskannya sedikit-demi sedikit super hati-hati.

Kadang ia terbangun dan marah-marah, jadi saya akan menundanya sampai ia tertidur lagi. Alhamdulillah berhasil walau dengan susah payah. memasang perban baru yang sudah dilumuri obat, jauh lebih mudah daripada acara melepas perban lama.

Adapun si adik kecil, sesekali rewel, namun tidaklah serewel kakaknya. Ia sedang belajar jalan dan berlari saat itu. Keasyikannya menjelajah telah melupakannya dari rasa sakit.
Saat itu kesimpulan saya, lebih mudah menangani anak yang khitan saat masih kecil, karena tidak terlalu banyak rewel.

Nah di bungsu Revo, alhamdulillah dikhitan saat berumur 2 tahun. Situasinya saat itu ia membutuhkan operasi karena ada bisul di mata. Karena harus bius total, dokter menyarankan untuk sekalian sircumsisi. kami menyetujuinya. Jadi ia mengalami tiga operasi sekaligus. Membuang bisul di mata, khitan dan membuang tanda lahir kecil di telinganya.

Sesekali memang ia rewel, namun alhamdulillah kami sudah lebih berpengalaman menangani. Apalagi saat itu di RS, jadi ada dokter dan perawat untuk mengontrol.Kami baru pulang setelah sekitar lima hari di RS. Alhamdulillah semua aman terkendali.

Naah untuk bunda yang ingin memanfaatkan liburan untuk mengkhitankan anak, mungkin bisa dipertimbangkan beberapa hal berikut.

1. Komunikasikan dengan anak untuk mempersiapkan mentalnya. Mungkin mencari teman atau saudara yang kuat mental untuk bersama-sama khitan akan menambah besar nyali. Jangan memaksa anak agar tidak timbul trauma berkepanjangan.
2. Konsultasikan dengan dokter tentang faktor usia, kesehatan anak dan hal lain terkait dengan fisik anak. beberapa teman mengalami 'kegagalan' saat mengkhitan bayinya, sehingga harus mengulanginya saat ia usia SD. Kan kasihan kalau demikian.
3.Ambil waktu awal liburan agar pemulihan anak memiliki cukup waktu sebelum masuk sekolah kembali.
4.Sekarang banyak pilihan metode sunat. Orang tua dapat mencari tahu untuk memilih metode yang paling sesuai untuk anaknya.

Itu saja yang dapat saya bagi untuk ayah bunda. pada kondisi normal, saya memilih mekhitankan anak pada usia sekitar 2 tahun, saat ia belum terlalu ngeh untuk dimintai persetujuan dan lebih mudah dirawat pasca sunat.

Setiap anak memiliki kesiapan yang berbeda. Andalah sebagai orang tua yang perlu mengetahui saat paling tepat untuk anak anda.

Selamat mengisi liburan....


Berbagai info tentang batita, tengokin di sini ya.

20 comments:

  1. sirkumsisi / khitan sekarang sudah enak, ada yang memakai laser, bahkan murid saya yg Nasrani juga melakukan sirkumsisi, setelah memastikan ke saya kalau prosesnya singkat, ga sakit, dan bakalan sehat nantinya.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah kemajuan teknologi memang subhanallah. makasih kunjungannya mak

      Delete
  2. Memepersiapkan mental anak untuk berani dikhitan memang hal yang paling penting ... thanks sharingnya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak sama-sama. makasih kunjungannya

      Delete
  3. Moment mendebarkan memang.. Saya bisa membayangkan dengan jelas bagaimana ekspresi anak laki-laki ketika tahu mereka akan berhadapan dengan Si penggunting...

    ReplyDelete
    Replies
    1. waw punya pengalaman mendampingi atau malah yang mengoperasi ?

      Delete
  4. iya mba, anakku 2 dah dikhitan..tinggal yg bungsu yg belum. Detik2 terakhir si nomor 2 minta batal sunatnya...hi hi waktu itu ita dapat nomor awal, no 1 dan 2 dibilik kamar yh berbeda ..ha ha seru bgt

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau diceritakan ulang menjadi bahan yang menarik Fitri anita...

      Delete
  5. benar, setiap anak itu berbeda mentalnya, orangtua yang tahu itu. Tapi itu ide bagus, usia 2 tahun dikhitan, nanti anak saya kelak juga ah, hehe... di desaku kebanyakan masa khitan usia kelas 4 - 6 SD, diatas itu capnya udah kayak perawan tua aja, haha

    ReplyDelete
  6. Allhamdulilah yang sulung aku juga sudah di khitan mbak, atas pemintaan sendiri waktu itu masih kelas 1, sebetulnya dari TK sudah minta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah...jika dengan kesadaran sendiri subhanallah bersyukur sekali ya mama Cal-Vin

      Delete
  7. anak saya dikhitan pas liburan kenaikan tahun lalu, Mbak. Atas permintaan sendiri. Tapi, berbulan-bulan sebelumnya kami sudah menawarkan untuk khitan hanya aja dia belum siap.

    akhirnya dia siap dan minta. Karena denger beberapa temannya udah khitan juga. Jd dia pun kepengen

    ReplyDelete
    Replies
    1. bersyukur ya mak Myra, jika anak minta sendiri pada saat yang tepat.

      Delete
  8. Gak kebayang, baru 1,5 tahun udah berani khitan.

    Alhamdulillaah, anak2nya pemrani semua ya, Bu.

    ReplyDelete
  9. Kalau masih kecil kan nurut saja idah...makasih udah mampirr

    ReplyDelete
  10. riez blue soccerJune 11, 2014 at 1:01 AM

    sama keponakan saya juga mau khitanan pas liburan nantii

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah dua jagoan saya sudah dikhitan juga pake sistem laser... sama kayak putra bu Ida.. mau dikhitan tapi harus sama adiknya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah...satu tanggung jawab telah tertunaikan

      Delete