Tuesday, March 10, 2015

Menghargai Catatan Sejarah


Part 1.


"Isinya kok cuma surat-surat saja?"

Ada seorang pembaca buku MAH yang bertanya pada saya.

Ya, bukankah sejak awal saya sampaikan bahwa buku MAH berisi 90 surat anak Palestina berumur 7-16 tahun. Tidak lebih.

"Saya mengira menemukan surat yang heroik di sana " begitu lanjutnya.
Hmm.

Apakah anda mengharapkan seorang penulis piawai yang mengarang buku itu?
Jika demikian jangan anda membelinya. Saya pastikan anda akan kecewa.

Buku ini bukanlah karya seorang yang pernah mengikuti training jurnalistik atau training kepenulisan. Bukan .

Bukan pula ditulis oleh penulis buku best seller. Bukan.

Credit




Buku ini murni kumpulan tulisan tangan anak-anak dari daerah konflik. (Bahkan sebagian ada coretannya). Suara hati mereka, pendapat mereka tentang Yahudi dan juga harapan dan cita-cita dan diterjemahkan. Itu saja.

Tak ada ulasan. Tak ada rekayasa.

Tapi tahukah anda?
Buku ini adalah catatan sejarah. Dokumentasi yang bahkan anak-anak Palestina itu tak memilikinya. Sebuah surat dari medan perang adalah harta berharga, dan ini 90 surat!
Bahkan dunia tak memilikinya.

Surat-surat itu didapatkan dengan perjuangan pada tahun 2008. Betapa sulitnya bagaimana teman-teman menembus blokade penjajah Israel, berinteraksi dengan para pemuda belia ini dan meminta mereka menuliskan sesuatu.

Apakah itu bukan "sesuatu" bagi anda?
Apakah surat-surat itu akan kita biarkan hilang bersama zaman?

Sementara setelah 6 tahun berselang, mungkin sebagian penulis surat itu telah menemui syahid. Siapa tahu, karena itulah bagian dari cita-cita mereka.

Anak-anak ini lahir dan tumbuh menjadi saksi kekejian dan kebiadaban.
Tidakkah anda melihat bahwa perang dan penindasan itu tak memadamkan semangat mereka untuk terus menghafal Al Qu'an dan memiliki mimpi untuk menjadi sesuatu seperti dokter, arsitek, tentara, guru atau ahli senjata.

Kematian demi kematian di depan mata tak menakuti mereka menjadi pengecut. Bahkan memacu untuk mengikuti jejak para syuhada.

Tidak. Saya tidak kecewa 'hanya membaca surat-surat itu'. Saya bertekat terus menyebarluaskannya untuk menjadi bacaan anak-anak kita.
Biarlah anak-anak Indonesia dan dunia tahu, tak ada kamus televisi dan game dalam daftar mereka. Apalagi sekedar makanan cepat saji, komik atau mainan mahal.

Semua bicara tentang konflik, perjuangan dan rasa aman. Tentang rasa takut, gelisah dan lapar. Juga sakit, dendam dan semangat juang.

Anda juga boleh memiliki sudut pandang tentang buku MAH.
Saya pribadi tak akan melewatkan memiliki catatan sejarah ini. Sekalipun 'hanya' sekumpulan surat-surat.

Apalagi jika dengannya, ada 'sedikit rupiah" yang kita sisihkan untuk besarnya perjuangan mereka.

'Sedikit' karena hanya senilai semangkuk bakso. 


*************

Part 2


Tulisan diatas terlahir karena saya terkejut dengan respon seorang pembaca buku MAH yang notabene juga teman saya. Kok?

Begini ceritanya.
Pada awalnya saya posting di grup Wa tentang Kesalahan Yang Membawa Berkah. Postingan tersebut ternyata membawa respon luar biasa. Lalu saya susul dengan versi fb berjudul AirMata Putriku. Dan respon makin meluas.

Lalu saya thenger-thenger dengan sekalimat sederhana respon seorang pembaca dari ratusan yang telah membeli buku.
Mengapa ada sesuatu yang hilang. Mengapa orang tidak menangis seperti saya atau putri saya saat membaca buku itu?

Yah karena mendengar nama Palestina disebut saja telah membuat hati saya mengharu biru. Apalagi membaca lembar demi lembar tulisan anak-anak Palestina. Maka saya buat postingan di sini sebagai jawaban cinta untuk teman yang berkomentar tadi. Subhanallah responnya berubah 180 derajat. Dan inilah saya kutipkan sebagian chatnya dengan saya. Karena kalimat-kalimat telah mengundang saya mewek lagi #halah.

Semoga seandainya kali pertama anda tak merasakan sesuatu, dengan membaca postingan saya yang ini, anda dapat meraih sesuatu yang hilang itu. 
Berikut petikan chat setelah membaca tulisan saya tentang “ Menghargai catatan Sejarah.”

Terimakasih mbak atas tausyiahnya di pagi ini. Membaca tulisan mbak ini baru hatiku tersayat sayat. Air mataku berderai derai dan limpahan doa pun kulantunkan untuk anak.anak Palestina yg telah menemui syahidnya. Bismillah semoga pembaca yg lain tidak punya perasaan yang sama dg saya ketika pertamakali membaca buku MAH.

Ulasan....itu juga penting mbak untuk bisa memahamkan kepada pembaca terhadap sebuah karya tulis, karena bisa jadi banyak pembaca yang kurang bisa memahami makna yg tersirat dari yang tersurat dalam tulisan itu.

Pertanyaan saya selanjutnya....sudah pernahkah diadakan bedah buku untuk mengupas tuntas makna dan tujuan penulisan buku ini?

Sudah terbayang olehku mbak dengan bedah buku MAH akan semakin banyak rupiah yang bisa kita kumpulkan untuk kemudian kita salurkan kepada saudara-saudara  kita di Palestina agar bisa membantu mewujudkan mimpi anak- anak yang telah mereka torehkan dalam kumpulan surat-surat itu.

Pembaca akan merasakan sendiri nuansa spiritual dan rasa perjuangannya untuk mendapatkan buku itu.... Betapa tidak sebanding dengan tumpahan darah para mujahid yg telah menuliskan suratnya dalam buku itu!
Betapa tidak sebanding pula dengan usaha saudara-saudara kita dari KNRP yang telah dengan susah payah menembus jalur Gaza untuk bisa menemui anak-anak itu sebelum  mereka menemui syahidnya

Betul saya sampai mewek mewek. Seperti apa kata mbak Ida yang telah berkenan memperkenalkan buku ini. Maaf saya begitu terbawa perasaan yang mengharu biru setelah tahu apa makna yang tersirat dari yang tersurat dalam buku MAH. Setelah tahu juga apa visi misi yang diniatkan dari peluncuran buku ini.”


Jadi bagaimana respon anda?

Air mata putriku saat membaca surat-surat itu ada di sini.
Contoh isi surat ada di sini.
Buku Masihkan Ada Harapan Untuk Kami bisa pesan Pre Order melalui twitter @lailacahyadi


5 comments:

  1. hiks nggak tega lihat fotonya aku makkkk :"(

    ReplyDelete
  2. iya mak. Kepedihan masih terus ada di Palestina

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. banget mak. Palestina selalu mengundang air mata

      Delete