Monday, May 21, 2012

Hadits Lemah dan Palsu tentang Bulan Rajab dan Sya’ban


Oleh : Ida Nur Laila

Saya sering mendapatkan pertanyaan lewat SMS, tentang status berbagai hadits yang sering digunakan sebagai kalimat ucapan yang beredar di milis, blackberry messenger, SMS atau media lainnya. Maksud penyebutan hadits tersebut tentu saja bagus, yaitu untuk mengingatkan kepada kebaikan. Bahwa kita sudah masuk bulan Rajab atau Sya’ban, dan perlu bersiap memasuki Ramadhan.
Namun ternyata, beberapa hadits yang sering digunakan untuk ucapan tersebut adalah hadits lemah dan palsu. Sudah banyak blog, web dan milis yang membahas bab ini, namun izinkan saya menyampaikan ulang secara ringkas, agar tidak perlu menjawab satu per satu SMS yang masuk. Bahan-bahan ini silakan dikaji lebih dalam dari sumber rujukan yang saya cantumkan di bagian bawah tulisan.
Hadits-hadits Lemah dan Palsu tentang Bulan Rajab
Hadits Pertama
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- beliau berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa setelah Ramadhan kecuali pada bulan Rajab dan Sya’ban”.
Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata, “Hadits ini mungkar”, atau  sangat lemah.
Hadits Kedua
Dari ‘Ali ra, “Barangsiapa yang berpuasa satu hari darinya –yakni dari bulan Rajab- maka Allah akan menuliskan baginya (pahala) berpuasa 1000 tahun”.
Ibnul Qayyim Al Jauzi mengatakan bahwa hadits ini maudhu’ (palsu).

Hadits Ketiga
Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudriy bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku. Barangsiapa yang berpuasa Rajab dengan keimanan dan penuh harap maka wajib baginya keridhoan Allah yang besar, akan ditempatkan di firdaus yang tertinggi. Barangsiapa yang berpuasa 2 hari dari bulan Rajab maka baginya pahala yang berlipat dan setiap takarannya sama dengan berat gunung-gunung di dunia dan barangsiapa berpuasa 3 hari dari bulan Rajab maka Allah akan menjadikan puasa itu sebuah parit yang lebarnya satu tahun perjalanan di antara dirinya dengan neraka”.
Ibnul Qayyim Al Jauzi mengatakan bahwa hadits ini maudhu’ (palsu).
Hadits Keempat
Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang berpuasa 3 hari dari bulan Rajab maka Allah tetapkan baginya puasa sebulan. Barangsiapa berpuasa 7 hari dari bulan Rajab maka Allah tutupkan baginya 7 pintu-pintu neraka. Barangsiapa yang berpuasa 8 hari dari bulan Rajab maka Allah bukakan baginya 8 pintu-pintu surga dan barangsiapa yang berpuasa setengah bulan Rajab maka Allah tetapkan baginya keridhoan-Nya dan barangsiapa yang ditetapkan baginya keridhoan-Nya maka Dia tidak akan mengadzabnya. Dan barangsiapa yang berpuasa selama bulan Rajab maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah.”
Ibnul Qayyim Al Jauzi mengatakan bahwa hadits ini maudhu’ (palsu).
Hadits Kelima
Dari Abu Sa’id Al-Khudry -radhiyallahu ‘anhu- secara marfu’, “…Barangsiapa yang berpuasa di bulan Rajab karena keimanan dan mengharap pahala, maka wajib (baginya mendapatkan) keridhoan Allah yang terbesar”.
Ibnul Qayyim Al Jauzi mengatakan bahwa hadits ini maudhu’ (palsu).
Hadits Keenam
Dari Al-Husain bin ‘Ali -radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, “Barangsiapa yang menghidupkan satu malam dari Rajab (dengan ibadah) dan berpuasa satu hari (darinya), maka Allah akan memberi dia makan dari buah-buahan surga dan Allah akan memakaikan dia sutra dari surga”.
Ibnul Qayyim Al Jauzi mengatakan bahwa hadits ini maudhu’ (palsu).
Hadits Ketujuh
Dari Anas –radhiyallahu ‘anhu- secara marfu’, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari Kamis, Jum’at, Sabtu di setiap bulan haram, maka akan dituliskan baginya ibadah 700 tahun”.
Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata, “Hadits ini mungkar”, atau sangat lemah.
Hadits Kedelapan
Dari Anas –radhiyallahu ‘anhu-, secara marfu’, “Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah sungai yang bernama Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Barangsiapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab maka Allah akan memberi minum kepadanya dari sungai tersebut”.
Ibnul Qayyim Al Jauzi mengatakan bahwa hadits ini majhul (tidak dikenal) sangat lemah.
Hadits Kesembilan
Dari Anas –radhiyallahu ‘anhu- secara marfu’, “Aku diutus sebagai nabi pada tanggal 27 Rajab, barangsiapa yang berpuasa pada hari itu maka hal itu merupakan kaffarah (penghapus dosa) selama 60 bulan”. 
Dan dalam hadits lain ‘Ali secara marfu’, “ … Barangsiapa yang berpuasa pada hari itu (27 Rajab) dan berdo’a ketika dia berbuka maka hal itu merupakan kaffarah selamah 10 tahun”.
Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata, “Hadits ini mungkar”,  atau sangat lemah.
Hadits-hadits Lemah dan Palsu tentang Bulan Sya’ban
Hadits Pertama
Dari Aisyah dari Rasulullah SAW bersabda, "Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan Allah. Sya’ban adalah (bulan) yang mensucikan dan Ramadhan adalah bulan yang menghapuskan (dosa-dosa)."
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani melemahkan hadits ini dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 3402.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqa dan Ad-Dailami dari Aisyah secara marfu’ dengan lafal :
”Bulan Ramadhan adalah bulan Allah dan bulan Sya’ban adalah bulanku. Sya’ban adalah (bulan) yang mensucikan dan Ramadhan adalah (bulan) yang menghapuskan (dosa-dosa).”
Sanadnya sangat lemah sebagaimana dijelaskan oleh syaikh Al-Albani dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 34119.
Hadits Kedua
Dari Anas dari Rasulullah SAW bersabda: "Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku."
Ini adalah hadits palsu. Imam Al-‘Ajluni berkata: Diriwayatkan oleh Ad-Dailami dan lainnya dari Anas secara marfu’. Namun Imam Ibnu Jauzi menyebutkannya dalam kitab Al-Maudhu’uat (hadits-hadits palsu), demikian pula Al-hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam bukunya Tabyinul ‘Ajab fi Maa Warada fi Rajab" (Kasyful Khafa’ juz 2 hlm. 510 no. 1358).
Hadits Ketiga
Nabi SAW ditanya tentang puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan, maka beliau SAW menjawab, “(Puasa) Sya’ban karena untuk mengagungkan (puasa) Ramadhan.” Beliau SAW juga ditanya tentang sedekah yang paling utama, maka beliau SAW menjawab, “Sedekah di bulan Ramadhan.”
Hadits tersebut dinyatakan lemah oleh Syaikh Al-Albani dalam Dha’if At-Targhib wat Tarhib no. 618.
Dalam riwayat lain dari Anas secara marfu’ dengan lafal: ”Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa Sya’ban.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari juz 4 halaman 152-154 mengatakan: "Sanadnya dha’if."
Hadits Keempat
Diriwayatkan dari Anas berkata: ”Bulan ini disebut Sya’ban karena di dalamnya kebaikan bercabang demikian banyak bagi orang yang berpuasa sunnah sehingga ia masuk surga.”
Ini adalah hadits palsu. Diriwayatkan oleh Al-‘Iraqi dalam Tarikh Qazwin dengan lafal di atas dan Abu Syaikh bin Hibban dengan lafal: “Tahukah kalian kenapa bulan ini disebut Sya’ban?” Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini palsu dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 2061.  
Hadits kelima
Dari Zaid Al ’Ama dari Yazid Ar-Raqasyi dari Yarwi bin Malik berkata: Nabi SAW bersabda: ”Bulan Allah yang paling baik adalah bulan Rajab karena ia adalah bulan Allah. Barangsiapa mengagungkan bulan Rajab berarti ia telah mengagungkan perkara Allah. Dan barangsiapa mengagungkan perkara Allah maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang penuh kenikmatan dan hal itu pasti baginya. Sya’ban adalah bulanku, maka barangsiapa mengagungkan bulanku berarti telah mengagungkan perkaraku. Dan barangsiapa mengagungkan perkaraku maka aku menjadi pendahulu dan simpanan pahala baginya pada hari kiamat. Adapun bulan Ramadhan adalah bulan umatku. Barangsiapa mengagungkan bulan Ramadhan, memuliakan kehormatannya tanpa melanggarnya, berpuasa di siang harinya, shalat (tahajud dan witir) pada malam harinya dan menjaga anggota badannya (dari perbuatan dosa) maka ia keluar dari bulan Ramadhan tanpa memiliki sedikit pun dosa yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah.”
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman juz 3 hlm. 374 no. 3813. Imam Ahmad bin Hambal berkata: Sanad hadits ini sangat mungkar (lemah sekali).
Hadits Keenam  
Dari Anas berkata: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa Sya’ban untuk memuliakan Ramadhan dan sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan."
Syaikh Nashiruddin Al-Albani melemahkan hadits ini dalam Dha’if Jamii’ Shaghir no. 1023.
Hadits Ketujuh
Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
Nabi SAW bersabda: "Malaikat Jibril mendatangiku dan berkata: Ini adalah malam nishfu (pertengahan) Sya’ban, pada malam ini Allah membebaskan dari neraka (manusia) sejumlah bulu kambing suku Kalb. Pada malam ini pula Allah tidak mau melihat kepada orang msyrik, orang yang bermusuhan (dengan sesama muslim), orang yang memutuskan tali kekerabatan, orang yang memanjangkan kainnya melebihi mata kaki, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan pecandu minuman keras.”
Hadits dari Aisyah dengan lafal: “Jika malam nishfu (pertengahan) Sya’ban maka Allah mengampuni dosa-dosa lebih banyak dari jumlah bulu kambing suku Kalb (sebuah suku Arab ‘Aribah di negeri Syam).”
Syaikh Al-Albani menyatakan sanadnya lemah dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 654.
Dalam riwayat yang lain dengan lafal: “Sesungguhnya Allah SWT turun pada malam nishfu Sya’ban ke langit dunia maka Allah mengampuni (hamba-Nya) lebih banyak dari jumlah bulu kambing suku Kalb.”
Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qadir berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi dalam kitab shaum, juga Al-Baihaqi dalam kitab Ash-shalat dari jalur Hajaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah dari Aisyah. Imam Tirmidzi berkata: Hadits ini tidak dikenal kecuali dari jalur Hajaj. Aku telah mendengar Imam Muhammad (bin Ismail) yaitu Imam Al-Bukhari melemahkan hadits ini  dengan mengatakan: Yahya tidak mendengar hadits ini dari Urwah dan Hajaj tidak mendengarnya dari Yahya.”
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang sama sehingga nilainya juga hadits palsu.
Imam Ad-Daruquthni berkata: Sanadnya mudhtarib (goncang) tidak shahih. Imam Al-‘Iraqi berkata: Imam Al-Bukhari melemahkan hadits ini karena sanadnya terputus pada dua tempat dan ia menyatakan tidak ada satu pun sanad hadits ini yang shahih. Imam Ibnu Dihyah berkata: Tidak ada satu pun hadits tentang malam nishfu Sya’ban yang shahih dan tidak ada seorang pun perawi yang jujur meriwayatkan hadits tentang shalat sunah (malam nishfu Sya’ban)” (Dha’if Jami’ Shaghir no. 1761).
Hadits Kedelapan
Dari Abu Umamah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Lima malam yang pada saat tersebut doa tidak akan ditolak oleh Allah; malam pertama bulan Rajab, malam nishfu Sya’ban, malam Jum’at, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha.”
Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qadir menulis: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dan Ad-Dailami dari jalur Abu Umamah. Juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Ibnu Nashir, dan Al-‘Askari dari jalur Ibnu Umar. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: Semua jalur hadits ini cacat.” Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini palsu dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 2852.
Hadits Kesembilan
Dari Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah SAW bersabda: Jika malam nishfu Sya’ban maka hendaklah kalian shalat malam dan berpuasa di siang harinya karena sesungguhnya Allah SWT turun ke langit dunia pada malam itu sejak matahari tenggelam. Allah berfirman: Adakah orang yang meminta ampunan sehingga Aku pasti mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki sehingga Aku pasti memberinya rizki? Adakah orang yang terkena musibah sehingga Aku pasti menyembuhkannya? Adakah orang yang meminta sehingga Aku pasti akan memberinya? Adakah orang yang begini? Adakah orang yang begitu? Demikianlah sampai terbit fajar.”
Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini palsu dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 652 dan Dha’if Targhib wat Tarhib no. 623.
Hadits Kesepuluh
"Pada malam nishfu Sya’ban, Allah mewahyukan kepada malaikat maut untuk mencabut nyawa setiap jiwa yang hendak dicabutnya pada tahun tersebut."
Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Dainuri dalam Al-Mujalasah dengan sanad dha’if, karena sanadnya terputus, yaitu perawi Rasyid bin Sa’ad meriwayatkan secara mursal.
Dinyatakan lemah oleh syaikh Al-Albani dalam Dha’if Jami’ Shaghir no. 4019 dan Dha’if Targhib wat Tarhib no. 620.
Hadits Kesebelas
Dari Abu Musa Al-Asy’ari bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah memeriksa hamba-hamba-Nya pada malam nishfu Sya’’ban maka Allah mengampuni semua hamba-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad sangat lemah. Al-Hafizh Al-Bushiri berkata dalam Misbahuz Zujajah fi Zawaid Ibni Majah: Sanadnya lemah karena kelemahan perawi Abdullah bin Lahi’ah dan tadlis perawi Walid bin Muslim. Imam Al-Mundziri juga menyebutkan kelemahan lain, yaitu perawi Dhahak bin Abdurrahman bin ‘Arzab tidak bertemu dengan Abu Musa Al-‘Asy’ari.
Hadits Keduabelas
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada puasa sunnah setelah pertengahan Sya’ban sampai masuk bulan Ramadhan.”
Dan dalam riwayat lain:
“Jika telah lewat pertengahan Sya’ban maka janganlah kalian berpuasa sampai datang Ramadhan.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad. Imam Abdurrahman bin Mahdi, Yahya bin Ma’in, Ahmad bin Hambal, Abu Zur’ah Ar-Razi dan lainnya menyatakan bahwa hadits ini munkar (sangat lemah).  

Sumber :
Tatsqif ustadz Khudhori, Lc.

6 comments:

  1. aku diajarin sama ustadku.. bahwa hadits palsu atau lemah itu ciri khasnya adalah pahalanya begitu instan seakan-akan pahala yang diberikan itu besarnya melebihi pahala pada ibadah wajib. jadi emang rada aneh sih.

    ReplyDelete
  2. Hampir semua hadits yang berkenaan dengan amalan khusus bulan Rajab itu lemah atau bahkan palsu. Kalo bulan sya'ban setahuku ada hadits riwayat Muslim bahwa Rasulullah lebih banyak puasa sunnah pada bulan tersebut dibanding bulan-bulan lain, yg dimaksud bukan puasa sunnah sebulan full, tapi lebih sering.

    Terima kasih artikelnya, mencerahkan orang2 yang suka broadcast tanpa tahu dasarnya ^^
    salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih kunjungannya mak...kita memang harus yakin benar sebelum meneruskan suatu berita

      Delete
  3. kasihan dong orang2 yg memang sengaja mencari ilmu untuk menambah keimanan juga pahala, eh taunya hadist nya palsu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak, maka perlu hati=hati dan punya guru

      Delete