Wednesday, March 26, 2014

Membangun Rumah Sayang

 Setelah memaknai jejak cinta, kita berlanjut pada topik rumah sayang.
"Tanyakan pada anak, apa pendapatnya tentang keluarga dan rumahnya?"
Bisa jadi ada anak yang menganggap rumahnya menyeramkan, atau rumahnya penuh tata tertib. Mungkin juga sebuah rumah kebebasan dimana ia boleh melakukan apa saja. Tanpa dilarang atau tanpa ada yang berani melarang. Apa saja.
Rumah sayang Po dan Sushi
Apa jawaban anak anda?


            Sungguh mengagumkan jika ia menganggap baiti jannati. Rumahku syurgaku. Rumahnya sebagai rumah cinta dan sayang. Rumah yang memancarkan kasih sayang dan kehangatan antar penghuninya. Yang memancarkan rahmah untuk lingkungannya. Persepsi orang tua belum tentu sama dengan persepsi anak. Maka sekali lagi, tanyalah anak anda: Apakah ia suka tinggal di rumah? Apakah ia suka bergaul dan ekat dengan orang tuanya? Apakah …?

Jika anda belum beruntung mendapatkan kesan yang demikian. Tidak pernah ada kata terlambat, kita mulai sekarang. Menjadikan suasana rumah menyejukkan, menentramkan. Sehingga selalu memanggil penghuninya untuk menyempatkan pulang dan rehat di rumah, bukan di tempat lain.
Selfie with Sushi           
Bukan luasnya rumah semata-mata yang menjadikan penghuninya tidak merasa kesempitan. Kelapangan hati dan kasih sayang diantara penghuni yang lebih menentukan. Sempitnya hati lantaran konflik dalam rumahtangga akan membuat rumah selapang apapun menjadi sempit. Dan sebaliknya. Sempit dan lapang kadang menjadi relatif.
           
Saya ingin mengulang cerita tentang rumah sempit dari dr. Indah dari Surabaya, ketika kami berbincang seusai pertemuan POMG di SMPIT Jogjakarta. Beliau mendapat cerita ini dari ustadzah Yoyoh Yusroh. Tak sepenuhnya persis, mohon dimaafkan.

Sebuah keluarga mengeluhkan rumahnya yang sempit dengan putra-putranya yang banyak. Maka disampaikan nasehat kepada mereka :
“Masukkanlah ke dalam rumahmu dua ekor unta.”
Lalu ditanyalah pendapat mereka.
            “Bagaimana sekarang rasanya?”
Semua mengeluh kesempitan. Maka diperintahkan lagi.
“Sekarang masukkan ke dalam rumahmu empat ekor kambing. Bagaimana sekarang keadaanmu?”
Semua mengeluh semakin sesak.
“Kalau begitu tambahkan sepuluh ekor ayam” Wow! Semua makin mengeluh, betapa sesaknya . Tentu juga heboh dan bau!
“Sekarang keluarkan ayamnya, bagaimana keadaan sekarang?” Semua merasa sedikit lega.
“Keluarkan kambingnya, bagaimana keadaanmu sekarang?”
Semua makin merasa lega.
“Sekarang keluarkan juga untanya. bagaimana?”
Hmm, tanpa unta, kambing dan ayam, semua merasa sungguh jauh lebih lapang.
Begitulah, rumahnya tetap, penghuninya juga seperti semula, tapi seluruh perasaan sudah berubah. Relatif bukan?

Semoga dapat memetik pelajarannya.
Must love cat           
Libatkan anak untuk membangun rumah sayang. Izinkan mereka membuat aturan main, mengatur perabot dan mengatur jadwal-jadwal. Berikan ruang ekspresi untuk anak-anak menampilkan ‘karya besarnya’. Berikan sarana eksplorasi agar mereka memuaskan keingintahuannya yang positif. Berikan ruang psikologis agar mereka mampu mengembangkan kepribadian dan ketrampilam sosialnya. Berikan aktivitas dan suasana ruhiyah agar mereka tumbuh menjadi makhluq spiritual.
           
Rumah adalah miniatur peradaban. Dari rumah kita berharap terlahir jiwa-jiwa yang siap membangun peradaban. Orang tua yang menyayangi anaknya, tidak akan semata-mata memenuhi kebutuhan lahiriyah anak berupa materi. Namun juga mewariskan nilai-nilai kehidupan dan peradaban, utamanya berlandaskan Islam sebagai agama sempurna. Pembawa rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam.

(Saya nukil dari buku saya Menyayangi Anak Sepenuh Hati)

Baca juga postingan tentang Jejak Cinta di sini.

16 comments:

  1. terima kasih mak.. buat pencerahannya..
    sering baca2 di sini, baru sekali meninggalkan jejak..
    salam kenal dari surabaya ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga mak, makasih udah berkunjung

      Delete
  2. Salam kenal, MAk, ikut belajar yaa :)
    hehehe beruntungnya aku, anak-anak merasa nyaman di rumah, bahkan kalau diajak pergi, selalu saja bilang, "Bun ayo pulang, mau bobok di kamar," heheh
    home sweet home...

    ReplyDelete
    Replies
    1. duuh senengnya, semoga hingga kelak semua merindukan rumah amin

      Delete
  3. pengetahuan saya nambah terus klo sinuwun ke rumah maya mak ida.. :) makasih sharingnya maak \o/

    ReplyDelete
  4. umm menarik mak ida, alhamdulillah. menarik juga foto kucingnya, si adek akrab sekali sama kucing kawaii itu. namanya sushi ya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Sushi kucing kesayangan Revo. di rumah kami ada beberapa binatang piaraan. bersahabat dengan binatang termasuk mengasah 'rasa' anak-anak.

      Delete
  5. Entah berapa tahun lagi saya bertanya kepada anak saya pendapatnya tentang rumah dan keluarga. Hmmm... Tapi saya mau bukunya, Mak Ida. *eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi silahkan mas Luthfi semoga segera bisa ada yang ditanyai...

      Delete
  6. terima asih sudah diingatkan mbak ida. Anak-anak juga memiliki hak ya dirumah untuk membuat aturan

    ReplyDelete
  7. postingannya benar-benar mencerahkan..
    terimakasih diingatkan untuk selalu melibatkan anak dalam pengaturan rumah

    salam dari sleman
    btw, saya tinggal di jalan kaliurang km 13, kapan2 singgah ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayuuk. btw sabtu besok ada acara dari mak Ges, sekalian kopdaran. ikutan yuuk

      Delete
  8. Iya bu, rumah sayang, cantik sekali namanya ya bu.
    Doakan saya dan keluarga juga mampu membangun rumah sayang ya bu.

    ReplyDelete