Tuesday, January 31, 2012

Wisata Haji (6) Bukit Uhud Calon Penghuni Surga


Yang Kualami di Tanah Suci (37)
Oleh : Ida Nur Laila

Bukit Uhud-gambar dari google

Bukit Uhud, Saksi Sejarah
Menuju bukit uhud, banyak jamaah yang sudah kelelahan dan ketiduran. Aku terlalu penasaran tentang bukit uhud, jadi tidak sempat untuk mengantuk, apalagi tidur. Kuhabiskan perjalanan dengan memotret dan menshoot perjalanan kami. Sesampai di lokasi, banyak yang enggan turun lantaran panas terik siang itu serasa tak tertahankan. Bahkan ada yang tetap tertidur saat bus berhenti di lokasi. Aku mencoba turun untuk lebih mengenal dan meresapi kisah tentang bukit uhud dan perang uhud.
Bukit uhud adalah bukit batu yang berwarna kemerahan, dari kejauhan nampak agak merah muda. Terletak 4 mil dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 mil. Di bukit inilah terjadi peristiwa yang sangat penting, yaitu perang Uhud. Berdiri di bawah panas terik, kupandangi bukit uhud, kompleks makam syuhada Uhud dan bukit Rumah. Anganku melayang pada sejarah tempat ini.
Pertempuran Uhud adalah pertempuran yang pecah antara kaum muslim dan kaum kafir Quraesy pada tanggal 22 Maret 625 M (7 Syawal 3 H). Pertempuran ini terjadi kurang lebih setahun lebih seminggu setelah Perang Badar. Tentara Islam berjumlah 700 orang sedangkan tentara kafir berjumlah 3.000 orang, sungguh bukan jumlah yang berimbang.
Pasukan kafir  terdiri dari kaum Quraisy dan suku-suku yang loyal kepada Quraisy seperti bani Kinanah dan penduduk Tihamah. Mereka memiliki 200 pasukan berkuda dan 700 pasukan yang memakai baju besi. Tentara Islam dipimpin langsung oleh Nabi Saw sedangkan tentara kafir dipimpin oleh Abu Sufyan.
Sebelum peperangan ini berkecamuk, Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam diperlihatkan peristiwa yang akan terjadi dalam perang ini melalui mimpi. Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menceritakan mimpi ini kepada para Sahabat. Beliau Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Saya bermimpi mengayunkan pedang lalu pedang itu patah ujungnya. Itu (isyarat-pent) musibah yang menimpa kaum Muslimin dalam Perang Uhud. Kemudian saya ayunkan lagi pedang itu lalu pedang itu baik lagi, lebih baik dari sebelumnya. Itu (isyarat –pent-) kemenangan yang Allah Ta’ala anugerahkan dan persatuan kaum Muslimin. Dalam mimpi itu saya juga melihat sapi –dan apa yang Allah lakukan itu adalah yang terbaik- Itu (isyarat) terhadap kaum Muslimin (yang menjadi korban) dalam perang Uhud. Kebaikan adalah kebaikan yang Allah Ta’ala anugerahkan dan balasan kejujuran yang Allah Ta’ala karuniakan setelah perang Badar”.
Rasulullah menempatkan pasukan Islam di kaki bukit Uhud di bagian barat. Pasukan Islam berada dalam formasi yang kompak dengan panjang front kurang lebih 1.000 yard. Sayap kanan berada di kaki bukit Uhud sedangkan sayap kiri berada di kaki bukit Ainain (tinggi 40 kaki, panjang 500 kaki). Sayap kanan muslim aman karena terlindungi oleh bukit Uhud, sedangkan sayap kiri berada dalam bahaya karena musuh bisa memutari bukit Ainain dan menyerang dari belakang.
Untuk mengatasi hal ini Rasulullah menempatkan 50 pemanah di Ainain dibawah pimpinan Abdullah bin Jubair dengan perintah yang sangat tegas dan jelas yaitu "Gunakan panahmu terhadap kavaleri musuh. Jauhkan kavaleri dari belakang kita. Selama kalian tetap di tempat, bagian belakang kita aman. Jangan sekali-sekali kalian meninggalkan posisi ini. Jika kalian melihat kami menang, jangan bergabung; jika kalian melihat kami kalah, jangan datang untuk menolong kami."
Kemungkinan lokasi para pemanah ini sekarang yang disebut sebagai bukit Rumah.
Di belakang pasukan Islam terdapat 14 wanita yang bertugas memberi air bagi yang haus, membawa yang terluka keluar dari pertempuran, dan mengobati luka tersebut. Di antara wanita ini adalah Fatimah, putri Rasulullah yang juga istri Ali. Rasulullah sendiri berada di sayap kiri.
Posisi pasukan Islam bertujuan untuk mengeksploitasi kelebihan pasukan Islam yaitu keberanian dan keahlian bertempur. Selain itu juga meniadakan keuntungan musuh yaitu jumlah dan kavaleri (kuda pasukan Islam hanya 2, salah satunya milik Rasulullah). Abu Sufyan tentu lebih memilih pertempuran terbuka dimana dia bisa bermanuver ke bagian samping dan belakang tentara Islam dan mengerahkan seluruh tentaranya untuk mengepung pasukan tersebut. Tetapi Rasulullah menetralisir hal ini dan memaksa Abu Sufyan bertempur di front yang terbatas dimana infantri dan kavalerinya tidak terlalu berguna. Juga patut dicatat bahwa tentara Islam sebetulnya menghadap Madinah dan bagian belakangnya menghadap bukit Uhud, jalan ke Madinah terbuka bagi tentara kafir.
Tentara Quraesy berkemah satu mil di selatan bukit Uhud. Abu Sufyan mengelompokkan  pasukan ini menjadi infantri di bagian tengah dan dua sayap kavaleri di samping. Sayap kanan dipimpin oleh Khalid bin Walid dan sayap kiri dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahl, masing-masing berkekuatan 100 orang. Amr bin Al Ash ditunjuk sebagai panglima bagi kedua sayap tapi tugasnya terutama untuk koordinasi. Abu Sufyan juga menempatkan 100 pemanah di barisan terdepan. Bendera Quraish dibawa oleh Thalhah bin Abu Thalhah.
Kisah tentang peristiwa di uhud ini ditulis di Surat Ali ‘Imran ayat 140-179. Dalam ayat2 di Surat Ali ‘Imran, menjelaskan kekalahan di Uhud adalah ujian dari Allah (ayat 141) – ujian bagi Muslim mu’min dan munafik (ayat 166-167).
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar (ayat 142)? Bahkan jika Nabi Muhammad sendiri mati terbunuh, Muslim harus terus berperang (ayat 144), karena tiada seorang pun yang mati tanpa izin Allah (ayat 145). Lihatlah para nabi yang tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah (ayat 146). Para Muslim tidak boleh taat pada kafir (ayat 149), karena Allah Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut (ayat 151)."

Penulis dan bukit Uhud


Kami berdiskusi membayangkan tentang situasi peperangan saat itu. Dimana kira-kira posisi pasukan kaum Muslimin dan dimana posisi pasukan kafir. Dimana para pemanah yang tergoda untuk turun dari formasinya. Dimana pula Rasulullah berlari mendaki bukit saat terdesak pasukan musuh. Karena kami tidak tahu arah dan nama-nama tempat, jadi kami sungguh kesulitan membayangkan situasinya.
“ Mungkin di sana letak pasukan Islam....”
“ Lah kalau para pemanah dimana dong...? kalau di puncak itu, apa panahnya sampai...”
“ Pasukan musuh dimana pula...? Kan bukitnya di sisi sana...?”
“ Mungkin Rasulullah menyelamatkan diri ke arah sana...”
“ Ah dari mana kamu tahu...?”
“ Kira-kira begitu yang kubaca di komik ketika aku masih SD...”
“Tukang komiknya belum pernah ke sini untuk survai medan kali...”
Dan kami tertawa, menertawakan kami semua yang berdiskusi tanpa pembimbing...
Akhirnya kami menyerah dan tidak melanjutkan debat kusir tentang situasi perang Uhud.
Di lokasi itu juga terdapat makam. Di sana dimakamkan para syuhada’ Uhud, diantaranya ada shahabat-shahabat Rasulullah.
Hari semakin siang. Panas terik dan silau sungguh tak tertahankan. Setelah beberapa saat menunggui teman-teman yang ingin berkeliling melihat-lihat, kami beranjak pulang menuju hotel.
(bersambung)

No comments:

Post a Comment